
"Arin, kamu baru pertama kali nikahin anak loh. Kenapa ga bikin acara gede sih? Bukannya Zeva itu kerja di perusahaan besar yang mendunia. Masa ga bisa bikin acara gede?" suara Lek Yun menusuk telinga Zeva ketika ia baru menginjakkan kakinya di luar kamar.
"Coba kamu itu kasih tau kita jauh-jauh hari soal pernikahan Zeva, jadi kita bisa kasih masukan ke kamu bikin acara yang lebih berkelas dari ini. Ini acaranya kaya hajatan di kampung. Terlalu sederhana, Rin," sambar Bude Marni di sebelah Lek Yun.
"Ini acaranya juga dadakan Mbak Yu. Anak-anak emang mau nikahnya sederhana dan cepet diselenggarakan. Biar sah dulu gitu loh Mbak,"
"Zeva ga sedang hamilkan?" suara Bariton Pakde Kirno menghantam dada Zeva.
"Ya enggaklah Pakde. Zeva masih tau batasan kok dalam menjalin hubungan," sambar Zeva dengan wajah memerah.
"Terus kenapa kamu nikahnya mau buru-buru begini ndok?" Lek Ato ikut angkat suara. Satu-satunya adik Ayah Zeva yang masih bersikap baik kepada keluarga Zeva.
Ditanya seperti itu baik Zeva maupun ibunya hanya diam seribu bahasa. Zeva tak dapat menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan kepada paman dan bibinya. Para orang tua yang memiliki mulut setajam silet yang mampu menyayat hati.
"Pasti kamu nikahnya cuma sama pegawai biasa yah? atau dari perusahaan abal-abal? jadi kamu malu mau bikin acara gede?" tanya Lek Yun lagi.
"Atau bisa jadi kamu ga punya tabungan sama sekali Va? dan laki-laki yang kamu nikahi ga punya tanggung jawab ngebiayain pernikahan kalian?" Bukde Marni tidak mau kalah menyerang Zeva.
"Mbak, saya mohon jangan membuat buruk suasana hati Zeva. Dia mau menikah hari ini," Arin mulai merasa jengah dengan perkataan menusuk hati yang dilontarkan saudara-saudara mendiang suaminya itu.
Ada perasaan menyesal yang menyergapnya karena telah mengundang mereka. Tapi bagaimanapun hanya merekalah kerabat Zeva yang masih ada di dunia ini.
"Bukan begitu tho, Rin. Kami hanya merasa heran dengan pernikahan Zeva yang tiba-tiba. Bahkan anak-anak kami tak satupun yang bisa menghadiri pernikahan Zeva lantaran undangan kalian yang mendadak. Mereka susah mengatur jadwal untuk bisa hadir disini," ujar Pakde Kirno.
Halah, biarpun sudah dikasih tahu jauh-jauh hari juga ga bakalan dateng anak-anaknya Pakde. Aku kan tau dari dulu anak-anak Pakde Kirno ataupun Lek Yun tidak ada yang menganggap kami saudara - Zeva mengomel dalm hatinya. Kalau saja tidak ingat Ibunya akan marah akan ketidak sopanannya, Zeva sudah pasti akan melontarkan kata-kata itu secara langsung.
Pikiran Zeva melayang saat masa sekolah, dimana dia satu sekolah dengan Angela, anaknya Pakde Kirno. Sejak dulu Angela selalu berusaha menjauhinya karena takut ketahuan teman-teman kalau mereka masih saudara sepupu. Begitupula dengan saudara sepupunya yang lain. Selalu meremehkan Zeva dan kedua adiknya. Bahkan tak jarang mereka dihina.
"Yang penting Mas sama Mbak Yu bisa hadir untuk memberikan restu kepada Zeva. Saya mohon untuk menghormati dan menghargai keinginan anak-anak," ucap Arin dengan wajah memelas.
"Yoweis to, ndak usah di bahas lagi. Yang pentingkan sekarang kami sudah hadir disini. Kapan acaranya dimulai?" ucap Lek Ato menengahi.
"Bu, rombongan pengantin pria sudah dateng," suara Ardi menjawab pertanyaan Lek Ato sebelum Arin sempat menjawab. Ardi sempat melemparkan tatapan tidak suka kepada Paman dan Bibi nya.
Pemuda itu sempat mendengar perkataan yang keluar dari mulut-mulut pedas orangtua yang tidak pernah ingin dia hormati. Inilah salah satu alasan Ardi menyesali keputusan kakak perempuannya menikah dengan cara seperti ini. Akan tetapi, Ardi membuang jauh pikiran buruknya. Ia tidak mau perkataan orang yang tidak pernah memberikan kontribusi apapun dalam kehidupan keluarga mereka mempengaruhi suasana hati dan penilaiannya kepada kakak yang sudah banyak berkorban untuk keluarga mereka.
__ADS_1
"Ayo Mbak kita sambut kedatangan calon suamimu," ucap Ardi sengaja memanasi paman dan bibinya. Ia meraih tangan Zeva membawanya ke dalam genggaman tangannya dan mengajak Zeva keluar menemui Ryan beserta romobongannya.
"Makasih yah, Bang," ucap Zeva di sebelah Ardi.
"Jangan seneng dulu Mbak. Aku belom menerima calon suamimu sampai dia bisa membuktikan ucapannya," bisik Ardi di telinga Zeva. Spontan Zeva memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Ardi.
Zeva menundukkan pandangannya saat tiba di depan rumahnya menyambut kedatangan sang calon suami. Hatinya bergetar saat menyadari bahwa tak lama lagi ia akan benar-benar melepas masa lajangnya. Ia melirikkan sedikit pandangannya kepada Ryan dengan rona merah muda menjalar di kedua pipinya.
Ryan berdiri tegak dengan gagahnya di dampingi teman-teman yang juga menghadiri acara lamarannya waktu itu. Akan tetapi, ada pemandangan yang menyejukkan hati Zeva. Di sebelah sang calon suami berdiri seorang wanita yang sangat mirip dengan Ryan. Zeva mengangakat sedikit kepalanya, memperhatikan wanita itu yang tengah menggandeng dua anak kecil di kedua sisinya. Dua orang anak yang fotonya selalu terpajang di ruangan Ryan.
Setidaknya Ryan masih mengajak keluarganya dalam acara pengikatan sumpah setia mereka, pikir Zeva. Hal itu tentu saja membuat kekhawatiran Zeva sedikit memudar.
****************
Zeva menatap pantulan wajahnya di cermin sembari melepaskan hiasan sanggulnya satu persatu. Senyum merekah menghiasi bibirnya yang disapu lipstik berwarna pink. Ia tentu saja pantas berbahagia karena telah resmi menyandang status baru sebagai seorang istri. Seri wajahnya menambahkan kesempurnaan yang terpancar dari dalam dirinya.
Tiba-tiba sebuah tangan kokoh meraih jemarinya yang sedang berusaha melepaskan sebuah hiasan kepala yang menyangkut di sanggulnya. Zeva memperhatikan wajah pria yang kini berstatus sebagai suaminya dari balik cermin. Wajahnya kian merona menambah kecantikan wanita yang kini tengah berbahagia.
"Aku dari tadi cari-cari kamu ternyata malah disini," ucap Ryan sembari membantu istrinya melepaskan hiasan kepalanya.
"Gimana kalo nanti kita ngadain resepsi gede, kalo begini aja kamu udah ngeluh?"
"Ogah ah, males aku ngadain resepsi gede. Nyape-nyapein doang, segini aja udah capek,"
"Kamu tu lucu," Ryan menarik tangan Zeva agar berdiri sejajar dengannya setelah berhasil membebaskan kepala Zeva dari segala pernak pernik yang disematkan oleh Alga disana. "Hampir semua wanita mengimpikan pernikahan mewah dan megah, kamu malah ga mau,"
"Ngapain pesta mewah kalau ujung-ujungnya bikin repot. Yang penting itu bagaimana kita ngejalaninnya setelah nikah,"
"Kamu bener, yang penting apa yang akan kita lakukan setelah menikah" Kerling menggoda berkilat di mata Ryan.
Tak hanya melalui sorot matanya, tangan pria itu mulai bergerilya kemana-mana. Menggoda Zeva melalui sentuhannya. Ia mengusap pipi mulus istrinya dengan jemarinya yang menari-nari. Sementara tangan yang satu lagi mengusap tengkuk wanita itu, terus turun ke punggungnya hingga ke pinggang dengan amat lembut dan perlahan. Kemudian dia menarik Zeva lebih merapat kepadanya agar bisa melabuhkan bibirnya di atas bibir Zeva yang menggoda. Segala apa yang dilakukan Ryan mengirimkan gelenyar yang memabukkan bagi Zeva.
Suara ketukan pintu membuyarkan semua fantasi yang akan Ryan wujudkan pada tubuh istrinya itu. Membuat pria itu memaki dalam hati. Rasa kesal menggerogotinya karena merasa terganggu.
"Mbak, dicariin Pakde sama Bukde
__ADS_1
Mereka mau pamit pulang katanya,"
"Iya Bang, bentar," Zeva melepaskan pelukan Ryan dan segera berlari ke arah pintu. Namun, belum sempat memutar handle pintu, tangan Ryan sudah mencengkram lengan istrinya.
"Bentar Rey, ga enak kalo mereka sampe nunggu. Sabar yah, kita temui mereka dulu. Setelah itu kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau," ucap Zeva seraya melemparkan senyuman manis yang menggoda.
"Janji? apa saja?" tanya Ryan sebelum melepaskan cekalan tangannya.
"Iya janji, sekarang kita temui mereka dulu yah," ucap Zeva sambi tersenyim.
Senyum itu seakan membuat janji manis yang dibuat oleh Zeva terdengar seperti bisikan lembut. Ryan semakin merasa terbakar gairahnya memandang wajah wanita dihadapannya ini. Membuat ia semakin merasa kesal karena tidak dapat segera menuntaskan apa yang sudah menjadi mimpinya berhari-hari.
Dengan segera ia kembali mencium bibir Zeva dengan sangat bergairah. Menyampaikan hasrat yang terpendam kepada gadis itu melalui bibirnya.
"Mbak, buruan napa," suara Ardi kembali membuat Ryan frustasi.
Dengan segera Zeva melepas ciuman Ryan dan mengirimkan isarat melalui tatapan matanya. Mata Zeva seolah berkata agar Ryan bersabar menahan hasratnya. Ryan hanya menghembuskan nafas pasrah dan melepaskan cekalan tangannya pada Zeva.
"Tunggu," seruan Ardi menghentikan langkah Ryan mengekori Zeva ke ruang tamu. Matanya mendelik tajam kepada Ardi. bertambah dua kali lipat kekesalannya kepada pemuda yang kini berstatus sebagai adik iparnya itu.
"Kamar ini belum menjadi milik kamu. Jadi kamu tidak bisa keluar masuk kamar ini sesukamu sampai kau bisa membuktikan ucapanmu," seru Ardi membuat Ryan mengerutkan dahinya.
"Aku harap kamu tidak melupakan syarat yang pernah aku ajukan. Oh ya, setelah ini kamu sebaiknya langsung pulang. Aku tidak mengizinkan kamu bermalam disini,"
Sejujurnya ia sama sekali tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh Ardi, hanya saja ia teringat dengan syarat yang sempat diajukan oleh pemuda itu saat ia melamar Zeva. Dia tidak menyangka kalau pemuda ini bahkan akan berbuat sejauh ini, menghalangi kedekatannya dengan istrinya sendiri. Ryan mengatupkan giginya hingga bergemeletuk. Merasa frustasi karena tak bisa melampiaskan kemarahannya kepada Ardi.
THE END
hai... readers ku tersayang... kan udah nikah ne, jadi untuk season 1 nya End yah..
makasih udah ngikutin cerita Ryan dan Zeva sampe mereka nikah..
nah berhubung season 1 ini author buat cerita dengan kategori Chicklit.. sementara season 2 nanti lebih ke young adult.. nyeritain tentang pernikahan rahasia Zeva dan Ryan.. enaknya digabung disini aja apa dipisah yah??
mudah2an untuk season dua nulisnya ga selama nulis yang season 1 yah.. sekali lagi makasih udah suport author untuk cerita ini.. arigato...
__ADS_1