
Seperti yang kalian tau sebelumnya. Saat ini andra ada dalam mode ngambek nya.
Alih-alih dibujuk atau dirayu, ia malah ditertawakan oleh keluarganya.
Njir! Nasib gue macam tayik!
Astaghfirulloh..
"Hahaha Udah kale bang, muka lo kek jablay yang suka nangkring di depan warung kang ajip tau kgak, jelek amat bwahaha." Andin tertawa. Lebih tepatnya menghina sambil tertawa.
Yaoloh punya adek gini amat yaoloh. Batin Andra meratapi nasibnya.
"Hahaha, persis kek jablay kehilangan gincunya ya Ndin bwahahaha." timbruk Bagas lalu terbahak.
Andin malah semakin terpingkal mendengar ucapan papanya. Ia sampai menepuk-nepuk pahanya saking kerasnya tertawa.
Sedangkat Oliv? Ia menggeleng sambil tertawa kecil melihat kelakuan absurd suami dan anak-anaknya.
"Bully aja terosss, ikhlas aku mah ikhlass." Andra mencebik kesal.
"Bwahahaha," Andin dan Bagas malah tambah ketawa.
"Cih dasar gila." umpat Andra.
"Sabar Andraa.. Sabar.. Nasibnya orang ganteng emang banyak ujian, makanya sabar.. Pasti Allah sayang," lanjutnya ngomong sendiri dengan nada super dramatis. Kek orgil sumpah!
Andin dan Bagas menghentikan tawanya lalu saling pandang abis itu ngangguk anggukin kepala sambil tersenyum miring. Entah apa yang mereka rencanakan. Hanya mereka dan Allah lah yang tauu..
"Haha Andin sayang.." panggil Bagas dengan nada super duper lembut kek ketek preman pasar abis direbonding.
"Iya pah.." jawab Andin sembari tersenyum manis, semanis mungkin untuk menutupi dan menahan tawanya agar tak keluar.
"Kamu tau sayang, orang gila itu kaya apa??" tanya bagas sambul mengedipkan sebelah matanya.
"Tau pah, yang suka ngomong sendiri itu kan??" jawab Andin sok polos sok lugu. Songong abis! Asli! Ngajak ribut!
Oliv sekuat tenaga menahan tawanya dan berusaha jadi penonton terbaik. Bahkan para maid yang dari tadi pada sliwat-sliwet kaya penampakan pun pada cekikik an melihat kelakuan keluarga itu.
Bagas mengusap lembut rambut putrinya
"Iya sayang, tadi disini juga ada yang ngomong sendiri,"
"Berarti dia gila dong pah??" tanya Andin dengan muka diimut imutin plus tampang lugunya.
"Haha siapa sayang??" tanya Bagas mengedipkan matanya memberi kode.
"Bang Andra! Hahaha!" Bagas, Oliv dan Andin pun tak bisa lagi menahan tawanya. Tawa yang sedari tadi mati-matian ditahan pun akhirnya keluar juga.
Muka Andra menggelap, singa jantan siap mengamuk kawann.
"SIALAN KALIAN SEMUAAA!!!" teriak Andra lalu melangkah pergi ke kamarnya dengan menghentak hentakkan kakinya persis anak kecil yang lali merajuk.
"BWAHAHAHA"
Andra's POV
Gue masuk ke kamar gue dengan wajah dongkol sedongkol-dongkolnya. Punya adek yang songongnya naudzubillah, punya papa yang nyebelinnya asli pangkat dua tambah enem kali lapan! Dan mama yang dari tadi cuma diem aja ngeliat gue dibully?!
"Kesel bat gua, gilaa!!" teriakku lalu menutup kuping rapat rapat saat gue masih mendengar tawa mereka di luar sana.
Padahal jarak kamar gue sama ruang keluarga itu jauh bingit loh we. Kamar gue diatas, ruang keluarga dibawah. Kok masih kedengeran sehhhh?!!
Gue merebahkan badan gue ke kasur lalu menutup kepala gue pake bantal.
"Berasa dianak tirikan gua anjir!" umpatku dibawah bantal. Kalian nanya seberapa keselnya gua??
Mungkin kalo ada pengukur esmoci alias emosi kaya termometer, emosi gue gak akan keukur saking tingginya.
Andra's POV end
Sedangkan diruang keluarga. Bagas dan Andin jadi ngerasa bersalah. Apa mereka terlalu kelewatan? Entahlah.
__ADS_1
"Duh, gimana dong pah? Kayanya abang marah deh." ucap Andin kawatir. Ia paling gamau kalau didiemin sama abangnya tapi dia doyan ngegangguin. Paham gak?? Dia tuh suka ganggu tapi entar kalo abangnya sampe diemin dia, dianya gamau.
Bagas mengendikkan bahu sambil geleng-geleng kepala.
"Rasain! Makanya jangan kelewatan kalo ngerjain orang!" omel Oliv dengan wajah tanpa dosa.
"Dih, tadi kamu juga ikutan loh yank, masa kita yang disalahin?" Andin mengangguk menyutujui ucapan papanya.
"Yee, yang duluan ngajak curang siapa?" tanya Oliv.
"Aku." jawab bagas menunjuk dirinya sendiri.
"Nahh, berarti ini salahnya kamu ay, kan kamu yang ngajak duluan, aku mah gak ikutan." ucap Oliv santai tanpa beban.
Andin lagi² cuma mengangguk. Sedangkan Bagas cengo.
"Yaudah dehh, minta maap aja yok." ucap Bagas pada Akhirnya.
"Ya papa lah, kan papa yang salah." ucap Andin menyahuti ucapan papanya. Sedangkan Oliv mengangguk.
"Iyadehh papa yang salahhh, tapi apa yang di ambekin Andra cuma papa? Nggak kan?"
Andin dan Oliv menggeleng.
"Yaudah makanya ayo bareng bareng kita minta maapnya."
Mereka pun naik ke atas menuju kamar Andra.
Dan disinilah mereka sekarang, di depan pintu kamar Andra.
Tok tok tok
Oliv memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Andra.
"Sayang.. Ini mama, bukain dong mama mau ngomong." Hening! Tak ada sahutan apapun yang terdengar.
Apa Andra udah tidur? Pikir mereka.
Tok tok tok
"Sayang.. Ini mamah lohh, masa gak dibukain." namun lagi-lagi hening tak ada sahutan.
Tok tok tok
Sekali lagi! Kali ini Bagas yang mengetuk.
" Andraa," panggil bagas tapi tetep aja gak dijawab.
Bagas mencoba memegang hendel pintu dan memutarnya perlahan.
Cklek cklek cklek
Gak kebuka!
Shit! Pintu nya dikunci!!
Dilihatnya Andin yang dari tadi cuma menunduk. Dia takut seriusan! Takut di diemin abangnya.
Ini semua gegara papa huh. Batin Andin dengan mata berkaca-kaca sembari menunduk.
Bagas dan Oliv Yang melihat itu pun mendekat.
"Sayang.." panggil Bagas dan Oliv lembut. Namun Andin tetap menunduk tanpa berniat untuk menyahut. Tiba-tiba..
Cklekk
Bagas Oliv dan Andin menengok
Dari arah pintu Berdirilah sang empu kamar dengan wajah datar.
Andin memandang Andra lekat dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ni anak pada kenapa dah? Batin Andra bingung. Tiba-tiba
"Abang!"
Grep
Andin melompat dan memeluk andra erat. Andra yang kaget pun buru² menangkapnya biar gak jatuh.
"Bang, maafin gue ya hiks, Andin salahh hiks eh! Bukan bukan! Bukan Andin yang salah Tapi Papa!" Celetuk Andin sembari terisak di pelukan Andra.
Bagas cengo, serius! Bisa-bisanya anak ini nyempet-nyempetin nyalahin orang lain padahal dirinya sendiri juga salah.
Andra tersenyum, ia menurunkan andin dari pelukannya lalu menatapnya lekat. Dilihatnya air mata andin yang masih mengalir, dirangkupnya pipi andin dgn kedua tangannya gemas.
"Jelek amat dah." ucap Andra lalu tertawa terbahak-bahak ketika melihat muka Andin yang ancor abis gegara abis nangis. Bayangin deh, ingusnya aja udah merembet sampe bawah mata hahaha!
Sialan! Gue pikir dia bakal ngucapin hal romantis uwu uwu adek kakak, kaya 'iya abang maapin, apasih yang gak buat adek tersayang' atau 'yawlohh adek gue lagi nangis aja cantik, jangan nangis lagi ya..' nyatanya?
Tayii semuaa!!!
Sakit hati hayati bang hiks..
Andin mengkerucutkan bibirnya. Andra yang gemas mun merangkul adiknya untuk kembali kepelukannya.
"Haha, gue becanda."
Andin tersenyum,
Yess artinya gue udah dimaapin dong. Batin Andin kegirangan.
Andra merangkul adiknya itu gemas. Perlahan pandangannya beralih menatap mamanya yang tersenyum lalu dia ikut tersenyum, namun senyumnya perlahan sirna ketika netranya menangkap wajah Bagas, papanya!
Bagas nyengir setan ketika mendapatkan tatapan datar dari putranya.
"Hehe, maapin papa yee," ucap Bagas cengangas-cengenges kaya lagi iklan pepsodent!
Andra tak menghiraukan ucapan Papanya hingga membuat bagas mnghela napas kasar.
"Yodah deh, kamu minta 1 permintaan ntar papa kabulin asal kamu maapin papa." entah mengapa kalimat itu spontan keluar dari bibir bagas.
Bagas melotot menyadari yang ia ucapkan. Ia merutuki dirinya atas apa yang ia ucapkan.
Busyett, apaan dah gue ngomong kek begitu, semoga permintaannya kga aneh² yaolohh. Batin Bagas merutuki ucapannya.
Hmm tawaran yang menarik, sayang kalo gak diambil. Batin Andra senang.
Andra menarik ujung bibirnya.
Haha, saatnya pembalasan. Batin Andra tersengum miring.
"Serius?" Bagas mengangguk ragu, antara menyesal dan tidak rela hiks.
"Tapi masa cuma satu, tiga dong..." ucap Andra sembari tersenyum penuh misteri.
Tuh kan..
Seketika bagas amat sangat menyesal memberi tawaran itu. Siap² mental ini mah.
Bagas melirik istrinya, berharap bahwa Oliv akan membantunya.
"Yank.."
"Apa?" Tanya Oliv acuh.
Sekali kali suaminya ini perlu dikasih pelajaran biar gak kelewatan lagi kalo ngerjain anaknya.
Hufft
Bagas menghela napas berat.
"Terima aja lah paa, ini kan juga salahnya papa," jawab Andin santai setelah lepas dari pelukan Andra.
__ADS_1
"Yausah deh iyaaa." putus Bagas pada akhirnya.
Haha. Diandra tersenyum menang.