
Tawanan Tuan Eden, Bagian 5
Oleh Sept
'Aku pikir dia tidur.' Monica langsung mengalihkan perhatian.
Sementara Eden, dia kemudian melipat tangannya, kemudian seperti posisi awal yang menutup mata, entah tidur atau tidak Monica tak tahu, yang jelas pria di sebelahnya itu matanya sepenuhnya tertutup rapat.
Lama di perjalanan, perut Monica tiba-tiba terasa lapar, ia menoleh kanan kiri, kemudian melihat yang lain makan. Aroma makanan yang lezat menembus hidungnya.
Ia bergerak-gerak tak nyaman karena menahan lapar, apalagi perutnya terus mengeluarkan suara khas perut kelaparan.
Kreuk ...
Dahi Eden mengkerut, dia diam sejenak. Lalu menajamkan pendengarannya. Tak lama kemudian terdengar lagi suara perut yang berbunyi.
Eden kemudian menoleh, ia membuka matanya lebar-lebar, lalu memanggil seseorang.
Tidak lama kemudian, datang makanan yang sangat lezat, Monica seperti sudah berpuasa berhari-hari, dia menatap makanan itu penuh selera sampai menelan ludah.
"Terima kasih," kata Monica. Tanpa basa-basi, ia langsung memakan makanannya itu. Sambil sesekali menatap pria di sampingnya yang kembali memejamkan mata.
"Kamu tidak makan?" tanya Monica.
Eden mengangkat tangannya sedikit, kemudian memakai headphone. Tidak mau diganggu. Monica lantas fokus pada makanannya sampai habis tak bersisa.
Setelah makan, ada jus alpukat yang segar dengan toping yang mengoda. Monica minum seperti anak kecil yang disuguhi ice cream. Selesai dengan makanannya, Monica ke toilet. Dia mencuci mukanya dan berkumur, setelah itu kembali lagi ke tempat dudukku. Dilihatnya Eden masih duduk seperti posisi semula.
Monica kemudian melihat sekeliling, semuanya tampak tenang, ia pun kemudian duduk di tempatnya, menarik selimut karena AC nya sangat dingin. Dia hampir membeku kalau tidak pakai baju tebal.
Tidak lama kemudian, Monica malah terlelap. Dinginnya AC dalam pesawat ditambah perut yang sudah kenyang, ia pun tertidur nyenyak. Tidak peduli mau dibawa ke mana, yang jelas matanya kembali terasa kantuk. Sambil meluruskan kedua kakinya, Monica tidur dengan nyenyak nya.
***
"Bangun!" Eden menyentuh kaki Monica dengan kakinya. Ia menggerakkan kaki Monica agar gadis itu terbangun.
Hoamm.
Monica malah mengusap, ia mengusap mulutnya dengan tangan. Eden langsung ilfil, melihat tingkah perempuan itu.
"Bangun, kita akan segera sampai."
Sambil mengusap mata, Monica kemudian melihat sekitar.
Ia lalu menoleh ke samping, hanya langit gelap yang tidak memperlihatkan apapun.
"Bersihkan mukamu!" titah Eden. Mungkin risih melihat muka kusut Monica yang baru bangun tidur. Kelihatan kucel dan tak menarik untuk dipandang.
Monica mengerucutkan bibirnya, kemudian menyibak selimut yang menutupi kakinya. Ia lantas ke kamar kecil lagi, kemudian bercermin.
"Astaga!" serunya kaget.
Monica langsung membasuh bagian bawah bibirnya. Bisa-bisanya dia ileran. Ya ampun, buru-buru dia mengusap dan membasuh pakai air yang banyak. Pasti pria itu sudah melihatnya, mendadak Monica merasa insecure sendiri.
__ADS_1
Yakin wajahnya sudah lebih mendingan walau tidak mandi, Monica kemudian kembali duduk di sebelah Eden. Keduanya menunggu sampai jet pribadi itu mendarat sempurna.
***
Begitu turun, keduanya langsung ada yang menjemput. Mereka berdua dibawa ke salah satu hotel yang ternama di kota itu. Mata Monica sibuk menatap sekeliling, sedikit excited ini benar-benar perjalanan pertamanya dengan orang asing yang mengaku sebagai suaminya.
"Hotel lagi?" gumam Monica saat mereka dipersilahkan oleh pegawai hotel. Langsung ke presidential suite. Satu kamar satu ranjang ukuran besar.
Monica menatap anak buah Eden yang mendapatkan kamar juga. Lalu kenapa dia tidak dapat? Kenapa satu kamar dengan Eden?
"Bersihkan dirimu, bersiaplah!" kata Eden dengan ambigu.
"Bersiap untuk apa?" gumam Monica.
"Bertemu Ayahmu!" kata Eden sedikit marah.
Monica tidak tahu, apa alasannya kenapa pria itu berubah garang.
"Kamu sudah tahu di mana ayahku?" tanya Monica antusias.
"Kamu pikir untuk apa aku jauh-jauh ke mari?" cetus Eden.
Monica menelan ludah, ia kemudian tak banyak bertanya. Monica memutuskan untuk mandi dan segera ganti pakaian. Kebetulan, banyak hal yang harus dia bicarakan saat bertemu ayahnya nanti.
Setengah jam kemudian.
Mereka berdua naik mobil menuju satu tempat, di sebuah penginapan di pinggir danau.
Eden memarkirkan mobilnya, lalu berjalan duluan setelah itu disusul oleh Monica di belakangnya.
"Itu ayahmu, bukan?" tanya Eden dengan tatapan dingin.
Monica maju, lalu mengintip agak jauh memang, tapi dari gesturnya saja itu memang adalah ayah kandungnya. Spontan Monica berlari menuju tempat di mana ayahnya duduk.
BUKKK
Monica langsung memukuli ayahnya dengan tas yang dia kenakan.
BUGH
"Aduh!"
Laki-laki paruh baya itu sedikit kaget, dia terhenyak setelah melihat siapa yang datang. Monica memukulinya berkali-kali, lalu menangis dan mengumpat kata-kata kasar pada ayahnya tersebut.
"Hentikan, Monic! Hentikan!"
Dari jauh, Eden berjalan ke arah mereka. Kemudian bertepuk tangan dengan tatapan merendahkan.
"Lanjutkan sandiwara kalian berdua ... aku sangat terkesan!" ujarnya terlihat menyindir.
Monica langsung mengalihkan perhatian, dia tidak tahu drama apa lagi yang ia saksikan.
"Eden," panggil ayah Monica tersebut.
__ADS_1
Eden menatap tak suka, sama sekali tidak respect.
"Kapan kalian datang?" tanya pria paruh baya itu.
"Ayah kenapa meninggalkan banyak masalah padaku!" omel Monica. Padahal sang ayah sedang menunggu respon Eden.
"Sudahlah! Kita bicarakan nanti!" bisik sang ayah. Dan itu membuat Monica tambah kesal.
Eden hanya menatap dengan pandangan miris. Anak dan ayah sama saja.
***
Mereka kemudian duduk bersama, sikap Eden begitu kentara kalau dia tidak suka dengan ayah Monica.
"Ayah, sekarang katakan padaku. Apa benar, ayah sudah menikahkan aku dengannya? Itu tidak sah, bahkan aku tidak tahu atas hal itu!" cecar Monica.
Ayah Monica hanya memijit pelipisnya, sambil sesekali melirik Eden yang melihatnya tajam. "Maafkan ayah, Monic."
"Ini tidak benar, kan?" Monica memastikan.
Ayahnya malah mengangguk, dan membuat Monica mengerutkan keningnya.
Cukup terkejut dengan kenyataan yang baru dia ketahui. Kok bisa? Kenapa? Banyak pertanyaan yang menggelayut dalam benak Monica. Jadi benar, sekarang status Monica adalah istri dari Eden, pria asing yang bahkan tidak dia ketahui seluk beluknya.
Setelah bertemu ayahnya, Monica langsung tidak mau ikut Eden. Dia tidak ikut Eden ke hotel lagi.
"Aku akan di sini!" kata Monica tegas.
Eden hanya melirik ayah mertuanya, seketika pria paruh baya itu langsung mendorong tubuh Monica agar mendekat pada Eden.
"Ikutlah suamimu," bisik sang ayah.
"Ayah!" Monica menatap tak percaya.
Eden lalu jalan duluan, dan ayah Monica sibuk mendorong putrinya.
"Aku tidak mau!" kata Monica menolak. Ia akan bersama ayahnya saja. Apalagi setelah tahu kalau dia benar-benar istri Eden, membahayakannya saja tidak pernah.
"Sudah! Ikutlah dengannya. Besok kita bicara lagi," bisik ayahnya lagi.
Monica menggeleng.
***
Ternyata Monica dan ayahnya tidak punya kuasa, kini gadis itu sudah berada di dalam kamar hotel, hanya berdua saja dengan Eden.
"Bagaimana? Sekarang kau paham?"
Pertanyaan Eden membuat Monica meliriknya sinis.
"Jadi kau tahu posisimu sekarang?" Eden kembali menegaskan.
"Kau tahu tugasmu kan?"
__ADS_1
Perlahan Monica mengangkat wajahnya. Tugas? Tugas apa?