
...Setelah Up kemarin tidak lolos, semoga kali ini lolos ya all....
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02:00. Tubuh Hanna pun semakin hangat, dan ia juga menggigil kedinginan. Suara rintihannya membuat Ryan terbangun dari tidurnya.
"Hanna" kata Ryan. Ryan pun memutuskan untuk langsung menghampiri Hanna ke kamarnya. Hanna sengaja mengunci pintu kamarnya, namun ia lupa, Ryan punya ilmu kekuatan menghilang.
Ryan pun langsung tercengang saat melihat sekujur tubuh Hanna menggigil. Rasa panik dan khawartirnya semakin menjadi, ditambah wajah Hanna yang pucat membuat ia menangis.
"Hanna, bangun," ucap Ryan, namun Hanna tetap tidak menggubris. Ryan pun berusaha untuk menyentuh Hanna namun tidak berhasil.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Ryan kebingungan. Ia tahu Hanna sedang kesakitan. Keadaan seperti ini benar-benar membuat ia sangat sedih.
"Aku mohon Dewa bantu aku," pinta Ryan dengan tangis. Ryan sungguh sangat merasa kwatir, hingga keajaiban pun terjadi, Ryan bisa menyentuh Hanna.
"Ha, apa ini? Apa aku bisa menyentuh, Hanna?" tanya Ryan tidak percaya. Perlahan Ryan pun mencoba menyentuh Hanna lagi dan ternyata bisa. Ryan sungguh sangat merasa bahagia dan kembali membuatnya menangis. Ryan pun langsung mengambil kain dan air hangat untuk mengompres demam Hanna.
Ryan menjaga Hanna sepanjang malam, hingga membuatnya tertidur tepat di samping Hanna.
Entah ada angin apa, sehingga alam membuat Ryan merasa bahagia. Dan itu amat membuat Ryan terkejut bukan main. Seorang arwah bisa menyentuh yang bernyawa.
Keesokan paginya, saat Hanna membuka mata, Hanna menyadari ada sesuatu yang melekat di dahinya. Hanna pun meraihnya lalu melepaskannya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Hanna kebingungan, Hanna pun langsung menoleh dan melihat Ryan yang masih tidur.
"Ryan .. !" ucap Hanna tidak percaya. Selain Ryan, tidak ada orang selain dirinya. Hanna pun mencoba untuk menyentuh Ryan, namun tidak bisa. Hanna kembali merasa sedih, Ryan yang langsung tersentak langsung bangun dan melihat Hanna yang kini sedang memandangi dirinya.
"Hanna, apa kamu sudah baikan?" tanya Ryan.
"Hem, apa Kamu yang sudah mengobatiku?"
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Ryan. Lalu Hanna mengambil handuk kecil yang tadi melekat di dahinya.
"Lalu, siapa yang melakukan ini?" tanya Hanna lagi, dan Ryan pun langsung ingat bahwa ia bisa menyentuh Hanna. Dengan semangat Ryan langsung beranjak berdiri.
"Tadi malam aku bisa menyentuh kamu, Hanna, sungguh!" kata Ryan semangat. Hanna pun percaya hingga ia merasa terharu.
"Coba lakukan sekarang. Apa, Kamu masih bisa menyentuhku," saut Hanna, lalu menyodorkan tangannya.
Perlahan Ryan pun mencoba untuk menyentuh Hanna lagi, Ryan sungguh sangat merasa gugup hingga membuat bisa gemetar.
Perasaan kecewa pun langsung menyentuh mereka, sebab Ryan kini sudah tidak bisa menyentuh Hanna lagi. Ryan sungguh sangat merasa sedih hingga ia menangis.
"Kenapa Dewa, kenapa Dewa melakukan ini," kata Ryan kecewa.
"Tidak apa-apa. Kamu, jangan menangis, aku percaya Kamu bisa menyentuhku, itu saja sudah lebih dari cukup," saut Hanna.
Ryan yang menembus pintu, membuat Hanna menarik gagang pintu mengejar Ryan.
"Ryan, Ryan tunggu ...!"
Hingga pagi itu, pukul 04.30 dini hari, Hanna berlari mengejar Ryan. Namun tanpa melihat kanan dan kiri, membuat Hanna menutup mata akan cahaya silau!!
Sriiith ...
Braaaagh ...
Ryan terperosok kaget, kala Hanna tertabrak mobil truk. Ryan begitu bodoh, tidak tahu jika Hanna akan mengejarnya.
'Hanna, ayo bangun Hanna!' teriakan Ryan kala itu menembus bagai asap.
__ADS_1
"Kita nabrak wanita pak." salah satu teman supir.
Tak lama beberapa warga datang, menyaksikan dan supir menenangkan ia tak sengaja dan akan bertanggung jawab. Salah satu tetangga yang mengenal Hanna, menjadi saksi dan menghubungi keluarga Aini.
"Bawa ke rumah sakit, yang mau ikut boleh. Saya akan bertanggung jawab." ucap suppir paruh baya itu yang agak panik.
Supir yang menabrak Hanna, langsung membopong Hanna menuju rumah sakit. Ryan pun ikut serta mendampingi. Meski tak terlihat, hingga sampailah sebuah cahaya membuat Ryan menoleh silau itu.
'Hanna, kamu kenapa disana? lalu di depanku ini?'
'Ryan, kita kembali bersama. Jasadku akan kritis, selagi aku bisa sepertimu. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi.' Hanna bergema di alam bawah sadarnya.
Dengan tanpa alasan, Ryan berdiri dan benar ia bisa menyentuh Hanna.
'Aku sekarang ingat, kehidupan kita pernah bersama. Dan masa kritis, ikutlah denganku Hanna!' ujar Ryan, yang menarik tangan Hanna, menuju silau cahaya besar yang semakin mereka tuju semakin mengecil.
Sementara di ruang berbeda, Aini dan kedua orangtuanya masih menatap ranjang rumah sakit. Terlihat Hanna, kritis dengan banyak selang infus.
"Yang sabar ya Aini, Hanna pasti selamat." ucap mama.
"Kalau enggak gimana mah? Aini cuma punya Hanna, huhuhu." serak tangis Aini, takut kehilangan Hanna.
Dan tak lama sang dokter mencopot selang infus, dokter membuka alat medis maskernya, lalu mendekat ke arah Aini dan ibunya.
"Maafkan kami, kami sudah semampu mungkin. Kami turut berduka Bu." ujar dokter, membuat Aini dan sang mama lemas histeris.
Tamat ...
Cerita Hanna berlanjut di dunia lain, semoga kalian menyukai cerita pendek Hanna ini. Endingnya mereka bersama setelah tragedi kecelakaan.
__ADS_1