
Maafkan kalau ada typo ya ^^
"Tidak ada orang tua yang benar benar ingin melihat air mata dari anaknya, kecuali air mata bahagia"
Peran keluarga sangat dibutuhkan disaat seperti ini dan Symponi seberuntung itu. Dia memiliki keluarga yang sayang dan peduli padanya.
Adik perempuan yang begitu perhatian dan kedua orang tua yang selalu memberikannya cinta.
Setiap hari Melodi selalu mengajak Symponi untuk berbicara, walau pada akhirnya dia hanya berbicara sendiri tanpa ada respon dari Symponi.
Bahkan Salamah juga mengundang beberapa teman dekat Symponi. Nessa dan Dita, mereka datang dan berusaha mengajak Symponi untuk berbicara tapi hasilnya tetap sama, Symponi diam sambil menatap lurus ke depan, ke halaman rumahnya.
Entah sudah berapa air mata yang Salamah tumpahkan disetiap doanya tapi Symponi tetap sama.
Pengobatan sudah berjalan tiga hari, Symponi pun tak keberatan meminum obat antidepresan nya tapi masih belum ada hasil.
Hari ini, Salamah dan Fuad kembali memeriksakan keadaan Symponi.
Klinik dr. Rudi
Setelah berbincang bincang dengan dr. Rudi, Salamah dan Fuad kembali membawa Symponi pulang dan saat di perjalanan pulang, Fuad mendapat telepon dari seorang saudara yang menganjurkan untuk membawa Symponi keluar dari kota ini.
Mereka berencana akan membawa Symponi untuk melakukan proses penyembuhan disebuah tempat yang sudah terkenal. Disana Symponi tidak hanya akan di jadwal untuk minum obat secara tetatur tapi juga akan di ajak berbicara, melakukan aktivitas, ditangani oleh dokter ahli, dll.
Fuad setuju akan saran itu, walau Salamah menggelengkan kepalanya. Tapi Fuad telah bertekad apapun akan dia lakukan untuk Symponinya.
.
.
.
Salamah mengemasi semua pakaian Symponi dengan berderai air mata, baginya jauh dari Symponi adalah mimpi buruk. Apalagi disaat keadaan Symponi yang seperti ini.
"Umi, udahan dong nangisnya" pinta Melodi.
"Haruskah dek, kakak mu mengalami ini? Kenapa harus dibawa pergi? Umi masih belum bisa melepas kakak kamu, dek" Salamah kembali terisak.
__ADS_1
Melodi memeluk tubuh Salamah dari samping, "ini untuk kakak, mi. Ini semua untuk melupakan laki laki brengsek itu. Kakak perlu suasana baru yang membuatnya lupa dengan semua rasa sakit ini"
"Umi mau ikut"
"Kalau bisa, Melodi juga mau ikut, mi. Tapi ini demi kakak, mi. Umi percayakan semuanya pada mereka ya?"
Akhirnya Salamah mengangguk paham. Rela tak rela, mau tak mau, Salamah harus melakukan ini. Demi putrinya Symponi, demi kesembuhan yang mereka inginkan. Salamah harus bisa menahan sedihnya.
Semua pakaian Symponi sudah siap di dalam kopernya, bahkan Symponi sendiri sudah berpakaian rapi. Hati Salamah sangat sakit saat ini, tinggal beberapa jam lagi dia akan berpisah dengan putrinya. Tapi dia mencoba menguatkan hati dan menahan air matanya. Semua demi Symponi.
.
.
.
"Masih ada waktu, mi, kita bisa peluk Kak Symponi dulu puas-puas" ucap Melodi mencoba menghibur Salamah.
"Iya juga sih, umi malah kepikiran mau puas puasin foto dulu bareng kakak kamu, dek" jawab Salamah sambil merapikan beberapa rambut Symponi yang menutupi wajahnya.
"Kita masih bisa jenguk kakak kapanpun kita mau ko" Sahut Fuad sambil menarik koper milik Symponi menuju ke halaman.
Fuad memasukan koper ke bagasi kemudian berbalik menghadap Salamah. Memberikan senyuman yang mungkin bisa menenangkan hati istrinya ini, "Mas Redi udah kirim beberapa foto dan yang abi lihat tempat itu sangat nyaman, mi. Bahkan tempatnya itu bukan terlihat seperti tempat terapi tapi lebih ke villa untuk liburan"
Salamah masih meragukan jawaban dari Fuad dan itu jelas terlihat dari wajahnya.
"Kita bisa survei dulu kali, bi, jangan langsung masukin Symponi kesana aja. Umi khawatir, bi kalau harus ninggalin Symponi disana sendirian"
Fuad kembali tersenyum, "bukan sendirian, mi, disana banyak terapis yang terlatih dan beberapa dokter juga. Mereka nggak akan membiarkan Symponi kesepian"
Akhirnya Salamah mengangguk. Apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang, selain setuju.
Fuad menggiring Salamah kembali masuk ke dalam rumah, "sekarang manfaatkan waktu yang umi punya untuk memeluk Symponi. Minggu depan kita akan jenguk dia" Salamah hanya membalas dengan anggukan.
Melodi mengambil beberapa foto kebersamaan mereka dengan Symponi, walau yang menjadi objek utama tak bereaksi apapun tapi tak mematahkan semangatnya untuk terus mengambil foto. Bagi Melodi, ini bisa menjadi obat rindu dikala mereka berpisah jauh.
Sampai tiba saatnya Symponi harus pergi. Salamah dan Melodi ikut mengantar sampai tempat tujuan. Hanya butuh waktu 3 jam perjalanan dari Kota Banjarbaru menuju Kota Kandangan dan 1 jam perjalanan untuk naik ke daerah pegunungan dimana tempat terapi itu berada.
__ADS_1
Sesampainya disana, mereka bisa melihat kalau tempat ini benar-benar sejuk. Udara bersih dan rindang pepohonan langsung menyambut mereka ramah.
Salamah menyukai tempat ini. Walau jauh dari kota tapi tempat ini sangat modern dengan berbagai elektronik di dalamnya dan dipadu dengan bangunan yang terbuat dari bambu, membuat kesan semakin terasa damai.
Dengan disambut hangat oleh Kepala Rumah Terapi 'rumah bambu', dr. Alex, Sp. Kj . Fuad dan keluarga di ajak berkeliling sebentar di lokasi ini dan benar saja, Salamah dan Melodi sangat menyukai tempat ini. Ada bangunan utama di depan yang berpusat sebagai kantor, di bagian belakang terdapat banyak bangunan dari bambu yang berfungsi sebagai kamar dan tempat terapis. Kamar kamar disini juga didesain seperti sebuah kamar hotel yang lengkap fasilitasnya. Ada juga beberapa pendopo yang difungsikan untuk tempat bersantai selain taman bunga yang indah dan terawat. Di belakangnya juga terdapat sebuah aliran sungai kecil yang bersih dan membuat hati tenang. Menambah kesan pedesaan semakin kental.
Salamah diajak oleh salah satu terapis untuk masuk ke dalam kamar Symponi. Begitu kakinya memasuki kamar, Salamah tau pasti bahwa putrinya akan di rawat dengan baik disini.
"Kami akan mendampingi Symponi terus kok, bu. Jadi ibu jangan khawatir ya" ucap terapis yang bernama Salma. "Dan saya terapis yang akan mendampinngi Symponi, bu"
Salamah mengangguk, "apa mereka yang sudah masuk ke sini, bisa sembuh?"
"Mereka yang sebelumnya berada di sini, alhamdulillah bisa sembuh bu"
"Lalu putri saya, bisa?"
Salma terkekeh, "insyallah bu, semua yang terbaik kami lakukan dan hasil akhirnya kami serahkan pada Allah" jawab Salma.
Salamah kembali mengangguk, kali ini dia setuju. Semua cobaan ini datangnya dari Allah dan hanya Allah lah yang bisa menyembuhkannya kembali.
"Ibu bisa jenguk Symponi kapan saja, kami tidak membatasi hari untuk keluarga berkunjung, bahkan ibu dan keluarga bisa ikut menginap disini"
Ucapan dari Salma sukses membuat mata Salamah berbinar. Dia bisa menginap itu hal yang dia inginkan.
.
.
.
Sekarang waktunya mereka berpisah dari Symponi. Pelukan dan ciuman diberikan Salamah dan Melodi secara bergantian. Mereka masih setengah tak rela meninggalkan Symponi disini tanpa mereka tapi semua kembali pada tujuan utama mereka untuk menyembuhkan Symponi. Jadi rasa itu harus mereka kubur dalam-dalam.
"Minggu depan kami akan kembali" ucap Fuad.
dr. Alex mengangguk.
Salamah sekali lagi memandang Symponi yang sedang duduk di taman dengan terapisnya, Salma. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Symponi saat mereka pergi. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan rasa sakit yang entah sampai kapan akan sembuh.
__ADS_1
Disini hidup barunya akan dimulai. Dimana mimpi buruknya akan dia lupakan secara perlahan, semoga.
***