
Seusai makan Jean meminta untuk langsung kembali kehotel, tak lagi ada obrolan diantara kita setelahnya.
Langsung saja kududuki dikursi empuk yang terletak dipojok ruangan ini, mengamati setiap gerak geriknya sejak kembali kesini. Sudah berganti pakaian lagi dengan daster mininya, sudah selesai pula membersihkan diri dari kamar mandi kemudian duduk dikursi menghadap kaca, mengeluarkan pouch kecil yang ternyata berisi banyak sekali kebutuhan skincarenya.
"Sesibuk inikah kamu setiap mau tidur?" Kali ini biarlah aku yang berusaha membuat suasana diantara kita mencair. Jean hanya mengangguk, dan aku masih memikirkan topik apalagi yang akan kubahas kali ini.
Baiklah, giliranku yang harus membersih diri. Akupun berganti pakaian menggunakan kaos pendek dan boxer pendek pula. Kali ini langsung merebahkan diri ke salah satu bed. Jean nampaknya sudah menyelesaikan ritualnya, memilih lampu dalam mode tidur dan ikut berbaring namun berada di bed seberangku.
Jean sungguh tak memperdulikanku, segera mungkin menutupi sebagian tubuhnya dengan bedcover dan lebih memilih untuk membelakangiku.
Rasanya sungguh sakit, dan aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Begitu Tuhan dengan mudahnya membalikkan hatiku. Kalaupun kemarin aku masih bisa menyombongkan diri tentang betapa mudahnya akan mengakhiri pernikahan ini, namun dalam semalam saja ketakutan akan kehilangan Jean sudah tidak bisa ter-elakkan.
Bayangan Jean ketika tersenyum walaupun tak pernah aku membalasnya. Atau sekedar perkataan yang menurutku sangat tidak renyah meski begitu tetap saja dia akan melanjutkannya kembali terlintas difikiranku. Bagaimana nantinya kalau benar kebiasaan itu akan menghilang dikeseharianku?
"Jean? Aku tau kamu belum tidur " aku bangkit dari posisiku. Tanpa menunggu jawabannya langsung menyusulnya untuk tidur satu bed disebelahnya.
"Kita sudah punya tempat sendiri-sendiri mas " ucap Jean menampik tanganku saat akan memeluknya dari belakang. Kini aku yang tak memperdulikan ucapannya, sekeras Jean berusaha menyuruhku pergi sekeras itu pula aku memeluknya.
"Sudahlah, aku pengennya tidur disini." Aku mempererat pelukanku. Jean masih membelakangiku, kusibakkan rambut yang berantakan menutupi lehernya.
"Nafasmu biasa saja. Enggak usah dihembusin ketengkukku." Aku tertawa mendengarnya menggerutu yang malah membuatku menjadi. Kembali kutiupi telinganya hingga Jean terlihat geram dan gegas membalikkan tubuhnya kearahku, kita berhadapan dan memang ini yang aku mau sedari tadi. "Kalu tidak mau berhenti biar aku saja yang pindah bed." Aku tersenyum dan mengangguk hingga menunggu Jean menutup matanya.
Debaran jantungku seakan tak berirama normal lagi. Mengamati Jean dari dekat saat tidur membuatku merutuki diri, Kemana saja diriku selama ini yang tak pernah tau wajah ayu istriku sendiri. Kucium lembut keningnya dan Jean tak menepisnya.
__ADS_1
"Ternyata istriku sangat pandai berpura-pura tidur." Aku berbisik hampir tak bersuara, kali ini aku menariknya lebih dalam kepelukanku. Dan Jean berekasi menolak.
"Kalau memang ingin bercerai ya langsung aja, tapi jangan membunuhku seperti ini." Aku tercekat mendengarnya, ya aku melupakan bahwa telah mentalaknya semalam. "Tidak perlu sok perhatian seperti ini kalau akhirnya pasti bercerai."
"Jean, bisakah kita lupakan saja kejadian semalam?."
"Mungkin seumur hidupku tidak akan bisa melupakannya mas. Tapi tenang saja, aku paling bisa menyembunyikan luka." Jean berucap tetap dengan mata tertutup. "Bukankah mas sendiri yang mengatakan agat aku tak melupakan bahwa pernikahan ini dari awal memang harus diakhiri?" Kali ini Jean membuka matanya, menatapku tajam.
"Jean." Aku tak bisa berkata-kata lagi. Padahal aku sendiri yang memintanya namun rasa sakitnya memang seperti menancap dalam dihatiku. Tak lagi menjawabnya, kali ini membenahi posisiku agar lebih keatas dari posisi sebelumnya yang sejajar, aku mengeratkan pelukan menenggalamkan kepalanya dipelukanku. "Tidur sana, besok pagi setelah subuh kita kepantai."
Merasa bahwa keegoisan memang sudah mendarah daging, bahkan sekedar mengakui kesalahan pun sangat berat.
"Aku menurutimu karena kamu sudah berjanji untuk mengantarkanku pulang. Setelah itu aku berharap kita tidak bertemu lagi mas." Sakit sekali, aku akui selemah ini sekarang. Berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara apapun, namun air mata sepertinya sudah menetes diujung mataku. "Aku tidak akan menghilangkan kamu sebagai ayah anak ini, tapi selain itu jangan ada lagi urusan antara kita. Sepakat?"
Taukah kamu Jean, bagimana perasaanku saat ini? Marah, ternyata sebegitu jahatnya diriku memperlakukanmu dulu. Mungkin semua orang diluaran sana akan melaknatku sebagai suami yang memang pantas ditinggalkan saja.
Tapi Jean mungkin melupakan, bahwa lelaki yang sedang memeluknya sekarang tak mungkin begitu saja menyerah. Sekencang dirimu berlari menjauhiku sekencang itu pula aku mengejarmu. Tak mempedulikan betapa luka yang kutorehkan sebelumnya, akan aku tunjukkan bahwa kesempatan yang kupaksakan ada tersebut tak akan sia-sia.
"Kamu tau tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah sekian lama berpisah?"
"Jabal Rahman?" Kini Jean mendongakkan kepalanya menghadapku, aku menganggukinya.
"Sesuai namanya, Jabal berarti bukit, sementara Rahman adalah kasih sayang." Aku tersenyum menjeda ucapanku. "Banyak sekali pasangan yang menuliskan namannya disana dengan harapan hubungan mereka akan selanggeng nabi Adam dan Hawa."
__ADS_1
Aku kembali mengecup keningnya dan ekspresi Jean seperti tidak menyukainya, tapi akupun tak mempedulikan apapun tanggapan negatif darinya.
"Kamu tidak ingin kesana?" Tanyaku, Jean mengerutkan dahinya dan mengangguk.
"Sejak ibu menikah dan tinggal di Dubai aku belum pernah kesana."
"Biarkan aku yang mengajakmu kesana nantinya. Kamu mau?" Jean terlihat ragu. "Kita tunda dulu untuk tidak lagi bertemu. Nanti aku juga akan mengantarmu ke rumah ibu dan abi, tapi sebelumnya bagaimana kalau kita umroh bertiga dulu."
"Bertiga?"
"Kita dan anak ini." Jean mencibir.
"Kita hanya menunggu waktu untuk berpisah mas. Lagian Ayah sambungku bukan orang yang pelit kalaupun aku memintanya untuk menanggung biaya akomodasi berlibur kesana sepertinya bukan masalah besar."
"Tapi kan kamu tak akan diajak ke Jabal Rahman. Lalu nama siapa yang akan kamu tulis nanti?"
"Memang sejelek apa aku ini? Walaupun nantinya aku menjadi janda pasti juga ada yang mau." Giliranku mengerutkan dahi, pernyataan apa ini. Bahkan pembahasan cerai belum pada finalnya saja dia sudah memikirkan pengganti statusku.
"Enak aja." Aku meletakkan telunjuk dikeningnnya. "Gak ada yang akan menjadikanmu janda." Aku berucap serius.
Jean mencibir lagi. Mulutnya ia goyangkan kesamping seolah mengejekku. "Dia sendiri yang meminta cerai, dia sendiri yang menolaknya." Aku masih mendengar walau dia tak bersuara.
"Aku masih dengar Jean" Dia membalikkan badannya lagi memunggungiku dan akupun kembali melingkarkan tanganku kepinggangnya. Menciumi belakang telinganya, merasa gemas sekali dengannya saat ini.
__ADS_1
Jean sepertinya sudah terlelap. Suara dengkuran halusnya mulai terdengar. Suara detikan jarum jam didinding kamar ini kian terdengar bersamaan dengan sunyinya malam. "Apapun keadaannya, aku yang akan mengajakmu ke Jabal Rahman nanti "