TAHAP REVISI

TAHAP REVISI
Pengantar dan Bab 1


__ADS_3

Blurb


Brie, putri kecil kesayangan ayah mendadak berontak dan kabur dari rumah. Ia memenuhi permintaan Vivian untuk menghabiskan musim panas mereka di rumah peternakan milik keluarganya. Brie hanya ingin bersembunyi dari ayahnya yang terlalu protektif.


Musim panas kali ini, Jax sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi masalah apapun bentuknya. Apalagi, kini ia berada dalam masa pembebasan bersyarat yang dijatuhkan pengadilan atas tuduhan pembunuhan. Jax memutuskan untuk lebih hati-hati dalam bertindak. Saat adiknya membawa pulang sahabat kuliahnya, Jax tidak bisa menahan diri untuk sedikit bersenang-senang dengan si Manis Brie. 


Bagi Jax, Brie adalah mainan musim panas yang memiliki masa waktu dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ketika Brie akhirnya tersadar bahwa ia baru saja bebas cengkeraman ayahnya hanya untuk terjebak dalam penjara lain di bawah genggaman Jax, maka apa yang akan ia lakukan? Apa Brie menyesal pernah mengenal Jax? Bagaimana ia akan keluar dari situasi yang mengurungnya saat ini?***


.


.


Bab 1


***

__ADS_1


“Brie, situasi sudah aman. Kau bisa pindah ke depan.” Vivian memperhatikan mobil yang sedari tadi mengejar mereka sudah menghilang dari kaca spion.


“Apa kau yakin mereka sudah tidak mengikuti kita, Viv?” Brie berkata dari belakang mobil pada sahabatnya yang sedang konsentrasi di belakang kemudi.


“Yes, madam.” Vivian meniru intonasi salah satu pengawal Brie yang akan mengikutinya kemanapun gadis itu pergi. Bahkan, jika Brie memutuskan turun ke jurang, maka mereka akan menyiapkan perosotan menuju dasar jurang agar ia bisa meluncur dengan aman.


Brie bangun dari posisi rebahan dan segera meluncur pindah ke kursi penumpang. Dengan segera ia melempar topi bucket dan kacamata hitam yang sedang dikenakannya ke dashboard.


“Hey, gadis! Jangan rusak interior mobil pertamaku!” Viv mengajukan protes.


Viv tertawa renyah tiap Brie menggoda pekerjaan sampingannya. Terlalu banyak penipuan massal yang dipajang Viv dalam secuil gaya hidupnya yang terpampang di media sosial.


“Hey, jangan menggodaku. Kini, giliranmu sebagai bintangnya, Brie. Jadi, apa kau siap menghabiskan musim panas pertama diluar jangkauan ayahmu?”


“Entahlah.”

__ADS_1


“Kok, jadi nggak yakin gini sih?”


“Ayahku itu setengah pemilik saham perusahaan jasa pengamanan paling terpercaya saat ini, Viv. Semoga saja ia tidak menggerebek rumah peternakan keluargamu dan memaksaku pulang pada minggu pertama.” Brie membuang nafas kesal.


“Hey, salahmu sendiri jadi anak tunggal kesayangan Ayah. Kalau kau dilahirkan sebagai anak bungsu gagal sepertiku, maka pengamanan dan sikap protektif ayahmu itu tidak akan berlaku.”


“Coba ceritakan lagi padaku soal semua saudaramu, Viv.”


“Aduh, aku sudah mengulang cerita ini tiga kali, Briella Payne. Bagaimana kau bisa melupakan secuil kisah hidupku yang teramat penting ini sih? Apa kau yakin masih menyebut diriku sebagai sahabat tercinta?”


“Argh, sebentar. Kau punya satu kakak lelaki dan perempuan, keduanya sudah menikah dan berkeluarga. Ketika kau kelas tiga high-school, ibumu tidak sengaja kebobolan gawang dan menghadiahkan adik kembar sebagai hadiah kelulusan. Ya ‘kan?” Brie berusaha menahan tawa. “Karena sepanjang persahabatan kita selama empat tahun terakhir ini, kau selalu protes pada perhatian yang teralih karena kehadiran si kembar. Aku tidak sabar bertemu dengan mereka, Viv!”


Vivian memajukan bibir seperti anak kecil dan melupakan kenyataan bahwa kini usianya sudah mencapai dua puluh tiga. Jarinya sengaja mengencangkan volume lagu country yang sedang diputar di radio untuk membalas Brie yang mengejeknya. Ia tahu gadis itu terlalu kota dan modis untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal berbau peternakan.***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2