
Jihyo meregangkan seluruh otot dan sendinya setelah berhasil menyalin 50 lembar lirik lagu kedalam draf komputernya. Ia menoleh kearah pria yang tengah sibuk menekan tuts piano. Mengulang beberapa nada dan menyusunnya menjadi sebuah melody yang mengalun indah.
Jihyo menguap lebar. Matanya terfokus pada jam dinding yang tertempel di sudut ruangan. Jam menunjukkan pukul 23.45 malam. Dia mendengus kesal kearah pria yang sedang duduk membelakanginya.
"PD-nim ini sudah hampir jam 12 malam. Bisakah kau lanjutkan menyusunnya besok saja?"
Pria itu menoleh pada jam dinding yang tergantung. Dia mendesah. Sebenarnya dia juga ingin menyudahi ini, tapi tuntutan deadline yang mengejar tidak bisa memberi kelonggaran waktu. Dia harus menyusun musik untuk rencana comeback terbaru group asuhannya. Demi mendapat lagu yang terbaik. Dia harus rela memotong jam tidurnya hanya untuk menyusun musik agar mendapat lagu yang sesuai ekspetasinya.
"Tunggu sebentar lagi. Aku masih menyusun beberapa not yang belum sempurna."
Jihyo berdecak sebal. Bukan tanpa alasan karena dia sudah cukup hafal jika bosnya mengatakan sebentar lagi sudah pasti itu bukanlah rentang waktu 10 atau 15 menit saja. Bisa dipastikan mata Jihyo akan terjaga untuk dua atau tiga jam kedepan. Yang artinya gadis ini harus menahan kantuk lebih lama lagi.
"Sebenarnya not apa yang belum sempurna? Kau dari tadi sibuk mengulang melody yang kau buat dua jam yang lalu. Bahkan aku sampai hafal karena kau terlalu banyak mengulangnya."
"Kau mengaturku? Jadi siapa yang berprofesi sebagai producer disini? Aku atau kau Park Jihyo?" Sebuah kalimat terlontar dari mulut pedas pria didepannya. Kalau sudah seperti itu tak ada pilihan lain selain bungkam.
"Tentu saja Min Yoongi PD-nim." Jawab Jihyo dengan nada sedikit di lebih-lebihkan.
"Daripada kau sibuk mengurusi urusanku lebih baik kau lanjutkan mengetik lirik itu. Apa kau sudah mengerjakan semuanya?"
"Tentu saja aku akan mengerjakannya. Aku cepat dalam hal ketik mengetik. Aku menggunakan 10 jariku secara bersamaan. Bukan seperti dirimu. Mengetik dengan dua jari." Balas Jihyo tak mau kalah. Dia benar-benar sudah sangat kesal dengan bosnya ini.
Sebuah decakan kasar terdengar dari mulut Yoongi. Dia memutar kursinya 180 derajat menghadap gadis cerewet itu. "Hentikan celoteh tidak bergunamu itu gadis bodoh. Kau ingat siapa aku? Aku bosmu dan kau bawahanku. Jadi belajarlah untuk menjaga batasanmu." Mulut pedas Yoongi mulai bekerja. Menyuarakan isi kepala dinginnya.
"Ya,Ya, kau benar PD-nim. Harusnya aku bisa menempatkan diriku. Apalah arti diriku yang hanya sebagai alat pelunas hutang." Sarkasnya lalu melanjutkan kembali aktivitas mengetiknya tanpa melihat tatapan bengis Yoongi yang sedari tadi tengah mengintimidasi nya.
"Salahkan dirimu sendiri yang terlalu ceroboh sampai membuatmu terjebak disini Jihyo. Jadi jangan pernah kau melimpahkan semua kesalahanmu pada orang lain. Ini semua terjadi atas dasar dirimu sendiri."
Jihyo terdiam. Secara langsung mengiyakan perkataan Yoongi. Memang dirinya sendiri yang membuat kesalahan ini. Ingatannya menerawang pada dua tahun yang lalu. Andai saja waktu itu dia tidak melakukan tindakan ceroboh, Jihyo yakin saat ini dia tidak akan berada disini.
Jihyo terpaksa harus bekerja disini demi melunasi hutang patung yang ia pecahkan. Miris memang hanya karena patung kecil dirinya harus terkungkung didalam neraka jahanam ini. Mungkin bagi sebagian orang, dapat bekerja dibawah naungan MIN Entertaiment adalah sebuah keberuntungan. Tapi tidak dengan Jihyo.
Gadis ini harus menahan tekanan batin tiap hari menghadapi seluruh staff yang seperti iblis. Belum lagi Min Yoongi yang selalu menyusahkannya. Hampir tiap hari Jihyo harus menemani Yoongi menyusun musik dimalam hari. Itu membuat jam tidurnya terganggu. Sementara pagi hari gadis ini harus kembali bekerja sebagai staff seperti yang lainnya. Kalau dia sih enak. Jam berapapun pria itu ingin bangun tak akan ada yang melarangnya. Toh dia bos disini.
Salahkanlah kebiasaannya yang seperti kelelawar. Tidur disiang hari dan bekerja di malam hari. Kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang buruk jika hal itu tidak merepotkan Jihyo. Karena kebiasaan aneh bosnya ini malah membuat Jihyo ikut terseret kedalam dunia malamnya. Jika saja bukan karena hutangnya yang menumpuk mungkin Jihyo akan memilih melarikan diri dari sini. Bekerja di kedai jauh lebih baik daripada disini.
Tanpa memperdulikan perkataan Yoongi tadi, Jihyo langsung melanjutkan perkerjaannya. Mungkin bungkam akan lebih baik daripada terus berdebat dengan pria ini.
...*****...
Hampir dua jam berlalu tapi sang producer masih berkutat dengan alat musik didepannya. Gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya. Dia melirik kembali kearah Yoongi.
"PD-nim ini sudah jam 2 pagi. Apa kau masih mau menyusun musikmu ditengah malam seperti ini? Tak bisakah kau kerjakan besok saja?" Jihyo membuka dan menutup matanya. Gadis itu sudah sangat mengantuk. Tapi apa daya dia tidak boleh tertidur. Jihyo hanya boleh tidur jika Yoongi sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Kenapa kau mengaturku. Siapa yang sebenarnya bos disini? Aku atau kau?" Suara Yoongi terdengar pelan tapi penuh intimidasi.
"Tentu saja yang mulia Min PD-nim. Apalah aku yang hanya pekerja rendahan disini." Jawab Jihyo dengan nada mengejek. Dia benar-benar kesal. Jihyo menutup mulutnya beberapa kali menahan rasa kantuk yang terus menyerang.
"Kau sudah mengantuk? Ingin tidur?" Jihyo tersentak dengan pertanyaan Yoongi tapi secepat kilat gadis menganggukkan kepalanya. Berharap kali ini bosnya dapat memberi kelonggaran. Karena dia sudah benar-benar mengantuk.
"Kalau begitu tidurlah."
__ADS_1
"Benarkah? Aku bisa tidur lebih dulu daripada dirimu?" Sambut Jihyo dengan riang. Tumben hari ini bos nya sangat baik.
"Iya, tapi tidurlah dengan mata terbuka." Mendengar itu senyum di wajah Jihyo menghilang. Matanya menatap tajam Yoongi yang masih sibuk bekerja. Jihyo menarik kembali ucapannya yang mengatakan bos nya baik. Sampai kapanpun Min Yoongi tak akan pernah berubah menjadi orang yang baik.
Sial..
Dia memang manusia tidak berperasaan. Apa maksudnya tidur dengan mata terbuka? Itu sama saja menyuruhnya untuk tetap terjaga. Dasar Min Yoongi brengsek, keterlaluan, kejam. Pantas saja dia mendapat julukan Devil Prince dari semua orang. Dia memang kejam seperti iblis. Perkataannya pedas seperti Samyang Ramyeon. Kalian tahu Mie dengan merk produksi Samyang. Mie yang terkenal akan cita rasa pedasnya. Begitulah kira-kira jika menggambarkan sosok Min Yoongi.
"Berhenti menatapku seperti itu. Aku tahu kau sedang mengumpat didalam hatimu."
Oh shit!!! Lihatlah, si brengsek itu bahkan bisa membaca apa yang ada dipikiran lawan bicaranya. Huft! Jihyo jadi menyesal pernah menyukainya dulu. Dia kira dulu Yoongi adalah Prince Charming yang selama ini ia impikan. Tapi ternyata dia tak lebih dari devil prince atau bastard prince. Ah.. Bahkan julukan itu masih lebih bagus daripada kelakuannya ini.
Jihyo menghela nafasnya. Mencoba mengumpulkan semua kesabarannya.
"Aku tidak pernah mengumpatmu PD-nim."
"Lalu kalau bukan itu apa yang kau pikirkan? Menyesal pernah menjadi pacarku dulu?"
Wah.. Dia bisa membaca pikirannya lagi...
"Aku tidak memikirkan apapun PD-nim. Tapi untuk pertanyaan terakhirmu itu, kau benar. Aku menyesal pernah berpacaran denganmu. Harusnya aku tahu bahwa kau tak akan pernah menyukai gadis Nerd sepertiku. Harusnya aku tak bodoh menerimamu dulu menjadi kekasihku. Harusnya aku tahu bahwa kau hanya mempermainkan ku. Kau tahu PD-nim, kau orang yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal." Rasa kantuk Jihyo menghilang hanya karena dia meladeni ucapan Yoongi.
"Kau memang harus menyesal Jihyo. Tapi harus kau tahu, aku tidak menyesal pernah pacaran denganmu. Setidaknya masa SMA ku lebih berwarna karena pernah membuat taruhan konyol itu." Yoongi tersenyum saat membayangkan dirinya dulu yang bisa-bisanya menerima taruhan dari temannya untuk mengencani Jihyo selama tiga bulan. Setelah itu ia harus memutuskan Jihyo didepan semua orang. Cih! Kenangan yang lucu menurutnya
"Kau benar PD-nim, karena kau juga aku harus menanggung malu seumur hidupku. Dan karena kau juga aku harus pindah sekolah untuk menghindari ejekan teman-temanku. Selamat tuan Min. Kau telah berhasil menghancurkan hidup seorang gadis Nerd sepertiku."
Mendengar itu Yoongi terdiam. Dia tak mengucapkan sepatah katapun. Hening menyelimuti keduanya. Hanya terdengar dengungan suara CPU dan bunyi beep dari lampu monitor yang berkedip.
Sementara Jihyo memang tinggal distudio ini. Dia mendapat jatah kamar kosong disebelahnya. Gadis itu memilih tinggal distudio daripada menyewa apartement. Gajinya disini tak seberapa. Belum lagi dipotong untuk melunasi hutangnya.
"Baiklah kalau begitu. Selamat tidur Min Yoongi PD-nim." Teriak Jihyo karena pemuda itu sudah menutup pintu kamarnya.
Jihyo masuk keruangan kecil disudut gudung ini. Jihyo merebahkan badannya di ranjang kecil itu. Dia menghela nafasnya. Hari ini sungguh melelahkan bukan. Semoga dia bisa terus menjalani harinya dengan baik.
Semangatlah Jihyo. Kau pasti bisa melewatinya.
Selamat tidur.....
...******...
"Jihyo cepat kau salin data ini kedalam Flasdisk setelah itu kau print dan bagikan pada semua kru. Lalu fotocopy lirik lagu ini dan bagikan pada personil Bangtan. Jangan lupa berikan juga demo lagu yang sudah ku buat." Yoongi mengucap kalimat itu seperti sedang merapal doa. Cepat dan lugas.
"Hei, Min Yoongi bisakah kau bicara secara perlahan dan berikan aku tugas satu persatu. Mendengar kau bicara saja sudah membuatku pusing. Belum lagi aku harus mengerjakan semua pekerjaan ini dalam satu waktu sekaligus." Rutuk Jihyo. Pemuda ini selalu saja membuatnya sibuk setengah mati. Sampai Jihyo tak pernah punya waktu istirahat.
"Apa kau bilang tadi? Coba ulang sekali lagi? Min Yoongi? apa aku tak salah dengar. Kau memanggilku Min Yoongi. Sejak kapan kau seberani itu Park Jihyo? Kau lupa siapa aku? Aku bosmu dan kau bawahanku. Harusnya kau bersikap hormat padaku." Yoongi mendekati Jihyo. Memperingatkan gadis ini agar mengingat dimana statusnya berada.
"Buat apa aku harus hormat dengan orang sepertimu. Kau bahkan tak lebih baik dari paman pemilik kedai disebrang jalan. Lagipula aku bekerja disini karena terpaksa. Ku garis bawahi karena ter.pak.sa. Jadi jika kau sudah tak suka dengan cara kerjaku kau bisa pecat aku sekarang juga."
Mendengar ucapan Jihyo Yoongi tersenyum miring. "Ahh.. Kau benar juga Jihyo. Harusnya aku memecatmu saja dari dulu. Kalau begitu mulai besok kau tak usah bekerja disini lagi dan lunasi hutangmu padaku sebesar 1 Milyar won sekarang juga hem."
Jihyo membulatkan matanya. Dia lupa fakta bahwa Jihyo bekerja disini untuk melunasi semua hutang yang dia punya pada Yoongi.
__ADS_1
Mengingat itu Jihyo meringis pelan. Mungkin dia harus menginvestasikan seluruh hidupnya menjadi pekerja di MIN Entertaiment jika ingin hutangnya lunas.
Beginilah hidup di Korea. Kau harus bisa bertahan di era kapitalisme yang semakin kejam. Seperti dirinya kini. Harus berjuang membayar hutang pada Yoongi. Padahal kalau dipikir hutang Jihyo bahkan tak sampai 1% dari total kekayaan yang dimiliki keluarga ini. Tapi beginilah kenyataan hidup. Orang-orang serakah akan mementingkan uang daripada hati nurani.
Ini semua karena patung sialan itu. Andai saja Jihyo tidak memecahkan patung berharga milik Tuan Min mungkin sekarang hidupnya akan bebas. Andai saja dia tidak bertemu dengan Min Yoongi pasti dia tidak akan memecahkan patung itu.
Ahh... Ini semua ber akar dari pemuda itu. Kenapa Jihyo harus bertemu kembali dengannya setelah sekian lama gadis itu tak pernah melihat Yoongi. Semua kesialan yang dia dapat berawal dari Yoongi. Yoongi yang dulu dan yang sekarang sama-sama membawa kesialan bagi Jihyo.
Dulu dia mempermalukannya karena menjadikan Jihyo sebagai bahan Taruhan dan sekarang sebagai alat pembayar hutang. Oh Tuhan, dunia ini begitu kejam. Sepertinya Jihyo harus membuat daftar blacklist untuk orang yang harus di hindarinya. Sudah pasti nama Min Yoongi akan tertulis di daftar pertama.
"Bagaimana Jihyo apa kau setuju?" Suara Yoongi mengembalikan Jihyo kedunia nyata.
"Huh... Maafkan aku PD-nim. Aku akan mengerjakannya sekarang juga." Kata itu lagi. Kalau sudah menyangkut hutang piutang gadis ini tak akan pernah bisa melawan Yoongi.
Mendengar itu Yoongi tersenyum. " Bagus, akhirnya kau tahu dimana posisimu Park Jihyo."
...******...
Hari ini gedung MIN Entertaiment terdengar bising. Hampir disetiap ruangan terisi oleh para traine dan idol yang sedang berlatih. MIN Entertaiment adalah perusahaan agensi yang sudah mendebutkan banyak idol populer seperti BTS dan Twice. Jadi jangan heran jika banyak traine yang menggantungkan nasibnya disini.
Min Entertaiment adalah perusahaan agensi terbesar di Korea Selatan. Selain bergerak dibidang entertaiment, perusahaan ini juga melebarkan sayapnya di bidang properti yang tersebar hampir diseluruh kota di Korea Selatan. Jadi jangan heran jika melihat berapa laba bersih yang didapat setiap tahunnya. Perusahaan ini sudah berdiri 16 tahun lamanya. Didirikan oleh Min Junho ayahnya Yoongi. Tapi setelah ayahnya Yoongi meninggal satu tahun yang lalu, perusahaan ini jatuh ketangan putera tunggalnya. Siapa lagi kalau bukan Min Yoongi. Tapi pemuda itu lebih memilih menjadi producer dan menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepada orang kepercayaan nya.
Jihyo terlihat sibuk mengurus data para traine baru yang sudah di rekrut lewat audisi global yang telah mereka gelar beberapa waktu lalu. Datanya sangat banyak sampai membuat mata gadis itu sakit karena menatap layar komputer begitu lama.
"Jihyo buatkan aku kopi. Ingat jangan terlalu banyak gula." Hyera rekan kerjanya menyuruh gadis itu membuat kopi.
"Kau tak lihat aku sedang sibuk? Buatlah sendiri. Kau kan masih punya tangan dan kaki. Lagi pula aku bukan petugas pembuat kopi. Kenapa kau tidak menyuruh mereka saja untuk membuatnya?" gerutu Jihyo. Dia kesal karena sedari tadi pekerjaannya belum selesai tapi ada saja yang mengganggunya.
"Heii... Kau tak ingat kata PD-nim bahwa kami bisa menyuruhmu melakukan apa saja yang kami inginkan. Jadi cepat lakukan sekarang." Tatapan sinis Hyera membuat Jihyo memutar bola matanya malas.
Jihyo bangkit dari duduknya dan segera membuat kopi pesanan Hyera.
"Baiklah nona Hyera yang terhormat." Jihyo melangkah keluar dari ruangan yang penuh manusia berdosa itu. Tapi baru saja dia menapaki ujung pintu, sebuah suara kembali terdengar.
"Jihyo buat kan untuk juga ya."
"Aku juga."
"Aku juga satu ya."
Jihyo menghela nafas nya mendengar setiap suara yang keluar dari mulut rekan kerjanya. Selalu seperti ini. Anggap saja jeritan manusia yang sedang tersiksa api neraka. Sementara Jihyo adalah malaikat yang akan datang memberikan pertolongan pada mereka. Meskipun hanya berbentuk segelas kopi.
"Baik aku akan membuatkan kalian semuanya." Jihyo berlalu pergi meninggalkan mereka.
Ini memang gila. Pekerja MIN Entertaiment memang tidak ada yang memiliki hati nurani. Mereka tega memperlakukan Jihyo seperti pembantu. Ah.. Tapi salahkan Min Yoongi yang tidak memberi kejelasan dibagian mana harusnya dia berada. Pemuda itu hanya berkata pada seluruh karyawan bahwa mereka bisa menyuruh Jihyo melakukan apapun. Hal hasil dia sekarang menjadi kacung dari para staff disini.
Nasib memang tidak adil Jihyo. Kau mungkin memang ditakdirkan untuk selalu di injak dan di permalukan.
Jadi semangat......
...*****...
__ADS_1