
Selamat Membaca...
•••
Sesampainya di dalam kelas, Nadhira langsung saja duduk di kursinya yang sudah di tentukan untuk ujian, yaitu di urutan nomor dua dari depan barisan ke 3.
Di depannya ada Marko, di samping kanan dan kiri nya juga termasuk murid pintar, bahkan di belakang nya ada Clara yang juga masuk dalam jajaran murid pintar.
Mengapa dia di kelilingi oleh murid pintar kelas itu?
Karena pernah kejadian, banyak yang mencontek kepada Nadhira saat ulangan. Bukan kepada Nadhira saja tapi juga yang lain. Mungkin karena solidaritas kepas XII IPS 1 satu terlalu tinggi, jadi mereka memberi contekan. Itu membuat seisi kantor haduh karena semua murid kelas XII IPS tidak ada yang mengulangnya dalam satu mata pelajaran. Bahkan itu mata pelajaran matematika.
Karena itu, tidak baik maka guru sudah sepakat mengumpulkan di satu tempat para murid pintar, lebih tepatnya di posisi tengah kelas agar murid lainnya dapat berusaha sendiri tanpa ada niatan mencontek. Toh jikalau ada yang nekat mencontek, jawaban dari teman yang mencontek besar kemungkinan salah, pasalnya mereka tidak duduk di dekat para murid pintar.
Para guru pun lebih ketat dalam mengawasi, bahkan terdapat 3-4 guru yang mengawasi ujian kali ini.
"Hei bos," sapa Bagas begitu semangat nya tapi waktu berikutnya terlihat sangat lesu.
"Hm?" Deheman Nadhira saat menaruh tasnya di kursinya.
Bagas mendongak. "Hmm? Aku?" Tunjuknya pada dirinya dan di angguki Nadhira. "Tidak ada! Hanya saja aku sangat tidak percaya diri, bisa menjawab soal ujian hari ini. Meski sudah belajar ya tetap saja bagiku sangat sulit," keluh Bagas.
"Belajar keras apanya, dia hanya bermain game pada ponselnya," ejek Clara.
"Yee, tidak setiap waktu kali," elak Bagas.
"Tenang saja, meski tidak dengan nilai memuaskan pastinya kita semua bisa lulus!" Ucap Nadhira meyakinkan. Dia ini menyemangati atau apa? Memang pada kenyataannya semua murid pasti lulus, akan tetapi entah mendapat nilai bagus atau tidak tergantung usaha mereka masing-masing dan jika ingin memasuki universitas pastinya mereka harus mendapat nilai bagus kalau tidak akan sulit untuk mendapatkan universitas bagus dan yang di inginkan.
"Itu aku juga tahu bos, tapi yahh sudah lah aku serahkan pada nasib saja," ucap Bagas pasrah.
Bel tanda ujian akan di mulai terdengar, mereka pun menyiapkan alat-alat yang di rasa diperlukan nanti.
Suasana menegangkan sudah biasa terasa di setiap ulangan, apalagi ini adalah ujian kelulusan.
Persiapan masa depan pun sudah mereka pikirkan, entah itu melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, mewarisi perusahaan keluarga maupun menikah muda.
__ADS_1
Tapi disini pasti ada orang-orang yang juga masih bingung akan membawa kemana masa depannya. Salah satunya adalah Nadhira. Dia masih belum memikirkan apa yang akan di lakukannya setelah lulus.
Membalas dendam?
Itu sudah tidak dipikirkannya. Dia berpikir jika dia membalas dendam sama saja dia menyamakan dirinya dengan orang-orang yang sudah menyakitinya, dia tidak mau disamakan, jadi dia memutuskan tidak memikirkannya lagi. Dia juga berpikir bukan dirinya yang membalas pasti orang-orang yang menyakitinya akan mendapat karmanya sendiri.
Dia masih memikirkan apakah akan melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tidak. Untuk pergi ke Kota itu suatu hal yang sudah pasti, kalau untuk kuliah dia masih memikirkannya.
Satu jam lebih berjalan cepat bagi mereka. Serasa sangat sebentar, tapi itu wajar karena mereka terlalu fokus dengan lembar soal dan lembar jawaban mereka.
Ujian hari itu berakhir dengan cepat dan para murid pun ada yang pulang ada yang menetap di perpustakaan untuk belajar mata pelajaran yang akan di ujikan besok harinya.
Nadhira memilih untuk pulang, tidak! Tepatnya dia akan bertemu dengan Cerry di tempat yang telah di janjikan.
"Sudah lama? Maaf," ucap Nadhira baru datang dan dilihatnya kalau Cerry sudah datang lebih dulu.
"Tidak! Baru juga sampai," jawab Cerry.
"Ada apa kau mengajakku bertemu di sini? Kapan kembali dari Kota A?" Tanya Nadhira.
"Tidak ada hal yang penting sih, tapi aku hanya ingin memberikan ini,"Cerry pun mengeluarkan paper bag lumayan besar, menaruhnya di atas meja dan menyodorkan nya ke arah Nadhira.
Nadhira mengernyitkan alisnya pertanda tidak mengerti. Untuk apa Cerry memberikannya itu.
Cerry memberi kode untuk Nadhira membukanya dan Nadhira pun membuka nya.
Sebuah kotak dan di bukanya lagi kotak berwarna ungu dengan pita di atasnya.
Sebuah gaun berwarna hijau tua dan di atasnya terdapat kotak kecil lagi berwarna merah dan isinya sebuah liontin dengan mata kalung berbentuk bintang kecil yang di kelilingi bulan sabit.
"Apa maksudnya semua ini?" Nadhira tidak mengerti dan juga bingung, apakah seorang teman seperti Cerry wajar memberinya hadiah yang terlihat sangat mahal ini? Nadhira merasa ada yang tidak wajar dan mencurigakan dari Cerry ini. Meski dari awal bertemu dia sudah merasa ada yang janggal.
Pikir kan saja, masa iya di kota yang besar bisa bertemu dengan tak sengaja. Belum lagi duduk di pesawat bersebelahan. Seperti sudah di rencanakan dari awal.
Nadhira menunggu jawaban Cerry dengan menatap tajam dirinya membuat raut wajah Cerry berubah. Panik! Tegang! Ya itulah keadaan Cerry saat ini saat di tatap tajam oleh Nadhira.
__ADS_1
"Emmm, jangan menatapku tajam seperti itu. Tolonglah kau jangan seperti ini, aku juga akan kesulitan nanti. Terima saja, ku mohon," mohon Cerry dengan wajah memelas, berharap Nadhira tidak menolak dan menanyakan lebih lanjut lagi.
"Aku tidak bisa menerima barang yang aku juga tidak tahu dari mana asal usulnya. Benar ini dari tanganmu, tapi aku tidak tahu orang di balik mu. Jangan membuatku tidak mau lagi bicara denganmu Cerry," peringat Nadhira. Dia semakin gencar mencari tahu orang di balik ini.
Cerry semakin gelisah dan tiba-tiba...
Tring tring tring...
Ponsel Cerry berbunyi dari dalam tas kecil nya. Cerry pun menjauh untuk mengangkatnya.
Setelah cukup lama Cerry menerima telepon, dia pun kembali duduk.
Hening, suasana masih canggung, karena seseorang yang duduk di depan nya ini sekarang menatapnya tajam.
Huuhhh, Cerry menghela nafas sebelum berkata. "Baiklah! Aku akan memberitahumu mengenai hadiah itu, karena aku juga sudah mendapatkan ijin," ucap Cerry.
"Hm," Nadhira berdehem sebelum merileks kan mimik wajahnya kesemula.
"Tapi, apakah kau yakin ingin tahu siapa orang di balik ini?" Tanya Cerry yang langsung di angguki Nadhira.
"Baiklah! Dengarkan baik-baik. Benar saja, aku adalah suruhan seseorang untuk mendekatimu dan berteman denganmu, kau tahu siapa?" Cerry.
Nadhira mendengus sebelum berkata. "Jika aku tahu aku tidak akan bertanya!" Yang benar saja Cerry menanyakan itu kepada Nadhira. Tentu saja jawabannya tidak tahu bukan.
"Ya ya maaf. Kuberi tahu, dia adalah bos ku. Aku seorang anggota dari King Mafia yang berada di Kota A. Kau tahu organisasi King Mafia?" Cerry.
"Hmm, ya aku tahu," jawab Nadhira.
Sempat ada keterkejut sejenak dari Cerry. Lagi-lagi dia tidak dapat memahami gadis di depannya ini. Meski sudah kenalan lumayan lama, tapi dia masih tidak dapat mengetahui isi otak gadis ini. Apakah tidak ada yang tidak diketahui oleh gadis kecil di hadapannya ini?
¤
¤
¤
__ADS_1
Semoga Suka...