Rindiani

Rindiani
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Keesokkan harinya. Rindiani sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Babeh Hasan. Di dalam kamarnya, Indi mempersiapkan segala keperluan, termasuk beberapa bajunya, ia masukkan beberapa dokumen lainnya pada tas ransel berwarna hitam kesayangannya.


Indi mengambil celengan lalu memecahkannya, terdapat beberapa lembar uang berwarna merah, sebagian berwarna biru dan hijau, sisanya lima ribu dan dua ribuan saja.


"Lumayan." Indi tersenyum mengembang melihat uang yang sudah susah payah ia kumpulkan.


"Beh, maafin aye. Bukannya aye kagak sayang babeh, tapi... aye bener-bener pengen nyari jati diri aye yang sesungguhnya. Doain aye supaya aye sukses di sana dan bisa bahagiain babeh juga." Batin Indi.


Malam harinya, setelah seharian Indi dan Hasan tidak bertegur sapa. Tepat pukul 11 malam, Indi diam-diam keluar melewati kaca jendela kamarnya, ia menaiki kursi lalu meloncat keluar.


"Huh, aman." Gumam Indi setelah berhasil keluar dari dalam kamarnya. Ia berjalan mengendap, lalu memutuskan untuk keluar melewati pagar tembok dengan menaiki pohon yang berada di samping rumahnya.


"Kratak!"


Tanpa sengaja Rindiani mematahkan batang pohon. Sialnya ada dua orang Hansip yang berjaga, tanpa sengaja melewati rumah Indi.


"Siape tuh?"


Nindi melebarkan bola matanya. Ia menundukkan kepala saat cahaya lampu senter mengarah ke arah pohon.


"Mampus." Tangan Indi gemetar, takut Babehnya terbangun karna kegaduhan dua Hansip tersebut.


"Siape tuh? ayo turun!" kedua hansip tersebut celingak-celinguk mencari seseorang yang berada di atas pohon.


"Cit, cit, cit. Tikuuus..." Kata Indi mencoba mengelabui Hansip.


"Ooohhh, tikus," kata mereka serempak.


"Bilang dong dari tadi. Ayo Drul kite keliling lagi." Ucap salah satu Hansip. Mereka berdua percaya, lalu berjalan melanjutkan rondanya.


Mulut Indi menganga, menatap tak percaya pada mereka berdua. Setelah itu ia menggelengkan kepalanya.


"Hansip apaan mereka. Masa iye ada tikus bisa ngomong, mereka percaya pula. Huh." Gumam Indi. Ia pun melanjukan usahanya untuk bisa melewati pagar rumah.


Setelah berhasil, Indi bergegas pergi melewati gang-gang sepi agar tidak ada orang yang melihatnya.


Sesampainya di tepi jalan raya, Indi berusaha menghubungi Melda. Namun, sudah beberapa kali panggilan, Melda tidak mengangkat sambungan telepon Indi. Rindiani menjadi gusar, ia menggigit bibir bawahnya, bingung karna sudah terlanjur pergi dari rumah.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi, terpampang jelas nama Melda yang menghubunginya. Indi segera menekan icon berwarna hijau lalu menggesernya ke atas layar.


"Aye udah ada di pinggir jalan. Lu dimane?" tanya Indi.


"Tiiiinnnn!"


"Ee buset dah, ngagetin aja ini mobil," rutuk Rindiani kesal.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Indi. Tidak lama kemudian terlihat Melda menyembulkan kepala dari jendela kaca mobil, lalu menyuruh Rindiani memasuki mobil hitam tersebut.


"Sorry, Hp gue silent jadi enggak denger kalau lo nelpon." Ucap Melda tersenyum pada Indi.


"Kagak ape-ape, yang penting sekarang kite udah ketemu." Jawab Indi santai.


"Ayo, Baby. Kita berangkat." Melda menyuruh pria yang berada di sampingnya untuk menggerakkan mobil dan melaju membawa mereka menuju kota metropolitan.


Dari belakang, Rindiani memicingkan mata. Ia sedikit mencurigai laki-laki tersebut. Namun, detik kemudian Indi menepis dan berusaha berpikir jernih. Mungkin saja laki-laki itu adalah kekasih Melda. Pikir Indi.


Tidak memakan waktu lama. Mereka pun sampai di tempat kediaman Melda. Indi menatap gusar kepergian laki-laki yang menjemputnya tadi.


"Mata genit. Laki-laki apaan, ape maksudnya coba? ih." Gumam Indi dalam hati.


Indi menatap rumah Melda, lebih tepatnya kos-an sederhana hanya berpetak satu kamar, bahkan kamar mandinya ada di luar berbarengan dengan yang lain.


"Sori, ini kos-an gue. Tempat sementara, nanti juga gue pindah lagi. Nyari yang bagusan dikit gitu." Jelas Melda.


"Kagak ape-ape kok, lumayan daripade aye kagak punya tempat tinggal."


"Ok. Lo istirahat dulu. Besok sore kita ketemu sama Mami Dwi, kali aja dia suka sama lo terus bisa memperkerjakan lo langsung." Kata Melda tersenyum pada Indi.


Indi hanya menganggukan kepala. Ia merebahkan badannya di kasur lantai yang sudah Melda persiapkan sebelumnya. Tidak lama kemudian Indi memejamkan mata lalu tertidur pulas.


***


Di sore hari, sesuai perkataan Melda. Mereka sudah bersiap berangkat ke tempat Mami Dwi. Akan tetapi, Rindiani terlihat risih dengan pakaian yang ia kenakan, panjangnya hanya sampai di batas lutut.


"Lo kenapa? Bajunya jangan di tarik-tarik ke bawah begitu nanti melar." Melda menepis tangan Indi yang sedari tadi menarik baju dresnya.

__ADS_1


"Aye kagak biasa pake baju beginian. Aye ganti baju aja ye, pake kaos ama celana," tawar Indi.


"kalau lo mau ikut gue kerja, ya bajunya harus begini. Lo kagak usah khawatir, pokonya malam ini lu bakalan dapat duit banyak." Ucap Melda meyakinkan.


Rindiani tersenyum paksa, ia pun menuruti Melda.


"Lo kan pengen jadi Artis. Jadi pake baju begini juga lo harus biasa." Lagi, Melda tersenyum mengembang pada Indi.


Hampir setengah jam perjalanan, mereka pun sampai di tempat Mami Dwi berada. Indi semakin keheranan karna Melda tidak membawanya ke tempat stasiun Televisi.


"Ayo masuk Indi, kenapa malah bengong begitu." Melda menarik tangan Indi dan memaksanya memasuki rumah.


Saat di dalam rumah, Mami Dwi menyambut kedatangan Mereka berdua.


"Cantik, apalagi kalau di poles sedikit makeup, pasti makin cantik dan banyak pelanggannya." Kata Mami Dwi memperhatikan Indi.


"Pelanggan? Maksudnye ape bu?" tanya Indi kebingungan.


Indi membalikan badan mengarah ke arah Melda. "Melda, bukannya lu mau jadiin aye penonton bayaran, kenapa bisa ada pelanggan? Maksudnya ape?!" tanya Indi tegas.


Melda tidak menjawab pertanyaan Rindiani, ia hanya tertawa terbahak-bahak, detik berikutnya, Melda tersenyum mencemooh pada Indi.


"Hei, Indi. Lo pikir jadi Artis itu gampang, lo pikir jadi penonton bayaran itu penghasilannya gede segede gaban gitu? Enggak lah. Mending lo ngikut Mami Dwi aja, lumayan kalau ada om-om yang tertarik dan puas dengan pelayanan lo, lo bakalan dapat komisi besar dari Mami." Kata Melda panjang lebar.


"Ape?... Kagak. Aye kagak mau, aye kagak mau jadi perempuan malam. Maaf Mel, aye harus pergi, aye kagak bisa ngikut kerja ame lu," tolak Rindiani. Ia pun melangkah hendak keluar dari rumah Mami Dwi yang ternyata adalah rumah bordir.


"Siapa yang ngijinin kamu keluar?" cegat Mami Dwi menghadang langkah Indi.


"Kamu sudah saya beli, jadi mulai malam ini kamu harus ikut kerja dengan saya," tambahnya lagi.


"Aye kagak mau! Minggir!" Indi mendorong kuat Mami Dwi hingga terjungkal ke belakang. Rindiani langsung berlari menerobos Melda yang hendak berusaha memberhentikannya.


"Lo enggak bisa pergi begitu aja!" pekik Melda, ia berlari mengejar Indi.


Indi menghiraukan teriakan Melda. Ia terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya. Hingga akhirnya Indi berhasil pergi jauh dari tempat Mami Dwi.


"Sial!" umpat Melda saat kehilangan jejak Indi. Dari kejauhan Melda melihat beberapa anak buah Mami Dwi.

__ADS_1


"Gue enggak rela kalau gue harus balikin uang yang udah Mami Dwi kasih ke gue. Gue harus pergi." Melda memutuskan untuk pergi membawa kabur uang yang sudah di berikan Mami Dwi. Melda tidak terima jika uang hasil menjual Rindiani harus sirna begitu saja.


..........


__ADS_2