
***
“Brie.” Vivian menepuk pipi Brie pelan yang sedang terlelap. “Mampir dulu di minimarket ya, aku harus mengisi bensin. Kita sudah sampai di kota dan sebentar lagi sampai di rumah.”
Brie mengangguk dan mengerjapkan mata karena tadi sempat tertidur selama perjalanan. Beberapa menit kemudian, ia turun dari mobil karena kebelet buang air.
“Viv, aku masuk minimarket ya. Mau nitip apa?” Brie bertanya pada Vivian yang sedang berdiri mengisi bahan bakar.
Viv menggeleng dan kembali mengobrol dengan salah satu petugas polisi yang juga sedang mengisi bahan bakar.
Brie berjalan menuju kamar kecil minimarket. Setelah selesai, ia memutuskan membeli beberapa cemilan untuk mengganjal perut kosongnya. Brie membawa sejumlah belanjaannya ke meja kasir.
“Ada yang bisa kubantu lagi?” Kasir bertanya setelah ia menyebut nominal hasil belanjanya. Brie menggeleng dan mengucap terima kasih. Minimarket yang dikunjunginya cukup lengkap, tipikal Seven Eleven yang ada di setiap sudut kota. Ia memandangi beberapa souvenir kartu pos yang tergantung di dekat yang pintu keluar.
“Halo, Manis!” Dilanjutkan dengan bunyi siulan seorang pria yang berdiri di samping Brie.
Brie menengok ke samping dan mendapat wajah jahil menggodanya. Pria ini mungkin saja seumur dengannya. Wajah tampan seorang pria tidak gampang membuat Brie luluh.
__ADS_1
“Mau ditemani menghabiskan segudang cemilan itu? Atau kau lebih tertarik jadi cemilannya?” Pria itu masih berusaha menggoda Brie.
Brie berlalu ke ambang pintu dan tidak
“Hei, aku sedang berbicara.” Pria itu mengekor Brie ke depan minimarket. “By the way, nice butt, Manis. Can I break it?” Kalimat itu disertai dengan tepukan keras pada bokongnya.
Astaga, pria ini cari mati rupanya! Brie tidak bisa menahan diri dan seketika memutar tubuhnya sambil meraih salah satu tangan kurang ajar itu. Dengan jurus beladiri yang sudah dijejali ayah sejak usianya sepuluh tahun, melumpuhkan satu pria bukanlah hal sulit.
Dengan satu kibasan, Brie bisa memelintir tangan pria itu dan mendorongnya ke tembok kaca minimarket.
Brie semakin kesal. Ia menjatuhkan belanjaannya, dengan jarinya yang bebas ia menekan titik vital di sekitar leher pria itu. “Kau cerewet sekali. Dengan sekali tekan, aku bisa membuat mulut besar ini tidak akan mengeluarkan suara pada beberapa bulan ke depan.” Brie mengancam dengan tenang.
“Argh!” Pria itu kembali mengaduh.
“Apa ada kata lain selain ‘argh’ dan berteriak seperti anak kodok?”
Brie semakin menekan cengkeramannya karena ia kesal pria itu masih menolak minta maaf dan hanya menyeringai.
__ADS_1
Tidak ada salahnya membuat mulut cerewet ini jera sedikit, begitu pikir Brie. Ketika ia akan melaksanakan tujuannya, mendadak ada tangan kokoh yang menggapai pinggang dan menariknya menjauh dari tembok.
“Mencekiknya sampai mati, tidak akan membuat pria ini jera, Nona.” Lelaki yang menariknya bersuara dengan mantap seraya melepas tarikannya pada pinggang mungil Brie.
“Lepaskan aku.” Brie berbalik dan segera menatap lelaki yang tadi menariknya. Lelaki itu tidak menjawab hanya kembali memandangnya.
“Jax.” Suara serak pria kurang ajar yang menepuk bokong Brie mendadak memecah keheningan antara keduanya. “Untung kau datang menyelamatkanku, man. Gadis ini gila!”
“Kau yang bodoh, Otto.” Jax menghardiknya dan segera mencengkram kerah kemeja tak berkancing yang dikenakan Otto. “Ayo, kau harus segera minta maaf.”
“But, man!”
“Atau aku yang akan mencekik lehermu.” Jax berkata kalem.
“Sorry.” Otto meminta maaf setengah hati sambil melangkah masuk ke dalam minimarket dan tidak menunggu respon Brie.***
Bersambung...
__ADS_1