Salah Jodoh?

Salah Jodoh?
Undangan (part 2)


__ADS_3

Sabtu sore yang cerah mengguratkan seberkas senyum di wajah Arina. Dalam perjalanan pulang dari cafe, senyum Arina tak lepas dari wajah mungilnya, membuat Leon yang duduk di sampingnya sulit konsentrasi nyetir karena senyum Arina yang... sayang untuk dilewatkan.


"Happy banget kayaknya abis ketemu temen-temen?" pancing Leon yang sudah tak tahan melihat senyum Arina terus terkembang.


"Seneng lah, Mas. Udah lama nggak ketemu temen-temen. Terakhir kapan itu Airin doang yang main ke rumah." jawab Arina masih dengan senyum yang... hmmm.


"Temen-temen kamu kayak kebun binatang ya." komentar Leon.


"Kok kebun binatang sih, Mas?" tanya Arina sedikit mengerutkan dahinya.


"Iya. Kebun binatang. Macem-macem gitu. Ada yang alim banget sampe nggak mau salaman tangan, ada yang tomboy dan asik, ada yang girly gaul juga, ditambah kamu yang..." Leon menjeda, mencari kata yang pantas untuk menggambarkan Arina.


"Yang apa, Mas?" tanya Arina penasaran.


"Yang imut-imut manis ngegemesin." jawab Leon sambil menowel hidung mancung Arina.


"Hmm... Gombalnyaaaa...." sahut Arina dengan sedikit rona merah di pipinya.


"Gombalnya dapet pahala. Hehe. Lagian faktanya kamu emang imut-imut manis ngegemesin yang suka bikin aku nggak tahan pengen cepet-cepet pulang kerja tiap hari."


"Apaan sih Mas." Arina menepuk bahu Leon, masih dengan rona merah di pipi. Sejak keduanya saling berusaha membuka hati dan komunikasi, hubungan antara Arina dan Leon semakin membaik, bahkan bisa dikatakan sekarang adalah masa anget-angetnya. Leon yang mulai merasakan desir-desir rindu tiap kali jauh dari Arina sudah berani melakukan kontak fisik seperti tiba-tiba memeluk, mencium kening atau pipi dan kadang mampir ke bibir. Dan semua itu tak pernah ada sinyal penolakan dari Arina. Walaupun begitu, keduanya belum melancarkan aksi malam pertama. Entahlah. Mereka hanya mengikuti arus yang membawa hubungan mereka.


"Nggak nyesel aku nerima perjodohan kita." ucap Leon. Arina hanya tersenyum tipis.


"Kamu nyesel nggak, Rin, nikah sama aku?" tanya Leon setelah hening beberapa saat.


"Menurut kamu, Mas?"


"Kamu ini, ditanya malah balik nanya. Aku nggak mau berasumsi, makanya aku nanya kamu biar aku juga tahu gimana perasaan mu dengan pernikahan kita ini."


Arina diam sejenak.


"Awalnya... Bukan nyesel sih, tapi sedih."


"Gara-gara putus?"


"Itu juga sih. Tapi ada lagi yang bikin aku lebih sedih."


"Apaan?"


"Kamu yang dingin. Irit bicara. Bikin aku bingung mau ngomong apa. Jadi pas awal-awal dulu sempet pengen pulang ke rumah ayah."


"Hehe. Maaf. Aku juga bingung mau ngobrolin apa, jadi malah banyak diemnya dan bikin suasana nggak nyaman. Maaf ya."


"Iya nggak apa-apa, Mas."


"Nah itu tadi kan awal-awal. Kalau sekarang? Kamu seneng nggak?"


"Masih perlu dijawab?"


"Tuh diulang lagi. Ditanya balik nanya. Hadeeeh..."


"Ehehehehe. Ya gitulah Mas."


"Gitu gimana? Yang jelas dong jawabnya."


"Iya."


"Iya apa?"


"Iya seneng."


"Kenapa?"


"Iiiiihhh..."


"Kenapa?"


"Kamu tuh."


"Seneng kenapa istri ku, sayang?" Arina terpaku. Baru pertama kali itu Leon memanggilnya sayang.


"Malah bengong."


"Udah ah, Mas."

__ADS_1


"Belum dijawab kok udah."


"Kan udah dijawab."


"Yang barusan belum."


"Yang mana?"


"Hih. Kenapa seneng? Lama-lama aku cium juga nih kamu, bikin aku gemes."


"Ya seneng. Ternyata kamu baik, hangat, dan..."


"Dan apa?"


"Rahasia."


"Berani main rahasia-rahasiaan ya sama aku."


"Berani dong. Kalau kata Alessa, takut tuh cuma sama Allah, Mas."


"Bener juga sih. Eh, dan apa tadi lanjutannya?"


"R.A.H.A.S.I.A."


Leon menginjak rem mendadak. Dia menoleh mentap Arina dengan tatapan yang tak bisa Arina artikan.


"Berani ya kamu."


"Kan tadi sud..."


Bibir Leon yang menempel di bibir Arina sukses menghentikan kalimat Arina.


"Jadi apa lanjutannya?" tanya Leon masih dengan nafas memburu hanya berjarak satu senti dari wajah Arina. Arina yang masih bergetar karena ciuman dadakan dari Leon berusaha menguasai dirinya.


"Dan... romantis." jawab Arina sambil menatap intens di kedua mata Leon. Leon tersenyum kemudian mencium bibir Arina lagi.


"Makasih." ucap Leon, kemudian kembali ke posisi mengemudi.


"Makasih udah terima perjodohan ini." ucap Leon sekali lagi sambil mengelus pucuk kepala Arina. Arina hanya mengangguk sambil tersenyum. Bibirnya masih kelu untuk membalas ucapan Leon. Mobil kembali melaju dengan hening di dalamnya. Sepasang suami istri itu sedang dalam pikiran masing-masing. Membayangkan kemesraan yang baru saja terjadi tentunya.


"Nggak mau dia. Nggak enak katanya. Nggak bisa bebas. Dia nginep di hotel."


"Yah, padahal aku udah semangat banget pengen kenal dia lebih dekat. Seru kayaknya."


"Besok aja kita jalan-jalan berempat."


"Berempat?"


"Iya. Kamu, aku, Misaki sama Andrew."


"Boleh boleh."


"Eh, sama tadi Misaki ngasih undangan nikah. Ternyata dia kesini tuh tujuan utamanya buat ngasih undangan itu."


"Hah? Dari Jepang kesini cuma mau ngasih undangan? Kan bisa lewat pos."


"Hahahahaha. Katanya kalau lewat pos nanti aku nggak dateng ke nikahannya dia."


"Berarti kamu mau ke Jepang, Mas? Kapan?"


"Aku lupa tanggalnya. Undangannya di dalem dashboard tuh, coba kamu lihat tanggal berapa. Bulan depan kayaknya."


"Tanggal 8? Barengan dong sama nikahannya Alessa." ucap Arina sambil membaca undangan pernikahan Misaki


"Serius?"


"Iya, Mas. Tadi Alessa juga ngasih undangan nikah. Tanggal 8 Agustus besok."


"Duuuh..."


"Kamu kudu banget dateng ke nikahannya Misaki?"


"Sama halnya seperti Alessa buat kamu, Misaki itu temen pertama aku pas aku pindah ke Jepang."


"Tapi kan dulu dia nggak dateng pas kamu nikah, Mas. Jangan-jangan dulu dia nggak dateng karena patah hati."

__ADS_1


"Hah? Patah hati? Ahahahaha. Kamu ada-ada aja, Rin. Dia nggak dateng karena dia nggak bisa ninggalin kerjaan dia. Selain urusan bisnis, dia nggak bisa dengan mudah pergi ke luar negeri. Hari ini aja dia udah rencanain dari awal tahun. Itupun mundur terus, harusnya bulan kemarin tapi harus mundur jadi bulan ini. Super sibuk dia."


"Emang dia kerja apa, Mas?"


"Dia itu satu-satunya pewaris perusahaan elektronik ternama di Jepang."


"Orang kaya dong."


"Banget."


"Tapi tadi dandannya biasa banget."


"Emang kayak gitu dia. Nggak suka pamer. Pas pertama kali tahu dia anak orang kaya aku juga kaget. Tapi dia bilang 'nggak usah minder, aku nggak mandang orang dari hartanya, tapi dari sikap tulusnya ke aku' gitu."


"Wow. Ada cewek cantik, kaya, dan baik di deket kamu gitu kok kamu nggak nikahin aja, Mas?"


"Cemburu ya?"


"Aku nggak cemburu. Serius nanya itu."


"Cemburu juga boleh. Hehe."


"Idih..."


"Ahahaha. Aku nggak nikahin dia bahkan macarin aja enggak karena apa? Karena satu, kita beda keyakinan. Dua, dia bukan orang Indonesia. Tiga, dia dan aku sama-sama nggak tertarik untuk berhubungan yang lebih dari sekedar sahabat."


"Kok bisa sih, Mas? Ana sama Airin aja akhirnya jadian sama sahabat cowok mereka."


"Entahlah. Mungkin kami punya prinsip yang sama."


"Tapi biasanya prinsip kalah sama perasaan lho, Mas."


"Masa'? Mmm... Emang bukan jodohnya kalik."


"Hmmm... Jadi positif ya kamu dateng ke nikahan Misaki?"


"Tadinya mau ngajak kamu. Tapi, sahabat kamu juga nikah."


"Hhh~"


"Eh, lagian ngurus paspor sama visa ke Jepang juga nggak gampang sih. Lama. Besok Senin biar Andrew anter kamu urus paspor sama visa."


"Lhoh buat apa, Mas? Kan aku nggak ikut ke acara nikahannya Misaki."


"Kita akan tinggal di sana. Bisnis yang disini bisa dicover sama ayah. Yang di Jepang perlu aku pegang penuh. Jadi, kalau paspor dan visa kamu udah jadi, kamu langsung nyusul kesana ya?"


"Nyusul? Kamu nggak jemput aku?"


"Aku jemput di bandara nanti. Masa' nggak berani?"


"Aku belum pernah naik pesawat, Mas." ucap Arina malu-malu.


"Nggak apa-apa. Begitu take off kamu tinggal tidur aja, ntar juga nyampe."


"Iiih, Mas."


"Kalau aku musti terbang dulu dari Jepang ke Indonesia buat jemput kamu, yang ada malah kita nggak jadi ke Jepang."


"Kenapa emang, Mas?"


"Jelas kan? Disini rumah ku, rumah kita. Selalu lebih nyaman di rumah."


Arina hanya terdiam. Dia tidak pernah membayangkan dia harus tinggal di Jepang. Selama ini dia kira Leon akan terus mengurus perusahaan yang di Jepang via online. Ternyata tidak.


"Kamu kenapa? Kalau kamu nggak mau ya nggak apa-apa. Cuma aku nggak mau jauh-jauh dari istri ku."


Kata-kata Leon membuat sesuatu di dalam hati Arina berdesir. Sesuatu yang entah bagaimana begitu menyenangkan.


"Mmm... Aku nggak bisa bahasa Jepang, Mas." jawab Arina menutupi perasaan hatinya.


"Nanti belajar sama aku. Tenaaaang."


"Mmm... Okelah."


"Gitu dong. Sekalian kita bisa honeymoon disana."

__ADS_1


Apa? Honeymoon?


__ADS_2