
Papa Aini bernama Rain Chandra, Mama Aini bernama Kaili flower.
Melihat suaminya duduk termenung, membuat Aini resah. Ia bisa mengerti perasaan pak Chandra, namun bagaimanapun, ia tidak ingin melihat suaminya terpuruk dalam kesedihan.
"Pa!" panggil bu Kaili.
Pak Chandra pun langsung menoleh, menatap wajah kesedihan untuk bu Kaili.
"Maafkan Papa, Ma. Papa harus terlihat menyedihkan seperti ini di depan Mama," ucap pak Chandra.
Bu Kaili pun tersenyum lalu menggenggam tangan pak Chandra.
"Tidak apa-apa, Pa. Semua orang juga pasti merasakan hal yang sama dengan Papa. Siapapun akan merasa sedih, jika merasakan apa yang Papa alami. Namun Mama tidak ingin melihat Papa terpuruk dalam kesedihan. Ini bukan salah Papa, Papa sudah melakukan yang terbaik," ucap bu Kaili menenangkan pak Chandra.
"Tapi, Ma. Tetap ini salah Papa, gara-gara Papa ini semua terjadi. Arwah Ryan masih berada di dunia ini, itu pertanda dia tidak tenang, Ma. Papa sangat merasa bersalah, apa yang harus Papa lakukan, sementara kita anggap Hanna anak, karena rasa bersalah," saut pak Chandra, tanpa ia rencanakan, air matanya pun mengalir dan tidak bisa dipungkiri, sekarang ia semakin merasa menyesal dan merasa bersalah terhadap Ryan.
"Tapi Ryan sudah ikhlas, Pa. Dia sudah bahagia melihat Papa bahagia, Mama yakin, Hanna wanita yang baik, dia tidak akan pernah mengutuk Papa, jika ia tahu semuanya."
"Tetap saja, Ma. Papa tetap salah. Dia wanita yang baik, kenapa dia harus mengalami ini, dan kenapa Papa sama sekali tidak bisa ingat siapa keluarganya, bagaimana Papa bisa membantunya," ucap pak Chandra, dan semakin membuat terasa sesak, hingga ia menangis dengan terisak.
__ADS_1
"Sudah, Pa. Papa jangan begini, ini semua sudah kehendak Dewa. Dewa sudah mempertemukan dia dengan, Hanna. Hanna pasti melakukan yang terbaik untuk membantu Ryan, mereka tetap bisa bersama kok."
Bu Kaili pun hanya bisa menghibur pak Chandra, karena bagaimanapun, siapa saja juga akan merasakan hal yang sama.
***
Berbeda Hal Dengan Hanna.
Selesai fashion show, Aini pun memutuskan untuk mengunjungi Hanna. Rasanya sudah lama ia tidak menemui saudara hatinya itu.
Hanna yang fokus di depan laptopnya, membuat Ryan semakin takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Kecantikan Hanna merupakan pemandangan yang sangat indah untuk dipandang.
Ryan pun langsung gegabah, dengan cepat ia langsung memalingkan tatapannya.
"Siapa yang sedang lihatin kamu?" jawab Ryan mengelak, dan Hanna pun tersenyum.
"Aku tau aku cantik, sudah banyak yang mengatakannya," ucap Hanna lagi.
"Uwek," saut Ryan mengumpat, mencoba menggoda.
__ADS_1
Hanna pun kembali melanjutkan pekerjaannya, lalu tiba-tiba pintu kantornya terbuka, membuat Hanna dan Ryan tercengang.
"Hai, Hanna. Apa kabar? kamu kok sendirian Mulu, aku tuh ga bisa curhat deh." tanya Aini lalu memeluk Hanna dengan erat.
Hanna pun memperhatikan Ryan dan Ryan hanya tersenyum.
"Aku baik, kamu apa kabar? memang pekerjaanmu sudah beres Aini?'
"Aku juga baik, aku sangat merindukan kerja barengan satu partner sama kamu deh Hanna." kata Aini, Aini selalu melakukan hal yang sama, setiap bersama dengan Hanna, ia selalu erat lengket.
Hanna hanya bisa diam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dan malam ini Aini juga meminta untuk menginap di apartemennya Hanna, membuat Hanna tidak bisa untuk menolak.
Melihat wajah Aini, membuat Ryan merasa ada sesuatu, namun ia tidak tahu, perasaan apa itu.
"Oh ya Hanna, aku bawa makan siang untuk kamu, kamu pasti belum makan, kan?" ucap Aini sambil membuka bekal yang sudah ia bawa.
"Belum sih Ai, tapi kamu tidak usah repot-repot, aku bisa keluar makan siang," jawab Hanna.
"Tidak apa-apa, lagian juga sekalian, jadi kamu tidak usah keluar lagi," saut Aini dan mulai menyemangati Hanna yang berat bekerja, karena orangtuanya! Hanna lah yang banyak handle perusahaan dibanding dirinya sendiri.
__ADS_1
TBC.