
Tuk
.
.
.
.
Tuk
Tuk
Suara langkah kaki ku dan paman tin menaiki tangga menuju kamar bibi noa.Jujur itu pertama kalinya aku menapaki ke rumah ini.Ayah tidak pernah memberi tahuku bahwa dia mempunyai adik di kota ini.Paman ini orangnya seperti kaku,disini juga tidak ada anak seusiaku.
Ceklek
"hallo bibi no_...." ucapku terputus.
Aku kaget melihat seorang perempuan yang terbaring di kasur dengan mata yang membengkak dan kulit wajah yang sedikit membiru.Dia kelihatan banyak sekali pikiran dan masalah hidup.Wajahnya,sedikit membuatku takut.Dia menatap kearah ku cukup lama sampai tiba-tiba ia mengangkat sudut bibirnya.
"Apa dia putriku?"
Aku dan paman hanya saling melempar pandangan.Paman tidak memberiku penjelasan tentang kondisi bibi saat ini.Ketika aku melihat kembali kearah bibi noa,tiba-tiba...
Grep!
Bibi mendekap tubuh ku dengan erat,bahkan,paman saja kaget dibuatnya.
"kau anakku!"
Aku bingung dengan kondisinya,bagaimana aku menjelaskannya ya?
"bukan!dia bianca putri kennan" Jawab paman yang masih sama datar seperti tidak ada kejadian.
Pelukan itu mulai merenggang,tak lama,dia melepaskan ku.Dia terdiam dalam duduk nya sambil menunduk.
"hehe putri artala ya?maaf yah?bibi membuatmu takut,pasti kau merasa bibi ini seperti zombie." Ucapnya padaku.
__ADS_1
"dia lumpuh" Ucap paman tiba-tiba.
Aku langsung melihat paman dengan tatapan meminta penjelasan.
"setelah kehilangan anak kami,dia depresi berat,dan suatu hari dia jatuh dari tangga dan tak bisa apa-apa.Ternyata,dia lumpuh."
"apa-apaan paman ini,dia bercerita dengan wajah triplek begitu dan tidak ada kesan sama sekali?apakah dia tidak sedih juga?" Tanyaku dalam hati.
Aku kembali menatap bibi yang menurutku keadaannya cukup memprihatinkan.
"Jadi tadi bibi,menyeret tubuh bibi hanya karena mengira kalo bian anak bibi?" Tanyaku memberanikan diri.
Bibi hanya mengangguk samar dan tatapannya seolah-olah tak ada kehidupan dan dingin.
Paman menggendong tubuh bibi diatas kasur dan sedikit mengelus surai rambut bibi.
"istirahatlah dengan tenang" Ucap paman pelan tapi masih bisa kudengar.
Setelah itu paman mengajakku bermain kuda-kudaan,menggambar,bercerita dan lainnya.Aku juga heran mengapa wajahnya tidak seperti ayah yang suka senyum?wajah paman ini hanya ada satu ekspresi yaitu datar.
Setelah makan malam,paman mengantarku ke kamar,yang dimana kamar itu bersebelahan dengan kamar bibi.Setelah paman keluar dari kamar,aku langsung berbaring dan memejamkan mata sebentar.Aku mengingat bagaimana orang-orang ingin sekali menculik ku dan menakuti aku.Tapi disini,kenapa aman-aman saja?
Tok
tok
Tok
"bibi aku masuk ya?"
"........."
Walau tak ada jawaban aku tetap masuk kedalam kamar itu.Lampu di kamar ini cukup redup dan sedikit gelap.Diujung penglihatan ku,terlihat bibi sedang duduk dengan kaki yang selonjor dan menatap luar jendela yang hanya terdapat hutan.
Aku mendekati bibi dan menyentuh kakinya,bibi langsung menoleh ke arahku.Sepertinya,dia baru menyadari keberadaan ku.Tatapannya berubah sedikit hangat.
"kau kecil sekali.....tapi sayang bukan anakku" Ucapnya kembali sedih.
"bibi jangan sedih ya,bibi bisa menganggap bian seperti anak bibi sendiri,bian tidak apa-apa kok,bian juga lama disini karena ayah dan ibu sedang keluar kota.Oh ya,apakah bibi lumpuh?" Tanyaku.
__ADS_1
"iya"
"tunggu sebentar ya bi,"
Aku menggigit jariku hingga berdarah.
Ukh
Bibi kaget melihatku,aku segera menodong jariku kearah bibi.
"bibi bisa tolong bantu bian jilatkan darahnya?bian nggak suka dicuci atau diobati dengan cara lain,bian mau dijilat aja"
Bibi menghela nafas,dia mengambil jariku yang berdarah dengan lembut dan menjilat hingga darahku berhenti keluar.Bagus!
"terima kasih bibi,coba perlahan bibi gerakkan kakinya" Ucapku membuat bibi sedikit mengerutkan keningnya.
Bibi melakukan apa yang aku hendaki.Perlahan-lahan dia mulai menggerakkan kakinya.
Kresek
kresek
Kresek
.
.
.
.
.
"ahhh....ah-hhh k-kau??ba-bagaimana-bagaimana bi-bisa?" Ucap bibi kaget dan berubah menjadi gagap.
"heheheheh bian kan hebat" Jawabku full senyum menampakkan deretan gigiku yang mungil nan putih.
"ternyata benar-benar bisa memulihkan..." Tiba-tiba terdengar suara paman yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke bingkai pintu dengan tangan bersedekap dada.
__ADS_1
"dasar si paling triplek"