
Jadi seorang menantu dari keluarga kaya adalah salah satu mimpi kebanyakan dari seorang gadis. Karena dengan menjadi seorang istri dari seorang yang kaya bisa melakukan hal apapun dengan uang dan kekayaan suaminya. Belanja fashion, make up, bahkan barang barang mewah bisa dilakukan. Termasuk dapat melakukan hal hal yang orang biasa tidak bisa lakukan. Jalan jalan ke luar negeri atau bahkan nonton acara fashion week dari desainer desainer dunia yang terkenal.
Mimpi itu sangatlah mustahil bagi gadis biasa sepertiku. Sudah hal yang lazim keturunan kaya pasti menginginkan besan yang setara kaya dengannya, paling tidak derajat sosial pun seperti anak pejabat atau anak yang berpengaruh bisa besanan dengan mereka. Karena dengan alasan menjaga gengsi dan kehormatan keluarga yang berderajat sosial tinggi.
Tapi hari itu...
Entah itu sebuah keajaiban, mukjizat, atau hadiah dari Tuhan untukku. Atau apakah sebuah ujian untukku.
Sore itu saat aku selesai jam kuliahku dan hendak berjalan keluar kampus ke halte bus bersama temanku Naya. Sebuah mobil Lamborgini berhenti persis di depanku membuatku dan Naya hampir terserempet. Aku baru saja hendak berteriak dan memaki si pengendara mobil. Tapi pengendara mobil itu tak lama keluar dari mobilnya.
Seorang pria 30 an keluar dengan setelan jas dan berdasi plus kacamata hitam. Sekilas dia tampak keren dan ganteng apalagi badannya tinggi atletis dan tampak berotot. Aku pun terkesima dengan penampilannya tak sadar kalau dia berjalan menghampiri kami.
"Jian Astrianingsih?" kata pria itu sambil membuka kacamata hitamnya dan memandang wajahku dengan ekspresi yang tak bisa ku mengerti.
"Ya itu nama saya?" jawabku agak gugup. Heran dan aneh kenapa pria itu bisa mengenal namaku. Padahal aku sendiri tak kenal dengan pria itu. Aku mencoba mengingat-ingat apakah pria itu adalah salah satu dosen di kampusku. Tapi berapa kali ku mencoba mengingat-ingat tak ada dosen yang berpenampilan seperti itu dan apalagi dengan mengendarai *super car* seperti itu.
"Maaf bapak ini siapa ya, terus kok bisa tau nama temen saya?" tanya Naya seolah menjadi perwakilanku yang memang dia mendahuluiku.
"Saya ada perlu dengan Jian, boleh saya mengajak Jian bicara sebentar sambil minum kopi, deket sini ada cafe kan?" tanya pria itu tanpa memedulikan raut wajah kagetku. Dan tanpa basa basi dia membuka pintu kursi penumpang dan menyuruhku masuk.
"Tunggu dulu, kenapa saya harus ikut dengan anda, saya tidak kenal anda dan saya tidak bisa pergi dengan orang asing," jawabku dengan sesopan mungkin.
Perasaanku tak menentu campur aduk. Takut, penasaran, campur senang ada pria tak dikenal yang keren datang mengajak ke kafe.
"Nanti saya jelasin sambil minum kopi, kalau disini saya kurang nyaman," jawab pria mulai sedikit tidak nyaman juga karena banyak pasang mata para mahasiswa mahasiswi yang melihat.
__ADS_1
Mereka juga sama penasaraanya denganku. Siapa orang itu. Siapa pria itu. Dari penampilan rapinya jelas dia seorang yang berkelas dan mungkin juga seorang eksekutif sebuah perusahaan atau jangan-jangan seorang agen rahasia😁. Bisa jadi.
"Kalau itu penting dan sebentar bisa disini juga kan?" tanyaku pasang harga tak mau sembarangan naik mobil orang yang tak dikenal. Jangan jangan dia itu penculik yang bertopeng wajah malaikat.
Tampak sekilas terpancar wajah kesalnya karena jawabanku. Dia pasti mengira kalau aku dapat dengan mudah pergi dengannya.
"Ini penting menyangkut masa depanku dan masa depanmu!"jawab dia dengan sedikit memelankan suaranya. Aku pun nyaris hampir tak mendenganrnya.
"Apa, masa depan?" tanyaku kaget dan makin aneh ini laki.
"Iya, kau mau naik?" tanyanya sekali lagi sambil memberi kode dengan tangannya supaya aku masuk ke mobilnya.
Naya menahan tanganku supaya aku tak gegabah masuk ke dalam mobil orang. Aku juga sih malah tambah takut apalagi kulihat wajah pria itu agak sedikit memaksa dan sedikit arogan terasa.
"Maaf, mungkin anda salah orang, di kampus ini banyak sekali nama Jian," jawabku sambil menarik tangan Naya untuk segera meninggalkan pria itu.
"Jian, lahir di Bandung tanggal 15 Agustus 1998 anak dari Bapak Jaya Mahesa," kata pria itu dengan lantang sampai terdengar radius 20 kaki mungkin.
Aku berhenti berjalan. Kaget sekaligus bingung kok dia bisa tahu tanggal lahirku dan nama ayah ku.
"Ji, kok dia bisa tahu sih"tanya Naya juga aneh.
"Jangan jangan dia debt collector Nay, loe tahu kan ayah gue mati ninggalin hutang dimana-mana?" bisikku ke Naya.
""Bener juga loe, ngapain juga dia pake bilang nama ayah loe segala," kata Naya menambah rasa panikku.
__ADS_1
"Nay, ayoo kita lari!" seruku sambil mulai berlari meninggalkan pria itu. Naya menyusul mengejar di belakangku. Dan kami pun lari meninggalkan pria itu yang kesal karena kami kabur. Kami pun lari ke luar kampus menuju halte bus. Dan tak lama bus jurusan ke rumah bertepatan datang. Tanpa babibu kami langsung naik dan duduk di kursi kosong. Setelah dirasa aman, kami menghela napas panjang.
"Gila Zi, debt collector sampe nyari nyari loe ke kampus?" kata Naya. Ada sedikit nada cemas.
"Tapi ada gak sih debt collector yang nagih bawa Lamborgini gitu?" tanyaku.
"Bisa jadi, loe kan pernah cerita ayah loe ninggalin banyak hutang dimana mana, mungkin dia salah satu konglomerat yang dipinjemin uangnya sama ayah loe.
Perkataan Naya membuat hatiku semakin tak menentu. Apalagi beberapa bulan terakhir ni banyak orang orang datang ke rumah menagih hutang bekas modal usaha ayah. Sedangkan ayah meninggal tanpa meninggalkan uang untuk membayar itu semua. Sementara usaha ayah entahlah, aku tidak pernah tahu usaha ayah itu di bidang apa. Dan tidak pernah tahu urusan ayah. Karena memang aku bundaku dan ayah dulunya tak tinggal serumah. Secara agama memang ayah dan bundaku adalah seorang suami istri. Tapi secara legal negara mereka tidak diakui. Ya ayah bundaku menikah siri, karena ayah memang sudah mempunyai istri. Dan bundaku adalah seorang istri kedua. Jangan tanya apakah bundaku itu seorang perusak rumah tangga orangkah? Jawabannya Bukan karena memang bundaku itu tertipu oleh ayah yang mengaku duda. Tapi sebenarnya dia masih mempunyai istri. Dan aku pun sudah terlahir ke dunia ketika bundaku mengetahui itu semua. Karena sudah terlanjur melahirkan aku. Bunda rela dipandang sebelah mata dan hinaan hinaan orang tentang statusnya sebagai istri kedua selama belasan tahun.
Tapi dua tahun yang lalu ayah memutuskan untuk bercerai dengan istri pertamanya. Ayah lebih memilih hidup bersama dengan bundaku. Tapi konsekuensinya ayah harus meninggalkan semua aset hartanya untuk keluarga istri pertamanya. Sementara bunda, karena dia sudah terlalu sayang dan mencintai ayah dia rela menerima ayah yang tak punya apa apa. Ayah berjanji kepada bunda untuk membuka usaha baru dan merintis kehidupan bersama bunda dan aku. Dia kemudian meminjam modal ke beberapa orang temannya untuk modal usahanya. Baru setahun usaha ayah berjalan namun usahanya tak berjalan mulus. Para investor yang tadinya percaya meminjamkan modal satu persatu menarik investasinya. Sehingga ayah mempunyai hutang bekas menjalankan usaha gagalnya itu. Dikarenakan kegagalannya ayah terbebani dan jatuh sakit dan sampai akhirnya meninggal. Harta peninggalan ayah yang bunda simpan dan ditabung pun habis terkuras untuk membayar hutang itu. Kita pun hidup dan tinggal di rumah kontrakan beruntungnya bunda punya usaha salon kecil. Dengannl usaha kecil itu bunda menghidupi dan membiayai kuliahku. Namun hutang itu sepertinya tak pernah habis dan lunas. Bunda sampai kehilangan cara untuk membayar hutang hutang itu. Maka itulah aku sedikit panik dan parno kalo berurusan dengan debt collector.
"Zi, cowo tadi kayaknya kesel banget tuh, tapi dia gak ngejar kita kan?"tanya Naya.
Aku pun menoleh ke belakang. Tampak mobil itu sudah meninggalkan kampus dan mengambil arah yang lain. Sepertinya pria itu tidak mengejar.
"Iya aman"jawabku lega.
"Zi, sekarang bagaimana , ada yang nyari nyari loe di kampus."
"Emang berapa sih hutang ayah loe, kok dia ngomongnya masa depan loe, jangan jangan?" Naya tidak meneruskan perkataanya.
Aku menghela napas yang panjang. Perasaan takut marah dan kecewa bercampur jadi satu. Kenapa masalah ini bisa menimpa diriku. Meski aku tak menyalahkan ayah, aku merasa perlu marah, karena aku merasa jadi korban. Seharusnya aku bisa kuliah dengan tenang. Tanpa ada bayang bayang debt collector yang mendekati. Pernah sekali aku dan bundaku harus bersembunyi berhari hari karena penagih hutang itu mondar mandir di depan rumah.
Aku jadi merasa kalau dulu nenek moyangku adalah seorang penghianat negara. Jadinya karmanya berlaku pada keturunannya yaitu aku. Dikejar kejar debt collector. Perasaan galau dan terancam menjadi makanan sehari hariku.
__ADS_1
Aku pikir bisakah aku melanjutkan kuliah dengan keadaan seperti ini. Haruskah aku berhenti kuliah dan mencari pekerjaan agar dapat membantu bundaku. Tapi kerja seperti apa yang bisa menghasilkan uang banyak dengan posisiku sekarang tanpa pengalaman kerja dan juga belum lulus kuliah. Kata banyak orang zaman sekarang mencari pekerjaan sangat susah. Jangankan yang punya ijasah SMA yang berijazah S1 pun banyak yang menganggur. Memikirkan itu saja aku sudah mumet. Sepanjang perjalanan ke rumah aku diam termenung mencoba menenangkan pikiran dan kecemasan akibat kejadian tadi. Naya sepertinya tidak tega melihatku diam. Dia mencoba menghiburku dengan menepuk pundakku dan memelukku.