
"Ibu.. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Jika terus seperti ini, yang ada aku hanya tinggal nyawa saja."
"Tapi sayang.."
"Bu, komohon jangan tahan aku untuk terus tetap di sini.. Sungguh aku tidak sanggup bu." Aqila meneteskan air matanya, sungguh ia sudah tidak bisa menahan sakit akibat ulah Langit pada dirinya. Dan bukan hanya luka fisik yang Aqila dapat, tapi luka batin pun Aqila dapatkan dari Langit.
"Sayang.." kata ibu Langit, tak kuasa menahan tangisnya.
Ia tidak bisa kehilangan Aqila yang sudah menjadi pahlawan untuknya. Yang sudah menolong anaknya. Yang telah mendonorkan hatinya pada Langit. Dan tanpa sepengetahuan Langit jika selama ini yang telah menolong hidupnya adalah Aqila istri yang selalu ia siksa selama ini.
"Apa pun keputusan mu. Ibu hargai itu. Tapi tolong bertahan lah nak. Sebentar saja."
•••••••
Seminggu berlalu. Langit merasa geram saat mengetahui perilaku Sintia yang tega mempermainkan dirinya. Yang tega berselingkuh. Karena cinta telah membuat Langit buta. Menutup mata dan juga hatinya, namun sayang cinta yang ia jaga selama ini adalah cinta yang tak semestinya. Cinta yang ia percayai ternayat telah menyakiti hati nya. Sakit yang amat mendalam.
"Tega kau Sintia." Teriak Langit sambil mengepalkan kedua tanganya.
__ADS_1
Tok.tok.tok
Aqilah mengetuk pintu kamar lalu membuka pintu kamar dan berjalan masuk sambil membawa nampan yang berisi segelas coklat panas.
"Minumlah." Kata Aqila sambil meletakkan gelas di atas meja.
"Apa kau tidak takut padaku?" Tanya Langit.
"Takut? Untuk apa? Kau bahkan bukan Tuhan ku." Jawab Aqila.
"Kau tidak takut untuk aku siksa?"
Langit berjalan mendekati Aqila dan langsung memeluk tubuh Aqila. "Lima menit saja seperti ini." Kata Langit, dan tanpa terasa air mata menetes dikedua mata indah Langit.
Entah itu menangis karena kekecewaan dan sakit hati yang ia rasa akibat di permainkan oleh Sintia. Atau menangis kerena merasa bersalah telah berlaku kasar kepada Aqila yang sudah sangat baik mengurusnya selama ini.
Aqila terdiam di dalam pelukan Langit. Dan Langit pun merasa sedikit lebih tenang di saat dirinya memeluk tubuh Aqila.
__ADS_1
Harum tubuh Aqila membawa ketenangan bagi Langit. Sejenak terlintas bayangan tentang dirinya yang selama menjadi suami Aqila, namun tidak pernah berlaku baik sedikit pun.
"Terima kasih." kata Langit sambil melepaskan pelukan nya dan sedikit tersenyum melihat Aqila.
"Sama-sama." jawab Aqila, dan langsung keluar dari kamar Langit.
Aqila bersandar di depan pintu kamar Lqngit sambil memengang dadanya.
"Kenapa? kenapa bisa seperti ini? kenapa tiba-tiba kau baik, saat aku sudah memutuskan untuk pergi?" gumam Aqila, sambil menahan sesak di dalam dadanya.
Saat Aqila keluar dari dalam kamar. Langit langsung duduk di tepi tempat tidur, dan memandang pintu kamar. Perasaan bersalah terus saja menyeruak di dalam dirinya. Pikirannya yang terus berkelana tentang apa yang selama ini ia lakukan kepada Aqila. Setia saat tak henti hentinya ia kasar, dan saat ini Langit benar-benar merasa sangat menyesal.
Langit mengusap wajah nya. "Bagaimana caraku, agar bisa menebus kesalahan ku padamu Aqilah? " gumam Langit.
••••••••
"Aqila... Aqila..." Teriak Langit memanggil namun tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
"Aqila." Panggil Langit sambil membuka pintu kamar dan tidak menemukan Aqila sama sekali di dalam sana.