Unreal Word

Unreal Word
KEMARAHAN MELIAN


__ADS_3

Amara masuk ke dalam kamar pengungsian Melian , Amara memasang senyum manis nya , dan hanya di balas senyuman kecut oleh Melian


" kenapa tiba tiba Amara peduli pada adik nya yang malang ini?" tanya Melian dengan nada menyindir


" Melian sebagai kakak aku harus memperhati kan adik kecil ku" jawab Amara


ya ... tubuh Melian yang kecil dan pendek, rambut nya memang tidak sebagus milik Amara, tapi itu tetap bagus , rambut hitam lurus kulit nya yang putih pucat, dan bibir nya yang sangat kecil , dan sedikit pucat ,mungkin apabila dia sakit dan tidur mungkin sudah mirip mayat, Amara pun mengkidik ngeri , namun Amara tetap berusaha mempertahan kan senyaman hangat nya


" Melian apabila kamu tidak melakukan nya , kamu akan terbebas dari hukuman " ujar Amara berusaha menstabil kan ke adaan


" apa peduli nya kamu amara " jawab Melian dengan sedikit penekanan

__ADS_1


" kamu adalah adik ku satu satu nya melian" jawab Amara


" bukan kah ini yang kamu ingin kan ,selalu di perhati kan oleh semua orang , dan mensingkir kan ku , yang sebagai adik tidak di ingin kan" jawab Melian sarkas


" Melian tenang lah, aku akan mendukung mu" ujar Amara


" mendukung untuk apa ? kamu mendukung ku dan mendapat kan pujian dari semua orang , setelah kamu puas kamu akan menginkir kan aku" ujar Melian sinis


seperti nya ini orang sakit mental nya ,Baik lah berarti aku harus berhati hati dan selalu bersikap halus, dasar Amara Elora kamu meninggal kan ini semua kepada ku dasar orang yang tidak bertanggung jawab atas perbuatan nya , seperti dia harus mendengar kan ceramah ku


" Melian tolong dengar kan aku " minta Amara

__ADS_1


" sejak kapan engkau belajar meminta, bukan kah itu hal yang memalu kan Amara kata mu sebagai seorang bangsawan yang memiliki status sosial yang tinggi kita tidak boleh meminta , terutama sebagai seorang kecanti kan yang cantik nya di kenal oleh seluruh benua meminta kepada gadis tak bermakna seperti diri ku, bukan kah itu hal yang menjijik kan Amara " ujar Melian dengan penekanan di beberapa kata


Amara menarik nafas dalam berusaha untuk tetap tenang , jangan sampai dia terbawa emosi


seperti Amara Elora tidak pandai menanam kan sebuah karakter pada Adek nya , bahkan tingkat kesombongan nya, bagaimana bisa aku masuk ke dalam tubuh nya , pura pura lupa pun juga tidak lucu , UPS... bukan pura pura lupa tapi aku benar benar tidak paham , terutama di dalam buku merah itu tidak ada lanjutan nya , namun ........ ini cerita kenapa hampir sama dengan buku sampah yang kata nya ajaib, atau jangan jangan .... positive thinking aja Amara , Santai....... , buat aja motivasi mungkin saja ini kesempatan ku menulis karya fantasi, bukan kah terakhir ini kamu lagi tidak ada stok motivasi cerita , semoga kalau aku bisa keluar dari dunia aneh ini aku bisa menulis novel fantasi dan mungkin akan menjadi novel tamat ku satu satu nya ..... tapi.... bagaimana keadaan ku di dunia sana ?


brak


pintu kamar Melian di Buka dengan keras di sana terlihat seorang laki laki mengenakan baju kekaisaran nya berdiri tegak di ambang pintu menatap tajam ke arah ke dua prajurit yang sedang berlutut dan beralih menatap melian dengan tajam


pria itu menarik tangan Amara menjauh dari melian

__ADS_1


" jangan pernah dekati dia lagi Amara " ucap laki laki itu tegas , Amara hanya terpaku karena menurut nya ini terjadi terlalu cepat dan tidak tepat , dia menatap melian yang menunduk , terlihat pipi putih nya terdapat setetes air mata nya , wajah nya terlihat begitu sedih


"maaf kan


__ADS_2