Seusai Ikrar Talak

Seusai Ikrar Talak
Siapa yang bersama Jean?


__ADS_3

Tanpa berganti baju, aku memasuki rumah kecil yang cukup asri dengan banyaknya bunga disetiap sudutnya. Sangat rapi sekali si penata rumah ini. Walaupun jauh dari kesan mewah tapi suasanyanya cukup nyaman.


Mama terlihat tengah duduk diruang tamu dengan senyum yang menyeringai. Mungkin mama berfikir telah menang dariku hari ini.


Memaksakan diriku untuk menyapa dan mengulas senyum kesemua orang yang sudah juga berada diruangan ini.


"Mencari Jean?" Suara halus dari wanita diseberangku saat dia menyadari bahwa aku tengah mengedarkan pandangan kesegala arah ini. Aku mengangguk pelan, memang benar tebakannya. "Akan ibu panggilkan."


"Tapi bolehkah saya yang kesana? Ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan." Aku mencegah ibu Jean dan diangguki olehnya.


"Sudah main kangen aja." Mama menyikut lenganku, menampakkan senyum yang sangat jelas seperti mengejekku. Tak ku pedulikan mama dan beranjak mengikuti langkah ibu Jean menuju sebuah kamar yang tertutup. Ibu Jean lalu mengetuk pintu itu hingga muncullah gadis yang sedang kufikirkan dadi tadi.


Aku tidak bisa berbohong, Jean sebenarnya cantik hanya saja aku belum bisa menerima kenyataan harus melepaskan mimpi yang sempat hancur bersama Fira dulu dan berganti dengannya.


"Masuklah!" Aku masih berdiri didepan pintu setelah ibu Jean berlalu. "Mas Gara ingin membahas hal penting bukan? Hanya tempat ini yang aman." Aku mengangguk menuruti perintahnya.


Kamar Jean begitu rapi. Banyak ornament bertema vintage didalamnya, bahkan aroma kamarnya juga sangat wangi. Bisa kutebak bahwa Jean memang orang yang begitu menjaga kebersihan dan kerapian.


"Langsung saja, kenapa kamu tak menolak saja perjodohan ini?" Aku bertanya sangat serius padanya yang sudah duduk dihadapanku.


"Memangnya kenapa?" Gadis ini hanya tersenyum hingga nampak lesung dipipinya.


"Kamu tak menolak disuruh menikah denganku?" Dia menggeleng dan tetap dengan wajahnya yang riang. "Jean, kita tidak sedang bercanda." Begitu lanjutku, tak habis fikir dengannya, bukankah dia memiliki kekasih tapi malah menerima perjodohan ini.


"Kurasa tak masalah menikah dengan mas Gara secepatnya. Impianku memang menikah diusia muda." Aku mendekatkan telunjukku pada keningnya lalu mendorongnya hingga dia terjungkal kebelakang.


"Sangat aneh." Jean memanyunkan bibirnya lalu kemudian tersenyum seolah mengejek.


"Sudahlah terima saja perjodohan ini ketimbang aku harus diajak ke Dubai." Dia meletakkan kedua tangannya menyilang di depan dadanya.

__ADS_1


"Sudah kuduga. Pasti kamu juga punya rencana sendiri kenapa mau menerima perjodohan ini." Jean hanya tetap tersenyum seraya mengangguk. "Baiklah, tapi hanya dua tahun."


"Deal." Dia meraih tanganku lalu dijabatnya tanpa berfikir panjang lagi. "Kita keluar yuk calon imamku." Berucap seperti itu membuatku ingin kembali menjitaknya lagi. Sebenarnya gadis seperti apa dia ini, bahkan dihadapkan situasi seperti ini dia masih bersikap biasa saja.


Aku hanya menggeleng karena tak habis fikir pada tingkahnya lalu mengekor dibelakangnya. Dia duduk diantara orang tua kami lalu seolah tak terjadi kesepakatan apa-apa denganku.


Tatapannya begitu tenang, aku masih mengamati setiap gerak-geriknya.


*


Acara memang berjalan membahas rencana pernikahan yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Aku menggusar rambut kasar, tidak menyangka sebentar lagi akan melepas masa lajang dengan seorang gadis yang tidak pernah kuharapkan sebelumnya.


Sebuah kotak merah yang diberikan pemuda tadi masih berada ditempat awal saat aku meletakkannya.


Hubungan macam apa yang terjalin antara keduanya, kenapa Jean malah biasa saja saat dijodohkan denganku padahal pemuda tersebut terlihat sangat bersedih.


Tapi aku memilih untuk tak mempedulikannya dan memasukkan kotak merah tersebut pada laci meja kamarku. Nantilah akan kuberikan pada Jean setelah semua persiapan selesai, bukankah dia mengatakan untuk menyerahkannya sebagai kado pernikahan?


Jejeran foto bermacam-macam hasil gambar design dan vektor yang sepertinya memang keahliannya membuatku hanya bisa memicingkan mata, kenapa tidak ada jejak hubungan mereka. Hingga sebuah gambar abstrak seorang gadis berpose di depan pintu dengan kamera yang dia kalungkan dilehernya, sangat bisa kutebak bahwa dia adalah Jean.


Sepertinya memang sebuah hubungan yang sangat rahasia. Bahkan akun sosial media saja tak menjadi sarana mereka untuk mengekspose kebersamaan.


"Gara." Mama sudah masuk kekamarku membawakan segelas teh hangat dan setoples camilan. Aku menoleh kearah mama dan secepat mungkin keluar dari laman akun sosial media tersebut diponsel.


"Kenapa ma?"


"Mama sudah dapat rekomendasi WO terbaik dari tante Renata untuk pernikahan kalian nanti. Tapi besok mama belum bisa kesana."


"Terus?"

__ADS_1


"Ajak Jean sekalian untuk kesana. Nanti biar dijelaskan untuk memilih design dekorasi, fitting baju dan juga undangannya." Mama terlihat antusias sekali, sedangkan aku sebaliknya. Bahkan kalau bisa aku ingin sekali membatalkan pernikahan dengan Jean.


"Oke." Aku maish saja fokus pada toples camilan yang sudah berpindah dipangkuanku. Setelahnya mama keluar dari kamar dan akupun dengan cepat meraih ponsel yang tadi kuletakkan asal dimeja.


Menghubungi sebuah nomor yang menampilkan sebuah foto pemandangan ketika senja.


"Iya?" Ucapnya begitu saja.


"Besok mama meminta kita untuk menemui WO." Aku masih menjedanya untuk memastikan sosok diseberang sana masih mendengarku atau tidak.


"Terus?"


"Aku sangat sibuk. Datanglah kesana sendirian akan kukirimkan alamatnya. Apakah tak masalah?"


"Baiklah, ada lagi mas?" Aku mencibir mendengar tanggapannya. Sesantai ini Jean menghadapiku bahkan alibiku yang seperti inipun dia juga bersikap biasa saja.


"Cukup." Langsung saja kumatikan panggilannya. Apakah ada suatu alasan yang disembunyikannya berkaitan dengan perjodohan ini? Memilih untuk tak ambil pusing saja, hanya dua tahun saja.


*


"Gara, bukannya kamu sedang bersama Jean?" Tanya papa ketika bertemu denganku di pantry kantor. Aku masih saja diam karena belum bisa menemukan alasan yang cocok untuk mejawabnya. "Tapi kata mamamu pihak WO sudah bertemu dengan kedua calon pengantinnya." Begitu lanjutnya.


"Oh itu pa." Papa seolah sibuk dengan fikirannya sendiri lalu menepuk pundakku.


"Bagaimana, Jean cantik bukan?" Kelakarnya yang diakhiri dengan tawa lalu papa kembali berjalan membawa botol minum yang sudah diisi penuh. Aku masih menerka maksud ucapan papa barusan, apakah Jean sudah datang ketujuan yang kukirim tadi pagi?


Aku masih duduk dimeja pantry melihat ponselku berkali-kali dengan harapan gadis itu memberi kabar agar aku bisa memberi alasan ketika mama bertanya nanti.


Hingga 15 menit duduk disini tetap saja tak ada pesan darinya, mendengus kesal seharusnya aku memberinya perintah agar mengabariku hasil pertemuannya hari ini.

__ADS_1


Meletakkan bekas gelasku pada wastafell tanpa mencucinya terlebih dahulu, lalu mulai beranjak untuk kembali keruangan saja.


"Mas Gara, bisa ketemu sore ini?" Suara seberang sesaat setelah dering ponsel berbunyi. Aku menghela nafas entah karena lega seharian menunggu atau karena bisa memastikan hasil dari pertemuan Jean dengan pihak WO tadi.


__ADS_2