Rindiani

Rindiani
Ngamen


__ADS_3

Rindiani berhasil meloloskan diri. Akan tetapi, ia menjadi kebingungan karna tidak tahu harus pergi kemana. Pulang ke tempat Melda sudah tidak mungkin baginya. Sementara uang, baju dan berkas lainnya berada di kos-an Melda.


"Hp, aye mana?" tanya Rindiani pada diri sendiri, Indi baru menyadari kalau Handphone-nya tidak ada di genggamannya, ia meraba baju dan baru menyadari bahwa dres yang ia pakai sama sekali tidak ada sakunya. Detik berikutnya ia menepuk keningnya sendiri.


"Aih. Ketinggalan di meja rumah Mami Dwi. Astaga... kenape aye bisa se-apes ini daaahhh. Bisa-bisanya aye ketipu ame si Melda. Emang musti di bejek-bejek jadi olahan tempe itu anak. Untung aye bisa kabur. Kalau kagak? kelar idup aye di santap ame om-om ntu." Dumel Indi.


Rindiani menatap nanar jalanan, ia duduk berjongkok di tepi jalan raya. Memikirkan nasibnya yang tidak beruntung.


"Babeh..." Gumam Indi, matanya berkaca-kaca membayangkan Babehnya yang tengah khawatir mencari dirinya.


Sementara di rumah Babeh Hasan.


Hasan beberapa kali mencoba menghubungi teman-teman Indi. Namun sama sekali tidak ada yang mengetahui keberadaan Rindiani.


Hasan mencoba mendatangi rumah Lia, orang terakhir kali yang bertemu dengan Indi.


Sesampainya di rumah Lia, Lia terlihat ketakutan dengan kedatangan Hasan. Kabar tentang kehilangan Indi sudah menyebar di setiap RT, bahkan RW sebelah juga mengetahuinya.


Lia berkata jujur pada Hasan tentang Indi yang meminta nomor telepon Melda. Dan menceritakan maksud kedatangan dan keinginan Rindiani.


Hasan menatap kosong kearah pintu, perasaannya hancur dan kecewa setelah mengetahui bahwa anaknya pergi demi menggapai cita-citanya.


"Beh." Lia menundukkan kepala, lalu meminta maaf pada Hasan. Pasalnya, Lia sudah beberapa kali mencoba menghubungi nomor Melda, namun nomornya tidak aktif.

__ADS_1


Hasan pergi meninggalkan rumah Lia tanpa berucap apa pun.


***


Malam pun tiba. Rindiani berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Ia memegang perutnya yang lapar, mulutnya kering karna kehausan.


Rindiani melewati warung-warung angkringan yang berada di pinggir jalan. Aroma makanan yang menggugah selera membuat Indi hanya bisa menelan ludahnya. Indi menatap nanar orang-orang yang tengah menyantap makanan, apalagi saat melihat seorang anak muda tengah meminum minuman segar, Rindiani langsung memalingkan wajahnya, lalu bergegas pergi menjauh dari tempat angkringan tersebut.


Dari arah sebrang jalan. Rindiani melihat para pengamen dan pengemis tengah berbaring beralas dus-dus bekas di depan ruko-ruko yang sudah tutup. Ia menggelengkan kepala, menolak pada dirinya sendiri jikalau Indi bergabung tidur di sana.


"Mba," dari arah belakang ada seorang ibu menepuk pundak Indi. Ibu itu tengah menggendong anaknya yang tertidur pulas.


"Eh," sontak saja Indi terkejut dan melangkah menjaga jarak dengan ibu tersebut yang ternyata adalah seorang pemulung.


Indi menatap kedua bola mata ibu itu, dalam hatinya ia merasa terharu, pasalnya baru kali ini ada orang yang menyapa dirinya. Padahal semenjak ia melarikan diri dari rumah bordir orang-orang yang melihatnya hanya mengacuhkan bahkan tidak ada yang menyapa atau pun bertanya.


"Em... anu, aye... kagak tau harus kemane bu, aye..." Rindiani menundukkan kepala, air matanya berlinang, ia mencoba menahan tangisannya, namun air matanya masih saja lolos mengalis deras di kedua pipinya.


Ibu itu menatap kasihan pada Rindiani, lalu berinisiatif untuk mengajaknya tinggal bersamanya di rumah bedeng. Rindiani tersenyum mengembang, tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangguk-anggukan kepala menyetujui ajakan ibu itu.


Keesokkan harinya. Rindiani terbangun dan duduk bersandar di tembok yang sudah usang. Ia memperhatikan Ibu itu tengah memisah-misahkan hasil mulungnya yang kemarin di dapat.


Indi mendekati Ibu itu, mencoba membantunya.

__ADS_1


"Panggil saja nama Ibu sesuka hatimu, tapi kebanyakan orang yang menyapa ibu, mereka menyebut Ibu sebagai pemulung, tapi terkadang ibu juga lupa dengan nama ibu yang sebenarnya, apalagi nama kepanjangannya." Celetuk ibu itu, ia tertawa terkekeh.


Rindiani tersenyum nanar, kehidupan orang-orang jalanan ternyata memiliki cerita kepahitan tersendiri. Termasuk dirinya yang sekarang. Rindiani pun berinisiatif memberitahukan namanya.


"Nama yang bagus," sahut Ibu itu.


"Dug! Crek!"


Tanpa sengaja, Rindiani menyenggol ember di belakangnya, satu buah kecrekan terjatuh tepat di samping Indi.


"Kecrekan?" gumam Indi.


"Itu kecrekan anak ibu, dia sangat menyukai suara kecrekan yang di mainkan para pengamen jalanan, jadi ibu membuatnya sendiri." Jelas ibu itu.


Rindiani menatap kecrekan itu sesaat, detik berikutnya ia meminta ijin meminjam kecrekan untuk mengamen di jalanan.


Ibu itu tersenyum dan memberikan kecrekan itu pada Indi. "Ambil saja. Ibu masih bisa membuatnya."


"Makasih, bu. Kalau begitu, aye pamit."


Rindiani bergegas pergi, kemudian berjalan menyusuri jalanan, ia menatap kecrekan yang ia bawa, Indi celingukan memperhatikan orang-orang, sebenarnya ia merasa malu jika harus mengamen. Akan tetapi, saat ia teringat dengan perutnya yang lapar, terpaksa Indi harus melakukannya.


Rindiani mencoba bernyanyi di salah satu warung makanan. Awalnya ia di usir, namun di warung berikutnya ia mendapatkan uang lima ratus rupiah. Indi tersenyum senang, lalu di warung selanjutnya ia bersemangat menyanyikan lagu supaya bisa menghasilkan lebih banyak uang.

__ADS_1


..........


__ADS_2