
Wajah bumi yang berupa danau, di kelilingi oleh pegunungan dan hutan belantara.
Di tengah danau, ada 3 buah paviliun yang di hubungkan oleh koridor panjang.
Interior serta desain nya, mirip seperti kombinasi dari dunia kuno dan modern.
Duduk di sofa putih yang lembut adalah gadis kecil bertanduk, dia sedang asyik makan permen susu.
Kakinya terus berayun-ayun dan meninggalkan bunyi 'gedebug' begitu kakinya menabrak dinding sofa.
Tidak jauh dari paviliun tempat Gadis kecil tinggal, ada sebuah perahu kecil dan seorang pemuda sedang memancing dengan tenang di atasnya. Oh! Itu adalah Rui Sei, tampaknya dia sangat bahagia saat ini.
Siulan!
Siulan!
Tak lama setelah siulan Rui Sei terdengar, air danau mulai bergelombang. Beberapa saat kemudian, banyak ikan besar dan kecil terpesona oleh kail pancing Rui Sei.
Tapi Rui Sei masih tenang, dia tak terburu-buru menarik pancingnya. Meskipun sudah banyak tarikan kuat yang datang.
[Catatan: Aku gak tau istilah memancing :v tolong ajarin]
Semakin lama Rui Sei menunggu, semakin keras tarikan dari kail, dia tahu bahwa ikan besar sudah mulai jatuh cinta pada umpannya.
“Hm, Niat pesona sangat kuat! Bahkan monster danau, jatuh cinta pada trik ku.” komentar Rui Sei saat akal Spritual nya menyapu bawah danau.
Rui Sei melihat, se ekor ikan nila raksasa dengan gila menarik umpan di kailnya, sampai-sampai membuat mulutnya bengkok.
Saat ini, sosok gadis kecil bertanduk tiba-tiba keluar dari paviliun dan menatap ke bawah danau dengan ekpresi penasaran.
Rui Sei melihat itu dan tersenyum, dia paling tahu apa isi pikiran gadis kecil itu.
“Yin Er, ingin makan ikan besar?” dari atas perahu, Rui Sei bertanya dengan suara lantang.
“Ikan!” Mata Long Yin bersinar ketika mendengar kalimat itu, dia buru-buru mengangguk, “Mau, mau! Yin Er ingin makan ikan besar!”
Dia sebenarnya Long Yin, tapi begitu jiwanya di satukan kembali, Long Yin hanya bisa mengambil wujud manusia kecil begitu dia berubah. Selain itu, kecerdasannya juga menurun menjadi anak berumur 7 tahun. Juga, ia kehilangan ingatannya.
“Bagus! Hari ini, Ayah akan membuat masakan terlezat yang ada di bawah langit dan di atas bumi!” Rui Sei tertawa terbahak-bahak, begitu senangnya ia saat menyebut dirinya sebagai 'Ayah'.
__ADS_1
Adapun membuat masakan terlezat, sama sekali bukan hal yang sulit. Rui Sei memahami Niat memasak level 99+, semua masakan yang ia buat akan sangat lezat, bahkan jika ia memasak kotoran babi sekali pun.
“Yeaa, Pesta Ikan!” Long Yin sangat gembira hingga membuat ia melompat-lompat di koridor.
Sebagai Naga, Long Yin kecil, memiliki kerakusan akan makanan lezat. Dia bahkan rela menangis berjam-jam jika Rui Sei tidak menuruti keinginannya.
Begitu pun dengan rasa penasarannya.
Setelah mengkonfirmasi ke inginan Long Yin, Rui Sei langsung menarik pancing dengan sedikit kekuatan. Selanjutnya, ikan raksasa berbobot 20 ton terlempar ke langit, menciptakan hujan akibat percikan air dari tubuhnya yang klepek-klepek.
[Catatan: saya rasa itu kurang pantas “klepek-klepek:v”]
“Woaaah!” penonton Long Yin, melongo melihat pemandangan itu.
Karena semua ingatan lama Long Yin tertidur, dia jarang sekali melihat fenomena tak masuk akal seperti sekarang. Ter akhir kali penemuan luar biasa miliknya, adalah ketika Rui Sei membawa dirinya terbang dalam kecepatan cahaya dan berpindah tempat dari tempat ke tempat lain. Masing-masing tempat teleportasi yang di capai Rui Sei, tak kurang dari jarak 100 juta tahun Cahaya.
“Ambil gambar!” Long Yin berteriak.
Jiwa Long Yin tetaplah sangat kuat, dan ia hampir dalam sekejap mendapat kembali kendali pikiran.
Saat itulah Long Yin, terburu-buru mengambil kamera digital Canon versi xxx dari gelang penyimpanannya. Ia bertujuan untuk mengambil potret saat ini sebagai kenang-kenangan.
Kekuatan tempur Long Yin serta kecerdasannya, masih seperti dulu yang kurang hanyalah pengamalan dan pikiran.
Di sisi lain, Rui Sei memikirkan bagaimana ekpresi Long Yin begitu ia memulihkan kondisi jiwanya seperti semula, apakah dia marah atau benci saat tahu bahwa dia memanggil Rui Sei seorang “Ayah”.
“Bagaimana Yin Er? Gambarnya bagus?” Rui Sei yang mendapat kembali akal sehat bertanya kepada Long Yin.
Long Yin tengah mengevaluasi hasil jepretannya, menjawab, “Masih buruk, Yin Er masih belum bisa mengambil gambar sebagus Ayah.”
“Kamu sudah sangat bagus, teruskan saja latihan memotret dan kamu akan segera melampaui Ayah.” balas Rui Sei dengan tatapan kasih sayang.
“Baik Ayah!” kata Long Yin. Mengangguk gembira. Dia melanjutkan dengan pertanyaan, “Ayah, aku ingin makan bersama teman. Apa itu boleh?”
Rui Sei hampir tersandung, mendengar pertanyaan Long Yin, dia menatap gadis kecil yang sedang gelisah itu dengan aneh.
Menghela napas, Rui Sei membalas dengan pertanyaan, “Teman seperti apa yang kamu inginkan?”
Menyadari bahwa ia boleh membawa teman, Ekpresi gelisah Long Yin seketika menjadi tindakan burung bebas, itu terbang dan berputar-putar dengan anggun di langit.
__ADS_1
“Ayah, Yin Er tidak peduli, yang penting Yin Er punya teman.” suara gadis kecil milik Long Yin mencapai telinga Rui Sei.
“Jadi begitukah?” tanya Rui Sei pada dirinya sendiri.
Sepertinya, gadis Long merasa cukup kesepian.
Menggelengkan kepala, Rui Sei mencabut sebilah rambut dari kepalanya, lalu menip itu dengan lembut.
Xiu~
Setelah ledakan awan putih, rambut Rui Sei berubah menjadi bentuk dirinya. Seolah pikiran keduanya terhubung, jelmaan Rui Sei menghilang dari tempatnya dan muncul di suatu da erah yang tampak suram.
Sedangkan Rui Sei asli, segera pergi ke dapur untuk menyajikan makanan lezat.
———
Tangisan serigala!
Bunyi hantu!
Bunyi burung gagak!
Selalu terdengar di wilayah ini, terlihat cuaca sangat gelap dan pepohonan besar di hutan tampak layu tanpa kehidupan. Di setiap dahan pohon tanpa daun itu, gagak hitam bermata merah bertengger.
“Hmm!” Rui Sei palsu seperti merasakan sesuatu mendekatinya.
Benar saja, setelah beberapa tarikan napas lagi, sosok anak kecil yang imut tetapi berpakaian compang-camping keluar dari balik reruntuhan nan gelap.
Anak kecil itu sepertinya seorang laki berusia 5 tahun. Karena saking imutnya ia, Rui Sei palsu sampai berpikir untuk menjadikan anak itu sebagai anak keduanya.
“Adik kecil, di mana orang tua mu?” Rui SEI palsu berjalan menuju anak itu sembari bertanya.
“Hisk!” anak kecil tidak menjawab tapi dia berlari menuju Rui Sei sambil menangis.
“Aku takut! Kakak, jangan tinggalkan aku. Hisk!” Anak kecil itu terus menangis.
“Tahan, tahan!” Rui Sei menghibur, saat dia mendukung anak kecil yang hampir jatuh akibat berlari terlalu cepat.
Dalam jarak sedekat ini, Rui Sei dapat melihat ke imutan mutlak di wajah Pria kecil, dia tersenyum kepada pria kecil dan berkata, “Tenang saja, Kakak tidak akan meninggalkan mu.”
__ADS_1