
Awalnya papa dan mama hanya mengajakku makan malam bersama dengan koleganya yang baru datang dari Dubai. Kudengar, dia datang bersama istri baru dan anak tirinya.
Dirumahku kini sudah sangat sibuk para pelayan yang berlalu lalang meneydiakan banyak menu untuk menyambut tamu papa itu. Terbesit sedikit pertanyaan kenapa papa dan mama begitu repotnya kalau hanya menyambut kolega dan tidak seperti biasanya.
Hingga waktu yang sudah dijanjikan pun tiba. Seorang pria berperawakan tinggi menggandeng seorang wanita anggun menggunakan jilbab besar berwarna hitam namun kedan mewahnya tak terlepas disana.
Dibelakangnya seorang gadis muda berwajah manis dengan gaun berwarna navy berpayet sungguh sangat mempesona.
"Ini anak saya, Jean." Begitu ucap sang pria. Gadis yang barusan kutau bernama Jean itu nampak tersenyum menampakan lesung disebelah pipinya.
Banyak obrolan dari pertemuan malam ini. Ayah tiri Jean yang dia panggil Abi itu memang sangat ramah. Dia bercerita banyak hal tentang kehidupan keluarganya termasuk pertemuannya dengan ibu Jean.
"Jean baru saja lulus dengan jurusan Cinematographi. Hasil fotonya begitu bagus." Begitu ucap sang pria. "Sebenarnya kami ingin sekali mengajaknya ke Dubai, tapi dia memilih membangun karirnya sebagai fotographer."
Sesekali aku melirik kearah Jean yang nampak mengecek ponselnya. Gadis itu memang sangat manis dengan senyumnya yang tak henti mengembang disetiap pembicaraan.
***
"Bagaimana Jean? Cantik bukan?" Pagi ini mama menghampiriku yang masih sibuk menyiapkan berkas untuk pergi bekerja. Sekarang ini papa sedang menyiapkanku untuk melanjutkan perusahaannya sehingga membuatku begitu sibuk untuk sekedar menghabiskan waktu bersama teman-teman.
"Cantik." Jawabku singkat. Memang cantik, tapi tetap saja belum bisa membuatku melupakan Fira, seorang gadis yang sempat mengisi relung hatiku selama hampir tiga tahun. Sejak perjamuan makan malam seminggu yang lalu setiap hari mama akan menanyakan hal yang sama lalu pergi.
"Papa dan Abinya Jean bersepakat akan menjodohkan kalian." Aku tercekat mendengar ucapan mama barusan. "Anggap saja ini cara kamu untuk moveon dari mantan pacar kamu itu."
Aku hanya mendengus kesal dengan ucapan mama tentang mantan kekasihku yang sebenarnya masih sering kuhubungi sampai saat ini tanpa sepengetahuannya. Mama memang sangat membencinya hingga mau tak mau aku harus menyembunyikan perasaanku yang masih sama untuk gadis itu.
"Ma." Aku menatap wanita setengah baya yang malah tersenyum kearahku. "Kenapa tidak menanyakan tanggapanku dulu?"
__ADS_1
"Memangnya kamu mau menikah dengan siapa? Sudah terima saja. Jean gadis yang baik dan ramah." Setelah berucap demikian mama pergi dari kamarku dan akupun gegas menyusulnya.
"Ma, tapi kenapa mendadak sekali? Gara bahkan belum mengenal dia." Dengan sangat tenang mama membuka ponselnya dan menyibukkan diri pada layarnya. Hingga sebuah notif pesan muncul dilayarku.
"Itu nomer Jean. Silakan tuan Segara melakukan pendekatan.".
Sejak berbincangan pagi tadi, konsentrasiku sedikit terganggu. Bagaimana bisa menikahi gadis yang belum dikenal bahkan dalam kondisi yang masih sangat sulit melupakan masa lalu. Memandangi ponselku berkali-kali dengan layar yang masih menunjukkan kontak Jean. Haruskah aku menemuinya kali ini?
"Hallo, dengan Abimanyu Segara?" Suara seberang setelah ponselku berdering. "Saya Morgan, bisakah meluangkan waktu untuk bertemu?"
"Apakah kita saling kenal?" Seingatku aku tidak mengenal nama tersebut. Bahkan dia tidak masuk daftar list kontak diponselkj, jadi dari mana dia bisa tau nomorku?.
"Saya akan memperkenalkan diri nanti. Ini berkaitan dengan rencana perjodohan anda." Tidak ada pilihan lain kecuali menyetujui saja permintaannya karena memang aku juga penasaran siapa dia sebenarnya. Akhirnya kita sepakat untuk bertemu nanti sore disebuah kafe yang tak jauh dari kantorku.
*
"Saya dengar anda yang akan dijodohkan dengan Jean?" Senyumnya mengembang. "Begitu yang saya dengar dari ibunya Jean."
"Apakah ibu Jean sudah mengatakan banyak padamu?" Aku memilih menjawabnya dengan nonformal, dia menggeleng pelan.
"Lebih tepatnya mengingatkan." Dia menghela nafas dalam, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna merah dengan ukiran huruf cina. "Ini adalah ukiran bahasa mandarin Aurora, nama lengkap Jean yang juga berarti sinar matahari." Kuraih benda kecil itu dan membukanya.
"Sebuah kunci?" Masih belum bisa mencerna maksudnya, apakah penting memberikanku sebuah kunci yang isinya juga pasti tidak penting untukku.
"Kami berdua sudah bersama hampir 7tahun. Jean adalah gadis yang begitu menyenangkan dan saya yakin anda akan bahagia menikah dengannya." Sekarang aku tau, dia adalah kekasih Jean.
"Kenapa tidak kamu nikahi saja dia ketimbang membiarkannya menikah dengan orang lain."
__ADS_1
"Seandainya Jean mau." Dia tertawa lirih sendiri. Aku menatapnya tajam karena memang obrolan ini semakin tidak bisa membuatku paham. "Ya, saya memang menyimpan perasaan sejak lama tapi tak mungkin menikahi seorang Jean yang begitu memegang teguh keyakinannnya begitu pula saya."
"Oh Cinta beda keyakinan." Lelaki muda ini masih menunduk hingga menampakkan kalung putih sepertinya berbahan emas dengan bandul bertanda salib.
"Saya akan melanjutkan kuliah di Sidney bulan depan. Dan saya harap anda memberikan kotak ini nanti padanya sebagai hadiah pernikahan."
"Kenapa semudah itu melepaskan kekasihmu untuk orang lain?" Aku masih penasaran, kenapa dia begitu tenangnya menemui calon suami dari kekasihnya. Namun lelaki yang bernama Morgan itu hanya menanggapi dengan senyum lalu berpamitan untuk pergi.
Setelah mengumpulkan banyak keberanian akhirnya kuputuskan untuk menelepon Jean.
"Bisakah kita bertemu sekarang?" Tanyaku, aku harus bisa membuat kesepakatan dengannya untuk kelanjutan perjodohan konyol ini.
Namun tak seperti harapanku, dia malah memberi jawaban untuk sekalian bertemu nanti malam saja bersamaan dengan pertemuan yang akan diadakan oleh kedua keluarga kami.
Sepertinya memang tidak bisa dihindari lagi. Usiaku yang sudah kepala tiga ini memang menjadi alasan orang tuaku agar segera menikah. Tapi bagaimana memberk pengertian pada mereka bahwa aku bisa mencari calon istri sendiri nanti tanpa harus menuruti sebuah ide perjodohan yang tak masuk akal ini.
Aku masih terpaku didalam kafe yang cukup ramai ini. Melupakan matahari yang kian menghilang berganti dengan senja.
Mama sedari tadi sudah menelfonku agar menyusul mereka kerumah Jean. Fikiranku sangag kacau, haruskah aku menuruti mereka untuk datang kesana atau tetap disini saja mencari alasan dengan harapan perjodohan tersebut gagal.
Mama:
"Segara cepat datang, atau mama yang akan menyeretmu dikafe itu."
Sebuah pesan dari mama, melampirkan sebuah foto dari balik kaca kafe ini. Sialan, mama memang tetap selangkah lebih maju dariku. Buktinya aku tak lagi bisa membuat alasan kali ini kecuali hany menuruti perintahnya.
Gegas aku berjalan keluar kafe untuk melajukan mobil menuju kesebuah rumah yang sudah diberikan petunjuk melalui peta digital.
__ADS_1