
Sinar mentari bulan Juli yang hangat, menambah ceria hari Minggu kala itu. Leon dan Arina sudah siap duduk di meja sarapan meski jam masih menunjukkan jam enam kurang seperempat. Bukan tanpa alasan sepagi itu mereka sudah sarapan di hari Minggu. Pasalnya, mereka akan hang out bersama Andrew dan Misaki.
"Jadinya kemana, Mas?" tanya Arina sambil menyuapkan sesendok nasi goreng buatannya.
"Misaki pengen ke pantai. Tuh anak kemana aja pasti yang dituju pertama kali pantai kalau diajak jalan-jalan." jawab Leon sambil menyuapkan suapan terakhir sarapannya.
"Hmmm... Pantai. Ramai nggak ya, ini kan Minggu."
"Makanya kita berangkat pagian."
"Kita nanti jemput Misaki dulu ke hotel?"
"Ng..."
"Ting tong..." suara bel pintu depan menghentikan kalimat Leon.
"Tuh mereka dateng." ucap Leon sambil berdiri kemudian berjalan menuju pintu depan. Arina yang sudah selesai menyantap sarapannya, kemudian bergegas membersihkan meja makan dan mencuci piring.
"Selamat pagi, Arina." sapa sebuah suara yang terdengar kaku berbahasa Indonesia. Arina menoleh, masih tetap mencuci piring.
"Eh, pagi, Misaki-chan. Bentar ya, aku cuci piring dulu trus kita berangkat."
"Tidak usah buru-buru." jawab Misaki dengan bahasa Indonesia yang kaku.
"Udah kok. Yuk, berangkat." ajak Arina ketika selesai mencuci piring.
"Dah siap, Rin?" tanya Leon ketika melihat Arina dan Misaki berjalan dari dalam rumah.
"Udah. Tadi barang bawaan yang aku siapin udah masuk mobil?" tanya Arina kepada Leon.
"Udah dong, Nyonya Leon Arkatama." jawab Andrew menggoda.
"Apaan sih, Mas Andrew."
"Ya udah yuk berangkat keburu siang." ajak Leon.
Keempatnya kemudian bergegas masuk mobil. Andrew yang menyetir sedang Leon duduk di sebelah Andrew. Di kursi penumpang, Misaki dan Arina sudah mulai mengakrabkan diri satu sama lain.
"Kamu belajar bahasa Indonesia dimana, Misaki?"
"Leon dan Andrew yang mengajari. Mereka sering berbicara bahasa Indonesia, jadi aku ingin tahu juga apa yang mereka bicarakan. Lalu mereka mengajari aku bahasa Indonesia."
"Sebenernya kita ngomong Indonesia kalau lagi ngomongin Misaki. Eeeh, malah dia minta diajarin." tambah Andrew.
"Awalnya Andrew tuh suka jerumusin, ngajarinya disalah-salahin. Lama-lama aku nggak tega liatnya. Abis Misaki udah serius-serius, malah dibo'ongin ama si kadal ini." Leon ikut menambahi.
"Kok kamu betah sih temenan sama mereka?" tanya Arina kepada Misaki. Misaki tak lantas menjawab. Dia terlihat bingung.
"Naze omae wa oretachi to tomodachi ni naru koto ni taeru koto ga dekiru?" tanya Leon kepada Misaki, mencoba menterjemahkan pertanyaan Arina yang membuat Misaki bingung.
"Ah~ sore wa... Kimitachi wa omoshiroi dakara."¹ jawab Misaki. Leon dan Andrew tertawa mendengar jawaban Misaki. Sekarang giliran Arina yang bingung, sama sekali tidak paham apa yang mereka ucapkan.
"Jadi, Rin, kata Misaki, dia betah temenan sama kita karena kita lucu." jelas Andrew.
"Ya. Mereka lucu." timpal Misaki.
"Lebih tepatnya, Andrew yang sering ngelucu sih." kini Leon yang menanggapi.
"Are? Ore dake?"² tanya Andrew.
"Mm." jawab Leon sambil mengangguk.
"Iie. Kimitachi futari."³ sahut Misaki.
Arina hanya terdiam mendengar ketiga orang yang dengan asyiknya ngobrol dengan bahasa Jepang. Ada rasa berat di hatinya. Sesuatu yang menyakitkan. Namun, Arina mencoba tersenyum ketika mendengar Leon, Andrew, dan Misaki tertawa. Apa ini yang namanya cemburu?
***
Arina pov
__ADS_1
Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pantai tujuan kami. Aku belum pernah ke pantai ini. Malah bisa dibilang kalau aku baru tahu ada pantai seindah ini di kota kami. Pantainya berpasir putih, air lautnya sangat jernih sampai kami dapat melihat karang di dasarnya. Suasana di pantai pun sepi, hanya ada kami dan tiga orang wisatawan saja yang sedang di pantai menikmati keindahan alamnya. Penjual cinderamata pun bisa dihitung jari jumlahnya. Bisa dibilang, pantai ini masih 'perawan'.
Kami berempat berjalan mendekati air laut. Mas Leon, Andrew, dan Misaki sedikit lebih dekat dengan air, sedang aku memang berdiri agak ke belakang. Aku hanya suka menikmati pemandangan pantai, bukan air lautnya. Terdengar sayup-sayup obrolan ketiga orang yang berdiri di depan ku ini.
"Huaa~ Kirei na~"¹ ucap Misaki yang aku nggak tahu apa artinya.
"Deshou?"² Andrew terlihat excited.
"Lu tahu darimana, bro?" tanya Mas Leon kepada Andrew.
"Gue gitu, bro." jawab Andrew membanggakan dirinya, kemudian berjalan ke arah ku.
"Gabung kesana, Rin." ajak Andrew.
"Sini aja aku, Mas."
"Kenapa?" tanya Andrew yang kini sudah berdiri di samping ku.
"Males basah. Hehe."
Hening menemani kami. Aku lihat Misaki berjalan mendekati air laut dan Mas Leon mengekor di belakangnya.
"Gue dulu sempet yakin kalau mereka bakal nikah. Tapi, ternyata gue salah." ucap Andrew tiba-tiba.
"Kenapa kamu seyakin itu, Mas?" tanya ku.
"Entahlah. Gue sendiri nggak seakrab itu dengan Misaki. Mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua daripada bertiga sama gue."
"Kok gitu? Bukannya kamu sama Mas Leon selalu kemana-mana berdua?"
"Iya sih. Tapi, nggak tahu kenapa, tiap kali ada Misaki gue selalu yang kayak ngasih ruang buat mereka berdua. Seperti sekarang ini."
"Mmm... Mereka nggak pernah jadian gitu, Mas?"
"Eh? Kenapa? Lu cemburu?"
"Setahu gue sih enggak. Nggak tahu juga gimana benernya. Pernah digosipin mereka pacaran, tapi baik Leon maupun Misaki mengelak sih kalau mereka pacaran."
"Mmm gitu..."
"Kalau gue lihat sih mereka mirip. Sama-sama pewaris tunggal. Mungkin itu sebabnya gue selalu ngerasa aneh kalau deket mereka."
"Iya juga sih ya. Pewaris tunggal. Bebannya berat banget pastinya."
"Pasti. Apalagi Misaki. Dia cewek pula. Makanya sempet kaget juga kemarin pas dia ngasih undangan nikah ke gue. Gue pikir dia nggak pernah bakal nikah. Ahahaha."
"Jahat banget sih, Mas."
"Yah, lu coba lihat aja dia. Cantik, kaya, pinter, baik. Paling nggak kalau mau jadi suami dia kudu selevel sama dia. Minder dong deketin anak konglomerat."
"Iya juga sih."
"Satu yang gue tahu."
"Apa, Mas?"
"Misaki itu satu-satunya cewek yang paling deket dengan Leon. Dan Leon satu-satunya cowok yang paling deket dengan Misaki. Tentang perasaan mereka satu sama lain, cuma mereka dan Tuhan yang tahu." ucap Andrew sambil menatap ke arah dua sahabat yang tengah menikmati air laut.
Aku mengikuti arah tatapan Andrew. Mas Leon dan Misaki berdiri berdampingan menatap laut. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi satu yang aku tahu pasti. Mas Leon tengah melupakan ku selama beberapa menit. Tak berselang lama, aku lihat Mas Leon tengah mengusap lembut punggung Misaki, begitu pun Misaki tengah mengusap lembut punggung Mas Leon. Bolehkah aku cemburu?
***
Leon pov
Gue selalu salut dengan Andrew. Dia selalu tahu hal detail tentang gue dan Misaki. Seperti hari ini, gue cukup terkejut dia menemukan pantai yang sepi seperti ini. Dia tahu kalau Misaki tidak begitu suka keramaian dan untuk pantai, dia tahu kalau pantai adalah tempat pelarian bagi Misaki. Tapi entah kenapa, dia selalu menjauh ketika kami bertiga sedang menghabiskan waktu bersama. Seperti saat ini. Entah apa yang dia bicarakan dengan Arina. Awas aja kalau dia berani macam-macam dengan istri gue!
Gue lihat Misaki yang memandang jauh ke laut. Jujur, gue sedikit kaget waktu dia ngasih undangan pernikahan ke gue kemarin. Gue nggak nyangka dia bakal nikah juga. Well, selama ini gue kira dia workaholic sama kayak gue dan nggak memikirkan pernikahan. Apa dia dijodohin juga?
"Miai ka?" tanya gue.
__ADS_1
"Miai?" tanya Misaki memastikan dia tidak salah dengar.
"Kekkon no koto."
"Aa~ un." jawab Misaki sambil mengangguk.
"Kaisha no tame." lanjutnya.
"Souka. Dounna otoko?"
Misaki tertawa kecil mendengar pertanyaan gue.
"Shinpai shinaide. Kare wa yasashii hito." Misaki menjeda kalimatnya.
"Dakara, shinpai shinaide." lanjutnya.
"Demo..."
"Arigatou, Leon. Atashi no koto kangaete kurete, arigatou. Demo, mou daijoubu. Atashi wa Leon ga suki dakara, kimi no egao ga mitai. Atashi shiawase narimasu. Dakara shinpai shinaide."
Kata-kata Misaki membuat gue terdiam sesaat. Misaki pernah mengungkapkan perasaannya ke gue ketika kami duduk di bangku kuliah. Gue tolak dia, bukan karena gue nggak suka, tapi karena ada banyak hal berbeda diantara kami. Dan yang pasti, beda keyakinan lah yang buat gue nggak berpikir panjang buat nolak Misaki.
"Oshiawase ni. Kekkon omedetou." ucap gue akhirnya sambil mengusap lembut punggung Misaki.
"Arigatou." jawabnya sambil mengusap punggung gue juga.
Satu yang pasti gue tahu. Keputusan menikah diambil Misaki sendiri, bukan karena paksaan. Dia bukan tipe orang yang bisa dipaksa. Awalnya gue sedikit mengkhawatirkan Misaki, tapi setelah berbincang dengannya gue jadi paham dan lega. Semoga bahagia, Misaki.
Author's note:
¹ Ah~ sore wa... Kimitachi wa omoshiroi dakara \= ah, itu... Karena mereka lucu
² Are? Ore dake? \= Eh? Cuma gue?
³ Iie. Kimitachi futari \= Tidak. Kalian berdua
Terjemahan dari Arina pov:
¹ Kirei na~ \= Indahnya~
² Deshou? \= Iya kan?
Terjemahan dari Leon pov:
"Miai ka?" (Perjodohan kah?")
"Miai?" (Perjodohan?)
"Kekkon no koto." (Tentang pernikahan)
"Ah~ un." (Ah~ iya.)
"Kaisha no tame." (Demi perusahaan)
"Souka. Dounna otoko?" (Oh gitu. Pria seperti apa?)
"Shinpai shinaide. Kare wa yasashii hito." (Jangan khawatir. Dia orang baik.)
"Dakara, shinpai shinaide." (Jadi, jangan khawatir.)
"Demo..." (Tapi...)
"Arigatou, Leon. Atashi no koto kangaete kurete, arigatou. Demo, mou daijoubu. Atashi wa Leon ga suki dakara, kimi no egao ga mitai. Atashi shiawase narimasu. Dakara shinpai shinaide."
(Terimakasih, Leon. Terimakasih telah memikirkan diriku. Tapi, aku sudah tidak apa-apa. Karena aku menyukai Leon, aku ingin melihat senyum mu. Aku akan bahagia, jadi jangan khawatir.)
"Oshiawase ni. Kekkon omedetou." (Semoga bahagia. Selamat atas pernikahan mu.)
"Arigatou." (Terimakasih.)
__ADS_1