
Athaya
Hai. namaku Athaya Ananta, sering kali orang-orang memanggilku dengan panggilan Thaya. tepat hari ini aku sedang berulang tahun yang ke 25 tahun.
hari ini aku begitu sibuk berkutat di dapur karena sedang memasak besar untuk anak-anak yang kurang mampu diluar sana dan itu sudah menjadi rutinitas ku setiap aku berulang tahun akan membagikan makan untuk mereka.
"apa kamu perlu bantuan ayah nak" ucap ayah ku, yang bernama Bima. mungkin saja beliau baru pulang kerja karena memang ini sudah pukul 5 sore.
"ehh ayah udah pulang. enggak perlu yah ini udah mau selesai kok" ucapku seraya menutup box makanan yang terakhir.
"gimana yah kerjanya lancar kan??" tanyaku.
"Alhamdulillah lancar" ucapnya.
"ayah nanti kalau mau makan, makanannya sudah aku siapkan dimeja makan yah. ayah jangan sampai telat makan nanti maag nya kambuh lagi" ujarku mengingatkan ayah agar tak lupa.
"iya nak. anak siapa sih ini cerewet banget" ucap ayah seraya mengelus rambut ku.
"anak ayah lah masa anak tetangga" kesal ku.
"kalau gitu aku mau mandi dulu yah, takutnya nanti Kinanti keburu datang" ucapku.
"yasudah" ucap ayah.
__ADS_1
lalu aku naik naik kelantai dua dimana kamarku berada. rumah yang aku dan ayah tempati ini memang ada dua lantai namun tidak terlalu luas, tak seperti rumah pak David yang besar nan mewah.
selesai dengan memoleskan makeup tipis aku Mun turun kelantai bawah, dan tak lama kemudian Kinanti pun datang ke rumahku.
"udah siap semuanya kan Thaya" tanya Kinanti.
"sudah. tolong bantu aku untuk membawanya" ucapku lalu menyerahkan satu jinjingan kepadanya.
"ayah kita mau berangkat sekarang" pamit ku, tak lupa menciumi tangan ayah yang diikuti oleh Kinanti.
"hati-hati dijalan. pulangnya jangan kemalaman" kata ayah.
"iya yah"
oh ya Kinanti ini tetangga sekaligus sahabatku sejak kuliah. sebenarnya Kinanti ini bukan asli orang Jakarta. ia pindah ke Jakarta lantaran harus ikut sang ayah yang berpindah tugas dikota ini.
setengah jam perjalanan kami pun telah sampai di rumah anak-anak itu. lalu mulai membagikan makanan kepada mereka.
"makasih kak Thaya, makasih kak Kinanti" ucap mereka serentak.
"sama-sama. langsung dimakan ya adik-adik" ucapku.
aku cukup miris melihat rumah-rumah kardus yang tak layak untuk dijadikan tempat tinggal. sudah kah aku merasa bersyukur dengan keadaanku saat ini. bahkan kerap kali aku merasa kurang beruntung lantaran tidak pernah merasakan kasih sayang sang ibu. namun nyatanya banyak anak-anak yang ada didepan ku ini bertahan hidup meski tanpa kedua orang tuanya.
__ADS_1
"mereka anak-anak hebat" batinku.
selesai mereka makan aku mengajaknya mengobrol sebentar sebelum berpamitan. aku dan Kinanti memang cukup dekat mereka lantaran setiap seminggu 2 kali kami akan mengunjungi mereka untuk mengajak mereka belajar bersama.
matahari telah terbenam aku dan Kinanti sedang dalam perjalanan pulang karena ayah sudah meneleponku berkali-kali. padahal ini baru pukul 7. hah ayahku ini memang posesif.
sesampainya di rumah aku melihat ayah yang sedang duduk di teras sembari menungguku pulang.
"kamu kemana aja sih nak, kok baru pulang" tanya ayah.
"iss ayah ini tuh baru jam setengah 8 tau, kenapa juga harus telepon berkali-kali" kesal ku.
"mana ada anak perempuan diluar sana yang seumuran denganku jam segini sudah disuruh pulang, yang ada jam-jam segini tuh pada baru keluar dari sarangnya. apalagi ini malam Minggu yah, mereka-mereka diluar sana pasti sedang jalan bareng pasangannya, nongkrong di cafe. lah aku disuruh diam di rumah Mulu. enggak asik ayah ini" oceh ku.
"ayah ini sayang sama kamu, mangkanya suruh diam di rumah terus. kamu mau diculik om-om keluyuran jam segini" katanya membuatku tambah kesal. mana ada om-om jam segini, kecuali pergi main nya ke club' jelas diculik juga.
"iss pokonya aku marah sama ayah" kesal ku lalu segera masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan ocehan ocehan yang terus keluar dari mulut ayah.
...***...
jangan lupa untuk like, komen dan vote nya teman-teman.
terimakasih 🤗
__ADS_1