
Maafkan kalau ada typo ^^
.
.
.
"Cintai dirimu sendiri sebelum kamu mencintai orang lain. Karena belum tentu orang lain akan mencintai kamu sebaik dirimu sendiri"
Dear my little owl...
Maaf, jika dengan datangnya surat ini, itu artinya mas tidak akan datang ke acara kita.
Maaf kan keputusan mas yang terkesan tiba-tiba dan pasti akan menyakitimu.
Maaf jika mas tidak bisa menepati janji yang sudah berusaha kita wujudkan selama 3 tahun terakhir.
Maaf kan mas my little owl...
Jika kamu bertanya kenapa mas melakukan ini?
Jawabnya karena mas mengikuti kata hati mas. Mas ga mau jika akan menyesal nantinya. Mas mencintai Melati, iya Melati sepupu kamu.
Sudah sejak 1 tahun terakhir mas menjalin hubungan dengan Melati di belakangmu, maafkan mas.
Mas tidak bisa mengontrol perasaan yang tumbuh bersemi dihati mas. Mas juga minta tolong untuk tidak membenci Melati karena hal ini. Mas hanya ingin bahagia dan itu ternyata bukan bersamamu.
Dengan Melati, mas merasa berbeda. Dia bisa membuat jantung mas berdetak kencang. Dan ternyata Melati juga merasakan hal yang sama dengan mas.
Jika kamu pikir mas mudah mengambil keputusan ini, jawabnya tidak. Mas memikirkan ini berbulan-bulan. Mas mau kamu bahagia. Karena mas tau, jika kita tetap memaksa untuk terus bersama, mas akan semakin menyakitimu.
Mas tak mau semakin sulit melepasmu ketika kita sudah terikat dalam tali pernikahan.
Mas harap kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri walau tanpa mas. Seperti mas menemukan kebahagiaan mas dengan Melati.
Maafkan mas mu yang jahat ini.
Dalam hati mas, kamu masih memiliki tempat tersendiri. Mas tidak akan melupakan semua kenangan kita, mas menyayangimu.
Selamat tinggal dan semoga kamu bisa bahagia.
Salam sayang
Azzam mu
Lagi-lagi Symponi menagis dalam diamnya, dia hafal isi surat dari Azzam diluar kepala. Setiap malam dia menagisi isi surat itu, bahkan Symponi meletakan surat itu di bawah bantalnya.
Sejak pertama kali dia membaca surat itu, tiba-tiba hidupnya hampa dan terasa kosong. Dia begitu terbiasa dengan kehadiran Azzam disetiap harinya tapi mulai detik itu hidupnya harus berubah. Dia harus hidup tanpa Azzam dan semua kasih sayangnya. Symponi merasa sebagian dari dirinya direnggut paksa. Dia kosong dan kehilangan.
Malam ini dia kembali membacanya, mengulang setiap kata-kata Azzam yang bagai pisau tajam dan menyayat hatinya. Karena semua itu membuatnya tak sanggup bersuara walau dalam hatinya dia berteriak.
Bagaimana bisa, sepupu sekaligus sabahat baiknya itu telah mencuri hati Big Monkey nya. Lelaki tampan dengan hobinya makan pisang itu telah menjerat hati Symponi dari awal pertemuan mereka 3 tahun lalu. Jika mengingat kembali awal-awal pertemuan mereka, Symponi tersenyum dalam tangisnya.
Symponi bertemu dengan Azzam saat dirinya baru saja selesai mengisi disuatu acara amal yang diadakan oleh sebuah yayasan. Azzam yang bekerja sebagai seorang dosen, ternyata juga seorang relawan di yayasan itu. Mereka berkenalan dan kemudian saling jatuh hati.
__ADS_1
Pembawaan Azzam yang santun, tenang dan penyayang itu sangat mudah untuk dicintai. Apalagi dengan pekerjaan yang mapan dan wajah tampan, siapa yang tidak mudah jatuh cinta padanya. Begitu pun Symponi, dia jatuh sejatuh-jatuhnya pada Azzam.
Selama tiga tahun hubungan mereka, Symponi tak pernah menangkap sikap dari Azzam yang membuatnya curiga. Bahkan hubungan mereka terkesan baik-baik saja. Apa yang membuat Azzam berpaling darinya pun, sampai detik ini Symponi tak tahu.
Jika kembali mengingat itu seketika rongga dihatinya kembali terasa penuh, penuh oleh rasa sakit dan kecewa yang tak tertahankan.
.
.
.
Pagi ini Melodi bersiap untuk pergi ke kampus tapi sebelum itu, seperti biasa dia mampir ke kamar sang kakak yang akhir-akhir ini terlihat gelap dan sepi.
"Selamat pagi, kak" sapa Melodi.
Tatapan mereka bertemu, setelah lebih dari satu minggu Symponi mengabaikan semua orang tapi kali ini mata itu kini menatapnya. Melodi dengan semangat menghampiri Symponi di atas ranjangnya.
"Bagaimana kabar, kakak?" Tanya Melodi sambil tersenyum lega.
Symponi tak menjawab, dia hanya bergerak pelan dan menyerahkan surat Azzam pada Melodi.
"Kakak masih menyimpannya? Sini biar aku bakar surat ini, kak!" Ucap Melodi dengan suara agak meninggi. Dia menyimpan rasa kesal yang luar biasa dalam hatinya. Beruntung di depan Symponi, Melodi masih bisa mengontrol sedikit emosinya.
Symponi menggeleng, "jangan, tolong cari tau dikampus apa Mas Azzam pergi mengajar? Kalau adek ketemu, tolong tanya apa dia bahagia sekarang?" Ucap Symponi dengan sendu dan wajah sembabnya.
Melodi tau kalau sang kakak pasti habis menangis semalaman.
"Kakak, tolong lupakan dia. Melodi mohon" ucap Melodi sambil memegang tangan sang kakak.
Dengan cepat Melodi menahan lengan Symponi dan menggeleng. Symponi memaksakan untuk tersenyum, "kakak akan mengantar kamu" ucapnya keras kepala.
Sekali lagi Melodi menahan lengan itu lebih kencang, "ingin bertemu dengan lelaki brengsek itu?!"
Symponi kembali duduk di tepi ranjangnya.
"Kak, dengarkan Melodi kali ini aja. Jangan sakiti diri kakak lebih dari ini. Lupakan mereka, kakak pasti bisa"
"Kakak mau ketemu Mas Azzam, dek" ucap Symponi semakin keras kepala.
Melodi menunduk, dia menghela nafasnya kasar. Sepertinya kali ini dia harus mengalah. Mungkin dengan bertemu, kakaknya bisa menyelesaikan masalahnya, "baiklah tapi jangan bicara, hanya melihatnya saja dari jauh lalu pulang"
Symponi dengan cepat melesat menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap.
.
.
.
Universitas Lambung Mangkurat,
Melodi melepas sabuk pengaman lalu melihat ke arah Symponi yang duduk diam di sampingnya.
"Kakak menunggu di sini?"
__ADS_1
Symponi mengangguk.
Melodi tahu benar kalau kakaknya ini hafal jadwal mengajar Azzam. Jadi dapat dipastikan kalau sekitar 5 menit lagi Azzam akan datang dan memarkirkan mobilnya di tempat ini.
Sepuluh menit berlalu dan benar saja, mobil honda jazz berwarna putih yang biasa dikendarai oleh Azzam berhenti tepat di samping mobil mereka.
Symponi yang memang sudah menunggu ini langsung turun dan menyusul Azzam. Melodi melarangnya tapi Symponi tetap pergi.
"Mas, tunggu"
Azzam berbalik dan dapat dilihatnya wajah lelaki itu terkejut bukan main.
"Symponi" ucapnya pelan.
"Mas, aku minta kejelasan tentang semua ini" ucap Symponi.
Azzam memperhatikan sekelilingnya, lalu membawa Symponi untuk duduk dan berbicara di dalam mobilnya.
"Maaf, mas nggak punya waktu banyak"
Symponi menahan air matanya saat melihat sikap Azzam yang berbeda padanya.
"Mas, aku minta penjelasan" ucapnya lirih.
Azzam menghela nafasnya, "apa yang kamu nggak mengerti dari isi surat mas? Bagian mana yang kamu tidak mengerti, Symponi?"
Symponi tersentak, Azzamnya benar-benar berubah. Tapi kenapa secepat ini??
"Kenapa mas melakukan ini padaku?"
"Karena mas ingin mengikuti kata hati mas, maaf Symponi mas sudah lama berhenti merasakan hal yang sama dengan kamu"
Satu air mata lolos dari pelupuk mata Symponi.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Kenapa tepat dihari pernikahan kita, mas? Kenapa? Kenapa, mas?" Ucap Symponi sambil memukuli dada Azzam.
Azzam memejamkan matanya, baginya ini juga keputusan yang sulit, bahkan dia rela melawan keluarganya demi Melati, "maafkan mas Symponi, mas mencintai Melati"
Symponi kembali ke dunia nyata, harapannya untuk bisa merubah keputusan Azzam ternyata sia-sia. Jelas sekali Azzam mengatakan bahwa dia mencintai Melati, bukan dirinya. Lalu apa lagi yang Symponi harapkan? Jawabnya, jelas tidak ada.
Kenyataan ini kembali menghantam Symponi lebih keras lagi. Hati dan pikirannya tak dapat menerima semua keputusan sepihak dari Azzam. Semua terasa menyakitkan dan Symponi kembali terdiam. Dia memilih keluar dari mobil tanpa mendengarkan panggilan Azzam.
Dengan langkah gontainya, Symponi kembali ke dalam mobil dan Melodi dapat melihat perubahan sikap Symponi.
"Kak, ada apa? Apa yang kalian bicarakan? Kak ... kakak" panggil Melodi tapi Symponi seolah menulikan telinganya dan pandangannya kosong.
Melodi meraih tubuh kakanya dan memeluknya erat, "kakak, katakan sesuatu! Melodi tau ini tak akan baik buat kakak. Maafkan Melodi yang tak mencegah kakak bertemu dengannya. Bicaralah kak, Melodi mohon" ucap Melodi lirih.
Symponi tak mereapon apapun, bahkan pelukan dari Melodi pun tak dibalasnya. Dia hanya diam dan hanyut dalam pikiran serta rasa sakitnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1