Something Crazy Called Marriage

Something Crazy Called Marriage
Perjanjian Kontrak


__ADS_3

Praaaaang. Braaak.


Terdengar suara gaduh di pagi hari membuatku terlonjak bangun. Terasa pusing sekali kepalaku. Semalaman aku kurang pulas tidur karena memikirkan masalah itu. Tapi suara ribut itu membuatku jadi teringat bundaku. Apa yang terjadi. Aku langsung berlari keluar kamarku dan di ruang tamu aku melihat bundaku terduduk menangis sementara ada 3 orang lelaki yang sedang memarahi bunda.


Sekejap langsung aku tahu kalau mereka adalah penagih hutang. Orang orang yang dibayar si pemilik piutang sudah kurang ajar sama bundaku.


"Hei stop, kalian apakan bundaku?" teriakku segera menghampiri bundaku dan memeluknya.


"Jian, bagaimana ini, Pak Jaka sudah mengancam bunda akan dilaporkan ke polisi," tangis bunda pecah membuatku sakit hati.


"Bunda tenang ya, Jian sama bunda kok, kita hadapin ini bareng bareng,"Hiburku kepada bunda.


"Hei, Pak Jaka minta kalau sore ini kalian tidak segera melunasi hutangnya, dia bakal memasukkan kalian ke dalam penjara." Ancam orang orang itu lagi.


"Baik, katakan sama Bos loe itu, nanti sore kami bayar lunas hutang kami, kalo tidak mungkin penjara lebih baik," teriakku kepada mereka sambil terisak menangis.


"Jian." Tangis bunda pecah memelukku. Kasihan bunda dan menderitanya aku. Kenapa kejadian buruk ini harus menimpa aku dan bunda.


Kemudian orang orang itu pergi sambil menendang kursi tamu. Membuat bunda kembali kaget dan jatuh pingsan. Aku berteriak memanggil bunda.


"Bundaaa, banguun," panggilku sambil menggoncang goncang badan bunda. Aku berteriak minta tolong agar tetangga membantu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Dengan bantuan tetangga akhirnya bunda sudah sadarkan diri. Sekarang bunda sedang beristirahat di kamarnya. Sementara aku mondar mandir di kamar gelisah dan bingung. Beberapa kali aku lihat kembali kartu nama Mas Yudis yang ada nomor teleponnya. Hatiku bingung dan ragu untuk menghubunginya.


Dan setelah beberapa kali aku pikirkan dengan membayangkan resiko terburuk aku pun mencoba menelepon Mas Yudis siang itu.


Dengan penuh was was dan jantung berdebar aku pun menahan napas ketika ada suara nada sambung telepon. Dan..


"Halooo..!" terdengar suara laki laki itu di ujung telepon.


"Mas, ini aku Jian."


Akhirnya aku pun dengan terpaksa menyetujui kontrak itu. Karena aku tak mungkin membiarkan Bunda menderita jika terus-terusan di teror oleh penagih hutang.


Biarkan aku hadapi resiko apa pun itu asal bunda tidak berhadapan dengan penagih hutang yang seseram seperti penjahat itu.

__ADS_1


Aku mungkin mengambil tindakan ini terlalu terbuka-buru. Dan masa bodo Mas Yudis akan mencap ku sebagai gadis yang matrealis. Ini bukan mauku. Keadaanlah yang membuat ku pasang muka badak di depan laki-laki asing yang baru tadi siang dia kenal.


Aku pun segera pergi setelah menelepon Yudis dan menuju tempat yang sudah ditentukan Yudis. Tanpa sepengetahuan bunda aku pergi meninggalkan bunda yang tertidur kelelahan karena seharian bunda kambuh darah tingginya.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Aku sudah sampai di sebuah cafe yang ditentukan Mas Yudis. Langkahku langsung kuarahkan ke lantai dua di mana Mas Yudis katanya sudah berada di sana.


Aku melihat situasi cafe ini kosong tanpa pengunjung. Aku kira aku salah tempat. Namun aku melihat sosok laki-laki itu melambaikan tangannya dan memberi kode agar aku segera menuju ke tempat nya dia duduk.


Ternyata dia tidak sendiri. Ada seorang laki laki juga seusianya berpakaian jas yang formal lengkap membawa sebuah tablet berukuran 10 inch. Mereka berdua pun langsung menyapaku.


Aku menundukkan kepala dan mencoba setenang mungkin di hadapan mereka. Karena aku tak mau gegabah bersikap. Jadi aku akan mencoba memahami proses pembicaraan kontrak ini.


Laki-laki yang rapi ber jas itu pun kemudian menyodorkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas padaku.


Dan kubaca judul kertas itu yang tertulis besar. 'PERJANJIAN KONTRAK MENIKAH'.


Aku kaget dengan sodoran kertas itu. Karena sudah disiapkan sedemikian cepat dan detail.


"Baca itu!" Yudis memintaku membacanya. Ya tentu saja aku akan membacanya.


Yudistira Lee, nama ini kemudian di sebut dengan Pihak Ke Satu


Jian, nama ini kemudian disebut dengan Pihak Ke Dua


Pihak Ke Dua akan mendapatkan nilai kontrak sebesar 5 Miliyar Rupiah dari Pihak ke Satu


Pihak Ke Dua harus mentaati semua poin poin yang ada di Kontrak ini.


5.Jika Pihak Ke Dua Melanggar poin poin tersebut maka Pihak Ke Satu berhak untuk meminta kembali nilai kontrak sejumlah nilai yang terkontrak.


6.Adapun poin poin yang harus ditaati oleh Pihak Ke Dua antara lain :


* Tidak ikut campur dalam urusan pribadi pihak ke Satu


*Pihak Ke Satu harus berpura-pura menjadi seorang istri yang baik di depan kakek pihak ke satu

__ADS_1


* Dilarang untuk jatuh cinta pada pihak ke satu


* Jangan membocorkan isi kontrak ke pihl ke tiga atau orang lain.


Jika Pihak Ke dua melanggar poin poin tersebut. Maka perjanjian kontrak batal dan Piha Ke Dua harus membayar segala resiko yang ditimbulkan oleh Pihak Ke dua termasuk harus mau diceraikan.


Aku merasa perjanjian itu terasa berat sebelah.


"Maaf Mas, di sini tidak tercantum konsekuensi jika pihak ke satu yang melanggar." Protesku langsung membuat Mas Yudis tersenyum terkekeh.


"Aku rasa itu tidak perlu, karena kalau aku yang melanggar itu tidak akan berpengaruh juga buat mu." Jawabannya sungguh membuatku ingin menarik dasinya itu lalu mencelupkannya ke mangkok soto yang di hadapannya lalu mengelapnya ke wajahnya.


"Maksud Mas gimana, kok aku disini jadi seperti jadi pihak yang seolah-olah aku satu satunya kalau aku melanggar itu menyebabkan kerugian."


"Padahal coba Mas Yudis pikir, kalau sampai aku yang melanggar bukan mas saja yang rugi. Aku juga rugi Mas. Dengan usia ku yang masih muda aku akan jadi janda muda. Mas tidak tahu seberapa menyedihkannya omongan orang sama janda. Dan oh iya, disitu tertulis juga pihak ke dua jangan jatuh cinta dengan pihak ke satu. Maaf Mas itu juga terlalu tidak masuk akal. Harus ditambah kalimatnya kedua belah pihak jangan sampai jatuh cinta."


"Ppfffft."


Terdengar olehku Mas Yudis malah menertawakanku.


"Maaf kalau urusan itu aku yakin aku tidak akan jatuh cinta sama kamu, aku sudah punya kekasih."


Merah telingaku saat dia menyebutkan punya kekasih. Memang brengsek orang itu. Dia hanya memikirkan keuntungan dan diri sendiri. Kenapa kalau dia punya kekasih harus bersikap manis di depan bunda dan aku waktu kemarin.


"Kamu jangan merasa tidak adil, karena hubungan kita adalah hubungan bisnis, simbiosis mutualisme, aku butuh kamu untuk menuruti keinginan kakek. Dan kamu butuh uang".


Senyum seringai jahatnya itu sungguh menganggu. Andai saja aku tidak kepepet seperti ini. Tak sudi aku harus berurusan dengan manusia berjubah malaikat namun berhati iblis.


"Baiklah, aku setuju."


Pada akhirnya pun aku harus menyetujui di saat dia tidak punya pilihan lain. Dan mereka pun memintaku untuk segera menandatangani perjanjian itu di atas materai.


Aku pun memantapkan hatiku kalau ini adalah demi hidupku yang lebih baik. Lalu kutandatangani perjanjian itu disaksikan oleh kedua orang itu.


Dan sesuai janji Mas Yudis, aku langsung diberi dua lembar cek masing-masing bernilai 1 Miliyar. Sisanya sesuai perjanjian akan diberikan bertahap. Setelah menikah dan saat bercerai.


Aku pun menerawang cek itu. Apakah harga diri dan kebebasan hidup mudaku sudah terjual oleh dua lembar cek ini.

__ADS_1


πŸ’΅πŸ’΅πŸ’΅πŸ’΅πŸ’΅πŸ’΅


__ADS_2