
Berjalan meninggalkan Sofa, Rui Sei memanggil Pria kecil, “Nak, ikut denganku.”
“Ya, Tuan.” Pria Kecil mengangguk patuh dan segera bangkit dari tempat duduknya.
Dia sudah paham sekarang. Kekuatan Rui Sei bukan sesuatu yang pantas untuk dia pertanyakan, dan Gadis bertanduk tak lain adalah seorang anak dewa. Sejak menyadari itu semua, Pria kecil menjadi sangat patuh.
Long Yin yang melihat teman barunya mau di bawa pergi, buru-buru menuju Rui SEI lalu menaiki bahunya.
Rui Sei tidak merasa terganggu, dia menggunakan tangan kanan untuk menepuk paha lembut Long Yin dan berkata, “Ayah hanya ingin memberi hadiah untuk temanmu.”
Long Yin sangat gembira mendengar pernyataan Rui Sei.
Sedangkan Pria kecil, hampir mati karena terkejut.
“Apakah menjadi teman anak dewa sebagus itu.” batin Pria Kecil.
“Ayah, aku juga ingin hadiah!” kata Long Yin penuh harap.
Seingat Long Yin, hadiah apapun yang di berikan Rui Sei sangat bagus. Salah satunya, adalah camera Cannon dan berbagai jenis camilan rezat.
“Tentu saja Putriku sayang.” Rui Sei membalas dengan mencubit pipi lembut Long Yin, seketika pipi kecil Long Yin memerah.
Dia mengerang tak setuju, “Ayah, berhenti mencubit!”
Rui Sei tersenyum dan menarik kembali tangannya. Walau begitu, Rui Sei masih memiliki keinginan besar untuk mencubit wajah menggemaskan milik putri kecil.
Lambat laun, Rui Sei membawa kedua anak kecil ke sebuah halaman. Halaman itu seluas 500 meter dan di penuhi oleh berbagai macam jenis mainan untuk anak usia 5 sampai 8 tahun.
“Nah, Pria kecil!” Rui Sei berseru ketika langkah kakinya berhenti.
“Ya, Tuan.” Pria Kecil langsung menjawab, membungkuk hormat.
Dia sangat gugup, sampai napasnya tak tenang. “Hadiah Dari Dewa! Hadiah Dari Dewa!“ Pria kecil terus menggumam itu dalam hatinya.
Rui Sei memerhatikan ketakutan serta kekaguman dari tindakan Pria Kecil, sungguh dia tidak senang.
“Pria kecil, siapa namamu?” Rui Sei bertanya.
Hal penting adalah mengetahui nama Pria kecil ini, agar dapat memanggilnya lebih mudah. Tentu saja yang di inginkan Rui Sei adalah jawaban jujur.
“Maaf tuan, si kecil tidak memiliki nama.” jawabnya.
Benar-benar canggung! Sebagai siluman, dia hidup terpisah dari kehidupan sosial dan nama yang dia miliki hanyalah Siluman pencuri. Nama itu, hanya sebatas gelar yang di berikan para manusia padanya.
“Apa tidak Keberatan, jika aku memanggil mu Wang Yun?” Rui Sei menyatakan keinginan.
__ADS_1
Nama ini dia ambil secara acak, Rui Sei berharap, dia dapat menjadi kakak laki-laki yang baik untuk Long Yin.
“Wang Yun bertemu Tuan!” Wang Yun segera melakukan tindakan formal.
Karena sangat senang, gerakan Wang Yun sedikit kasar tanpa dia sadari.
Rui Sei menggelengkan kepala, “Anak ini perlu di ajari cara bersikap!” bisik Rui Sei Kepada Long Yin.
Long Yin hanya tersenyum! Sebenarnya, dia juga merasa aneh akan sikap Wang Yun. Bagi Long Yin, tindakan formalitasnya terlalu berlebihan.
Rui Sei ingin mengajari Wang Yun sendiri, tapi dia sedang terdesak oleh misi.
Sosok misterius yang memiliki kekuatan berlebihan di sekitar hutan mati, terlalu menarik perhatian Rui Sei.
Selain itu, ia harus memastikan bahwa pihak lain tidak memiliki jahat terhadap keluarganya.
“Baik, mulai sekarang kamu dapat memanggil aku Paman. Ini hadiah untuk mu.” kata Rui Sei sembari melempar cincin Ruang kepadang Wang Yun.
Wang Yun melihat cincin Ruang terbang ke arahnya, buru-buru mengambil. Setelah melihat isinya, dia langsung menangis,
“Terima kasih Tu- Paman!”
Long Yin tercengang, ia pikir hadiah pemberian Rui Sei mengecewakan tapi kenapa ada ucapan terima kasih?
Karena keadaan aneh, Long Yin memilih diam dari pada bertanya.
Long Yin melihat bola cahaya, dari sudut mata Long Yin itu adalah sejumlah besar camilan mewah!
Bola Cahaya merupakan ruang yang di kompres, hanya seorang Saint yang dapat mengkompres ruang menjadi kecil.
Di dalam ruang terkompres itulah camilan mewah di tumpuk.
“Makasih papah, Muach!” Long Yin menerima Bola cahaya dan langsung menyimpan nya ke dalam Gelang.
Tak lupa juga, Long Yin melirik Wang Yun, setelah melihat pria kecil sibuk dengan cincin ruangnya, barulah Long Yin menghela napas lega.
Makanan adalah kemewahan, Wang Kecil tidak memenuhi syarat dapat camilan dari Ayah!
Rui Sei merapikan rambut Long Yin Yang agak berantakan, berkata, “Baiklah, Ayah punya urusan bisnis. Kamu jaga rumah bersama Wang Yun. Jangan nakal!”
Hati Rui Sei selalu hangat ketika berada di sisi Long Yin. Entah mengapa, rasanya jauh lebih baik dari pada di dekat Yue.
Jika dekat Yue seperti dapat kehormatan bersama orang suci, maka dekat dengan Long Yin terasa seperti memiliki orang Suci di pelukan.
Kegembiraan Long Yin menghilang seketika, ini pertama kali baginya berpisah dari Rui Sei sejak pertama kali dia bangun.
__ADS_1
Dia bertanya,
“Kapan Ayah pulang?”
“Sore.” jawab Rui Sei. “Tapi tenang saja, ayah akan membawa lebih banyak hadiah ketika pulang nanti.” lanjut Rui Sei.
Sebelum berbalik, Rui Sei menegaskan ucapannya sekali lagi.
“Ingat, jangan meninggalkan rumah!”
Long Yin agak kesal! Kenapa ayah pergi tanpa membawaku, ayah kamu benci Long Yin.
Namun, Long Yin dapat melihat sedikit kegelisahan di wajah Rui Sei, jadi dia memilih untuk mempercayai Rui Sei.
Selanjutnya, Long Yin membalas dengan kesal,
“Iya, dasar ayah bawel!”
“Wang Kecil, ikut ayo bermain.” ajak Long Yin. Long Yin kemudian berlari ke sisi Wang Yun dan menarik tangan pria kecil itu.
“Ya, Nona.” Wang Yun menganggukkan kepalanya sambil mengikuti Long Yin dengan patuh.
Sebelum itu, Wang Yun melirik tempat di mana Rui Sei sebelum berdiri, tapi dia sudah tidak menemukan siapapun.
“Panggil aku Kakak.” Long Yin menendang Wang Yun.
Setelah kepergian Rui Sei, Wang Yun mulai di hajar habis-habisan oleh Long Yin. Wang Kecil, sepenuhnya menjadi bahan pelampiasan amarah Long Yin. Meskipun seperti itu, Wang Yun tidak memiliki keberanian melawan.
———
Muncul dari ruang kosong, Rui Sei langsung di serang oleh energi Spiritual yang tebal.
Di dunia ini, jarang-jarang bagi Rui Sei menemukan tanah spiritual yang dapat memberinya ketenangan pikiran.
Mau tak mau ia berkomentar,
“Tempat yang bagus! Apakah ini tempat yang orang misterius itu singgahi.”
Masih dalam ke adaan linglung, Rui Sei tiba-tiba mendengar ucapan selamat dari arah belakangnya.
“Selamat datang di kota Fana.”
Rui Sei berbalik, hanya untuk menemukan seorang Prajurit berzirah perak membawa tombak besi.
Prajurit itu tinggi dan memiliki tubuh se kokoh gunung.
__ADS_1
Di belakang Prajurit, terlihat gerbang kota setinggi 20 meter dengan luas 50 meter. Sementara tembok kota, menjulang tinggi.
Di atas gerbang, ada plakat tertulis [Mortal City]