
Kruk.....kruk.. Perut Dini berbunyi
"Hmmm sepertinya aku sudah lapar" batin Dini yang masih memejamkan mata,.
Dini mengucek-ngucek matanya agar dia bisa melihat dengan jelas,. Setelah penglihatannya normal betapa terkejutnya dia melihat Rendy tidur disampingnya di tambah lagi tangan Rendy memeluk pinggannya.
"aaaaaaa" Dini berteriak tapi dengan cepatnya dia menutup mulutnya dengan tanganya,
"aku tidak membuatnya terbanguk kan??" ucap Dini pelan sambil melihat wajah Rendy,,.
"apa-apan Dini, kenapa pakai acara teriak sih untung teriakanmu tidak membangunkan singa sedang tidur" batin Dini
"Aduh bagaimana ini, kalau aku bergerak pasti dia akan terbangun dan memarahiku Aduh" batin Dini sambil mebayangkan betapa seramnya ketika Rendy marah
"Ah tidak,,,tidak aku tidak mungkin membangunkannya, tapi aku sudah sangat lapar,"batin Dini lagi
"Ah aku punya ide, kalau aku tahan nafas dan menyorongkan tubuhku pasti dia tidak akan terbangun" ucapnya pelan sambil mempraktekan ide yang didapatnya.
"yes tinggal sedikit lagi" ucap Dini pelan sambil berusaha menyingkirkan tubuhnya dari pelukan Rendi akan tetapi Rendy dengan sengaja menarik kembali tubuh Dini kedalam pelukannya dan membuka matanya.
"Maaf tuan, maaf telah membangunkan tuan" ucap Dini gugup,.
"Mau kemana kamu??" tanya Rendy yang terus menatap Dini.
"Maaf tuan, Saya lapar tuan" ucap Dini polos, Rendy yang mendengarnya pun tersenyum
"Ngapain dia tersenyum, ini lagi tangannya ngapai masih memeluku" batin Dini kesal
"Bi Ina akan mengantarkan makanan malamnya kesini, tidurlah sedikit lagi" ucap Rendy sambil mempererat pelukannya
"Apa-apaan ini, dia cari-cari kesempatan ya, tunggu sepertinya dia terlalu erat memeluku" batin Dini
"Maaf tuan, saya kesulitan bernafas"ucap Dini pelan takut membuat Rendy marah, Rendy yang mendengarnya pun melonggarkan pelukannya.
Tok tok tok
"Maaf tuan, saya mengantarkan makana nona dan tuan muda" ucap Bi Ina di balik pintu
"Iya sebentar" ucap Dini sambil melihat kearah Rendy yang masih terus memeluknya
"Maaf tuan Bi Ina sudah datang mengantarkan makanannya" ucap Dini pelan, Rendy yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya.
"Akhirnya selamat" batin Dini sambil buru-buru turun dari tempat tidur dan munuju pintu
"Masuk saja Bi, letakan makanannya dimeja" ucap Dini setelah membuka pintu, Bi Ina pun masuk dan menyimpan makanan nona dan tuan muda dimeja, setelah selesai menyimpannya Bi Ina pamit keluar,
"Sudah saya simpan nona,Permisi nona" ucap Bi Ina Setelah sampai di depan pintu tempat Dini perdiri
"Iya, makasih ya Bi" ucap Dini sambil tersenyum, "sama-sama nona" jawab Bi Ina sambil melangkah pergi,.
__ADS_1
Dini menutup kembali pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan dirinya.setelah selesai Dini keluar dari kamar mandi dan melihat Rendy sudah duduk di meja dimana Bi Ina meletakan makanannya tadi.
"Ngapain masih berdiri disitu, apa perlu saya gendong" ucap Rendy yang membuat Dini buru-buru menuju meja dimana Rendy duduk.
"Duduk dan makanlah" ucap Rendy singkat Dini pun duduk di depan Rendy dan mengambilkan makanan untuk Rendy dan juga dirinya, mereka makan bersama dengan sangat lahap.
setelah selesai makan Rendy berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan dirinya sementara Dini mengantarkan sisa makanan kedapur. Bi Ina yang melihat Dini mengantarkan sisa makanan ke dapur langsung menghpiri Dini.
"Maaf nona, nona bisa memangil saya untuk mengambil sisa makanannya, nona kan baru sembuh" ucap Bi Ina
"tidak apa-apa Bi, saya bisa sendiri dan juga saya sudah tidak apa-apa" ucap Dini sambil tersenyum,
"Owch iya Bi, darimana datangnya orang-orang itu" tanya Dini sambil memalingkan pandangannya ke arah beberapa pelayan yang sedang bekerja.
"Oh itu, teman-teman bekerja Bi Ina waktu masih dirumah taun besar" jawab Bi Ina
"Apakah tuan muda yang menyuruh mereka kemari??" tanya Dini penasaran
"Iya nona" jawab Bi Ina
"Owch gitu, oh iya Bi, Bi Ina tidak perlu memanggil saya nona, pangil saja Dini, saya suka heran Meraka selalu memangilku nona" ucap Dini polos, Bi Ina yang mendengarnya pun tersenyum
"Sudah menjadi tradisi keluarga memanggil seorang perempuan dengan sebutan nona"
"Hmmm, pantasan saja Bima terus memangilku nona walaupun aku sudah melarangnya" batin Dini
"Ya udah Bi, Dini naik keatas ya" ucap Dini sambil melangkah pergi meninggalkan Bi Ina yang Masih berdiri di dapur.
Ayu (hallo Din, bagaimana keadaanmu??, kamu baik-baik saja kan??) tanya Ayu
Dini (iya aku baik-baik saja)
Ayu (alhamdulillah, legah rasanya hatiku)
Dini (Yu apakah kamu memberitahukan ibu Dewi bahwa aku sakit??)
Ayu (Ibu Dewi sudah mengetahui duluan sebelum aku memberitahukannya, entah siapa yang memberitahukannya) ucap Ayu
Dini (ah baguslah kalau begitu, tapi siapa ya yang memberitahukan Ibu Dewi??)
Ayu (entahlah aku pun tak tau, ow iya Din besok kamu sudah masuk??)
Dini (iya Yu, aku bosan kalau cuma tinggal dirumah)
Ayu (asik kita bisa bertemu lagi, aku sangat merindukanmu tau dan satu lagi ada yang ingin aku ceritain padamu)
Dini ( apa sih yang ingin kamu ceritakan??)
Ayu (nanti saja pas ketemu, tidak bagus kalau ngomonya di telefon)
__ADS_1
Dini (baiklah, aku tutup ya)
Ayu ( iya Din sampai jumpa di kantor) ucap Ayu sambil mematikan telefonnya
Setelah selesai menelfon Dini berjalan menuju meja rias untuk memakai beberapa perawatan kulit.
"Habis nelfon dengan siapa??" tanya Rendy yang terus fokus di layar lebtopnya
"Dengan Ayu tuan" jawab Dini sambil melihat kearah Rendy yang masih fokus ke layar leptopnya
"Apaan sih ngapai dia tanya-tanya, katanya tidak perlu mencampuri urusan pribadi masing-masing" batin Dini kesal.
Setelah selesai melakukan perawatan kulit Dini berjalan menuju tempat yang biasanya dia tidur yang tidak lain adalah di lantai yang beralaskan karpet, Rendy yang melihatnya pun menegurnya.
"Ngapai kamu??" tanya Rendy
"Mau tidur tuan" jawab Dini sambil merunduk
"Naik keatas tempat tidur!!" perintah Rendy
"Terus tuan tidur dimana??" tanya Dini polos
"Tidur di sampingmu lah" jawab Rendy santai, Dini yang mendengarnya pun terkejut
"Tapi..tuan" ucap Dini
"Tidak ada perintah untuk membantah" ucap Rendy yang mulai kesal,.
Dini pun terpaksa naik keatas tempat tidur sambil membaringkan tubuhnya ketempat tidur, Rendy yang melihatnya pun menutup lebtopnya dan berjalan menuju tempat tidur.
"Maaf tuan, tuan jangan berbuat yang macam-macam ya" ucap Dini polos, rasa khawatir sangat terlihat jelas diwajahnya, Rendy yang mendengarnya pun tersenyum licik sambil membaringkan tubuhnya di samping Dini.
"Aku tidak berjanji" ucap Rendy santai sambil memainkan hpnya. Sementara Dini terlihat sangat takut. Rendy yang melihatnya pun menyimpan hpnya dan memeluk tubuh Dini, lagi-lagi membuat Dini terkejut dan semakin takut Rendy bisa merasakan tubuh Dini yang gemeteran karena takut.
"Tidurlah, saya tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu" ucap Rendy yang terus memeluk Dini,.
Dini sedikit legah setelah mendengar apa yang dikatakan Rendy, tak perlu waktu lama mereka pun tertidur dengan posisi Rendy terus memeluk istrinya.
Keesokan paginya Dini melakukan rutinitasnya setiap pagi, setelah Dini selesai menyiapkan air untuk suaminya, Dini berjalan menuju tempat tidur untuk membangunkan Rendy
"Tuan...tuan, airnya sudah siap" ucap Dini sambil berdiri di samping tempat tidur.
Dini yang melihat tidak ada reaksi dari Rendy, Dini memberanikan diri naik ketempat tidur dan berusaha membangunkan suaminya
"Maaf tuan airnya sudah siap" ucap Dini sambil memegang bahu Rendy, Dini terkejut karena kini Rendy telah memegang tangannya dan menari Dini kedalam pelukannya.
"Maaf tuan telah memaksa tuan untuk bangun" ucap Dini yang kini sudah berada dalam pelukan Rendy,. Dini berlahan-lahan keluar dari pelukan Rendy akan tetapi lagi-lagi Rendy manarik Dini lebih dekat denganya.
"Tetaplah seperti ini" ucap Rendy sambil terus memeluk Istrinya.
__ADS_1
"tuan janganlah bersikap seperti ini!!, aku takut aku akan mencintaimu jika tuan selalu bersikap seperti ini" batin Dini sambil melihat wajah tampan suaminya.