Symponi

Symponi
Part 8 ( Symponi yang Indah itu Kamu )


__ADS_3

Koreksi jika ada typo ^^


"Dan ku terus mencintaimu


Engkau terus melupakanku"


Melodi semakin cepat melangkah ketila dirinya melihat Symponi yang sedang duduk di kursi taman sendirian, dia merindukan kakak nya, sangat. Wajah Symponi masih sama seperti seminggu yang lalu, saat terakhir kali mereka bertemu. Terlihat murung dan sedih.


Sesampainya di sana, Melodi langsung mengambil duduk tepat di samping Symponi. Dia memperhatikan wajah kakak nya dari samping, terlihat tirus.


Symponi yang semula sedang melamun, kini mengarahkan pandangannya ke samping. Sebuah garis lengkung kecil langsung tercipta begitu dia tahu bahwa adik nya Melodi lah yang datang.


Melodi sempat terkejut tapi kemudian dia memilih untuk memeluk Symponi erat. Dia begitu merindukan sosok hangat yang ada dipelukannya ini.


"Kakak, cepat sembuh, cepat pulang. Melodi kangen" ungkapnya lirih.


Tangan Symponi terulur untuk mengelus lembut bahu Melodi. Walau tak berkata apapun tapi Melodi tahu bahwa kakak nya kini sudah jauh lebih baik dari minggu lalu.


Ada senyuman kecil dan sebuah pelukan hangat dari Symponi yang begitu dia rindukan. Hanya ini tapi bisa membuat Melodi begitu banyak mengucap syukur.


Saat ini yang menjadi fokus dia dan keluarga adalah kesembuhan Symponi. Tak ada hal lain yang dia minta, hanya kesembuhan Symponi. itu yang selalu dia ucapkan dalam doa-doa nya.


Setelah pelukan hangat itu terlepas, Melodi menatap jauh ke dalam manik mata Symponi. Di sana masih ada kesedihan yang besar dan rasa kecewa yang dalam. Walau kejadian itu sudah terjadi lebih dari satu bulan yang lalu. Tapi Melodi yakin kakaknya tak akan mudah melupakannya.


Bahkan dari kabar yang diterimanya, dua orang pengkhianat itu akan segera menikah dua bulan lagi.


Melodi sempat bertemu dengan Azzam di kampusnya dan lelaki tampan itupun mendapat sebuah tamparan keras dipipinya saat masih dengan santainya bertanya kabar tentang Symponi padanya. Hari itu Melodi lepas kontrol, dia sudah terlalu lama memendam amarahnya dan itu terluapkan saat dia bertemu Azzam. Walaupun tamparan keras itu telah membuat merah pipi Azzam tapi Melodi masih belum merasa puas. Dia ingin Azzam dan Melati tidak pernah bahagia . Itu yang dia mau, agar cukup membayar semua rasa sakit yang kakaknya rasakan.


Saat itu Azzam hanya diam tau bahwa itu adalah bentuk kekecewaan Melodi padanya dan dia bisa menerima itu.


"Abi dan umi kemana, dek?"


Pertanyaan pertama sejak Symponi memilih untuk diam satu bulan yang lalu. Melodi yang sempat melamun pun tersentak dia mencoba sebiasa mungkin tersenyum dan menyembunyikan rasa harunya di dalam hati, dia juga kembali bersyukur akan keadaan Symponi saat ini.

__ADS_1


Satu senyuman lebar Melodi berikan pada Symponi, "abi dan umi ada di rumah kak. Umi lagi nggak enak badan" jawab Melodi.


"Umi sakit?" Wajah Symponi terlihat begitu khawatir.


"Cuman masuk angin. Kemarin seharian nemenin abi mancing" bohongnya. Umi mereka sakit karena terlalu memikirkan keadaan Symponi. Tapi tak mungkin Melodi mengatakan itu.


Symponi mengangguk, "bilang sama umi dan abi, kakak kangen"


Melodi kembali memeluk Symponi dari samping, "nanti kalau umi udah sehat, pasti aku ajak ke sini, kak. Mereka juga kangen banget sama kakak"


"Oya kak-" Melodi mengambil sesuatu yang tadi dibawanya, "ini biola kakak. Kalau kakak bosan, kakak bisa main ini"


Symponi tersenyum ketika melihat kotak biolanya yang diberikan oleh Melodi. Sudah hampir 2 bulan benda yang mengeluarkan suara indah itu tak dia sentuh. Tiba-tiba rasa rindu ketika memainkan benda itu terasa sangat besar.


"Coba mainkan kak. Melodi kangen permainan kakak"


Perlahan Symponi membuka kotak itu lalu mengambil biolanya. Benda ini begitu banyak menyimpan kenangan untuk Symponi, khususnya kenangannya bersama Azzam.


"Nanti ya, dek. Kakak masih belum siap" ucap Symponi sambil menutup kembali kotak itu.


"Gimana kabar Mas Azzam?"


Senyuman Melodi hilang dan berganti dengan raut penuh kebencian. Dia lagi!


"Melodi kira dia baik, lagian nggak ada gunanya kakak tau kabar dia" jawabnya sarkas.


Symponi mencoba tersenyum, "syukurlah kalau dia baik-baik saja" Symponi memandang langit dan menghirup banyak udara dari hidungnya. Mendengar kabar bahwa Azzam baik-baik saja membuat sebagian hatinya merasa senang tapi sebagian lagi sakit karena ternyata laki-laki itu bisa hidup bahagia tanpanya. Tidak seperti dirinya yang berakhir menyedihkan, seperti sekarang.


Diam-diam Melodi menatap kasian pada kakaknya, coba lihat, kurang baik apa kakak nya ini. Bahkan walaupun sudah disakiti begitu dalam tapi tetap menanyakan kabarnya. Hanya lelaki ***** seperti Azzam yang tak bisa melihat semua itu.


"Kakak masih cinta sama dia?"


Pandangan mata Symponi menerawang ke depan kini menatap Melodi kemudian dia tersenyum getir, "siapa yang bisa melupakan orang yang sudah hidup di sini-" Symponi menunjuk dadanya, "selama bertahun tahun dalam hitungan bulan. Kakak masih belum bisa"

__ADS_1


"Walau dia udah nyakitin kakak, mengkhianati kakak, ninggalin kakak dan buat kakak malu. Iya kak?"


Symponi menahan tangisnya, "dia berharga dek buat kakak. Kenangan dia masih ada di kepala kakak. Terus berputar-putar. Kakak harus bagaimana? Apa kakak harus hilang ingatan dulu supaya bisa melupakan dia?"


Melodi tak tahan lagi, dia memeluk tubuh Symponi lagi dan menangis, "lupain dia, kak. Melodi mohon" ucapnya lirih.


Akhirnya Symponi menanagis. Melodi tahu itu, kakak nya sudah lama memendam rasa sedihnya, malunya dan sakitnya sendiri tanpa mau menceritakan semuanya padanya. Melodi juga tahu jika dengan air mata, mungkin bisa membuat hati sang kakak sedikit lega.


"Melodi siap melakukan apa aja asal kakak kembali seperti dulu jadi sekarang berjuang lah kak. Ada abi, umi dan aku yang sayang sama kakak"


Symponi terdiam dalam tangisnya. Semua kejadian, rasa sakit, rasa malu dan kecewa yang berat masih terus menghantuinya. Dia tak bisa lupa akan hari itu. Hari dimana semua kebahagiaannya berubah menjadi kesediahan.


.


.


.


Sejak setengah jam yang lalu Melodi sudah pergi dan Symponi masih berada di taman ini sendirian, matanya menatap kosong ke arah depan. Bagaimana dia akan melanjutkan hidup jika terus begini? Apakah kebahagiaan akan kembali datang padanya.


Symponi membuka kotak biolanya lalu tangannya mengusap permukaan halus dari biola itu. Disini juga banyak kenangan Azzam yang tersimpan apik. Biola ini yang membawanya pada pertemuan pertama mereka. Symponi mengambil biola itu dan meletakannya di atara bahu dan kepalanya. Tangan satunya sudah siap untuk menggesek senar dari biola itu.


Seketika alunan musik yang terdengar sedih keluar dari benda itu. Symponi memejamkan matanya untuk menghayati lagu yang dia mainkan.


Ada sepasang mata yang melihatnya dari jauh. Mata yang penuh cinta itu merasakan kesedihan dari Symponi. Dia tahu bahwa lagu itu pasti perwakilan dari rasa sedihnya Symponi.


Walau alunan musik itu terdengar indah tapi ada rasa sakit dari sang pemain yang ingin dia sampaikan.


Symponi yang indah untuk sebuah hati yang terluka.


"Semoga suatu saat kamu bisa melupakannya dan izinkan aku untuk mengantikan dia yang telah pergi meninggalkanmu"


***

__ADS_1


Makasih sudah mampir 😊


__ADS_2