
Raya Puspita Putri, dia adalah temanku, sama-sama putri Jawa yang lahir di pulau dari seorang wanita, bapaknya laki-laki, aku tak terlalu mengenal orang tuanya, umurnya lebih muda dariku 4 tahun, segitu saja tentang nya. Aku tak terlalu ingin menceritakan tentang raya, perkenalanku dengannya memang lebih dulu dari annelia, awal pertemuanku dengannya sama seperti awal pertemuanku dengan annelia, hanya saja ada perbedaan. Waktu aku berkenalan dengan annelia dengan cara duduk dan berjabat tangan dan mengobrol walaupun tidak terus-menerus obrolanku tertuju pada annelia, sedangkan dengan raya hanya sesekali menyapanya dan melihatnya dari jauh, sekedar saling sapa, sejauh itu obrolanku dengan raya hanya lewat telepon. Dia memiliki teman yang lumayan banyak, itu membuatku tak ingin menyapa dan duduk di dekatnya, denganku butuh duduk bersama untuk mengobati rasa penasaran untuk lebih akrab dari sekedar saling sapa.
Aku juga dengar dengar dari temanku raya banyak akrab dengan orang orang di sekitarku, mereka mengenalnya, mereka juga menyapanya ketika bertemu, kadang mereka duduk dan mengobrol bergabung dengan komplotannya, itu tak asyik lagi bagiku. Walaupun pada dasarnya semua orang bisa berkenalan dengan siapa saja adalah hak perorangan, aku juga begitu mengenal banyak mahluk selama bumi termasuk dinosaurus, manusia purba, mahluk planet lain, dan kasusnya mereka tidak mengenal aku. Perjalanan ku mengenal raya membuat aku lebih dekat dengannya, mengobrol di telepon entah apa saja yang menjadi percakapan .Kata temen-teman raya itu cantik, mereka juga menyukainya, mereka juga mau ketika dekat dengannya, mereka juga mau mengajaknya makan, hanya saja mereka menghargai orang yang sedang dekat denganku, aku hanya tertawa mendengar pernyataan itu, karena pada kenyataannya aku masih belum sama seperti mereka. Jika boleh mengaku kehadirannya belum membuatku tertarik, penasaranku kepada raya terbatas, seolah semuanya terjawab begitu gampang. Hal itu Tidak sedikit orang di sekitarku mendukung ketika aku harus lebih dekat dengannya, bagiku itu hanya pernyataan yang tak terlihat dengan jelas, aku biasa-biasa saja, tidak begitu bahagia mengenalnya juga tidak begitu menyedihkan.
****
Lokasi Di Kampus
Berangkat bersama temen-temenku, ruangan di gedung kampus membuatku dan temen-temen berpisah menuju ruang kelas masing-masing ada juga yang ikut denganku di karenakan memiliki kesamaan kelas, mengikuti mata kuliah yang sudah terjadwal dengan rapi, mendengarkan penjelasan dari dosen, memahami materi, memegang bulpen, mencatat yang penting dan mengantuk ketika harus bertemu matematika yang rumit. Aku tak terlalu suka dengan pelajaran itu, harus berurusan dengan pikiran dan angka, itu mengganggu ketenanganku, tapi ini begitu penting, jadi aku masih mencoba untuk menyukainya.
"Arka, ", suara kecil memanggil dari belakang, Tapi aku masih fokus pada materi yang di sampaikan.
"Ar, arka", kali ini suara itu membuatku menoleh.
Dia Ihsan, sedang memanggil ku, "sini.!".
"Masih mau jadi anak baik, nanti aja" jawabku dengan mengecilkan suara juga.
"Sejak kapan..?".
"Udah dari lahir". Aku kembali fokus ke materi .
°°
Dibawah pohon rindang kami menyingkatnya (DPR) tempat Bayu, ganar, Acep,nuris, dan tentunya aku, hesan tidak terlalu bergabung karna sehabis kuliah harus membantu pamannya buka usaha angkringan di rumahnya, kecuali Sabtu Minggu. Ihsan saat itu ikut bergabung dengan kami, kebetulan dia katanya lagi pengen berkumpul dulu.
"Ka, udah tau informasi raya belum..?" Tanya Ihsan kepadaku.
"Udah.!"
__ADS_1
"Informasi yang mana" . Ihsan memastikan
"Informasi klo raya perempuan" . Jawabku,Cuman itu yang aku tau.
"Klo itu mah dari lahir ka,!". Sambung ganar. "Informasi apa emang?". Tanyanya ke Ihsan.
"Dia lagi di deketin kakak tingkat, aku tau informasinya dari Nadia".
Serentak teman-temanku "yachhhh,..!" Dengan kompak. Seolah informasi dari Ihsan membuat mereka kecewa.
"Pada sok pede semua nih". Sela hesan. Dia bilang klo informasi ini tidak begitu penting.
"Gimana ka, masih lanjut..?" Tanya Ihsan padaku.
"Lanjut naon..?"
"Dia. " Jelasnya. Aku hanya mengangguk , "nanti aku pikirin". Lalu aku beranjak dari tempat dudukku.
"Kemana...?" Tanya hesan.
"Ada janjian sama pak RT," emang waktu itu aku ada janjian sama pak RT buat mendata bantuan masyarakat dari pemerintahan atas.
"Nanti ke tempatmu kan ka??". Begitu tanya nuris.
"Gambiran aja, tempat nongkrong". Teriakku, tapi gak begitu keras.
langkah ku perlahan menuju tempat parkir motor mahasiswa untuk mengambil motorku yang tertata rapi disana.
tentang Ihsan dia adalah salah satu temen kelasku yang kadang bergabung dengan kami, tapi tidak terlalu sering, dia akrab dengan Nadia temannya Raya. Informasinya katanya mereka sudah mendekati ke arah perasaan. Ihsan sejak awal memang menyukai Nadia, atau mungkin mereka saling suka. Pernah waktu awal Ihsan ingin mendekati Nadia, dia menyuruhku untuk membuat puisi, dia datang ke tempatku dengan membawa sebungkus rokok dan bertanya bagaimana cara mendekati seorang wanita, aku tidak begitu faham mendekati wanita yang dia maksud, jadi aku ceritakan saja tentang novel dari Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya kapal Van der Wijck" . ku tulis saja puisi-puisi Zainuddin kepada hayati disitu. Dia sedikit menyanggah karena katanya nanti takut kisahnya akan berakhir seperti di novel itu. Aku menjawab bahwa kisah Zainuddin dan Hayati itu ada sambungannya dan ternyata kapal itu ternyata gak jadi tenggelam dan Hayati bisa menikah dengan zainudin. Aku buat cerita sendiri yang menyimpang dari novel itu seolah aku mengetahui cerita itu belum final, itu hanya alasanku agar Ihsan tak terlalu banyak berdebat denganku. Padahal pada kenyataannya penulisnya sudah wafat "allahumma firlahu".
__ADS_1
Setelah banyak mengobrol denganku, akhirnya Ihsan menyetujui solusi dari aku. Itu tidak terjadi pada Ihsan saja begitu juga sama temen-temen ku yang lain, kadang dia menyuruhku untuk melukis wajah orang yang di cintainya, tapi itu belum teratasi dengan sempurna, kadang aku buat sketsa wajah yang menurutku cantik entah itu siapa, aku hanya membuat garis garis yang menurut mereka masih bagusan gambar adeknya yang masih TK, mereka menyuruhku, aku hanya menurutinya sesuai kemampuan, hasilnya terserah aku, bagus enggaknya itu penilaian dari orang lain.
____***___
Masih di parkiran.
setiba di sana satu persatu ku lihat motor yang berjajar, aku mencari motor yang persis punyaku, tidak bukan dengan kepunyaan orang lain.
"hai arka" seorang memanggilku seketika aku memakai hlmku. "pada mau pulang...?" lanjutnya.
"Bella ya..?" aku memastikan saja, takut salah orang.
"iya. issh kok udah lupa!" jawabnya sedikit senyum dan mata agak kecewa.
"enggak, takut kembarannya Bella". Aku mengeles, padahal sebenarnya agak sedikit lupa karna orang itu tak setiap hari aku liat. Bella itu temannya Raya, biasa berkumpul dengannya, ketika aku menelponnya, raya selalu bilang lagi sama Bella, Saphira, dan Zahra. Aku tak menghafal nama-nama itu, hanya saja ketika sering di sebutkan itu membuatku mengingat.
"udah selesai, matkulnya ..?" tanya Bella.
"belum, masih mau di lanjut besok, itu keterangannya di jadwal"
"maksudku yang sekarang ka!" lanjutnya lagi.
"masih belum juga, kata dosen Minggu depan di lanjutkan"
"oh gitu ya..! ya udah hati-hati!" .
aku mengangguk. "aku duluan ya ka" dia melambaikan tangannya. aku menyetujuinya. karena gak mungkin aku cegah. aku gak punya urusan dengan Bella.
aku pun melanjutkan perjalananku menuju rumahku.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca. di inget ya ada lanjutannya di bab selanjutnya hehehehhe🙏