Semicolon;

Semicolon;
Awal mula


__ADS_3

Flashback 6 tahun lalu..


“Ayo de siap siap papah ngajakin ke mall.” Ucap mamah ku penuh semangat.


“Oke dehh queen mandii duluu ya mah cepet ko iniii jangan ditinggal lohhh.”


“Iyaa siap tuan putri.” Ucap mamahku.


15 menit setelahnya..


“Ayo mah aku udah siap nih.”


“Yuk kebawah papah udah nunggu di bawah tuh.”


“Okeyyy.”


Di dalam mobil…


“Abang bisa tolong pakein gelang ini gak, ini kan yg abang beliin buat aku.” Ucapku meminta kepada abangku, Kaizo Kaneth.

__ADS_1


Umurku dan abangku beda 5 tahun, jadi wajar saja kalau aku masih manja.


“Oke sini abang pakein. Oiya mah pah kita mau main ice skating kan hari ini?.” Tanya abangku.


“Iya sayang main ya nanti.” Ucap mamahku, papahku hanya tersenyum.


Keluargaku awalnya sangat harmonis, hidup kami tentram bahagia. Sampai suatu hari, ketika papah mendapat sebuah proyek besar yang akhirnya membuat kami menjadi kaya raya.


Kami pindah ke perumahan yang lebih mahal, awalnya semuanya berjalan lancar. Keluarga kami mempunyai ART baru, sopir, tukang kebun, dan juga satpam.


Sampai suatu ketika, mamahku mendapati papapahku selingkuh. Iya, selingkuh dengan sekretaris nya. Awalnya mamah hanya diam saja, ketika ia mencoba menanyakan hal tersebut yang ia dengan dari rekan kerja papahku. Papahku justru melempar piring ke lemari kaca.


“Bangg mamah sama papah kenapa aku takut bang.” Ucapnya sembari menangis tersedu-sedu.


“Kamu tenang yaahh disini abang panggil mba ijah sebentar.” Ucap abangku.


Disaat abangku keluar, aku mengintip dari atas dan melihat kebawah. Di sana lemari kaca dan isinya sudah hancur berkeping-keping, dan lebih parahnya banyak bercak darah.


Mulai saat itu, keadaan kekuarga ku benar-benar hancur.

__ADS_1


Mamah dan papah tidak cerai pada saat itu, mereka masih bersama namun sudah pisah kamar dan tidak pernah ada komunikasi lagi di antara kami semua.


Mamahku sibuk dengan perkejaannya, begitupun papahku yg masih selingkuh sana sini. Abangku? Abangku memilih untuk pergi dari rumah dan pergi ke Singapore karena ia mendapat beasiswa berkuliah disana. Aku? Ya aku tetap bertahan dirumah ini.


Rasanya seisi rumah tidak ada penghuni nya. Dirumah ini, pulang hanyalah formalitas.


Bahkan setelahnya, papahku sering tidak pulang kerumah untuk beberapa hari.


Mamahku berkata kepadaku “sabar ya nak kita akan pergi dari rumah ini dan mamah akan mengurus perceraian nanti disaat umur kamu genap 17 tahun.”


Aku yang saat itu masih kecil, hanya bisa menangis dan berharap bahwa ini hanyalah mimpi.


Aku merasa diriku kian memburuk, terutama mentalku. Semuanya semakin terasa hampa. Dan rasanya aku tidak siap untuk menjalani hari-hari ku.


Aku mulai mempunyai penyakit mental seperti PTSD, depresi, panic attack, insomnia, kesepian. Mulai saat itu aku juga tidak percaya akan cinta, di dalam benakku, tidak ada cinta yang berakhir bahagia. Semua akan berakhir sama seperti kisah mamah papahku.


Aku yang tadinya ceria, ramah, terbuka, bawel dan sangat optimis. Perlahan berubah menjadi pendiam, tertutup, malas berinteraksi, dan juga jutek, terutama kepada laki-laki.


Aku tahu bahwa tidak semua laki-laki brengsek. Tapi ntahlah, melihat kelakuan papahku membuat ku semakin benci akan sosok laki-laki, dan menganggap bahwa laki-laki itu sampah.

__ADS_1


__ADS_2