
Tasya
ditengah perjalananku menuju rumah sakit tiba-tiba saja ada dua orang yang menghadang mobilku.
dor
dor
"cepat keluar"ujar preman sambil menggedor-gedor pintu mobilku.
"atau kami akan memecahkan kaca mobil anda"ucap preman itu kembali.
dengan terpaksa aku pun keluar dari mobil. begitu menjijikkan sekali tatapan kedua preman buncit itu. aku yakin saat ini keduanya tengah tergoda dengan kemolekan tubuhku ini namun sayang akun tidak berminat menggoyangkan bokongku ini untuk preman-preman dekil di depanku ini.
"ada apa kalian menghadang mobilku"ucapku
"lumayan juga ternyata tubuhmu ini"ucap preman yang hendak memegang kedua aset berhargaku, namun untungnya aku segera menghempaskan tangannya itu.
"lancang sekali kalian!!"geram ku.
"ayolah biarkan kami mencobanya sedikit saja"rayu preman itu.
"aku tidak Sudi jika tubuhku yang molek ini disentuh oleh preman dekil seperti kalian berdua"marahku.
namun salah satu dari preman itu mendorong tubuhku kedalam mobil lalu ia segera mengungkung ku dibawah tubuhnya dengan gerakan cepat aku menendang aset berharganya.
"sialan kau"lirih preman itu sambil memegang miliknya.
dengan segera aku berlari untuk mencari pertolongan.
"tolong"
"tolong saya"
"mau lari kemana kau, kami akan mengejar mu"ucap kedua preman itu mulai mengejar ku.
namun siapa sangka tiba-tiba ada sebuah mobil yang melintas didepan ku, dan dengan segera aku menghentikan mobil itu.
"pak saya mohon tolong saya pak"ucapku sembari mengetuk kaca mobilnya.
saat pintu mobil itu terbuka aku cukup kaget ternyata Bima lah yg keluar dari mobil.
"Bima aku mohon tolong lah aku dari para preman itu"mohon ku.
Bima tidak menjawab ucapan ku tetapi dia memajukan tubuhnya dua langkah ke depan dan mendorong tubuhku untuk mundur.
Bima mulai melumpuhkan kedua para preman itu sampai-sampai muka mereka sudah bonyok dan tak lama dari itu kedua preman lari terbirit-birit.
"terimakasih banyak Bim"ujar ku.
"sama-sama"
"singkat sekali dia membalas ucapan ku"kesal ku.
"kalau begitu saya saya permisi Bim"pamit ku.
"tujuan ibu mau kemana"tanya Bima.
__ADS_1
"rumah sakit"ujarku dengan enteng nya.
"untuk apa ibu pergi ke rumah sakit"tanya Bima.
"sial kenapa aku memberitahunya. dasar mulut ini"sesal ku.
"e-mm aku ingin menjenguk temanku yang sedang sakit"gugup ku.
"ck. aku tidak percaya dengan ucapan mu"tegas Bima.
"jangan pernah berharap kau berhasil menggugurkan anakku yang ada di rahim mu"
deg
"apa Bima sudah mengetahui kehamilan ku ini"batinku.
"jika kau berani menggugurkannya aku tidak segan-segan memberitahu kehamilan ini kepada suamimu melalui pelataran pak David"tegas Bima.
dengan terpaksa aku pun masuk kedalam mobil lalu memutar arah menuju rumah.
***
Bima
Hoek Hoek
"kenapa sudah tiga hari ini aku mual-mual terus sih"ujar ku sambil menahan rasa pusing di kepala ku.
"tidak mungkin jika masuk angin harus muntah sampai tiga hari ini"lirihku.
tok
tok
"apa kamu masih merasa mual"tanya pak David yang datang bersama istrinya.
"iya pak"jawabku.
"bagaimana kalau kau pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi tubuh mu. nanti biar aku yang mengantarkan mu kerumah sakit"kata pak David.
"saya rasa tidak perlu pak, mungkin nanti siang juga akan membaik seperti biasanya"ucapku.
"apa jika siang kamu merasa tidak mual-mual lagi Bim"tanya ibu Airin.
"iya Bu"
"Bim boleh aku bertanya sesuatu pada mu"tanya ibu Airin.
"silahkan Bu"
"apa sebelumnya kau pernah berhubungan badan dengan perempuan"ucap ibu Airin.
"dari yang kulihat saat ini bisa jadi kau mengalami Couvade Syndrome atau kehamilan simpatik, yaitu kondisi yang terjadi ketika pria turut merasakan gejala kehamilan yang dirasakan oleh pasangannya. Kondisi ini dapat terjadi selama masa kehamilan, tetapi umumnya bertambah parah pada trimester ketiga" jelas ibu Airin.
deg
"apa jangan-jangan Bu Tasya sedang hamil anak ku, karena ini kali pertama aku bercinta dengan seorang perempuan, besar kemungkinan Bu Tasya sedang mengandung. tidak mungkin rasanya jika Bu Airin berbohong kepadaku, karena beliau adalah seorang dokter Obgyn" batinku.
__ADS_1
"apa benar yang dikatakan istriku ini Bim, kalau kau Bernah bercinta dengan seorang wanita"tanya pak David kepadaku.
aku tidak menjawab pertanyaan dari pak David, otak ku tiba-tiba saja berhenti berpikir sesaat mendengar penjelasan Bu Airin.
"Bima tolong jawab ucapan ku"
tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan suara keras dari pak David.
"iya pak"lirihku.
"siapa perempuan itu Bima"tegas pak David.
"Bu Tasya pak"lirihku.
"apa maksudmu Bima. jangan bilang Tasya yang kau maksud istri dari sahabatku"ucap pak David.
"benar pak"ucapku sambil menundukkan kepala.
"dasar bajingan"ucap pak David sambil melayangkan dua buah pukulan kepadaku.
Bugh
Bugh
"bagaimana bisa kau bercinta dengan Tasya hah!!, aku tidak mau tau jelaskan sekarang juga Bima" ucap pak David dengan amarah nya dan aku hanya menundukkan kepalaku ini lantaran begitu menakutkan sekali muka pak David ketika marah.
"mas tolong jangan emosi, kita dengar penjelasan dari Bima dulu" kata Bu Airin.
"cepat jelaskan" tegasnya.
aku mulai menjelaskan semuanya kepada pak David tanpa ada yang dilebih-lebihkan.
setelah mendengar penjelasan ku, pak David mengusap kepalanya dengan kasar.
"bagaimana aku menjelaskannya kepada Tegar" ucapnya.
"rasanya tidak mungkin jika kita menggugurkan bayi yang ada didalam kandungan Tasya itu" lirihnya.
"lebih baik kita cari solusinya bersama-sama mas"ucap Bu Airin.
"dasar Tasya wanita yang tidak tau diri, masih beruntung dia bisa diterima oleh laki-laki sebaik sahabatku itu" kata pak David, setelah itu ia langsung keluar dari kamarku.
"sebaiknya kamu istirahat Bim, nanti biar mas David yang akan membantumu keluar dari permasalahan ini" ucap Bu Airin.
"apa pak David membenci saya Bu"tanyaku kepada Bu Airin.
"mas David tidak membenci mu Bim, mungkin saja ia sedikit kecewa lantaran kalian berani bercinta dibelakang sahabat baiknya itu" ucap Bu Airin.
"saya minta maaf Bu" lirihku.
"sudahlah semuanya sudah terjadi. lebih baik sekarang kamu istirahat. besok baru kamu membicarakan jalan keluar bersama mas David. saya yakin jika besok amarah mas David pasti sudah sedikit mereda" ucap Bu Airin begitu tulus. begitu beruntungnya pak David menikah seorang perempuan yang begitu lemah lembut seperti Bu Airin.
setelah melihat Bu Airin hilang dari pandanganku. aku kembali merenungi semua ini. apakah Tasya mau mengakuinya anak jika janin itu telah lahir ke dunia?? apakah kelak anak ku akan merasakan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di dalam pikiran ku ini.
...***...
jangan lupa untuk like, komen dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
terimakasih 🤗