
Seharian mengamen, Rindiani berhasil mengumpulkan uang sebesar empat puluh tujuh rupiah. Rindiani tersenyum, lalu mendekap uang tersebut.
"Alhamdulillah... lumayan. Aye bisa beli dua bungkus nasi." Ucap Rindiani bersyukur.
Indi bergegas pergi menuju warung nasi yang menurutnya murah, setelah memilih lauknya, pemilik warung itu segera membungkus dan memberikannya pada Indi.
"Berape bu?" tanya Indi.
"Tiga puluh delapan ribu." Sahut si Ibu.
Rindiani mulai menghitung uang recehnya, ada juga beberapa uang lembar dua ribuan.
"Ini bu. Maaf ye bu, uangnye recehan."
"Enggak apa-apa, lumayan buat kembalian." Jawab pemilik warung.
Setelah membayar, Rindiani bergegas kembali ke rumah bedeng. Setelah sampai, Indi langsung memberikan sebungkus nasi pada Ibu pemulung.
Rindiani mengambil segayung air lalu membersihkan tangannya yang kotor karna seharian memegang kecrekan.
Di rasa bersih, Indi langsung membuka bungkusan nasi, lalu memakannya dengan lahap.
Satu suap, dua suap, sampai suapan ke empat Indi meneteskan air matanya. Entah apa yang di rasakan Rindiani kali ini, makanan sudah ia dapat, mulutnya kini tengah mengunyah lembut makanan supaya bisa masuk ke dalam lambung yang sedari pagi berdemo kepadanya.
Rindiani masih menyantap makanannya, hingga habis tak bersisa. Indi menatap Ibu pemulung yang tersenyum padanya.
"Alhamdulillah, bu. Aye udeh kenyang. Besok aye harus lebih giat lagi nyari duit nye. Biar bisa beli makanan lain buat si adek."
"Nak Indi gak perlu mikirin ibu dan anak ibu, uang yang di dapat, lebih baik di kumpulkan saja." Kata Ibu.
"Kagak ape-ape bu. Itung-itung aye berterimakasih karna udeh ngijinin aye tinggal di sini sementara." Sahut Rindiani.
***
Keesokkan harinya. Rindiani mengamen lagi, kali ini Indi memberanikan diri untuk mengamen di dekat lampu merah, Indi menyebrang jalan, ia mendekati kendaraan yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Rindiani menyanyikan satu persatu lagu yang ia hafal.
Rindiani tersenyum karna mendapat uang sepuluh ribu dari salah satu mobil.
"Makasih, Pak!" teriak Indi saat mobil itu melaju. Indi pun memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Widiiihhh... Lumayan, coba kalau begini terus, aye bisa nyewa kos-an kayaknye." Ucap Indi mencoba merapikan dan membereskan uang yang didapat.
Tanpa Indi ketahui, dari arah samping ada dua orang Preman memperhatikan Indi. Mereka menatap kesal karna Indi mengamen berada di wilayah kekuasaannya.
"Kagak bisa di biarin, ayo kita beri wanita itu pelajaran." Kata salah satu preman yang berkulit hitam.
"Kemon." Ajak preman yang memiliki tompel besar di pipinya.
Kedua preman itu berjalan mendekati Rindiani yang tengah duduk beristirahat. Mereka pun berdiri tepat di hadapan Indi dengan gagahnya.
Rindiani menengadahkan wajahnya, alisnya bertaut keheranan dengan adanya kedua preman tersebut.
"Kalian siape? Mau ape?" tanya Indi.
"Bangun!" perintah preman yang berkulit hitam pada Indi.
Indi memicingkan kedua bola matanya, ia pun terpaksa mengikuti perintah si hitam.
"Aye udeh berdiri, kalian mau ape?" tanya Indi lagi.
"Serahin semua duit hasil ngamen lo!"
"Hah ape? ape, ape, ape? aye kagak salah denger kan?" tanya Indi berpura-pura tidak mendengar, ia mengorek-ngorek telinganya.
"Ini tempat kekuasaan kita, kalau lu mau ngamen di sini, lu harus nyetorin duit pada kita berdua! paham lu!" tambah si hitam sambil menunjuk ke arah Rindiani.
Rindiani berdecak kesal, ia mengusap-ngusap kupingnya yang berdengung karna bentakkan para preman itu. "Ini wilayah punya nye pemerentah, bukan punya lo berdua. Lu kira ini tempat punya nenek moyang lu ape? aye kagak mau setor," tolak Indi mengibaskan tangannya.
"Kurang ajar, berani lu ngelawan kita berdua?!" bentak si hitam lagi.
"Berani lu ngelawan kita berdua." Ejek Indi mengulang perkataan si hitam.
Kedua preman itu terlihat kesal, darah mereka mulai mendidih. Tanpa basa basi, si tompel mencengkram tangan Indi kuat.
"Lepas!" bentak Indi pada si tompel.
"Serahin duit lu, baru gue lepasin," ancam si tompel
"Jangan ngarep! Enak aje minta-minta duit aye. Kerja sono cari sendiri!" bentak Indi, lalu memutar badannya dan langsung menendang perut si tompel hingga tangannya terlepas dari cengkraman, si tompel pun terjungkal ke trotoar jalan.
__ADS_1
"Kurang ajar... cari mati!" geram si hitam melihat temannya terjungkal. Tangannya melayang meninju ke arah Indi. Namun, Indi berhasil menangkisnya.
"Lu berdua yang cari mati!" pekik Indi. Ia langsung meninju perut si hitam.
"Aaaahhh!" erang si hitam kesakitan.
"Sialan! keras juga pukulannya." Umpat si hitam.
"Bangun lo!" teriak Indi pada mereka.
Kedua preman itu bangkit lalu menyerang Indi bersamaan.
Di waktu yang sama, ada salah satu laki-laki yang melihat perkelahian Rindiani, ia berdiri sambil menyenderkan badannya di salah satu tembok pertokoan sambil melipat kedua tangannya di dada ,tanpa berinisiatif membantu atau melerai perkelahian Rindiani.
Sementara orang lain yang berada di sekitar tempat itu, sebagian hanya menonton dan sebagian lagi acuh tak acuh melihat perkelahian Rindiani.
"Berhenti!"
"Stop!"
Kata kedua preman tersebut. Rindiani memberhentikan serangan tinjunya yang hendak ia layangkan untuk si hitam, matanya memicing menatap tajam ke arah si hitam dan si tompel.
"Ampun... kita nyerah, kita gak bakalan gangguin lu lagi, lu bebas mau ngamen dimana-dimana juga. Lepaskan kami berdua," kata si tompel memohon ampun pada Rindiani.
"I, iya... gue ngaku kalah, tolong lepasin gue," tambah si hitam.
Setelah mendengar perkataan mereka, perlahan Rindiani melepaskan si hitam.
"Kali ini aye ampuni, tapi awas aje kalau kalian malak-malak aye lagi, kagak ada ampun bagi kalian berdua, mampus-mampus sekalian!" umpat Rindiani, menatap kesal kepada mereka.
Kedua preman yang sudah babak belur itu langsung bergegas, berlutut di hadapan Indi.
"Kagak, sumpah! kita bahkan rela jadiin lu bos kita, asal lu jangan hajar kita lagi." Kata si tompel.
"Bas bos, bas bos... pergi sono! aye kagak sudi punya anak buah kayak lu pade. Pergi, sebelum aye berubah pikiran!"
"I, iya, kita berdua pergi!"
Kedua preman itu pun berlari kocar kacir menjauhi Rindiani. Sementara laki-laki yang sedari tadi memperhatikan Rindiani, tersenyum puas melihat kemenangan yang Rindiani dapatkan.
__ADS_1
"Lumayan. Sepertinya ini cewek cocok." Gumam laki-laki tersebut.
..........