
Teknologi adalah Gurumu
"Jangan berpikir bagaimana kita hidup, berpikirlah bagaimana cara menghidupi mereka"
~ Agus Skets ~
Ada fenomena menarik yang bisa kita lihat disini, bahwa teknologi saja bisa menjadikan jiwa manusia on fire, merubah elemen-elemen yang tadinya tidak aktif berbicara menjadi lebih komunikatif, yang tadinya tidak berkarya sama sekali dengan kegiatan online seperti ini, tentunya bisa terwadahi setiap aktivitas, dan tertampung untuk mengaplikasikan suatu teknologi dalam menuangkan gagasan atau sebuah karya, dan juga bebas berekspresi, yang sesuai bidang masing-masing yang dikuasai, otomatis secara motorik dan psikomotorik produktif dan secara knowlage lebih kreatif, serta inspiratif. Banyak sekali hal-hal unik lainnya yang dapat diraih berupa pemahaman, pengalaman, dan masih banyak hal unik lainnya.
ada dua dimensi kalau kita sebutkan, pembelajaran pada saat sebelum pandemi, kita lebih mengandalkan jiwa kita, namun itu juga tidak sepenuhnya efektif, kenapa bisa dikatakan seperti itu karena pada saat offline tidak terlalu komunikatif, hanya dosennya saja yang bicara, lahirnya jiwa-jiwa komunikatif dan aktif bertanya, pada saat ujian lisan saja, memang kebetulan sedang dituntut untuk bertanya atau berbicara dan juga sedang diberi pertanyaan, tidak seimbangnya antara keaktifan teknologi dan mahasiswa, disini terlaht jelas kepasifan kita selaku pelajar.
__ADS_1
Namun beda kalanya ketika rombongan covid-19 mulai menyapa, semua aktivitas menjadi berbau teknologi, dari mulai pendidikan sekolah dasar sampai perkuliahan hingga non pendidikan seperti beli makanan hingga mencuci pakaian serba online menggunakan teknologi, kehadirannya tersebut menandakan kita harus jadi manusia yang produktif terutama dalam hal kesehatan jasmani dan rohani, dan supaya menjadikan diri kita lebih berani dalam segala permasalahan apapun baik menjelma berat atau pun menjelma ringan, dalam setiap permasalahan harus dihadapi tentunya, bukan melarikan diri yang ada masalah tersebut akan semakin besar.
Kita seharusnya sudah mengetahui akan hal ini yang mana hal ini itu sangat pundamental bagi kehidupan manusia, sifat manusia itu gampang cemas, analoginyaseperti ini kalau sudah ada tuntutan untuk bangun pagi pada saat latihan militer misalkan, pasti hidup kita akan mematuhi akan peraturan tersebut, coba kita perhatikan kembali manusia mematuhi bukan karena kedisiplinan, melainkan karena tuntutan sera keprofesionalan semata, menuntutnya memang harus disiplin, pada zaman pandemi ini saya katakan bahwa Covid-19 ini tidak hanya mengajarkan mental, dan prestasi produktif saja, namun juga memberi arahan, supaya menjadi yang baik akhlaqnya, kedisiplinannya.
Terkadang ada perkuliahan pagi pukul 06.00 WIB itu memang rasa malasnya penuh decak kagum, pasti saat bangun pagi sekali sudah mendarah daging, karena memang itu adalah tuntutan terpaksa kita harus memperlihatkan profesional jiwa kita, sudah tadinya memang kondisinya tidak terbiasa makin parah kondisinya pada saat kita selaku mahasiswa pada jam perkuliahan itu mati listrik, lumayan heboh dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, ditambah lagi jaringannya tidak memadai, hikmah terefiknya adalah bahwa jangan menyalahkan keadaan ketika kamu gagal, salahkanlah diri kita, bukan salahkan orang lain, karena yang faham dengan kita hanya kita dengan Allah sang pencipta, jangan jadikan kondisi sebagai kambing hitam, disini sudah muali tercerahkan sesungguhnya didalamnya terdapat pelajaran berarti begi khidupan kita sehari-hari, ini bentuk saran dari Cobid-19 supaya tetap oftimis, bersungguh-sungguh, tak kenal lelah, supaya setiap hasil dari sebuah perjuangan kita menjafi perfect.
Memang benar adanya, bahwa teknologi sudah menjadi primadona miliaran orang didunia ini, seharusnya kita selaku manusia sebelum terjamah oleh Cobvid-19, sistem belajarnya lebih kompatable dan lebih urgen, lagi-lagi ini lucunya kita ketika belajar selalu memunculkan jiwa kompetensi, yang hanya aktif di dalam instansi saja, selalu lupa dengan jiwa kompetisi di dalam serta di luar arena, jadi pantas saja kita mati total potensi yang telah kita bina selama ini, sadar mau pun tidak sadar akan hal kesenjagan tersebut, setelah kita menyadariny bahwa selepas berkemelut dengan dunia pendidikan, kita juga secara tidak sadar telah melepas semua kebiasaan di sebuah lembaga pendidikan, ini pemikiran yang tidak open minded, tidak melakukan kebiasaan pendidikan di rumahnya masing-masing, dalam artian menjaga kualitas kompetensi dan kompetisinya.
Kenali diri kita sendiri, sebelum mengenal ruang kelas yang besar, apalah daya jikalau kita hanya mengenal ruang kelas dibanding dengan mengenal kepribadian kita, itu sama dengan halnya kita lebih peduli rumah orang lain dibanding rumah kita sendiri, sama pula dengan menjajah potensi kita sendiri, bukan kah bangsa belanda dulu ketika menjajah bangsa indonesia dengan cara membelokan pemikiran-pemikiran yang mematikan potensi bangsa Indonesia, masa masih belum cukup dijajah satu setengah abad lamanya, masih juga belum berpikir secara bijak dalam hal mensejahterakan kehidupan kita, kalau kita sudah terbangun dari tidur lama kita, maka saatnya sekarang waktunya untuk bangkit dari jajahan pemikiran rasa malas, tidak disiplin, dan pesimistik.
__ADS_1
Belajar tanpa reword itu sebuah penyakit yang harus ditularkan tentunya bagi peradaban pelajar masa kini, karena di dalamnya mengandung rasa candu yang begitu tinggi, seperti halnya dalam perkompetisian, olimpiade dan lain sebagainya banyak menyuguhkan rasa antusiasme para peserta dengan berbagai reword namun menariknya, adalah riword ini bersifat tidak pasti karena masih mengandung banyak kemungkinan bisa saja jauara atau pun mengalami kekalahan, dalam hal ini sikap yang dapat kita ambil dengan hal yang belum pasti saja kita bisa mati-matian memperjuangkannya bahkan sebelum dimulainya perkompetisian. Adakah perasaan untuk melakukan hal tersebut dalam hal yang sudah pasti yang membedakan adalah prosesnya saja, ibarat bayi yang sedang baru lahir masih disuapi makanan sama ibunya namun ketika sudah beranjak dewasa sudah bisa menghidupi dirinya dan keluarganya bahkan masyarakat agama dan bangsanya, bukan tidak bisa karen dalam rumus orang orang sukses dalam hal belajar maupun yang lainnya tidak ada kata tidak bisa yang ada kita semua mau atau tidak engambil langkah tersulit ini.
ebiasaan belajar online maka harus bisa multitasking juga tentunya, apalagi ditambah kuliah online tidak hanya satu perkuliahan akan tetapi banyak perkuliahan diluar lembaga, bisa kita katakan sedang melatih fokus internal dan eksternal, sambutan Covid-19 juga ternyata mendatangkan himbauan kepada manusia bukan hanya sekedar menjaga tubuh dari luar saja melainkan dari dalam pun harus kita pelihara, buktinya sekarang-sekarang ini banyak orang yang sakit datang dari pikirannya bukan dari fisiknya bukan kah sepeti itu kenyataannya, perbanyaklah aktivitas supaya pikiran tidak merasa terbebani, mudah stres, dan lain sebagainya.
Kita akan merasakan kejenuhan, sakit badan, sakit pikiran dan lain-lain, tentunya bukan karena kekurangan pendapatan, kita yang sedang kuliah gampang down bukan karena mata kuliahnya, melainkan karena kekurangan sarapan rekreasi, refresh keseharian, kalau kita dapat jelaskan motorikĀ melalui kurangnya kecerdasan dikarenakan kurangnya berlatih dan belajar, kalau keadaan kita zaman Covid-19 gampangnya daya depresi dikarenakan kurangnya refresh jiwa, hati, serta pikiran, yang menjadikan diri kita menjadi mati rasa, terutama pada khalayak peserta didik, untuk meningkatkan rasa konstribusi prestasi dimulai dari diri sendiri kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi.
Fakta unik dari kita sebagai seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, pada saat sesi ujian akhir semester persiapannya ketika besoknya mau ujian dan itu kebiasaan yang selalu diulang-ulang, ada pula fakta unik lainnya yang seirama tatkala rimbunnya wabah Covid-19 di Negeri kita tercinta, baru mulai persiapan, semua aktivitas kesehatan dilakukan, padahal kalau kita sadari akan hal tersebut tidak harus nunggu akan datangnya sebuah ujian akhir berbasis perguruan tinggi, dan tidak perlu nunggu akan datangnya ribuan wabah penyakit, kita harus bersiap-siap melakukan persiapan, supaya tatkala akan dihadapkan dengan sesuatu yang berat sekali tentunya kita sudah siap dalam beragam kondisi yang seperti apapun itu. Sebagaimana kita tahu bahwa kebiasaan sehat akan membawa kepribadian yang sehat, dan kebiasaan yang sakit akan membawa kepribadian yang sakit pula.
Flash Back kebelakang memang benar jadi pejuang mahasiswa diperguruan tinggi itu tidak mudah, belum lagi harus memahami satu per satu materi mata kuliah, kalau materinya sesuai dengan fashion kita tidak ada masalah namun, yang jadi masalah pada diri kitanya sendiri kita mau atau tidak nergelut dibidang yang mana bidang tersebut bukanlah fashion kita, yang ada materi hanya dihafal bukan difahami, ini yang seri kita alami tentunya, solusi terbaiknya denga, memaksakan diri, membiasakan diri, serta memberanikan diri, tetap kembali lagi apa yang kita punya, bukan apa yang kita bisa, apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, kalau hanya berdasarkan keinginan hanya salah satu saja yang akan pasti kita gunakan, bukan seperti itu, ya jelas benar seperti itu, namun jika kita mengandalkan apa yang kita butuhkan kita sudah terkonfirmasi akan mentranfungsikan semuanya, sekali-kali katakan mana miniat kita pada orang banyak.
__ADS_1