
Pertengahan Juli 2016
Di cafe langganan mereka, Airin, Ana, dan Alessa sudah duduk ngobrol sejak tiga puluh menit yang lalu. Ketiganya sedang menunggu Arina. Sudah berbulan-bulan mereka tidak kumpul bersama, dan akhirnya kemarin Alessa meminta waktu mereka untuk berkumpul di cafe langganan mereka sejak SMA.
"Arina mana sih nggak dateng-dateng?" keluh Airin.
"Biasanya dia yang paling on time." Ana menimpali.
"Sabar. Kan sekarang Arina ada yang lebih diprioritasin." ucap Alessa menenangkan.
"Kita nggak sesabar elu, Al." ujar Airin.
"Idih... Kita? Elu aja kalik. Gue sabar sabar aja nunggu Arina." jawab Ana.
"Biasanya elu paling nggak suka kalau ada yang nggak on time."
"Lihat sikonnya dulu. Ini kan acara santai, kumpul-kumpul biasa, jadi ya nikmatin lah, Rin. Urusan Arina mau dateng kapan nggak usah dipikirin." ucap Ana. Airin hanya mencebikkan bibirnya.
"Udah udah. Kita pesen makan dulu aja. Kali ini aku yang traktir." ajak Alessa, menenangkan dua sahabatnya karena kebetulan dari tadi ketiganya hanya memesan minuman saja.
"Seriusan, Al?" tanya Airin.
"Hmmm... Ini... Paling semangat kalau ditraktir." sindir Ana.
"Hehe... Rejeki, An. Harus bersyukur. Ya nggak, Al?"
"Iya. Makanya karena lagi ada rejeki lebih aku traktirin kalian. Pesen apa aja terserah deh."
"Alhamdulillah... Semoga makin sukses ya, Al." doa Ana.
"Aamiin..."
"Eh, Al. Ngomong-ngomong, elu jadi resellernya kak Adam atau gimana sih itu?" tanya Airin sambil membolak-balik buku menu.
"Jadi, aku bantuin postingin jualannya kak Adam, sekalian buat latihan besok kalo abis nikah kan otomatis aku bantuin dia juga kan? Niatnya sih cuma ngebantu tapi kata kak Adam kayak gitu tetep ada itungannya, jadilah aku dapet persenan tiap kali ada yang beli dagangan kak Adam lewat aku."
"Semacem dropshipper gitu berarti?" tanya Ana.
"Iya mungkin. Aku nggak tahu istilahnya. Hehe..."
"Eh, terus kerjaan lu di bimbel gimana?" tanya Airin.
"Masih juga kok, Rin. Cuma besok kalau udah nikah nggak tahu lanjut apa enggak. Kan kudu seijin suami juga. Lagian management bimbel tempat aku ngajar juga enak kok. Tentor diberi kebebasan nentuin jam-jam dan harinya apalagi kalau udah nikah, ijin suami jadi landasan utamanya."
"Sama kayak punya ku itu, Al." komentar Ana.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya, An."
"Iya, alhamdulillah banget, Al. Eh, Rin, elu masih jalan yang rajut-rajut itu?" tanya Ana kepada Airin sambil menuliskan pesanan di kertas pesanan.
"Masih. Nah itu yang bikin kuliah gue nggak kelar-kelar. Arina sampe udah lulus S2, gue S1 aja belum kelar."
"Keenakan kerja sih lu."
"Bener, An. Gue baru tahu, kalau uang itu rasanya manis. Ahahahaha..."
"Alhamdulillah, Rin, kalau bisnis kamu lancar. Tapi, pendidikan tetep nomor satu, apalagi kamu tinggal skripsi aja kan? Kasihan mama kamu yang udah bayarin kuliah sampe sejauh ini." nasehat Alessa kepada Airin.
"Dua semester terakhir gue bayar sendiri sih, Al. Hehe."
"Masya Allah. Hebat dong. Nah, harusnya tambah sayang tuh kalau uang bayar kuliah mubazir gara-gara kamu nggak rampung kuliahnya."
"Bener tuh, Rin. Selesaiin dulu lah skripsi lu."
"Pengennya gitu. Tapi orderan ada terus, gimana dong? Kalau mau hire orang, gue tuh orangnya nggak puas kalau bukan gue sendiri yang ngerjain."
"Susah sih ya. Mmm... Atau lu close order dulu aja. Open ordernya nanti lagi kalau skripsi udah hampir selesai." saran Ana.
"Mmmm... Coba deh ntar gue pikirin dulu gimana. Kalau close order, kantong bisa kering doong."
"Lebih susah lagi tuh."
"Itu lho, Na. Airin bingung mau nyelesein skripsi tapi pesenan rajutan dia ada terus." jawab Ana.
"Iya, sayang kan udah bayar mahal-mahal cuma kurang skripsi aja masa' stop." Alessa menambahi.
"Kalau hire orang, gue musti cari yang kerjaannya bener-bener bisa halus, rapih dan cepet, dan itu nggak gampang. Kalau close order, kantong gue bisa kering, Na." ucap Airin mengulang saran dari Ana.
"Mmm... Gimana kalau minimal ordernya kamu kurangi, Rin? Misal sebulan kamu biasanya open order lima biji, kamu kurangin jadi tiga atau dua gitu, jadi kantong kamu nggak kering-kering amat, dan kamu punya waktu buat ngerjain skripsi." saran Arina.
"Elu emang jos, Na. Good idea ituu." jawab Airin semangat.
"Alhamdulillah ya, Rin, udah ada jalan keluarnya." ucap Alessa lembut. Airin hanya tersenyum lebar.
"Eh, elu tumbenan telat, Na?" tanya Ana kepada Arina.
"Iya, maaf yah. Tadi diajak Mas Leon ke bandara dulu jemput temennya yang dari Jepang. Baru aku dianter kesini dari bandara."
"Cowok?" tanya Ana antusias.
"Elu, An. Kalau denger kata Jepang aja, langsung deh." Airin menyambar cepat pertanyaan Ana.
__ADS_1
"Biarin. Cowok, Na? Cakep?"
"Cakep sih. Tapi sayangnya cewek." jawab Arina sambil nyengir.
"What? Cewek? Terus tadi dari bandara langsung kesini, berarti sekarang Mas Leon berduaan dong sama tuh cewek Jepang di mobil?" tanya Airin kaget.
"He'em."
"Dan elu cuma kalem aja gitu jawab 'he-em'?" sekarang Ana yang dibikin heran dengan sikap Arina.
"Emang kenapa sih?" tanya Arina dengan polosnya.
"Wah parah lu, Na." jawab Ana.
"Iya nih, parah." tambah Airin.
"Mungkin maksud Ana sama Airin, kamu nggak cemburu gitu Mas Leon berduaan sama cewek lain di mobil?" tanya Alessa yang sebenarnya juga heran dengan sikap Arina.
"Ooooh~ enggak. Biasa aja sih." jawab Arina santai.
"Elu nggak cemburu? Elu belum mulai jatuh cinta gitu sama Mas Leon?" tanya Airin geregetan.
"Nah terus kalau aku udah cinta sama Mas Leon, harus banget gitu aku cemburu sama sahabatnya dari jaman SMP di Jepang?" jawab Arina tak kalah geregetan.
"Oh, jadi itu sahabat suami kamu, Na?" tanya Alessa.
"Iya, Al. Semalem Mas Leon cerita kalau sahabatnya dari Jepang mau dateng, pengen kenal sama aku katanya, soalnya pas nikah dia nggak bisa dateng. Jadi, sekalian liburan disini beberapa hari gitu dia pengen kenal sama aku. Orangnya baik sih, ramah." jelas Arina.
"Nggak keliatan ganjen ganjen gitu sama Mas Leon, Na?" tanya Ana sedikit menggoda.
"Biasa aja sih tadi aku lihatnya. Kayak ngeliat Airin sama Ito yang nggak pernah akur. Ehehehe."
"Sial. Gue dibawa-bawa."
"Emang bener gitu, Rin. Mirip. Cuma Misaki-chan lebih cewek dibanding kamu."
"Misaki-chan?" tanya Ana dan Airin bebarengan.
"Temennya Mas Leon tadi."
"Oh~"
"O ya, Al. Kenapa nih nyuruh kita kumpul? Kayak mendesak banget gitu." tanya Arina mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh iya. Sampe kelupaan. Ini. Dateng ya." jawab Alessa sambil menyodorkan tiga undangan untuk ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Ketiga sahabatnya memandang kartu undangan dengan wajah yang berbinar. Menatap kartu undangan dengan pikiran masing-masing yang hanya Tuhan yang tahu. Namun satu yang pasti, doa tulus tetap terlantun dalam hati bagi sahabatnya yang hendak mengikat janji. Semoga lancar sampai surga, Al.