
Dengan langkah yang berat aku melangkahkan kaki menuju rumah. Tapi sontak saja aku kaget ketika melihat mobil apa yang terparkir di depan rumahku. Mobil pria tadi sekarang sudah berada disini. Aku langsung bergegas menuju ke dalam rumah. Tampak di ruang tamu pria itu sedang duduk sambil menyeruput teh di cangkir yang sudah disuguhkan bundaku. Sementara bunda tidak keliatan.
"Assalamualaikum... bunda," panggilku mengagetkan pria itu. Dia langsung berdiri dan terlihat gugup.
"Bunda ... bunda", teriakku masuk memanggil bunda tanpa mengacuhkan panggilan pria itu. Aku mencari bunda di dapur. Dan tampak bunda sedang memasak.
"Oh kamu sudah pulang sayang," bunda menyahut tanpa menoleh ke arahku. Dia lebih memperhatikan panci sayur dibanding kedatanganku.
"Bun, itu siapa sih, cowo itu juga tadi ke kampus Zian dan sekarang malah datang ke rumah, dia penagih hutang kan?" tanyaku nyerocos.
"Iya, tadi dia juga udah cerita, katanya dia malah ditinggal kabur sama kamu, dan apa tadi kamu bilang, penagih hutang?" tanya balik bundaku.
"Iya kan?" tanyaku memastikan juga.
"Lho, kata siapa dia penagih hutang, katanya dia pacar kamu, kok kamu pura pura begitu, sudah deh kamu ngaku sama bunda ga usah disembunyiin, bunda sudah tau kok kalau Yudis itu pacar kamu," kata bunda sambil tertawa.
Aku melongo.
"Memang dulu bunda pernah melarang kamu untuk pacaran dulu, tapi kali ini bunda bolehin kok, karena Yudis memang cocok buat kamu?" kata bunda sumringah.
Wah ada sandiwara apa nih yang dibuat pria itu. Yang mengaku bernama Yudis. Siapa dia sebenarnya yang sudah mengarang cerita pada bunda. Dan super aneh juga dia bisa tahu alamat rumah ini dan membuat cerita bohong ini sama bunda. Sejenak aku terdiam untuk mencerna semua perkataan bunda dan menghubungkan kejadian tadi di kampus.
"Ji, boleh ngobrol sebentar!"tiba tiba suara pria itu mengagetkan. Dia sudah datang menghampiri ke dapur.
"Sana Ji, kamu temanin ngobrol dulu Yudis, nanti sebentar lagi masakan ibu matang, kita makan sore bareng ya!" suruh bunda tanpa tau sebenarnya anaknya sedang bingung.
Dengan alasan aku ingin mencari tahu apa sebenernya yang terjadi aku memutuskan untuk bicara dengan pria itu. Toh aku kalau belum tahu sebenarnya aku tidak mungkin menceritakan kebenarannya. Karena takutnya bunda juga shock tiba tiba pria asing mengaku pacar anaknya.
"Siapa sebenernya bapak, om atau abang ini tiba tiba datang terus bisa tahu namaku dan alamat rumahku?" tanyaku sambil memandang pria itu dengan penuh curiga.
"Aku calon suami kamu, namaku Yudistira ," jawabannya membuat seketika jantungku seakan melorot ke bawah. Ada perasaan aneh yang sulit kuungkapkan. Entah rasa kaget campur campur rasa yang lain. Terlalu aneh dan tidak masuk akal tiba-tiba ada seorang pria datang dan mengaku sebagai calon suami.
"Jangan becanda, tidak lucu, aku tidak kenal sama kamu, bapak ini, eh om ini sebenernya siapa, kalau mau nagih hutang ayahku jangan pakai acara drama mengaku calon suami segala," jawabku sambil melipat kedua tanganku di perut. Aku pikir dengan begitu dia tidak akan tahu kelemahanku.
"Hee.." pria itu tersenyum.
"Penagih hutang, jadi kamu lari kabur di kampus mengira aku seorang debt collector," lanjut pria itu sambil tertawa.
Aku mengernyitkan dahi mendengar jawaban pria itu. Kalau dia menyangkal terus dia siapa.
"Bapak, om, kenapa kamu manggil saya dengan sebutan itu, kesannya aku tua banget gitu, aku ni baru 30 tahun," kata dia sambil menahan kesal.
"Apa, 30 tahun, umur segitu gak mau dipanggil bapak atau om, kan sudah cocok tuh," ejekku. Kalau dia 30 tahun dan aku 20 tahun. Cukup jauh juga selisih umurnya.
Pantas banget jika kupanggil dengan sebutan bapak atau om.
__ADS_1
"Panggil Mas Yudis aja, itu baru enak dengernya, toh nanti kamu bisa panggil aku bapak, kalau kamu sudah menjadi ibu dari anak anakku," sambungnya dengan nada humor tapi cukup membuatku tersentak.
"Apa kata anda barusan, siapa juga yang mau menikah sama anda, kenal juga nggak, mimpi juga nggak aku menikah," jawabku emosi. Entah sandiwara apa yang dia buat. Aku jadi tak enak dan gelisah. Celingak celinguk liat di sekeliling rumah. Jangan jangan ada kamera merekam. Aku curiga ini acara alay reality show yang suka ngerjain orang.
"Kenapa kamu celingukan?" tanya pria itu dengan wajah tanpa bersalah. Itu membuatku gemas.
"Ini lagi syuting reality show ya, mana kameranya, aku udah tau ni acara yang suka nge prank orang kan"?tanya aku malah membuat dia terpingkal pingkal.
"Tuh bener kan, ketawa berarti jelas. Sudah lah ini sepertinya udah kerjasama sama si bunda, bundaaaa," teriakku memanggil bunda. Dan seketika mulutku ditutup dengan tangan pria itu. Mata dia memberi kode supaya aku tidak berteriak. Tapi aku mencoba memberontak dengan melepaskan tangannya. Tapi dia semakin membekap mulutku dengan kencang. Sontak perasaan takutku datang. Dengan tangan masih membungkam mulutku dia berkata.
"Ini bukan acara reality show alay itu, ini beneran sungguhan, aku Yudistira adalah calon suamimu, dan bunda mu itu sudah menyetujuinya. Adapun kenapa aku tiba tiba datang mengejutkanmu aku ada alasan. Maka dari itu aku minta kamu tenang dan jangan membuat bunda mu curiga kalau kamu teriak teriak begitu. Nanti dia pikir aku mau buat macam macam tak senonoh disini, paham!"tanya dia.
Aku mencoba menganggukkan kepalaku.
"Oke, bagus"jawabnya sambil melepaskan tangannya dari mulutku.
"Aku bakal telepon polisi, ada orang gila yang masuk ke rumah orang...sajshfhjffjfjft," tangan pria itu kemudian membekap mulutku lagi.
"Ternyata kamu jauh lebih menjengkelkan dari prediksiku," kata dia pelan sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Aku terkejut pria itu mendekatkan wajahnya ke depanku. Semakin jelaslah wajah pria itu memang sangat tampan. Wajah putih mulus tanpa jerawat tanpa kumis dan sedikit jenggot tipis menghiasi dagu lancipnya. Aroma tubuh dan mulutnya wangi. Sepertinya dia bukan perokok. Dan apa apaan ini, aku sedikit takjub dan terpesona. Aku mencoba menggoyahkan keterpesonaanku dengan sedikit melotot tajam. Kulawan rasa terpesonaku dengan mencoba melepaskan tangannya kembali.
"Maksud anda apa, aku makin nggak ngerti, siapa sebenarnya anda, dan apa maksudnya calon suami"tanyaku beruntun.
"Itu yang mau aku lakukan dari tadi, mencoba menjelaskan, tapi kamu malah berlebihan menyikapinya,"Jawabnya dengan nada kesal.
"Apa sikapku berlebihan, orang mana yang tidak kaget dan shock dapat kejadian kayak gini, dan...oke okelah tak usah basa basi, sekarang jelaskan," pintaku akhirnya mencoba memahami situasinya sekarang yang tadinya kupikir ini acara reality show.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🦗🦗🦗🦗🦗
Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku hanya bolak balik kanan kiri di kasur. Sebentar bentar menghela napas panjang. Seolah menahan beban yang teramat berat. Sejak kejadian sore tadi, aku semakin tak menentu. Gelisah resah bingung bercampur dengan rasa takut. Entah apa yang harus aku lakukan setelah pria itu yang mengaku bernama Yudis dan memaksaku memanggilnya dengan panggilan Mas Yudis memberiku sebuah permintaan. Sebuah permintaan yang aneh dan membuatku hampir frustasi memikirkan jalan keluar dan solusinya.
"Kakek ku ingin aku menikah denganmu, karena sikapnya yang terlalu setia kawan dan baik pada orang, dia menerima anak temannya menjadi cucu menantunya. Dan bahkan dia ingin segera menikahkanku denganmu. Tapi lucunya dia memintaku sendiri untuk melamarmu. Walau sedikitpun aku tidak setuju dengan niatnya itu. Tapi dia mengancamku dengan menghapuskan namaku jadi ahli warisnya" perkataan pria sore tadi itu kembali terngiang ngiang di telingaku. Segenap mulutku teriak namun tertahan. Bagaimana bisa ini terjadi padaku. Ini semacam skenario drama atau sinetron yang tiap hari bunda tonton di televisi.
"Kenapa kakek mu mau kita menikah, toh dia tidak kenal sama aku , dan aku juga tidak mengenal kakekmu"tanyaku sore itu.
"Ayahmu Pak Jaya Mahesa kenal baik dengan kakek ku, dulu kan ayahmu pernah berbisnis dengan kakekku. Karena sering berbisnis dan mendapat keuntungan banyak bersama. Kakekku sudah menganggapnya keluarga. Maka dari itu, sejak Pak Jaya memutuskan untuk meninggalkan perusahaannya. Kakek ku hilang kontak dengannya. Dan dia baru tahu kalau Pak Jaya sudah meninggal. Dia tidak tahu kalau Pak Jaya mengalami kesusahan dan jatuh sakit. Dia sudah menganggapnya sebagai anaknya. Maka dari itu kakek ku merasa bersalah dan mempunyai keinginan ingin menikahkan cucunya dengan anak Pak Jaya sebagai bentuk balasan perasaan bersalahnya pada almarhum ayahmu," jawabnya panjang lebar.
"Aneh dan lucu, kenapa perasaan bersalah harus dibayar dengan pernikahan, sungguh sangat tidak normal"jawabku ketus.
"Ternyata kamu juga sepemikiran denganku kan, bagus sekali"jawabnya senang.
"Lah kalau begitu, kenapa kamu nggak nolak aja?" tanyaku.
"Sudah kubilang kan tadi, kalau aku nolak dia mengancam akan menghapus namaku sebagai ahli warisnya"Mas Yudis menjelaskan lagi.
"Terus hubungannya dengan saya apa, itu semua sebenarnya masalah kamu, saya tidak mau ikut campur dalam masalah keluarga orang lain. Dan juga saya tidak mau dijodohkan atau tidak mau menikah muda. Sudah jelas kan, pakai aja alasan itu supaya kamu bisa bebas"jawabku pintar. Meski ada perasaan seperti dapat undian hadiah tapi hadiah itu tidak layak kudapatkan dan harus kuikhlaskan tidak kuambil. Dalam posisi sepertiku, wanita mana yang mau menolak jodoh dan rezeki seperti itu. Tapi aku tak mau hilang harga diriku, karena pria itu juga sepertinya hanya ingin dapat warisan kakeknya tanpa mau tahu tentang perasaan harga diri seorang wanita.
__ADS_1
"Sebelum kamu ngomong seperti itu pun, aku sudah mencoba bicara baik baik sama kakek ku, dan jawaban dia kamu tau seperti apa?"
"Dia tambah mengancam kalau aku tidak bisa menikahimu, dia akan mengambil semua yang aku punya sekarang, perusahaan, rumah, mobil bahkan rekening bank pun akan dibekukan"jawabnya.
"Haha, jadi menurut kamu, aku harus apa, kalau pernikahan itu hanya demi keuntungan dirimu, aku hanya mengalami kerugian banyak hal!"
"Itu yang aku mau katakan padamu sekarang,"jawab pria itu dengan ekspresi seperti gangster di film film.
Kemudian dia duduk di sebelahku. Aku pun deg deg an. Apa yang mau dia lakukan sekarang. Pria itu pun membisikkan sesuatu padaku dengan pelan. Ada perasaan geli dan aneh berkecamuk dalam dada ketika mendengar bisikannya.
"Kalau kamu setuju, semua hutang hutang ayahmu nanti aku selesaikan, tapi kamu harus mau menikah denganku dengan kontrak," bisiknya pelan namun seperti suara petir bagiku.
"Kontrak?" kataku kaget.
"Ya, kamu untung aku juga untung," jawab pria itu sambil senyum menyeringai.
"Kita menikah setahun paling lama, atau setelah kakek sudah memberikan hak warisnya atas namaku kita bisa bercerai dengan baik baik," sambungnya lagi seperti ringan dan tanpa beban bersalah kepada kakeknya.
"Pasti kakek mu bakal tersakiti dengan niatmu itu, apalagi kedua orangtuamu," kataku membuat dia sedikit terkejut.
"Kedua orangtuaku sudah meninggal, dan kakek adalah orangtuaku yang membesarkanku dari kecil."
"Apalagi itu, mungkin beliau tidak akan memaafkanmu, dan juga sekarang aku masih 20 tahun. Kalau sekarang menikah dan setahun kemudian bercerai. Jadi usia 21 tahun aku sudah menjadi janda. Apa kamu tidak memikirkan perasaan seorang wanita. Kok kamu gampang sekali mengucapkan kata kata tadi kawin kontrak hanya demi sebuah warisan," kata kataku cukup tajam membuat ekspresi wajahnya berubah pucat dan masam.
"Mungkin sebaiknya kamu pikirkan dulu tawaranku tadi," kata pria itu langsung berdiri dan memanggil bundaku.
"Bunda, saya pulang dulu karena ada urusan mendadak"ucap dia sambil menemui bundaku di dapur yang sedang memasak.
"Lho kok buru buru, bunda sudah masak buat kita makan bareng,"kata bunda menyayangkan.
"Tenang saja bunda, lain waktu pasti kita bisa makam bareng, kan aku calon suami Zian, jadi aku bisa sering sering kesini"goda pria itu sok manis dan imut di depan bundaku. Padahal tadi setelah ku komentari niatnya mukanya langsung pucat dan kurang enak.
Aku kembali merubah rubah posisi tidurku. Aku masih membayangkan percakapan sore tadi dengan pria itu. Mas Yudis . Pria yang hari ini sudah membuat diriku pusing dan galau. Apa sebenarnya rencana dia dan kenapa pula aku harus terseret dalam pusaran konflik warisan anak konglomerat. Apakah sebenarnya dulu nenek moyangku itu seorang penghianat negara apa seorang penyelamat negara sehingga keturunannya aku mendapat hadiah berasa musibah.
Siapa sebenarnya Mas Yudis itu. Apa dia orang jahat atau orang baik. Tapi kalau dia merencanakan pernikahan palsu itu berarti dia orang jahat yang tamak.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang. Haruskah aku tolak atau terima tawarannya. Kalau aku tolak apakah aku akan baik baik saja. Tapi kalau aku terima tawaran itu apakah ini akan adil untuk semuanya. Aku jadi bingung, apakah harus kutolak saja. Ya.. Aku merasa dirugikan sekali, setahun menikah lalu menjadi janda. Dan belum dipastikan akankah selama setahun menikah itu aku bakal tahan dan tidak terjadi kontak fisik dengan Mas Yudis. Kalau sampai itu terjadi pasti itu menjadi kerugian terbesarku. Sesuatu yang berharga yang seharusnya untuk orang yang kucintai dan yang mencintaiku telah terenggut oleh orang yang tak pantas.
Tapi kalau aku tolak. Kemungkinan besar aku dan bunda tak dapat melunasi hutang itu. Darimana kami melunasi hutang ayah yang totalnya ratusan juta itu. Apakah ini kesempatan bagus supaya aku bisa melunasi hutang itu. Tapi kalau aku menerima tawaran itu, harga diriku sebagai wanita bakal tercoreng dan cap wanita matrealistis akan nampak di keningku. Dan pastinya Mas Yudis juga bakal memperlakukanku dengan buruk. Buktinya tadi juga dia sudah sembarangan padaku
Aaaarrrrgg. Mumet sekali. Malam ini aku tidak bisa tidur karena gara gara Mas Yudis sialan itu.
Bersambung
***Kalau reader suka jangan lupa berikan tanda dukungan untuk karya ini dengan memberikan like, komen, rate bintang 5 dan votenya..
__ADS_1
Haturnuhun ka sadayana***.