TAKDIR MENJADI TUAN MUDA

TAKDIR MENJADI TUAN MUDA
Bab 22 : Pahlawan Kesiangan


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan tersebut tampak Jefri dan William baik baik saja, dan hal ini membuat semua orang terkejut. Mereka semua mengira Jefri akan menghabisi William tetapi ternyata tidak terjadi apa apa pada William. Bahkan Natali dan Ramon pun. terkejut melihat hal ini, mereka berdua terkejut karena melihat Jefri dan William malah menjadi sangat akrab.


"Mengapa, pria sialan itu baik baik aja? Bukannya dia sudah dipukuli oleh Tuan. Jefri?" Tanya Natali bingung sambil melihat ke arah Ramon


Ramon yang melihatnya hanya diam membisu tak tau mengapa Jefri jadi akrab dengan William dalam waktu yang sebentar. Padahal Semua orang di kota ini tidak ada yang berani mendekati Anjing gila seperti Jefri ini sembarangan.


"Baiklah semuanya, sekira nya saya sudah mengecek anak muda ini dan ternyata dia ini seorang pengusaha kaya raya yang datang ke London untuk melakukan sebuah bisnis" Ucap Jefri dengan wibawa dan lantang kepada seluruh pengusaha didalam ruangan tersebut.


Ramon yang mendengarnya mengira bahwa semua itu omong kosong dan hanya tipuan belaka dari Jefri.


"Ckk... Pasti Tuan.Jefri ingin main cantik membunuh pria bajingan itu" Ketus Ramon kesal lalu pergi meninggalkan aula tersebut begitu juga dengan Natali.


Semuanya menikmati jamuan yang sudah terhidang dan saling bercengkrama satu sama lain. Sedangkan William yang sudah mendapatkan modal segera ingin meninggalkan Aula tersebut.


"Permisi saudaraku, aku ingin pulang kerumah" Ucap William kepada Jefri


Jefri yang mendenga ini merasa sangat kurang senang dan bertanya kepada William


"Mengapa kau begitu cepat ingin pulang? Ayolah kita nikmati malam ini bersama, jika kau ingin kan wanita aku akan berikan yang kau mau asalkan kau menepati perkataan mu tadi" Ucap Jefri lalu tertawa kecil karena sudah terlalu mabok


"Aku ada urusan bisnis yang lain, kau lanjut kan saja acaramu disini" Balas William lalu menyalakan api rokoknya dan menghisapnya.


"Baiklah kalau begitu" Sahut Jefri kepada William


Lalu William pergi meninggalkan Aula tersebut dengan mengendarai mobil nya, dan menancap gas mobil menuju pulang kerumahnya.


Skip


Di pagi hari, William sudah bangun dari tidurnya dan hendak ingin kembali berlatih. Tetapi ia melihat ponselnya berbunyi dan ia mendapatkan sebuah pesan dari Jefri.


'aku sudah setuju untuk investasi di perusahaanmu kita bertemu nanti malam untuk membahas lebih lanjut soal bisnis ini '


itulah isi pesan Jefri kepada William, William yang membacanya hanya tersenyum kecil melihat ponselnya dan meletakkan ponselnya lalu ingin hendak mandi.


Setelah beberapa menit kemudian William telah selesai mandi dan keluar dari kamarnya ingin sarapan bersama Jack dan lainnya yang sudah menunggunya dari tadi. Sesampainya William di meja makan, Jack bertanya kepada William


"Bagaimana tadi malam apakah berjalan lancar?" Tanya Jack penasaran

__ADS_1


"Lumayan" Jawab William lalu memakan makanan nya


"Baguslah kalau begitu, jadi kau akan menunggu berapa lama mendapatkan modal tersebut?" Tanya Jack semakin penasaran


"Tenang lah, aku sudah mempunyao strategi untuk hal ini. Aku akan mendapatakan 40 milyar dalam waktu seminggu dan akan menggandakannya dalam waktu tiga bulan lebih" Ucap William santai


Jack yang mendengar jumlah uang sebanyak itu sangat terkejut dan berkata


"Apa! 40 milyar!" Tanya Jack dengan nada meninggi


"Kau mengapa begitu kaget? Ini jumlah kecil dan akan kugandakan menjadi 200 milyar" Ucap William kembali dengan santainya


"200 milyar! aku tidak percaya hal itu" Balas Jack memalingkan wajahnya


"Jika kau tidak percaya, yasudah tidak masalah buatku. Tapi setelah duit itu ada di tanganku kau jangan kaget paman" Sahut William


"Oke, aku rasa kau hanya bisa menghasilkan duit beberapa ratus juta kalau sampai milyar aku memang tidak percaya" Ketus Jack membela dirinya yang masih tidak percaya dengan perkataan William


"Baiklah Awas kau menyesali nya nanti" Kata William dengan nada mencekam


Sedangkan Sean yang mendengar perdebatan di meja makan ini langsung angkat bicara


"Baik Guru" Jawab William yang sudah selesai makan


Jack yang mendengarkan hal ini merasa jengkel akan perkataan adiknya segera berteriak


"Heey jaga mulutmu kalau ngomong" Teriak Jack kepada adiknya Sean


"Kau mengapa tidak terima? Bukannya kenyataan nya? kalau kau berdebat seperti itu?" Sahut Sean dengan berteriak juga dari luar rumah.


"Udah pah, papah ini udah tua juga masih aja seperti anak anak" Ketus Arabella kesal melihat tingkah ayahnya


"Tapi kan papah tidak seperti itu Bella" Ucap Jack kepada Arabella


"Tauu aahhh" Balas Arabella kesal dan meninggalkan ayahnya sendiri di meja makan.


Sedangkan Bram yang sedang duduk di kantornya, tampak sedang memikirkan suatu hal besar yang akan ia lakukan. Hal besar tersebut adalah Perusahaan Golden Classic sedang mempunyai sebuah proyek kerja sama yang besar yang harus ia pikirkan secara matang, karena proyek ini membutuhkam modal yang besar dan bisa mengakibatkan kebangkrutan perusahaan. Karena Bram yang sedikit ragu dengan hal ini ia meminta saran dari Sandi tentang proyek ini, lalu ia menghubunginya.

__ADS_1


Setelah panggilan terhubung Bram langsung angkat bicara


"Hallo Tn.Sandi" Ucap Bram


"Iyah, mengapa kau menghubungi ku?" Tanya Sandi


"Begini Tuan, aku ingin meminta saran kepadamu" Ucap Bram


"Saran? saran tentang hal apa?" Tanya Sandi penasaran


"Begini Tuan, Anda pasti sudah tau mengenai hal tentang proyek yang ditawarkan kepada kami bukan?" Ucap Bram menjelaskan


"Iyah aku tau soal itu, lalu kau ingin minta saran apa?" Tanya Sandi semakin serius


"Tuan sendiri pasti tau, biaya proyek ini membutuhkan uang yang tidak banyak dan waktu yang cukup lama. Aku ragu untuk mengerjakannya proyek ini karena bisa berakibat fatal yakni kebangkrutan perusahaan" Ucap Bram gugup menjelaskan kepada Sandi


"Oh soal ini ternyata, kau menanyakan ini kepada dirimu saja. Jika kau yakin bisa mengerjakannya kerjakan dan jika tidak maka tidak perlu kau kerjakan" Ucap Sandi memberi saran kepada Bram


"Hemmm begitu yaa Tuan" Jawab Bram ragu


"Iyah, kalau cuman hal ini yang ingin kau tanyakan aku matikan teleponnya. Aku masih ada urusan penting lainnya" Sahut Sandi mematikan ponselnya


"Eeh tunggu Tuan" Ucap Bram ingin menahan agar tidak mematikan teleponnya tetapi sudah terlambat karena Sandi sudah mematikan Ponselnya.


"Huffft..... Aku rasa aku akan memikirkannya nanti saja" Ucap Bram kepada dirinya sendiri lalu mengotak atik laptop miliknya


Pukul 02.00 siang, Aldo sedang berjalan jalan di pinggir jalan kota Bandung. Aldo yang sedang lagi asik asik menikmati pemandangan di kota nya ini malah melihat seorang preman yang sedang merampok tas seorang gadis.


Lalu ia melihat perempuan tersebut berteriak minta tolong karena tas nya di rampok. Aldo yang mendengarnya serta melihat hal itu segera menghalangi perampok tersebut yang berlari ke arahnya.


"Stop! berikan tas nya kepada ku" Ucap Aldo kepada Preman tersebut


"Eeh lu mending minggir, ga usah ikut campur urusan gua. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan luu" Balas Preman tersebut


"Lu maling dan ini urusan gua, kalau emang mau jadi pahlawan kesiangan emang salah ya?" Tanya Aldo kepada Preman tersebut


"Jangan banyak bicara lu, sini gua hajar lu" Sahut Preman tersebut sambil menyeringai ingin menerjang Aldo

__ADS_1


Aldo yang melihat ini dengan sigap menghadapi Preman tersebut. Ia langsung maju saja dan ingin menerjang Preman tersebut.


__ADS_2