Terkuat? Aku Hanya Ingin Hidup Bebas

Terkuat? Aku Hanya Ingin Hidup Bebas
CHAPTER 3 - Menara sihir kuno I


__ADS_3

Setelah melakukan "aktivitas" yang memakan waktu berhari-hari, mereka mulai melakukan perjalanan menuju menara sihir kuno.


"Hei, ini akan memakan waktu berapa lama? jika terlalu lama bisa-bisa aku bosan".


"Mungkin akan memakan waktu beberapa hari, karen aku sudah mengelilingi seisi miracle world saat mereka mengejar ku".


Beberapa hari yang lalu, saat kania dalam perjalan menuju tempat pembuatan senjata terbesar di Miracle World, PULAU PEMBUATAN SENJATA, dia di kepung oleh ratusan sosok misterius, dalam pelarian dia membunuh setengah dari mereka, terus melarikan diri dari mereka dengan mengelilingi miracle world.


Sampai saat menyisakan beberapa saja dari orang-orang itu, dia sudah tau siapa yang memerintahkan mereka, tapi dengan kondisinya yang terkena racun, kabut dari mereka menjadi hal yang sulit, tapi semuanya berubah setelah pria misterius itu datang dan menolongnya.


Setelah berjalan beberapa jam, kedua orang itu tiba di sebuah kota bernama star city, merekapun mendiskusikan tentang beberapa hal: "Haruskah kita menginap atau melanjutkan perjalanan?".


kania dengan wajah memerah menggerutu:


"Aku tahu apa yang kau inginkan dasar bajingan sialan, jangan berharap untuk melakukannya lagi! Kita akan melanjutkan perjalanan dengan gerbang teleportasi!".


Arssya yang melihat wajah kania memerah tersenyum dengan lebar sembari mengelus kepala kania.


"Hahahaha, aku hanya bercanda, baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan".


Kania langsung menarik tangan arssya dengan erat menuju tempat pembayaran gerbang teleportasi.


"argh!-"


"kumohon jangan sakiti kakekku, dia sudah tua, tapi kalian terus menagih hutang kepada kami walau kami sudah melunasi hutangnya!"


Terdengar suara seorang pria tua dan anak lelaki dan terlihat segerombolan orang yang sedang merundung mereka.


Melihat kejadian itu kania bergegas ingin membela kedua keke dan anak tersebut, namun arssy menarik tangannya dan berkata:


"Jangan, mereka hanya sedang bersandiwara, sebenarnya mereka menargetkan kita agar membayar hutang sang anak, kakek, anak lelaki, dan segerombolan pria itu tidak lain satu kelompok".


"Kau serius?! bagaimana mungkin anak-anak bisa melakukan hal itu?!". Terkejut dengan pernyataan arssya, kania menjadi semakin penasaran.


"Kau memang belum dewasa ya, cukup dengarkan aku saja, apakah kau tidak mempercayaiku?".


mendengar perkataan arssya, pipi kania sedikit memerah dan tanpa sadar berkata: "Tidak, aku sangat mempercayaimu"?


"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang". Jawab arssya.


Saat kania sadar apa yang dia katakan, entah kenapa dia merasa sangat mempercayai arssya dan semakin erat menggenggam tangannya.


"ya, ayo kita pergi!".


Mereka pun dengan lancar melewati gerbang teleportasi dan sesampainya disana, sudah ada segerombolan prajurit yang menunggu mereka, tidak, lebih tepatnya kania.


"Memberi hormat kepada putri kedua menara sihir kuno, Kania Fortern!!!".


Kania yang terkejut karena suara yang begitu keras masih dan begitunya banyak orang, mungkin ratusan, belum memahami situasinya sampai seorang pria berbadan kekar, dan berusia sekitar 40 tahun mulai berbicara.


"Selamat kembali tuan putri kedua, kami mendengar bahwa putri di kejar oleh segerombolan orang, setelah mengetahui itu kami langsung bergegas mencari tuan putri, namun baru sekarang kami mendapatkan abar bahwa tuan putri sedang dalam perjalanan kemari".


"Maafkan atas kelalaian saya". Sambil meminta maaf, pria itu membungkuk dengan rasa bersalah.


melihat siapa pria itu, Kania langsung mengenali sosok tersebut.


"Kamu tidak perlu menyalahkan hal sepele seperti ini paman zia, lagipula aku sudah aman.


mendengar jawaban kania, pria itu tersenyum senang.


"baguslah kalau anda baik-baik saja".


Setelah menjelaskan apa yang terjadi padanya sebelum kembali ke menara sihir kuno, Zia menunjuk kearah pria di sampingnya dengan penasaran, Kania langsung memperkenalkan siapa pria itu.


"Aku ingin bertanya siapa pria itu tuan putri, mengapa ia mengenakan topeng?".

__ADS_1


"Ah!, Aku lupa memperkenalkannya, namanya adalah Arssya, seorang pengembara yang menyelamatkanku dari sekelompok orang-orang itu".


"Jadi anda adalah orang yang menyelamatkan tuan putri, aku sangat berterimakasih kepadamu, entah apa yang terjadi apabila anda tidak ada di sana" [Zia Fortern]


Perkenalan itu membuat paman zia penasaran dengan pria bernama arssya itu, dalam hati dia berbicara: "Kudengar yang mengejar tuan putri jumlahnya ratusan orang, dan ada sekitar 20 penyihir dan petarung tingkat 9, bagaimana ada seseorang yang mampu mengalahkan mereka semua? kecuali dia setingkat denganku atau justru diatas, dengan kata lain, tingkat 12, benar-benar misterius".


Setelah mendengar seluruh perkataan Zia baik di mulut maupun hati, Arssya menjawab dengan tenang dan santai.


"Tidak perlu berterimakasih, aku secara tidak sengaja bertemu dengan mereka, jadi hal yang wajar jika aku dapat melakukannya".


Zia fortern memiliki mata kebenaran, jadi dia bisa tahu kapan seseorang mengatakan kebenaran atau kebohongan, tetapi hal seperti itu tidak akan berpengaruh pada arssya karna apa yang dimiliki dunia ini, arssya juga memilikinya.


"Setelah aku menggunakan mata kebenaran, dia sama sekali tidak berbohong". Gumamnya dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita kembali sekarang kita pulang, kau juga sebaiknya ikut denganku Arssya". Kania mengedipkan matanya memberi isyarat kalau Arssya haru ikut dengannya.


"Haha, baiklah, aku akan ikut dengan kalian, lagipula aku tidak punya tempat tinggal". [Arssya]


"Bolehkan paman?". [Kania]


"Baiklah, lakukan sesuka kalian, lagipula Arssya telah menyelamatkan hidupmu". [Zia]


"Memiliki sosok seperti itu di pihak kami adalah hal yang menguntungkan, aku tidak menyangkan kami akan berhubungan dengan sosok yang setara denganku, jenderal utama menara sihir kuno". Ucapnya dalam hati.


Dalam sekejap mereka sampai di menara sihir kuno sudah ada lelaki muda yang menunggu mereka, dia adalah pangeran pertama dari menara sihir kuno, dengan penampilan yang berwibawa tapi seperti berandalan, dengan rambut merah yang di biarkan ke samping dan tinggi sebahu arssya.


Beberapa saat sebelumnya...


"Ayah, apakah kau sudah mendapatkan kabar dari adik kedua?!!" pria itu tergesa-gesa bertanya kepada seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun lebih yang sedang duduk di sebuah ruang tamu yang mewah dengan interior emas..


Pria yang duduk itu bernama Araxia Fortern, kepala keluarga Fortern dan sekaligus ayah Kania saat ini


Araxia fortern berpenampilan layaknya seorang raja, yang berwibawa dan penuh akan semangat pertarungan, rambut putih dengan potongan pendek, tinggi 2 meter dan tubuh yang kekar.


Mendengar peryataan ayahnya, pria itu menjadi penasaran tentang siapa orang tersebut.


"Menarik?, Siapa yang begitu hebat sampai dikatakan menarik oleh paman?, Kalau dia kuat, aku akan mengujinya sendiri". Ucap pria muda itu dengan semangat.


"Memang itu yang aku ingin kamu lakukan, saat pria itu tiba disini, tes lah seberapa kuat dia, jika dia dapat bertahan dari beberapa gerakan mu, itu berarti dia layak bergabung dengan kita".


Tepat setelah dia melihat mereka muncul di gerbang teleportasi, pria itu menerjang kearah gerbang teleportasi, dan menargetkan pria bertopeng itu.


"Jadi kau adalah orang yang dimaksud paman Zia ya!, Aku akan mengetes kemampuanmu apakah kau la-" Tanpa dia sadari, bahkan sebelum mendaratkan serangan dia sudah mati di tempat


Melihat kejadian itu, Kania menjadi bingung apa yang terjadi, sampai dia menyadari kakaknya sudah tiada.


"Bagaimana kau bisa berbuat seperti itu, dia adalah kakakku!, Kau seharusnya tidak berbuat seperti itu!!"


Dari kehampaan, datang seseorang dengan hawa membunuh yang gila yang diarahkan kepada arssya, dia adalah kepala keluarga Fortern dan pemimpin menara sihir kuno Araxia Fortern.


"!!!". Kania terkejut menyadari seseorang menyentuh bahunya hingga dia menoleh ke belakang dan melihat ayahnya sudah ada tepat di dekatnya.


Setibanya disana, dia langsung menanyai arssya.


"Bagaimana kau melakukannya? Kau sedari awal memang tidak berniat membunuhnya kan?"


arssya hanya mengangguk mendengar pertanyaan lelaki itu.


"Lihatlah kondisinya kania, dia hidup kembali".


Dia juga bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia tau kalau Arssya lah yang melakukannya.


Saat Kania melihat kakaknya yang terbaring di lantai, dia menyadari hal yang janggal.


"Kenapa kakakku bisa hidup kembali? padahal jelas-jelas dia baru saka mati, arssya, apa yang kau lakukan?". Merasa heran akan yang terjadi, Kania langsung bertanya kepada Arssya.

__ADS_1


"aku hanya merasa aneh saat dia tiba-tiba ingin menyerang ku, walau aku atuh pasti kau yang memerintahkannya"


Melihat arssya yang tau segalanya, Araxia tersenyum.


"Kau memang mengerikan, kalau sedari awal kau memang ingin menjadi musuh kami, sedari kami pasti sudah di bantai olehmu"


"Sedari awal kan sudah kubilang jangan aneh-aneh, kau memang selalu melakukan hal seperti itu ya kakak" Zia menegur kakaknya.


setelah beberapa percakapan lainnya, araxia mulai serius bertanya kepada arssya.


"Bagaimana kau melakukannya?"


"bagaimana apanya?" Arssya menjawab sambil tersenyum.


Araxia kesal dengan jawaban Arssya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang lebih jelas dan menjelaskan beberapa hal.


"Maksudku adalah, bagaimana kau bisa membunuh Elvio?, Para petinggi di menara sihir kuno semuanya adalah seseorang yang memiliki keabadian, dan kami semua tidak terikat yang namanya kehidupan dan kematian, bagaimana kau bisa membunuhnya?".


Mendengar pertanyaan Araxia, arssya menunjuk keatas dan berkata:


"Itu karena mataku, dunia ini terlindungi dari mataku karena aku menciptakan penghalang, tapi barusan aku sedikit membuka penghalang itu dan membuatnya tertuju kepada bocah itu".


Setelah mendengar itu, Araxia semakin terkejut dengan pernyataan Arssya.


"Apakah itu mungkin untuk di lakukan?".


"Hah!, tidak ada yang tidak mungkin bagiku, bahkan jika kau tidak terikat dengan yang namanya hidup dan mati, mataku tetap bisa memusnahkan, menghapus, dan menghancurkan segalanya, apalagi hanya berbagai bentuk keabadian". Arssya menjawab dengan nada tenang, namun terdengar jelas.


"Kau benar-benar menyembunyikan semuanya ya, kukira kau hanya sangat kuat, tetapi kau justru tak terkalahkan". Dengan mata tajam Kania menatap Arssya.


Melihat Kania yang seperti itu, arssya lagi-lagi mengelus kepalanya.


"Ayolah, itu hanya sesuatu yang tidak penting, tidak perlu kau pikirkan hal seperti itu".


"hmph". Kania memalingkan wajahnya.


Melihat tingkah Kania, ini adalah pertama kalinya dia bersifat berbeda, di mulai dari pipinya yang sering memerah, malu-malu, dan tampak seperti anak kecil yang merajuk, hanya satu hal yang bisa menjelaskan situasi saat ini, yaitu Kania telah jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Karena sudah malam, sebaiknya kita beristirahat, kau bisa memilih kamar manapun yang kau inginkan arssya, ada banyak kamar disini, dan... Hufft, aku akan memanggil pelayan untuk membawa Elvio kembali ke kamarnya". Ucap Zia sembari menatap Elvio yang tergeletak di lantai.


Araxia kembali ke ruangannya sembari berkata:


"Benar, besok kita akan membicarakan tentang apa yang akan kita lakukan kepada dalang di balik ini semua dengan seluruh anggota menara sihir kuno, aku juga akan mengabari seluruh anak dan istriku yang lain, terutama ibu Kania, dia harus tau apa yang terjadi pada putrinya".


Setelah semua selesai, arssya termenung di kamarnya sembari melihat bintang-bintang.


"Hmm, ini benar-benar berbeda saat aku menggunakan tubuh asliku, rasanya benar-benar menyenangkan"


"Eh...". Arssya menyadari ada sosok wanita yang ada di depan pintu kamarnya, wanita itu hanya diam di depan pintu.


"Clak!". suara pintu terbuka secara tiba-tiba.


"Jika kau hanya diam di luar sini, kau bisa sakit, dan bagaimana kita bisa menikmati malam yang indah ini kania?". Melihat wajah Kania yang sangat merah, dia langsung menariknya ke kasur.


"Malam ini akan jadi malam yang menyenangkan, dan ini akan lebih lama dari waktu itu loh".


setelah mendengar perkataan Arssya, wajah Kania semakin memerah.


"bajingan!". Ucap Kania dengan nada yang sangat pelan namun jelas.


Posisi kania benar-benar terkunci, dengan Arssya diatasnya sembari memegang kedua tangannya, arssya mulai membuka baju Kania secara perlahan sampai tidak ada seutas kain pun yang tersisa di tubuhnya, Arssya juga membuka bajunya, Kania saat ini hanya bisa terdiam melihat tubuh yang begitu sempurna di hadapannya.


"Aku sudah tidak tahan lagi!". Arssya tersenyum dan menarik tubuh kania lalu memeluknya, setelah saling tatap sebentar, arssya menciumnya dengan lembut.


Malam yang indah di menara sihir kuno terjadi tepat setelah mereka baru saja datang.

__ADS_1


__ADS_2