Tawanan Tuan Eden

Tawanan Tuan Eden
Suami


__ADS_3

Tawanan Tuan Eden, Bagian 2


Oleh Sept


Bahu Monica serasa digigit semut rangrang, sakit sebentar dan terasa lemas, sampai akhirnya sosok wajah berahang tegas dan mata seperti elang itu perlahan memudar. Lengan gadis itu terkulai, sampai akhirnya matanya terpejam sepenuhnya.


Eden menatap wajah lelah Monica, kemudian tangannya bergerak pelan sambil menopang berat tubuh Monica yang ideal tersebut. Ia kemudian memasukkan sebuah alat suntik yang semula dia pakai untuk membuat Monica pingsan dan tidak sadarkan diri.


Gadis itu sudah dalam kuasanya, sembari berdiri dan membopong tubuh Monica yang memiliki berat sekitar 47 kg dengan tinggi berkisar 160 an itu, rasanya tidak terlalu berat, bagi Eden yang punya tinggi di atas rata-rata tersebut.


Eden mendongak ke atas langit, terasa angin kencang disertai sebuah suara berisik helicopters yang mulai mendekat. Kakinya melangkah dengan pasti, tepat di tengah-tengah atap gedung dia berhenti, masih membopong tubuh Monica yang terkulai lemas.


Rambutnya yang klimis terhempas angin kencang, begitu juga dengan baju Monica, hampir saja pusar gadis itu terlihat dan bisa dilihat oleh yang lain. Seketika, Eden menundukkan tubuhnya sediki, sampai akhirnya helicopters mulai turun rendah dan dengan bantuan kaki tangannya, Monica diangkat di dalam sana.


Sementara itu, di unit apartemen yang semula menjadi tempat tempat TKP, suasana sudah hening. Orang-orang yang tadinya tergeletak lemas dan pingsan, sudah tidak ada.


Bahkan rekaman CCTV pun sudah dibuang untuk waktu kejadian. Tidak sulit bagi Eden untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Bahkan dia bisa mencelakai orang tanpa harus menyentuh dan mengotori tangannya.


***


"Kurangg ajar! Sekarang cepat cari informasi di mana gadis itu!" seorang laki-laki mendorong anak buahnya yang sudah babak-belur.


Dia tidak terima, sandranya lepas kali ini.


"Monica ... kau tidak bisa lali seperti ayahmu!" Pria itu mengeratkan giginya sehingga menimbulkan suara.


Sedangkan di tempat lain, di sebuah mansion mewah, seorang perempuan sedang tertidur lelap. Entah pingsan atau tidur karena sebuah obat. Sebab, di atas nakas banyak sekali pil dan beragam obat yang diletakkan di sana.


***


24 jam sudah berlalu. Seperti terkena obat dosis berat, gadis itu terlelap sampai hari berganti. Hingga akhirnya kelopak matanya mulai bergerak-gerak.

__ADS_1


Dia adalah Monica, yang dalam bayangannya kemarin melompat dari sebuah atap gedung apartemen di tengah kota. Perlahan Monica mulai mendapatkan kesadarannya, yang terasa pertama kali adalah pusing bukan main. Sampai dia memegangi kepalanya yang begitu sakit.


"Di mana ini?"


Pandangan matanya agak kabur, ia mengosok matanya agar terlihat lebih jelas. Kamar asing, sangat luas dan lebar.


"Tempat apa ini?"


Ia bertanya kembali, tapi tidak ada yang menjawab, sebab hanya dia yang ada di dalam ruangan itu.


Monica bergerak, meskipun tumbuhnya terasa sakit, kesemutan dan kram di mana-mana. Ia menggerakkan leher, kemudian mulai menurunkan kaki dengan bantuan tangannya.


Sampai akhirnya dia turun dari ranjang, kemudian berjalan ke arah gorden besar warna silver. Dia tarik pengaitnya, dan rembulan malam bersinar sempurna. Hari masih gelap, dia tidak tahu malam sudah berganti.


"Aku di mana?" Monica kemudian menoleh, pantulan cermin besar memperlihatkan bayangan tubuhnya secara utuh.


"Siapa yang menggantikan bajuku?"


"Aku masih hidup," gumamnya miris.


KLEK


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mutia reflek menoleh dan berjalan mundur, padahal lututnya masih lemas dan gemetar.


"Siapa kamu?"


Sosok yang ia jumpai itu ternyata nyata, dia adalah laki-laki yang sama di malam itu.


Eden berjalan lurus ke depan, mata elangnya menyusuri ranjang bekas tidur Monica.


"Siapa kamu!" sentak Monica yang takut karena sosok lelaki itu mendekatinya tanpa berbicara.

__ADS_1


"Berhenti!" teriak Monica, dia histeris. Mungkin karena masih takut dan trauma, sebab beberapa waktu lalu dia hampir dinodai oleh anak buah mantan tekan bisnis ayahnya.


"Aku bilang jangan mendekat!" ujar Monica lagi, kali ini sambil menutup mata dan telinganya. Derap langkah Eden yang pelan dan berat, terasa mengerikan di pendengaran Monica.


"Jangan sentuh aku!" Monica berteriak saat lelaki itu menyentuh tangannya.


Eden malah mencengkram bahu Monica, menatap wajah itu dengan tatapan yang misterius.


"Aku tidak tahu apa-apa ... lepaskan aku," Monica sudah berani menatap balik, pandangan keduanya pun bertemu.


Ada ketakutan di mata Monica, sampai dia memohon untuk dilepaskan. Monica semakin takut, saat cengkraman laki-laki itu semakin menguat, mungkin terlalu takut, sampai akhirnya tubuhnya lemas.


'Tuhan aku takut ...'


'Entah apa yang terjadi, Tuhan ... selamatkan aku.'


Tubuh Monica perlahan lemas, bukan pingsan, gadis itu memang pura-pura pingsan.


***


Pagi yang mendung, masih pagi tapi sudah hujan. Monica terbangun ketika ada suara di dekatnya. Asisten pribadi di mansion itu sedang merapikan kamar tersebut. Meskipun langkahnya pelan, tapi Monica malah terbangun.


"Kamu siapa?" tanya Monica. Membuat wanita berpakaian seragam maid itu langsung mendekat dan sedikit membungkuk.


"Selamat pagi, Nona. Saya Elisa, kepala pelayan di sini."


"Di mana ini?" tanya Monica lalu menyibak selimutnya. Lagi-lagi dia sudah ganti baju, perasaan kemarin dia pura-pura pingsan, tapi mengapa malah ketiduran?


"Ini mansion Tuan Eden, suami Nona."


Warna hitam pada mata Monica langsung melebar. Kejutan apa lagi ini?

__ADS_1


Semoga terhibur ya besti bestiku ...hehhe


__ADS_2