
Tawanan Tuan Eden, Bagian 1
Oleh Sept
"Saya bisa melakukan apa saja, Bapak lihat dulu sertifikat yang saya miliki. Saya memiliki kemampuan bahasa asing yang bagus," ucap seorang perempuan berusia dua puluhan. Dia menatap penuh harap. Namun, sayang sekali. Harapannya sia-sia. Berusaha menonjolkan bakatnya, tapi dia pria berjas rapi itu tetap menggeleng.
Ini adalah perusahaan ke tiga yang dia datangi hari ini. Setiap hari, gadis bernama Monica tersebut harus bekerja keras untuk mencari pekerjaan di beberapa perusahaan. Tabungan menipis, dia bahkan dikejar debkolektor. Rumah sudah disita pihak bank. Dia butuh pemasukan.
Ditolak di sana-sini, adalah makanannya. Tapi dia tidak menyerah, tetap berjuang dan berusaha. Dia tidak akan kalah dengan keadaan. Sambil memeluk map, dia berjalan keluar lobby, kemudian melanjutkan jalan kaki ke depan sambil menunggu taksi.
Tin tin
Suara klakson membuat Monica mundur, tapi mobil itu malah semakin dekat dan berhenti tepat di depan Monica, seperti sengaja. Gerombolan pria kekar berbaju hitam-hitam langsung menarik tangan Monica. Tanpa aba-aba, tubuh Monica dibawa ke dalam mobil.
"Siapa kalian? Mau ... mau apa kalian?"
Monica kembali bertanya, tapi mulutnya langsung ditutup pakai sapu tangan. Hingga dia tidak bisa bersuara.
'Lepaskan!'
Gadis itu menjerit, dan hanya tertahan sampai tenggorokan. Kalian mulai menendang, tapi langsung berhenti tatkala rahangnya langsung dicengkeram oleh salah satu laki-laki yang membawanya.
"Diam! Atau aku lempar kau keluar dari mobil!" ancam pria berkacamata hitam dan sedikit menakutkan tersebut.
Awalnya takut, tapi kemudian Monica mengibaskan wajahnya keras, sampai cengkraman tangan itu lepas.
'Siapa yang menyuruh kalian?' Seolah tatapannya bertanya demikian.
"Jika tidak mau kami bersikap lebih kasar, diam dan jangan banyak tingkah!" ujar laki-laki itu tegas.
Monica berusaha tetap tenang, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan tua di pinggir kota. Setelah turun, dia dipaksa masuk ke sebuah gudang, kemudian duduk dengan tangan dan kaki terikat.
"Lepaskan aku! Ini penculikan! Kalian akan aku laporkan polisi!" teriak Monica begitu sapu tangan berhasil ia lepaskan. Bibirnya terus bergerak-gerak, membuat sapu tangan turun dan lepas ke lehernya.
"Berisik sekali perempuan ini!" Laki-laki yang mencengkram Monica tadi kemudian membungkuk, kembali menegang rahang Monica.
"Singkirkan tangan kotormu!" ujar Monica marah, sebab laki-laki itu menyentuhnya beberapa kali.
PLAKK
Terlalu frontal dan berani berbicara, tamparan keras pun langsung Monica dapat. Monica melotot, bola matanya menajam pada sosok laki-laki yang sudah menamparnya.
"Pengecutttt! Pecundangg! Kau hanya berani pada wanita!" ujar Monica geram.
Tangan pria itu kembali terangkat, tapi kemudian langsung didorong oleh seseorang. Oleh pria lain yang memakai setelan jas warna navy.
"Jangan terlalu kasar pada anak ini!" ucap pria itu. Lalu mengusap lembut rambut Monica.
"Monica ... kau ingat aku bukan? Aku tidak akan menyakitimu," ucapnya lagi kemudian jongkok dan menegang wajah Monica.
"Katakan, di mana ayahmu bersembunyi sekarang?"
Monica menggeleng keras. "Aku tidak tahu! Harus berapa kali aku bilang pada kalian. Aku tidak tahu dia pergi ke mana!" kata Monica setengah frustasi.
Beberapa bulan terakhir, dia dikejar seperti seorang pencuri oleh debt colector, atau beberapa rekan bisnis ayahnya yang sudah merasa dirugikan oleh ayah Monica.
__ADS_1
Bisnis mereka hancur, dan mereka mengejar Monica sebagai orang satu-satunya yang bisa ditanyai di mana laki-laki itu pergi. Atau sebagai pancingan, agar ayah Monica yang bersembunyi segera muncul.
"Aku bertanya sekali lagi padamu, katakan! Di mana ayahmu? Katakan di mana dia menyembunyikan semua uangku?" gertak pria itu sambil bola matanya seperti mau copot keluar.
"AKU BILANG AKU TIDAK TAHU!" teriak Monica yang benar-benar frustasi dibuatnya.
Suasana langsung hening sesaat, kemudian laki-laki itu mengangkat tangannya, dan menoleh ke belakang, guna memanggil anak buahnya.
"Beri dia pelajaran, sampai mengatakan di mana ayahnya bersembunyi!" titahnya lalu memutar badan dan meninggalkan ruangan yang mirip gudang tua tersebut.
"Paman! PAMAN!" teriak Monica panik saat pria itu meninggalkan dirinya.
Monica mencengkram pegangan kursi yang sudah usang, matanya ke sana ke mari, tergambar jelas kepanikan gadis tersebut saat melihat anak buah lelaki itu membuka gesper dan melonggarkan dasinya.
"Mau apa kamu! Jangan macam-macam denganku!" Monica berusaha bergerak, meskipun tangan dan kakinya terikat.
"Jangan mendekat! Pergi! PERGI!"
Monica semakin panik ketika pria itu justru melepaskan kancing bajunya satu persatu.
"Jangan ... jangannnn!"
'Tuhan, jika Kau benar-benar ada, selamatkan aku. Tuhan .... tolong aku.'
Bibir Monica bergetar, hampir menangis dan putus asa. Apalagi saat laki-laki itu sudah berdiri tepat di depannya.
"Tunggu! Oke ... akan aku beritahu di mana ayahku," ucap Monica dengan gemetar.
Laki-laki itu tersenyum sinis. Sedangkan Monica, dia kelihatan cemas. Masalahnya, dia juga sedang mencari di mana ayahnya menghilang dan kabur meninggal sejuta masalah.
"Kau tidak menipuku?"
***
Di sebuah gedung megah dan menjulang tinggi di tengah kota. Seorang pria sedang menatap laptop dengan seksama.
"Cari gadis ini, temukan sampai dapat!" titahnya.
"Baik, Tuan."
"Blokir aksesnya, jangan sampai dia keluar dari negara ini!" titah laki-laki berbadan besar, tegap dan atletis tersebut.
"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan perintah Tuan Eden!" ucap anak buah paling setia dan dapat diandalkan itu. Ia mundur, sedikit menundukkan wajahnya. Kemudian keluar dari ruangan Eden, setelah menutup pintu, dia langsung menghubungi para anak buahnya lewat earphone yang menempel di telinganya.
"Temukan target! 24 jam dari sekarang!" gumam Leo, sekretaris, kaki tangan, orang kepercayaan, sekaligus bodyguard Tuan Eden.
***
Di sebuah apartemen mewah, Monica berjalan bersama dua orang laki-laki kekar dan berbadan seperti penjaga. Monica membawa laki-laki itu ke sebuah apartemen, yang merupakan lokasi terakhir dia bertemu dengan ayahnya beberapa bulan lalu.
Sementara di belakangnya, ada beberapa orang yang mengikuti dari belakang. Mereka berjaga-jaga, takut Monica kabur dan mengelabui mereka.
Tiba di depan lift, mereka akan ke lantai paling atas, dan hal itu membuat salah satu anak buah penculik merasa curiga. Dia pun mulai siaga dengan sikap waspada dan tangannya siap mengambil benda di balik saku jasnya, kalau Monica macam-macam.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya lelaki itu saat pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Kami bertemu terakhir di sini, itu unitnya!" Monica menunjuk salah satu pintu apartemen. Untuk yang satu ini, dia memilih random, bukan unit yang sebenarnya.
Pria itu lalu menoleh, dan ada lima orang langsung berjalan cepat tapi suaranya pelan, seperti polisi yang mau menyerap pelaku kejahatan. Monica ngeri, karena orang-orang itu terlihat terampil dan kuat. Mau melawan pun sepertinya mustahil.
Tok tok tok
Saat salah satu anggota penculik mulai mengetuk unit random yang Monica pilih, ia pun mulai gelisah, takut ketahuan, dan tidak lama kemudian, seorang pria keluar membuka pintu. Dia terlihat bingung saat melihat orang-orang berjas hitam di depan kamarnya.
"Kalian siapa?" tanya pria itu spontan.
Monica langsung masuk dan menutup pintunya. Dia lari ke arah balkon, keluar dan memanjat sebisanya. Tidak berani menatap ke bawah, dia terus merambat sampai ke unit lainnya.
Balkon di sebelah terbuka, Monica lantas masuk begitu saja, membuat penghuni di sana merasa heran.
"Hei! Siapa kamu!"
"Sorry!"
Monica bergegas keluar dan berlari ke tangga darurat. Sementara komplotan penculik sudah mengacak-acak kamar sebelumnya. Pintu sudah rusak karena didobrak, tapi Monica tidak ada di tempat.
Yang dicari sedang menaiki tangga sampai atap gedung apartemen. Monica mengantur napas, lari seperti dikejar hantu, sampai akhirnya dia melihat ke kanan kiri. Hanya langit gelap, tidak ada orang di sana.
Monica berusaha mengatur napas, dia duduk dan memeluk lututnya yang lemas.
Tap tap tap
Derap langkah kaki terdengar semakin jelas, Monica panik. Ia bergegas bangkit dan berjalan menjauh dati pintu darurat.
Monica mencari tempat untuk sembunyi, tapi tidak ada tepat untuk lari. Dengan jantung berdebar kencang, dia berusaha berpikir. Kalau tertangkap, pasti dia akan habis. Bayangan pria jahat itu akan menodai dirinya, membuat Monica semakin gemetar. Tanpa sadar, dia sudah berada di tepi gedung.
"Apakah ini lebih baik?" Monica mulai putus asa. Sepertinya mati lebih baik, semuanya akan selesai. Masalahnya akan lenyap dan hilang.
Jalan buntu, pikiran buntu, Monica jadi gelap mata karena putus asa. Kakinya semakin geser ke tepi, sepertinya ini lebih baik, dari pada hidup tapi dalam kepahitan.
Dia menoleh sedikit, spontan ia bergerak cepat karena takut ketinggian. Namun, hal itu justru membuatnya terpeleset.
"Mati aku ... aku mati," gumam Monica menutup mata.
Monic sudah pasrah, mungkin umurnya tidak panjang. Menjadi hantu gentayangan karena mati dalam kondisi perawan.
SETT ...
Sebuah lengan meraih tangan dan tubuh gadis tersebut.
Tap tap tap
Tiga orang berlari mendekat, tapi lelaki itu menaikkan tangan. Kode untuk menjauh.
"Semuanya, sterilkan tempat ini!" gumam Leo meminta anggotanya mundur.
Sementara Monica, dia perlahan membuka matanya, bola matanya lentik, tatapan sayu dan redup.
'Apa aku sudah mati? Jika bidadari adalah perempuan di surga ... lalu apa sebutan untuk laki-laki ini?' Monica berbicara pada hatinya.
IG Sept_September2020
__ADS_1
tok tok author_September
Follow ya.