
...Seperti Langit...
...Kadang bisa cerah seperti harapan,...
...Namun bisa juga hitam, pekat seperti...
...Kenyataan....
"Kenapa kau menjawab pertanyaan ku dengan sebuah jawaban?" Tanya Langit sambil menatap tajam padq Aqila.
"Sepertinya kau tahu sendiri jawabannya." Jawab Aqila, sembari berlalu dari hadapan Langit.
Langit pun berjalan mengikuti Aqila, hingga Langit menahan lengan Aqila. "Kau marah?" Tanya Langit.
"Jika iya kenapa? Dan jika tidak, kenapa?"
"Kenapa sekarang kau melawanku? Apa kau tidak takut padaku lagi?"
"Untuk apa aku takut padamu? Bukan kah pasti kau akan memukulku? Aku sudah sering merasakan di siksa oleh mu, dan bagiku itu sudah hal biasa."
"Berani sekali kau!" Langit melayangkan tangannya di atas udara.
"Tampar! Ayo tampar. Jika itu bisa membuat mu senang."
Langit menjatuhkan tangannya dan tidak jadi menampar Aqila. Dan berlalu meninggalkan Aqila seorang diri.
"Kali ini aku tidak takut. Karena apa pun yang aku lakukan selalu salah di matamu. Dan apa pun yang aku katakan, kamu tidak akan percaya, dan badanku akan selalu merasakan pukulan darimu." Gumam Aqila sambil menahan sesak yang ia rasakan.
Aqila berjalan menuju balkon kamar, dan seperti biasa Attar selalu saja berada di sana.
"Ada masalah? Kok wajah kamu sepertinya lagi sedih?" Tanya Attar.
Aqila hanya diam tidak menjawab pertanyaan Attar.
__ADS_1
"Apa pacarmu marah? Kalau dia marah, biarkan saja. Atau putuskan saja. Aku siap menjadi pacarmu. Karena sejujurnya aku suka padamu saat pertama kali melihatmu."
"Kenapa laki-laki sangat suka menggombal. Namun jika sudah mendapatkan yang ia mau, pasti akan di sia-siakan."jawab Aqila
"Nah gitu dong. Harusnya kamu ngomong, jangan diam aja. Dan kalau kamu ada masalah cerita aja sama aku, aku siap menjadi pendengar sejati untuk mu. Dan tentu nya semua tidak gratis."
"Dasar! Kamu yah,."
"Hahahah, bukan hanya wanita saja yang matre tapi pria pun boleh."
"Dihhh. Ngak semua wanita itu matre yah."
"Ouh yah?"
"Ngak matre, tapi realistis. Itulah wanita." Jawab Aqila.
Dan berlanjutlah perbincangan mereka, sesekali Aqila tersenyum. Dan tanpa sadar sejak tadi Langit melihat keakraban Aqila dan juga tentangga, yang Langit tidak tahu siapa namanya.
Aqila melihat dengan jelas di mata Langit yang kini sudah memerah memancarkan emosi yang memuncak.
"Attar aku masuk dulu yah." Pamit Aqila. "Makasih udah di hibur."
Dan saat Aqila masuk, Langit langsung menarik lengan Aqila dengan sangat kasar.
"Siapa dia?" Tanya Langit dengan nada penekanan.
"Dia Attar tentangga sebelah."
"Yah aku tahu dia tetangga sebelah. Dan apa hubunganmu dengan dia?"
"Aku hanya berteman dengan nya. Tidak lebih." Jawab Aqila.
"Bohong!" Ucap Langit sambil mencengkram tangan Aqila dengan keras.
__ADS_1
"Mau aku jujur atau tidak. Semua itu pasti hanya kebohongan di matamu. Jadi terserah kamu Langit." Ucap Aqila dengan sangat tegas. Membuat Langit murkah dan langsung ingin menampar Aqila, namun batal saat melihat Aqila memejamkan mata, seakan sudah siap untuk menerima pukulan darinya.
Langit langsung berlalu, meninggalkan Aqila seorang diri.
"Ada apa dengan ku?" Ucap Langit saat dirinya sudah berada di dalam kamar. "Kenapa aku selalu saja marah, saat melihat Aqila dekat dengan orang lain? Dan apa apa dengan detak jantung ini?" Ucapnya.
Aqila membuka matanya secara perlahan karena tidak mendapatkan tamparan.
"Kemana dia?" Tanya Aqila saat membuka mata dan tidak melihat Langit di hadapannya.
••••••
Beberapa hari berlalu. Langit tak kunjung pulang kerumah. Ia menginap di apartemen milik Sintia. Dan saat berada di apartemen milik Sintia, Langit melihat sesuatu yang berbeda saat tanpa sengaja ia membuka lemari pakaian Sintia. Jelas sekali Langit melihat pakaian pria dan bahkan ada dalaman pria di dalam lemari ini. Membuat Langit mengingat, pernahkan dirinya tinggal di sini dan melupakan pakaian miliknya. Namun seingat Langit, tidak ada sama sekali jika dirinya pernah meninggalkan barang miliknya.
Akhirnya Langit meraih ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengikuti apa yang Sintia lakukan di luar kota.
•
•
•
•
"Bu, aku menyerah.." kata Aqila dengan mata yang berkaca-kaca menahan air matanya.
"Sayang. Maafkan ibu, dan maafkan Langit.."
"Bu.. Sungguh aku sudah tidak sanggup lagi. Setiap hari, Langit selalu mematahkan diriku. Mematahkan hati dan perasaanku. Kesabaranku sudah habis bu." Kini air mata jatuh membasahi pipi mulus Aqila. Tidak dapat lagi ia menyimpan kepedihannya seorang diri. Kini dirinya sudah tidak bisa lagi bersabar menghadapi Langit yang selalu saja kasar pada dirinya.
"Sayang.." Ibu Langit memeluk tubuh Aqila sambil mengusap tubu belakang Aqila. "Maafkan Langit. Maaf atas semua sikap yang ia lakukan padamu."
"Ibu.. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Jika terus seperti ini, yang ada aku hanya tinggal nyawa saja."
__ADS_1