
Selamat Membaca...
•••••
Di ruang ganti yang mana para kontestan mengganti pakaian mereka serta berdandan mempersiapkan semua keperluan mereka.
"Ira, kau masih tidak mengganti pakaianmu? Acara akan segera di mulai. Meski kita berada di urutan terkahir, tetap saja kita harus cepat," ucap Clara yang melihat Nadhira masih duduk santai tanpa mengganti pakaiannya dengan gaun yang akan dia kenakan pada saat lomba nanti, sedangkan yang lain hampir semua sudah keluar dari kamar ganti untuk melihat pertunjukkan. Bahkan lomba nyanyi serta menari sudah mulai.
Perlombaan fashion show, nyanyi dan menari langsung menjadi satu dalam satu panggung besar yang mana kontestan bernyanyi dan ada penggiring nya yaitu menari dan di selingi dengan pertunjukkan fashion show.
Sangat ramai! Itulah yang di dengar Nadhira dari dalam ruang ganti. Penonton begitu antusias menonton pertunjukkan di atas panggung. Selain mendengar nyanyian, melihat tarian, mata mereka di manja juga dengan model-model cantik dan tampan yang mengikuti fashion show.
"Tunggu sebentar lagi!" Ucap Nadhira untuk menjawab Clara.
"Bagaimana bisa nanti! Ini sudah dekat giliran kita," Clara begitu gelisah dan gugup, pasalnya giliran mereka untuk tampil sudah dekat.
"Tenangkan dirimu dulu. Jangan terlalu gugup, rileks kan dirimu dulu, aku akan berganti pakaian dulu," tanpa menunggu jawaban Clara Nadhira pun masuk ke bilik untuk berganti pakaian.
Tak ada orang lain lagi selain Clara dan Nadhira di dalam ruang ganti itu, pasalnya yang lain sudah bersiap di belakang panggung.
Lima menit kemudian Nadhira keluar dari bilik dengan pakaiannya yang lebih terlihat seperti gaun. Warna biru malam, panjang di bawah lutut dan sedikit mekar, lengah seperempat, sangat pas di badan Nadhira.
"Wah Ira, pakaian itu sangat pas untukmu. Sekarang dandan!" Clara pun mengambil alih untuk mendandani Nadhira. Dia sudah berdandan jadi dia tak memiliki pekerjaan lain dan dia juga tahu kalau Nadhira pasti tidak akan mendandani dirinya sendiri kalau tidak dia yang memaksa.
Sepuluh menit, akhirnya Clara selesai mendandani Nadhira. Dengan dandanan natural membuat Nadhira begitu cantik, mungkin tak akan ada yang mengenalinya kecuali melihatnya dengan teliti.
"Perfect!!!" gumam Clara menatap Nadhira. Tapi yang di tatap hanya acuh tak mempermasalahkannya hasil dandanannya bagaimanapun.
Bergegas Clara menarik Nadhira untuk menuju belakang panggung karena sebentar lagi giliran mereka untuk tampil.
"Sekarang kontestan terakhir mari kita sambut dengan tepuk tangan," MC memanggil kontestan terkahir yaitu Clara dan Nadhira.
Clara dengan gugup menaiki satu persatu anak tangga untuk naik ke panggung. Nadhira melihat itu menenangkannya.
"Rileks," ucap Nadhira sambil menggenggam tangan Clara.
__ADS_1
Clara tersenyum, bak pengisi daya semangat Nadhira mampu menenangkan Clara.
"Huuhh," menghela nafas membuang kegugupan, Clara dengan percaya diri menaiki panggung di susul oleh Nadhira yang sedikit tersenyum.
"Woo woo, Clara, bos, kalian sangat cantik," teriak Bagas menggema, membuat semua murid menatapnya.
Bukan Bagas saja, akan tetapi Rima dan lainnya juga memberi semangat kepada kedua teman mereka.
Clara mencoba bergaya sebisa mungkin meski terlihat sangat kaku. Lain lagi Nadhira yang benar-benar seperti jalan biasa, tapi meski begitu dia yang terkenal dengan hanya tersenyum tipis membuat orang yang mengenalnya baik bersorak dan bertepuk tangan, begitu juga Clara yang banyak di beri tepuk tangan.
Nadhira terkenal dengan kecerdasan dan kebaikannya di sekolah. Meski wajahnya datar tanpa ekspresi tapi bagi murid yang benar-benar mengerti dengan sifat Nadhira mereka akan memahami kalau Nadhira akan baik bagi yang baik padanya dan akan menjahati bagi yang jahat padanya. Dan begitulah Nadhira mendapat banyak pendukung dan teman. Meski tak seakan enam serangkai.
Pertunjukkan selesai dengan lancar, dan juga meski tak menang Clara dan Nadhira tidak menyesal untuk ikut. Mereka ikut hanya untuk senang-senang.
Meski tak mendapatkan juara akan tetapi mereka masuk dalam kontestan paling heboh pendukung nya.
Ya bagaimana mau menang, Clara yang masih canggung bergerak dan Nadhira yang dengan wajah datar tanpa senyumnya melenggak-lenggok pun tak bisa.
"Percuma berpenampilan sempurna, tapi tidak menang!" Sindiran Yunita. Yah meski selama ini Yunita diam, bukan berarti dia tidak menyindir, baik itu satu kali dalam sehari atau lebih yang pasti ada saja dalam satu hari dia menyindir atau apa lah, Nadhira juga tak paham dengan kelakuannya itu.
Malam itu malam yang tak terlupakan untuk Nadhira dan juga teman-temannya. Dia yang tak pernah mengikuti lomba apa pun sekarang mengikutinya bahkan sangat menikmatinya.
¤¤¤¤¤
Pagi ini para orang tua di kumpulkan untuk menerima hasil belajar siswa yang berupa rapor siswa.
Para orang tua gugup, apalagi anak mereka yang telah bekerja keras untuk dapat memuaskan orang tua mereka.
Nadhira mengantarkan ibunya dan dia menunggu di luar kelas. Tidak hanya dirinya tapi semua murid juga begitu.
Seperti yang di harapkan Nadhira menjadi peringkat pertama di kelas dan juga peringkat pertama di satu sekolahan.
Semua orang tua dan juga murid menatap iri ke arah Nadhira dan juga ibunya.
"Ibu bangga padamu Ira," ucap Puspa seraya memeluk Nadhira.
__ADS_1
Nadhira diam sambil membatin. "Begini kah rasanya di banggakan dan membanggakan? Begitu sangat menyenangkan,"
Nadhira tersenyum ke arah ibunya setelah ibunya melepaskan pelukannya.
¤¤¤¤¤
Liburan? Nadhira tidak terpikir hari liburnya untuk liburan tapi dia memilih untuk mencari pekerjaan dan pengalaman yang lebih luas.
Untuk mengisi waktu libur panjang nya, Nadhira mengisinya dengan melamar sebagai bodyguard.
Dia melihat papan pengumuman di jalan saat dia sedang berjalan-jalan sehabis dari Pasar Barang Antik.
Ngomong-ngomong Pasar Barang Antik, dia lupa menghubungi Kakek Hendra dan Tuan Niko.
Dia pun menghubungi kedua orang itu dan bertemu dengan mereka berdua di salah satu restoran di wilayah Pasar Barang Antik. Nadhira menjual beberapa barang antik miliknya yang menurutnya paling biasa. Mereka sangat senang.
"Bagus-bagus, kakek sangat puas dengan semua barang antik darimu ini kekeke," ucap Kakek Hendra sambil terkekeh.
"Benar! Saya ini juga sangat puas!" Tuan Niko.
"Saya senang mendengarnya," sahut Nadhira sambil tersenyum tipis.
Setelah pertemuan itu, Nadhira pun memilih jalan-jalan dengan jalan kaki dan saat itulah dia melihat lembaran bahwa di sebuah keluarga terkaya di Kota B yang mana marga mereka adalah Ling mencari seorang bodyguard untuk cucu nya.
Nadhira mulai tertarik dan melamar, akan tetapi saingan kemungkinan sangat banyak jadi dia akan mengeluarkan kemampuan bertarungnya sedemikian rupa untuk dapat menjadi satu-satunya yang di Terima.
Mengapa dia tertarik?
Pertama gaji nya sangat besar. Kedua, dia lagi tidak ada pertarungan, kalau pun ada, dia juga akan ambil. Ketiga, mencari wawasan baru.
¤
¤
¤
__ADS_1
Semoga Suka...