![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Apa yang harus gadis itu takutkan jika dia sudah menjelma menjadi ketakutan itu sendiri?
Bagaimana mungkin ia akan takut pada kematian, jika sang gadis sudah melewatinya...
Namanya Sangkala.
Keberadaannya di tempat ini telah membuktikan satu kenyataan pahit. Bahwa gadis itu sudah mati..
Sang gadis adalah hantu.
Tentang apa penyebab kematiannya, atau kenapa Sangkala bisa sampai berada di sini. Semua masih menjadi misteri yang harus Sangkala temukan jawabannya.
Dan di antara semua penampakan yang ia lihat di tempat ini, hanya dia sesosok anak laki-laki yang berkenan menghampiri Sangkala. Dia pula yang memberitahukan nama Sangkala padanya.
Nama anak laki-laki itu adalah Dieter. Dieter bilang, dialah penghuni pertama di tempat ini. Anak laki-laki berwajah Eropa itu mengaku sudah singgah di tempat ini selama ratusan tahun.
Tanpa diminta, Dieter mulai bercerita tentang dirinya...
Dulunya, bangunan tempat mereka berada ini adalah sekolah putra untuk anak-anak pejabat pemerintahan Belanda.
Saat itu, hanya ada lima ruangan saja di atas tanah itu. Di masa Dieter bersekolah, semuanya berlangsung baik-baik saja.
Sampai suatu ketika, datanglah pasukan tentara Asia yang berbadan kerdil dan berjalan cepat.
Tentara Jepang.
__ADS_1
Tak ada yang tahu pasti apa yang sejatinya terjadi. Yang Dieter ingat hanyalah rasa takut dan bingung, beradu menjadi satu. Mereka yang sedang khusyuk belajar tiba-tiba dipaksa keluar ruangan dengan kekerasan.
Para murid lantas dikumpulkan di tengah lapangan, diseret dan dijemur layaknya anak-anak kerbau di bilik tukang jagal.
Pemimpin dari tentara Jepang itu berwajah dingin dan kosong layaknya hantu. Sedangkan anak buahnya berdiri memagari dengan todongan bedil yang tertuju ke arah para murid.
Ini bukan gertak sambal semata. Nyawa murid-murid yang membangkang sudah regang oleh desingan peluru. Sementara itu, bapak guru diserahi sepucuk pistol kecil oleh pemimpin mereka.
Tujuannya satu..
Membantai murid-muridnya sendiri. Satu perintah menyalak, tiga sampai empat peluru wajib diletupkan. Menolak bukanlah pilihan, secepat itulah pak guru harus mengambil keputusan.
Dieter lolos dari maut saat tembakan itu berlangsung. Saat itulah pak guru merasa tahu apa yang harus ia perbuat. Sebuah keputusan yang diambil dalam kurang dari sedetik.
Saat Dieter berpikir bahwa ia telah lolos dari maut, ancaman lain telah menyambutnya, wajahnya di injak-injak hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Dan itu membuat keadaan menjadi buruk.
Jauh lebih buruk...
Dieter kembali tersadar di saat lebam di sekujur badannya berdenyut nyeri secara konstan. Masih di bawah naungan rasa takut dan sakit, apa yang telah ia saksikan telah mematikan seluruh rasa di tubuhnya.
Kini ia hanya bisa pasrah pada situasi yang menimpanya. Para tentara Jepang yang tersisa membawa Dieter dan mayat lain ke gudang penyimpanan beras di belakang sekolah.
Kedua tangan kecilnya dirantai, membuatnya bak daging kerbau usai penjagalan. Dan pemikiran itu lahir bukan tanpa sebab. Apa yang disaksikan dengan separuh matanya sangat mengguncang nalar.
Para tentara Jepang itu menyantap tubuh bapak guru beramai-ramai. Para murid lain tinggal menunggu giliran. Dan yang masih belum seutuhnya mati dibiarkan menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
__ADS_1
Tak kuat menahan, satu isakan lolos di mulut Dieter. Membuat tentara di hadapannya menoleh dan tanpa belas kasih menebas tubuh Dieter.
Pada malam itulah ia kehilangan kedua kakinya sebelum akhirnya disusul dengan hilangnya nyawa. Begitu terbangun, ia sudah memiliki wujud seperti ini. Ia terbangun sebagai hantu beberapa hari setelah kisah itu terjadi.
Namun satu hal kecil yang masih amat mengganggu Sangkala. Bagaimana mungkin di satu tempat ini ada berbagai macam penampakan hantu?
Dieter menjawab, di tempat inilah para pemburu hantu membuang hasil buruannya. Di bangunan ini terkumpul hantu-hantu yang dibuang dari tempat asalnya.
Mereka semua adalah kumpulan arwah terbuang yang tak tenang, bahkan setelah kematian menjemput. Mereka yang seharusnya beristirahat dengan tenang di alam kubur justru terdampar di sini bersama-sama.
Jika benar demikian, maka mereka harus pulang.
...****************...
...Catatan Hari Ke-1...
...Dear, diary......
...Kini setidaknya aku tahu apa yang melandaku. Namun ini baru saja dimulai. Semakin besar misteri yang muncul menghadang, semakin besar pula keinginanku untuk berjuang. ...
...Setidaknya aku tidak sendiri......
...Aku tidak sendiri........
^^^-Sangkala^^^
__ADS_1