Waalaikumsalam calon imam

Waalaikumsalam calon imam
...


__ADS_3

Kecewa!


Setelah mendengar pengakuan dari kak Daffa kemarin, aku sungguh kecewa kepadanya. Hatiku terasa sakit, tapi tidak tahu mengapa bisa sesakit ini?


Memang aku mencintai Kak Daffa. Akan tetapi aku tidak au menjadi istri keduanya.


Seorang lelaki yang berpoligami diwajibkan membagi nafkah lahir dan batin kepada istri-istrinya dengan adil. Aku tida meragukan Kak Daffa bisa adil dalam hal memberi nafkah lahir dan batin. Hanya saja, aku belum bisa ikhlas jika cinta suamiku kelak terbagi. Ya, ni adala bentuk keegoisanku.


Konon seorang laki-lai hanya memilki satu cinta yang spesial untuk satu wanita. Seperti cinta Nabi Muhammad kepada Khadijah yang spesial. Rasa cinta itu tidak akan didapatkan oleh istri-istri beliau yang lain, kecuali Khadijah.


"Astagfirullah, sebenarnya apa yang aku fikirkan?" Segera aku memohon ampun kepada Allah.


"Sebagai seorang perempuan, aku tidak ingin diduakan. Kak Anissa pasti juga berpikir begitu." Aku bermonolog.


"Apakah Kak Daffa sudah meminta izin kepada Kak Anissa? Ataukah Kak Daffa hanya berkata, tanpa ada maksud untuk mewujudkannya?"


"Mungkin hanya sekedar bisikan syetan yang mempengaruhi hati Kak Daffa untuk mengatakannya. Bukan dari hatinya, Lillahita'ala."


Prasangka burukku mulai menguasai hati. Segera aku mengambil air wudhu dan membaca ayat suci Al-Qur'an. Ayat demi ayat Al-Qur'an ku resapi, hingga kegelisahan ini menguap. Rasanya hati ini terasa lebih ringan dan juga tidak sesak.


"Shuan?" Bang Nabil membuka pintu kamarku perlahan.


"Iya? Kenapa Bang?" Aku melepas mukena dan menyimpan Al-Qur'an ku di atas meja belajarku.


"Tolong buatin minum dong adikku yang manis," rayunya kepadaku.



(Bang Nabil ak.a Suho)


"Kalau ada maunya saja dibaik-baikin," cibirku.


"Ini bukan Abang yang mau. Tuh! Si cendol yang pengen dibuatin minum sama calon bidadarinya, katanya sih gitu."


"Cendol siapa sih bang?"


"Chandra ak.a akang cendhol! Udah sana buruan! Keburu Chandra berubah jadi ijo karena kehausan."


"Abang mah ada-ada aja deh!hihihi." Sungguh! Bang Nabil bisa membuat siapa saja tertawa karena leluconnya yang abstrak ini.


Aku melangkah ke dapur, namun Bang Nabil menepuk bahuku.


"Shuan! Kata Daffa, sekarang dia jadi dosen sementara di kampus kamu loh," ucap Bang Nabil yang memberitahuku perihal berita yang sebenarnya aku sudah mengetahuinya lebih dulu.


"Tahu kok." Jawabku cuek.


"Cuek banget. Biasanya kamu kepo kalau masalah Daffa. Lagi berantem ya?"


"Enggak kok. Biasa aja. Udah ah mau ke dapur. Keburu Bang Chandra berubah jadi ijo!" Tidak ada pilihan lain selain kabur. Aku tidak sedang dalam mood yang baik untuk membahas Kak Daffa.


.


.


.


Aku menyiapkan dua cangkir coklat panas untuk dua sejoli yang sedang bermain Ps dengan romantis, sampai-sampai mereka menjerit dan hampir saja melempar stik Ps.


"Silahkan diminum, habis itu jangan lupa pulang ya Bang." Usirku secara halus.


"Abang sih niatnya pengen cepet-cepet pulang. Tapi ini loh Nabil! Maksa Abang buat main terus." Bang Chandra menyudutkan Bang Nabil yang bahkan tidak tahu apa-apa.


"Idih! Siapa juga yang nahan dikau Bro! Kalau mau pulang mah pulang aja sana." Bang Nabil langsung sewot. Tangannya mendorong-dorong bahu Bang Chandra untuk menyingkir darinya. "Hus! Hush! Sana," usir Bang Nabil.


"Yaudah aku pulang deh. Lagian juga gak baik anak perjaka tamvan pulang malem-malem." Senyuman Bang Chandra tertuju kepadaku, aku hanya menggeleng lemah lalu menunduk.


Bisa-bisanya ada ciptaan Allah yang narsisnya luar biasa seperti ini?


"Yaudah pulang sono gak usah pakai senyum-senyum ke Shuan! Ntar adekku sawan." Bang Nabil menoyor wajah Bang Chandra.


Dengan perlahan Bang Chandra menuju ke arahku. Dia menyodorkan tangannya kepadaku. Akupun menyerngit, aku tidak mengerti maksud dari gerakannya.


"Gak mau salim dulu? Calon suami mau pulang nih." Senyumnya kembali mengembang.


"Apaan sih bang!" Sebelum Bang Chandra melihat wajahku yang me-merah karena malu, aku segera menunduk sambil menahan senyum.


"Eh eh eh! Gak boleh kalian itu-"


"Iya tau kok! Belum muhrim kan Bil? Aku niatnya cuma godain Shuan doang kok. Tuh lihat wajahnya kayak strawberry kan?" Bang Chandra sedikit merendahkan badannya, wajahnya melihat ke wajahku yang sedang menunduk.


"Ish! Sana pulang!" Aku berteriak kencang.


"Adoh!"


Bang Nabil segera menjitak kepala Bang Chandra. Akhirnya Abangku ini menyelamatkanku dari kegabutan Bang Chandra. Dengan ekspresi datar Bang Nabil menyeret Bang Chandra pulang.


"Eh, eh jangan tarik-tarik baju dong!"


"Siapa suruh godain adek aku mulu! Dasar! Buruan pulang!" Berkat aksi heroik Bang Nabil, Bang Chandra bisa segera pulang dan keadaan di rumah menjadi lebih tenang.


Alhamdulillah, jantungku sudah kembali berdetak dengan tenang.


Eh? Apakah ini tandanya aku mulai membuka hatiku untuk Bang Chandra?


Line!

__ADS_1


Ponselku bergetar.


Setelah Bang Nabil membawa Bang Chandra ke luar rumah, aku bergegas membereskan Ps yang tergeletak di meja. Pandanganku tertuju kepada minuman yang masih terisi penuh.


"Tadi minta dibuatkan minum, sekarang coklat panasnya gak diminum," ucapku kesal, "mubazir ih!" Akupun meminum coklat panas yang aku buat sendiri.


Line!


Ponselku kembali bergetar.


Dengan malas aku merogoh ponsel dari saku celanaku.


Line!


Dan lagi, ponselku bergetar. Aku heran, siapa sih yang tidak sabaran sekali? Sampai-sampai mengirimiku line begitu banyaknya.


"Pasti Hasna," tebakku. Lalu terfikirkan satu lagi tersangka di benakku. "Atau mungkin Bang Chandra? Ish baru saja pulang sudah mengirimiku line! Dasar cambah!"


Emosiku sedang tidak berada di tahap siaga, yang sampai-sampai mengeluarkan asap dari lubang hidung dan juga telingaku. Emosiku lebih seperti marah, tapi juga senang dan juga ada rasa malu, tapi jengkel.


Perasaan apa ini? Aneh sekali.


Setelah duduk di sofa, aku membuka aplikasi line.


@Kak Daffa: Assalamualaikum.


22:15


@Kak Daffa :Maaf ganggu kamu Shuan. Aku cuma mau minta maaf untuk yang tadi sore.


22:17


Sejenak aku lupa caranya bernafas melalui hidung. Namun akhirnya aku kembali bernafas karena dadaku terasa sesak.


Kenapa Kak Daffa membahasnya lagi?


@Kak Daffa : Sudah tidur ya?


21:20


Tiga pesan line yang masuk dari Kak Daffa hanya aku biarkan. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk membalasnya. Aku tidak ingin bermain di air keruh. Perasaan ini masih porak poranda, aku ingin sedikit memberi jarak dengan Kak Daffa.


Demi kebaikan semua orang, Kak Daffa, Bang Chandra, Kak Annisa dan juga aku. Tentu saja.


Belum sampai aku membuka pintu kamarku, ponselku kembali bergetar.


Line!


@Kak Daffa: Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Kakak katakan. Tapi sepertinya kamu sudah tidur, ya Shuan?


21: 30


Line!


@Kak Daffa: Kalau begitu selamat malam, jangan lupa berdoa sebelum tidur. Assalamualaikum.


21:37


Waalaikumsalamwarahmatullah...


Bruk.


Tubuhku ambruk di atas kasur. Wajahku sudah terbenam di dalam bantal. Hatiku serasa dipenuhi dengan bunga sakura yang bermekaran. Bahagia sekali, walaupun perhatiannya untukku sangatlah kecil. Entah kenapa aku merasa beruntung mendapatkan perhatian itu.


Namun setelah merasa bahagia, aku kembali dipenuhi rasa bersalah. Bahkan seharusnya aku tidak berhak bahagia sekarang.


Kemana perginya anganku yang ingin menjauhi Kak Daffa?


Kemana perginya akal sehatku?


Kenapa hatiku ini selalu saja yang mendominasi perbuatanku?


Ya Allah Ya Rabb... ampunilah aku.


.


.


.


Setelah menutup toko, aku berjalan dengan santai ke arah halte. Malam ini bintang-bintang sepertinya sedang reuni. Banyak sekali dari mereka yang bersinar begitu indahnya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tampaknya mereka begitu bahagia.


Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah menciptakan langit dan bumi berserta isinya. Beruntung sekali rasanya bisa menikmati malam penuh bintang yang telah diciptakan oleh-Nya.


Line!


@Bang Chandra: Abang jemput ya? Udah otw nih.


18.55


@Shuann: Gak usah bang. Shuan mau mampir ke toko buku dulu.


18.57


@Bang Chandra: Abang anter sekalian! Yah yah yah? Gratis dah buat kamu seorang ❤

__ADS_1


18.59


Hati? Apakah Bang Chandra salah pencet emoticon?


@Shuann: Engga usah Bang, bisa sendiri kok.


19.01


@Bang Chandra: Yaudah deh gak maksa. Takutnya kamu gak nyaman nanti kalau Abang paksa.


19.05


Kenapa tiba-tiba makhluk bertelinga elf ini begitu manis ya?


@Bang Chandra: Hati-hati naik bisnya ya. Pakai sabuk pengaman jangan lupa! 😉


19.07


Eh?


@Shuann: Bis mana ada sabuk pengaman sih bang?


19.11


@Bang Chandra: Nanti Abang yang beliin sabuk pengaman. Bisnya sekalian. Supirnya juga sekalian!


19.13


@Bang Chandra: Eh gak ding. Biar Nabil aja yang jadi supir kamu. Kita berdua duduk manis di belakang wkwk.


19.15


@Shuann: Dih! Ntar Shuan bilangin Bang Nabil loh.


19.18


@Bang Chandra: Dih Calon istri kok tukang ngadu sih? Hm?


19.20


Entah kenapa pikiranku langsung 'Blank'. Senyuman tipis tercipta di bibirku, debaran aneh juga tak luput aku rasakan.


@Shuann: Udah ah. Bis nya udah datang!


19.25


Padahal Bisnya masih belum lewat. Hehe.


@Bang Chandra: Iya. Hati-hati ya Shuanku 💋


@Bang Chandra: Eh salah emot. Gak boleh cium 😂. Maksutnya mau kasih ini ❤


19.30


Aku tertawa hingga tanganku harus menutupi bibirku yang terbuka. Bang Chandra membuat moodku menjadi lebih baik. Setelah kemarin moodku kemarin kurang baik, sekarang berkat Bang Chandra aku bisa tertawa lepas.



(Kak Daffa ak.a Kyungsoo)


"Seneng banget ya? Sampai gak denger panggilan Kakak."


Wajahku mendongak ketika seseorang mendekatiku. Tanpa salam atau basa-basi, dia langsung melontarkan pertanyaan yang membuatku bingung.


"Assalamualaikum... Kakak ulangi lagi salamnya. Daritadi salam sambil panggil nama Shuan tapi gak nyaut."


Oh jadi sudah salam ya?


"Waalaikumsalam Kak Daffa. Maaf ya, Shuan gak denger salam Kakak," sesalku, "Kak Daffa mau apa kemari?"


"Mau jemput kamu. Ada yang ingin bertemu dengan kamu, Shuan."


"Siapa Kak?"


"Annisa. Dia baru saja datang dari Jakarta tadi pagi. Sudah sejak tadi pagi dia merengek ingin bertemu dengan kamu, Shuan."


Oh, jadi maksud dari line Kak Daffa kemarin malam ternyata...


"Semalam Kakak line kamu, tapi sepertinya kamu sudah tidur ya?"


Nah kan?


Aku mengangguk pelan, "Iya kak sudah tidur." Hatiku memohon ampun kepada Allah karena telah berbohong kepada Kak Daffa.


"Kamu mau kan bertemu dengan Annisa?"


Enggak, tapi aku juga gak tahu cara menolaknya.


"Iya udah kak. Shuan mau. tapi," ucapanku tertunda ketika aku khawatir berada di dalam mobil berduaan saja dengan Kak Daffa.


"Kamu duduk di belakang ya, Shuan. Kamu pasti gak nyaman kalau duduk di depan. Itu kan yang kamu khawatirkan?"


Aku mengagguk menyutujuinya.


"Ayo," ucap Kak Daffa sambil membukakan pintu mobil untukku.

__ADS_1


Akhirnya aku masuk ke dalam mobil Kak Daffa. Selama di dalam sana aku selalu menunduk. Tidak berani melihat ke depan atau ke arah Kak Daffa.


Sekarang aku begitu dipenuhi rasa pernasaran. Kenapa Kak Annisa begitu ingin menemuiku?


__ADS_2