
Tanpa semangat yang menyertai, Barly melepaskan pelukannya pada wanita terkasih. Meninggalkan wanita itu dengan ekspresi datar tidak terbaca berbaring di sofa ruang tengah. Kekasihnya tak menghiraukan Barly berlalu, ia sama sekali tidak melepaskan perhatiannya pada layar datar empat puluh inch di ruangan itu.
Barly kemudian melangkah gontai menuju ruang tamu, membukakan pintu untuk seseorang yang sudah sangat ia yakini keberadaannya.
"Yang lain udah pada dateng belom?" Tanya Ryan tanpa berbasa basi.
"Masih di jalan kali," Jawab Barly sembari mengedikkan bahu.
Pemuda yang baru saja tiba di rumah Barly, langsung menerobos masuk tanpa dipersilahkan. Menganggap rumah temannya selayaknya rumah sendiri. Melangkah ke bagian dapur rumah dan membuka lemari pendingin. Mengobrak abrik isinya, mencari apa yang bisa ia santap dalam kondisi menahan amarah.
Makanan adalah salah satu pengendali amarah pria itu. Jadi hal yang sangat bijak bagi ia adalah mengisi perutnya terlebih dahulu, sebelum ia mulai menyemburkan hawa panas yang sudah menyelimuti tubuhnya.
"Ga ada apa-apa disitu. Percuma lu acak-acak kulkas gue. Gue udah pesenin Pizza buat lu, jadi tunggu aja," Ucap Barly yang setia mengekori Ryan di belakangnya. Dia sudah sangat memahami apa yang dilakukan temannya itu. Dan sudah mengantisipasi apa yang akan pria tidak sabaran itu lakukan.
"Ah payah," Ucap Ryan sembari berdecak. Pria itu kemudian meraih botol minuman soda dan sebuah gelas diatas meja. Lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa tak jauh dari Silvy setelah meletakkan barang yang ia bawa dari dapur ke atas meja.
"Hai," Sapa Silvy melihat kedatangan Ryan.
"Hmm," Jawab Ryan sekenanya.
Silvy merubah posisinya yang sedang berbaring. Wanita itu sekarang duduk tegak di ujung sofa, memberi ruang bagi kekasihnya untuk duduk di sebelahnya.
"Kenapa dia?" Tanya Silvy berbisik kepada Barly.
Wanita itu terheran melihat wajah Ryan tampak gusar. Tak biasanya Silvy melihat ekspresi kesal Ryan. Sejak mengenal sosok pemuda itu di Amerika beberapa tahun silam, yang ia ketahui Ryan adalah orang yang selalu penuh semangat dan tidak pernah berada dibawah kendali masalah. Tapi saat ini pria itu terlihat frustasi.
"Mana aku tau," Jawab Barly.
"Kenapa lu?" Tanya Silvy langsung kepada Ryan saat tidak mendapat jawaban dari kekasihnya.
__ADS_1
"Apa lagi kalau bukan soal bokap gue. Ga pernah apa ya dia mikirin perasaan gue? Heran gue," Ryan mulai melepaskan lahar panas yang menyesakkan dadanya.
"Bokap lu kenapa lagi emang?"
"Dia nyiapin acara pertunangan tanpa persetujuan gue. Dan itu bulan depan. Lu bayangin aja. Bulan depan," Ucap Ryan berapi-api.
"Tinggal kabur aja sih. Repot banget," Ujar Silvy santai.
"Ga se-simple itu Sil. Masalahnya gue mau ngelamar cewek lain," Sambar Ryan.
"Apa?!" Barly spontan menyemburkan minuman yang sudah terlanjur ada dalam kungkungan mulutnya. Terkejut mendengar ucapan Ryan yang berniat melamar seseorang.
"Apa sih yang? Kamu jorok banget ih," Silvy memonyongkan bibirnya sembari mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena semburan Barly.
"Kaget tau yang,"
Namun suara wanita itu tertelan suara bel yang berteriak memanggil penghuni rumah untuk segera membukakan pintu. Barly merasa mendapat angin segar agar bisa kabur dari omelan kekasihnya. Dia segera beranjak ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Emang lu mau ngelamar siapa? Lu punya cewek aja gue ga tau. Tiba-tiba udah mau ngelamar anak orang aja," Tanya Silvy penasaran setelah lama menunggu pria dihadapannya menjelaskan apa yang ia maksudkan saat mengatakan ingin melamar seseorang. Ia masih belum percaya sepenuhnya dan beranggapan kalau sebenarnya Ryan tengah bercanda.
"Ya ngelamar cewek gue lah. Masa iya ngelamar elu," Jawaban Ryan justru semakin membuat Silvy terpana.
"Enak aja lu ngomong ngelamar cewek gue," Sambar Barly yang sudah kembali sembari membawa dua kotak Pizza berukuran besar.
"Kenapa enggak? Kalau emang dia mau lamar aku, aku juga bakalan mau kok ga bakalan nolak," Seru Silvy membuat kedua mata Barly hendak melompat keluar.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih yang?" Ucap Barly memelas.
"Lha emang kenapa? Nungguin kamu juga ga bakalan ngelamar aku kan?!" Jawab Silvy kesal.
__ADS_1
"Aku yang ga mau ngelamar, apa kamu yang ga mau dilamar?"
"Cewek mana coba yang udah pacaran lebih dari tujuh tahun ga mau dilamar?"
"Ya aku kapan juga siap kok ngelamar kamu, asal kamu juga siap diajak kawin lari,"
"Elu berdua mau nikah?" Sambar Daniel yang baru menginjakkan kakinya di ruangan tengah rumah Barly bersama Rizal. Keduanya langsung disuguhi pertengkaran antara tuan rumah dengan kekasihnya.
Daniel dan Rizal memang sudah sampai di rumah Barly bersamaan dengan kedatangan pengantar Pizza. Namun Barly yang membukakan pintu tak menyangka Pizza pesenannya sudah datang, sehingga meminta Daniel membayar Pizza setelah menerima kotak Pizza ditangannya.
"Dia tuh mau nikah," Ucap Barly dan Slivy kompak sembari menunjuk Ryan yang tampak tak perduli dengan perdebatan keduanya.
Hal yang sudah biasa dia dengar dari dua orang itu. Bertengkar soal pernikahan yang entah kapan bisa terlaksana. Perjalan cinta temannya itu bisa digambarkan jauh lebih rumit dari yang bisa dijelaskan melalui kata-kata.
Berkaca pada dua temannya yang tak kunjung menemukan jalan keluar soal pernikahan karena campur tangan keluarga di dalamnya, membuat Ryan memgambil jalan pintas untuk urusan percintaannya sendiri. Apalagi dia sudah merasa bahwa Zeva adalah sosok yang tepat untuk menemani harinya hingga menua bersama.
"Dia? Maksud lu? Rey mau nikah?" Tanya Daniel.
Orang yang ditanya justru menyibukkan diri dengan sekotak Pizza yang dia sambar sedetik setelah Barly meletakkannya di atas meja.
"Gue juga ga ngerti gimananya. Baru mau nanya lu udah keburu dateng," Ujar Barly.
"Bener lu mau nikah Rey?" Tanya Rizal yang baru terdengar suaranya sedari tadi.
Ryan masih asik mengunyah campuran Jamur, paprika, daging asap, daging sapi cincang dan juga sosis serta taburan mozzarella di dalam mulutnya. Ia tidak memperdulikan delikan tajam dari teman-temannya yang seolah tak sabar menunggu dia menghabiskan sepotong besar Pizza di dalam mulutnya.
Setelah puas melampiaskan kesal denga kunyahan beberapa potong Pizza, Ryan meraih gelas dan botol minuman soda yang tadi ia bawa. Meneguk cepat membasahi tenggorokannya.
Di depannya tidak ada teman-temannya yang bisa menikmati Pizza seperti dirinya. Mereka menunggu penjelasan keluar dari mulut lelaki itu sembari melemparkan pandangan satu sama lain. Mencari tau apa yang terjadi. Tak ada satupun sepertinya yang memiliki jawaban pasti. Masing-masing memiliki hipotesa yang direka sendiri di dalam pikirannya, tapi tak berani menyuarakan.
__ADS_1