
...
"Kadang kamu menyebalkan, tapi yang paling penting kamu itu diam-diam mampu menghanyutkanku Mas."-Shuan.
...
Mas Daffa! Hiks! Jangan tinggalin Shuan! Hiks," isakku pedih.
"Shuan," Bisik Mas Daffa.
"M-maafin hiks! Shuan hiks!" Airmataku tak terbendung.
Mas Daffa mengelus pelipisku dia berbisik lembut kepadaku, "Istigfar Shuan, bangun sayang."
Mataku yang terpejam perlahan terbuka. Mataku sudah basah dan dadaku terasa sesak. Mas Daffa menatapku dengan tatapan khawatir.
"M-mas?" Panggiku pelan.
"Hm? Ya? Mas di sini. Kamu kenapa hm? Mimpi buruk ya?" Dia menatap sendu wajahku.
Sejenak kepalaku terasa pusing, lalu aku kembali teringat mimpi tadi. Aku segera beristigfar.
"Shuan mimpi buruk Mas," ucapku.
Mas Daffa menghapus sisa-sia air mata di pipiku. "Mimpi buruk apa hm?"
Jika mengingat mimpi itu rasanya sakit sekali. Padahal hanya mimpi namun bisa membuatku sakit hati. Aku seharusnya tidak tidur pada waktu sore hari karena dapat membuat linglung setelah bangun. Dan juga kini aku mendapatkan bunga tidur yang buruk. Ah, aku tadi juga lupa berdoa sebelum tidur. Makanya syaiton bisa leluasa masuk ke dalam mimpiku.
Mas Daffa mencubit pelan hidungku, "Hey, kok malah ngelamun? Yaudah bangun dulu yuk, bentar lagi azan magrib. Kamu udah mandi belum?"
Bibirku mengerucut, "Emangnya Shuan bau ya? Udah wangi gini kok dibilangnya belum mandi."
Padahal Mas Daffa tanya baik-baik, eh akunya malah nge gas! Kenapa sih aku? Lembut lah Shuan, lembutlah!
"Masa sih udah wangi? Coba sini Mas cium," ucap Mas Daffa jahil. Dengan gerakan cepat Mas Daffa menciumi pipiku dan turun ke bawah sampai leherku. Aku hanya bisa terkikik geli menahan sensani ciuman Mas Daffa.
"Haha! Mas udah ah!" Aku mencoba mendorong bahu Mas Daffa. Aku menggeliat geli sambil menghindari ciumannya yang semakin lama semakin membuatku meremang.
"Eh iya udah wangi. Udah mandi juga ternyata. Kamu pulang jam berapa tadi?" Mas Daffa membantu mengubah posisi tidurku menjadi duduk.
"Jam setengah lima Mas. Tadi nggak ada orang di rumah. Mas sama Kak Annisa habis dari mana?"
"Oh tadi habis dari luar beli bakso. Annisa lagi pengen bakso."
"Shuan di beliin nggak?"
Mas Daffa menggeleng pelan, "Enggak."
Bibirku mengerucut lagi, "Kok Shuan nggak di beliin sih?"
"Habisnya Mas Wa kamu, tapi kamu nggak balas. Lagi marah sama Mas hm? Tadi pagi juga Mas cariin di Kampus nggak ada, ditelfon nggak bisa, Mas Wa juga nggak masuk. Pas udah ketemu di kantin malah kamu tinggalin Mas. Kamu pergi sama Hasna."
Aku diam membisu, "Maafin Shuan Mas." Aku menunduk lesu. Airmataku mendadak jatuh lalu dengan segera aku menghapusnya dengan punggung tanganku.
"Lihat Mas sini," ucap Mas Daffa sambi mengangkat daguku. Dia menyuruhku untuk menatap matanya. "Sekarang coba kamu bilang, kamu sebenarnya kenapa?" Lanjutnya.
Mataku melihat mata Mas Daffa. Lidahku kelu tak dapat bicara sepatah katapun. Aku melepaskan pelan tangan Mas Daffa di daguku, "Sudah Magrib Mas. Sebaiknya Mas Sholat dulu."
"Ayo kita jama'ah. Sama Annisa juga," ajak Mas Daffa.
Aku menggeleng pelan, "Shuan lagi haid. Mas aja yang jama'ah sama Kak Annisa."
Mas Daffa menghela nafas, "Yaudah." Ucapnya singkat. Lalu dapat aku rasakan ranjangku bergerak karena Mas Daffa sudah berganti posisi menjadi berdiri. "Mas Sholat dulu," ucapnya lalu mencium pucuk kepalaku.
....
Belum pernah terfikirkan olehku untuk bertanya tentang pernikahan kedua Mas Daffa. Tentang mengapa Kak Annisa menyuruh Mas Daffa untuk menikahiku. Aku tidak puas dengan jawaban Kak Annisa di rumah sakit dulu. Pasti ada alasan kuat yang lain makanya dia merelakan Mas Daffa untuk menikah lagi.
Sebagai seorang perempuan aku juga ingin menjadi satu-satunya wanita bagi suamiku. Aku tidak akan sanggup jika harus menyuruh suamiku menikah lagi. Aku percaya Kak Annisa adalah orang yang baik. Tidak mungkin dia memilik motif jahat seperti Kak Annisa di mimpiku tadi sore.
"Shuan. Kamu yakin mau masukin cabe sebegitu banyaknya?"
Lamunanku buyar, aku menghentikan tanganku yang mengiris cabai merah. "Astagfirullah! Kok jadi banyak gini?" Aku berhenti memotong cabai.
"Kamu sih motong cabainya sambil ngelamun. Kamu kenapa sih? Ada masalah?"
Aku menggeleng sambil tersenyum. Ingin sekali aku bertanya soal alasan Kak Annisa menyuruh Mas Daffa menikahiku, tapi rasanya waktunya belum tepat. Aku akan mencari waktu yang tepat dulu, lagi pula aku juga butuh menatahatiku. Persiapan saja, siapa tahu hatiku tidak kuat mendengar penjelasan Kak Annisa nanti.
"Nggapapa Kak, masalah kuliah kok. Lagi mikirin materi kuliah, Shuan agak kesusahan," ucapku. Dalam hatiku aku bertanya, sejak kapan aku menjadi pembohong yang handal? Padahal aku adalah orang yang tidak bisa berbohong.
Kak Annisa tertawa renyah, "Haha! Kirain ada apa. Kamu tuh ya, jangan dipikir berat dong. Nanti kamu stress loh," ucapnya.
"Hehe iya Kak. Mungkin Shuan kurang rajin belajarnya."
"Wajar sih kalau kamu agak kesulitan. Soalnya kamu kan juga jualan hijab juga kan? Kamu agak susah bagi waktu ya?"
"Agak kesulitan sih Kak, soalnya Hasna udah skripsi bentar lagi sidang jadi jarang bantuin Shuan."
"Gimana kalau Kakak yang bantuin kamu? Daripada di rumah terus nih, bosen!"
"Eh? Nggak usah Kak. Kak Annisa kan baru aja sembuh, jadi istirahat dulu aja di rumah," ucapku mencoba memberi pengertian ke Kak Annisa.
Kak Annisa berubah menjadi tidak semangat, padahal Awalnya tadi dia sangat bersemangat saat mengajukan diri untuk membantuku di toko hijab.
"Lho Nis? Kenapa? Bibir kok di manyun-manyunin gitu?" Mas Daffa sudah tiba di dapur. Lalu menoel bibir Kak Annisa yang cemberut.
Aku menjadi tidak enak kalau begini. Bukannya aku tidak mau Kak Annisa membantuku, hanya saja kesehatannya sekarang lebih penting.
__ADS_1
Aku meninggalkan mereka yang sedang berbicara. Langsung saja aku memasukkan kuetiaw beserta bumbunya ke dalam wajan. Hari ini Aku dan Kak Annisa memasak Kuetiew asam manis, resep dari ibu Kak Annisa.
"Mas, Aku mau bantuin Shuan jualan di toko boleh nggak? Kasihan Mas, Shuan nggak ada yang bantuin," Adu Kak Annisa kepada Mas Daffa.
Aku menggigit bibirku dalam diam. Semoga saja Mas Daffa tidak mengijinkan Kak Annisa.
"Nggak boleh, kamu istirahat aja di rumah. Lagipula kamu kan lagi dalam masa pemulihan," lanjut Mas Daffa.
"Ih! Mas Daffa sama aja kayak Shuan, ngelarang aku. Aku bosen di rumah Mas. Kayak di penjara aja nggak boleh kemana-mana," rengek Kak Annisa.
"Kita kontrol dulu ke rumah sakit, Mas temenin ya?"
"Kalau aku sudah kontrol dan dokter bilang aku sudah lebih baik, aku boleh bantuin Shuan kan?"
Mas Daffa menghela nafas lalu mengangguk pasrah, "Iya boleh."
"Alhamdulillah! Makasih Mas," Kak Annisa tersenyum manis.
Ctek!
Aku mematikan kompor, kuetiawnya sudah jadi. Eh entahlah aku hanya ingin segera mematikan kompor, reflek karena kesal! Mas Daffa bahkan tidak meminta persetujuanku dulu, dia langsung menyetujui ide Kak Annisa!
"Udah mateng kuetiawnya Shuan?" Tanya Kak Annisa.
Aku menetralkan ekspresiku yang muram. Aku membalikkan badanku untuk menghadap Kak Annisa lalu tersenyum manis, "Em-nggak tau nih Kak. Shuan belum pernah masak kuetiaw. Coba deh Kak Annisa cek dulu takutnya belum matang atau malah keasinan."
Kak Annisa mengecek kematangan kuetiawnya dengan menjumput sedikit dari wajan, "Kurang mateng sedikit. Kalau asinnya udah pas kok. Sini biar aku yang lanjutin."
Akupun mengangguk pasrah. Mas Daffa melihatku namun aku menoleh ke arah lain. Sepertinya Mas Daffa hendak berbicara sesuatu kepadaku. Mungkin tentang Kak Annisa yang meminta ikut menjaga toko.
Baru mau bicara denganku setelah memberi ijin Kak Annisa? Hm-rasanya sudah terlambat. Toh Kak Annisa sudah mendapatkan ijin dari Mas Daffa, mana berani sekarang aku menolak Kak Annisa?!
"Shuan-" Mas Daffa memanggilku, namun dia diam lagi karena hpku berdering.
"Telfon dari Hasna," aku menunjukkan hpku ke depan muka Mas Daffa, "Shuan angakat dulu ya sebentar."
Akupun mengangkat telfon dari Hasna dan mulai menjauh dari dapur.
"Iya Has, Waalaikum salam." Semakin lama langkah kakiku semakin cepat. Aku menuju kamarku sendiri agar aku lebih leluasa telfonan dengan Hasna.
"Haha? Masa? Terus gimana?" Aku menuju balkon kamarku. Bisa aku rasakan angin malam yang segar. Memang segar sih, tapi angin malam tidak baik juga untuk tubuh.
"Alhamdulillah lamarannya berjalan dengan lancar, ya nggak juga sih hehe." Tawa Hasna di sebrang sana membuatku semakin penasaran.
"Hah? Kok gitu sih? Ceritain dong! Yang lengkap!"
"Besok deh aku ceritain ya?"
"Nggak mau! Aku maunya sekarang Hasna!"
"Haha iya iya Shuan sayangku," Hasna tertawa renyah. "Jadi tadi pas Bang Nabil datang kerumah tuh wajahnya pucet banget sampe kringat dingin segala. Kek mau sidang skripsi tau nggak?"
"Masa sih?! Aku baru tahu. Padahal tadinya tuh aku kasihan sama dia, eh tapi aku juga pengen ngetawain sih! Habisnya ekspersinya itu loh nggak nguatin banget, lucu ih gemesin!"
"Gemesin dari mana? Masih lebih gemesin juga aku lah!"
"Iya kamu tuh gemesin, jadinya pengen nabok."
"Dih! Rese ih! Kalau Bang Nabil emang gemesinnya kek gimana?"
"Bang Nabil tuh gemesin, jadinya aku pengen cepet-cepet di halalin hehe," Hasna tertawa malu-malu.
"Dih kardus banget sih haha! Udah nggebet nikah ya bu? Sabar ya? Bentar lagi sidang kan? Kapan?"
"Minggu depan, kamu harus temenin aku loh! Titik!"
"Iya iya nanti aku temenin Sayangku."
"Janji ya? Awas kalau kamu boong, ntar aku bilangin ke Kak Daffa."
"Dih?! Emang berani? Coba aja kalau berani!"
"Ntar aku ngadunya ke Bang Nabil biar Bang Nabil yang bilangin ke Kak Daffa. Beres kan?! Haha."
"Ck! Dasar tukang ngadu! Gadis licik!" Aku tidak serius dengan sebutan licik loh, aku hanya bercanda.
"Tapi cantik kan? Nggak boleh jahat gitu sama calon Kakak Ipar," Hasna tertawa menggodaku.
"Iya iya Kakak Ipar. Ntar aku panggilnya Kak Hasna, iya kan?"
"Iya lah. Jadi kamu harus nurut sama Kakak ya adek Shuan."
"Nggak mau!"
"Aku aduin ke Kak Daffa nih?!"
"Eh jangan! Iya iya Kakak ipar. Apa sih yang nggak buat Kakak ipar? Haha." Akupun tertawa renyah.
Saking asiknya ngobrol dengan Hasna aku sampai tidak tahu bahwa ada yang masuk ke dalam kamarku. Tiba-tiba sudah ada lengan milik Mas Daffa yang melingkar di perutku. Aku sedikit terlonjak karena kaget.
Aku menoleh ke samping dan menemukan Mas Daffa tersenyum sambil menumpukan dagunya di pundakku. Mas Daffa menunjuk hpku dengan lirikan matanya, mungkin maksudnya aku disuruh untuk melanjutkan obrolanku dengan Hasna.
"Shuan?! Kamu masih di situ?!" Panggilan Hasna mengagetkanku.
"Eh iya Has! Masih Kok." Ucapku sambil tersenyum kepada Mas Daffa.
Entahlah. Padahal sebelum menerima telfon tadi aku sempat kesal dengan Mas Daffa, tapi kalau sudah dipeluk begini rasanya rasa kesal itu sudah hilang entah ke mana.
__ADS_1
"Bang Nabil bilang ngasih pilihan ke aku. Mau akad sekarang tapi resepsinya setelah wisuda atau akad dan resepsi setelah wisuda aja barengan? Menurut kamu gimana?"
Aku berfikir sejenak, "Mending kamu sekarang fokus ke sidang skripsi kamu dulu deh. Setelah sidang baru deh kalian bisa melangsungkan akad," ucapku memberikan gagasan lain untuk Hasna.
"Gitu ya Shuan?"
Mas Daffa tersenyum ketika mendengar gagasanku, mungkin dia juga setuju dengan gagasanku. Tangan Mas Daffa menggenggam tanganku kiriku lalu dia mengecupnya sekilas dan sekarang tangannya kembali memeluk pinggangku.
"Setelah sidang kan pikiran kamu udah plong, nah setelah itu kamu bisa persiapan untuk akad dan wisuda. Nah setelah wisuda baru deh resepsi," jelasku kepada Hasna.
Mas Daffa mengangguk-angguk pelan. Lalu wajahnya tanpa aba-aba mendusel di ceruk leherku. Aku sedikit meremang ketika bibir Mas Daffa mencium tengkukku.
Aku sedikit menghindar dan menghadiahi Mas Daffa dengan plototan mataku. Eh tapi Mas Daffa malah tersenyum geli melihatku.
"Iya deh nanti aku bilangin ke Bang Nabil," ucap Hasna di sebrang sana.
Mas Daffa malah semakin berulah. Dia menurunkan sidikit lengan kaos panjangku dan mengecupi bahuku. Aku menggigit bibirku karena ulah Mas Daffa.
"Shuan? Kok kamu diem? Ngantuk ya? Yaudah deh aku tutup aja telfonnya."
"Eh enggak kok! Aku nggak ngantuk," ucapku masih berusaha menghidar dari sentuhan Mas Daffa.
"Gapapa deh besok aja lanjut ceritanya. Lagian lebih enak kalau ceritanya langsung nggak lewat telfon begini."
Mas Daffa mengangguk antusias. Dia sepertinya senang karena Hasna hendak menyudahi panggilannya.
"Yaudah deh sampai ketemu besok ya Has."
"Iya Shuan sayangku, calon adik iparku!"
"Haha! Iya calon Kakak iparku sayang!"
Setelah aku menutup telfonku dengan Hasna, Mas Daffa langsung memojokkanku di dinding dia mengurungku dengan lengan besarnya, lalu menciumku.
Setelah beberapa detik kemudian dia melepaska ciumannya. Tubuhku lemas sampai-sampai aku harus berpegangan ke lengan Mas Daffa. Mas Daffa menahan tubuhku dengan cara memelukku.
"Harus ya manggil Hasna pakai sayang-sayang gitu?" Mas Daffa mulai menanyaiku dengan pertanyaan yang tidak penting.
"Shuan emang sayang Hasna kok. Emang kenapa?" Tantangku.
"Kamu tuh ya," Mas Daffa menciumi wajahku sampai aku geli dibuatnya.
"Haha! Udah ah Mas geli ih!" Aku mencoba mendorong Mas Daffa, tapi Mas Daffa menahan tanganku di atas kepalaku.
Sejenak kami bertatapan. Bertatapan sangat dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan nafas Mas Daffa menerpa wajahku. Mas Daffa tersenyum Manis, matanya lalu turun menatap bibirku yang sedikit terbuka.
"Sayang," panggilnya. Dia mengecup lembut bibirku.
"Hm?" Gumamku di sela-sela kecupannya.
Satu tangan Mas Daffa menggenggam kedua tanganku yang satunya lagi meraih daguku untuk mendekat ke wajahnya. Mas Daffa menciumku lagi, lama sekali sampai-sampai aku merasa kehabisan nafas.
"M-mas," panggilku mencoba mengingatkannya bahwa aku juga butuh udara.
Mas Daffa mundur sejenak, lalu dia menciumku lagi seperti tiada hari esok. Dia menggendongku dengan cepat lalu menidurkanku di kasur. Ciuman kami otomatis terlepas.
"M-mas, Shuan lagi haid." Aku mengingatkannya.
"Iya Mas tau, Mas cuma pengen cium-cium aja kok. Mas lagi kangen banget sama istri kecil Mas ini," bisiknya di teingaku.
"M-mas t-tapi," ucapanku terputus karena Mas Daffa sudah membungkamku dengan ciumanya.
"Mas minta maaf kalau Mas ada salah hm?" Mas Daffa membelai pipiku, "Mas nggak tahu apa salah Mas. Atau mungkin kamu marah karena Mas mengijinkan Annisa buat bantu kamu di toko?"
Aku menggeleng pelan.
"Apapun itu Mas minta maaf. Mas nggak betah kalau kamu terus ngambek sama Mas kaya gini, sayang." Mas Daffa menciumi telapak tanganku.
"Iya Shuan maafin Mas. Maafin Shuan juga ya Mas. Shuan masih kayak anak kecil. Tukang ngambek," ucapku sambil mencium pipi Mas Daffa.
"Untung Mas sayang nih sama istri kecil Mas ini," Mas Daffa mengecupi pundakku lagi.
"Ih mas udah ah, jangan di situ. Geli!"
Mas Daffa malah tertawa renyah, "Masa sih geli? nggak ah!"
"Dih Mas Daffa!" Akupun mencubit pinggangnya.
"Sakit sayang! Mas Hukum nih. Mas cium kamu sampai pagi, mau hm?"
"Nggak!" Aku menutup bibirku dengan kedua tanganku. Mas Daffa mencoba menyingkirkan tanganku tapi aku tidak mau melepaskan tanganku dari bibirku.
Tok tok tok!
"Mas! Shuan! Kalian di dalam ya? Makan dulu yuk! Kuetiawnya nanti keburu dingin loh!" Panggil Kak Annisa.
Aku dan Mas Daffa saling berpandangan. Lalu aku segera mendorong Mas Daffa untuk menyingkir dari atas tubuhku. "Iya Mbak!" Jawabku.
Huft! Alhamdulillah Kak Annisa menyelamatkanku dari Mas Daffa!
....
Assalamualaikum! Aku hadir lagi. Cuma mau ngasih tahu kalau Waalaikumsalam calon imam update setiap hari jam 03.00 pagi ya!
Kakak-kakak readers makasih ya udah like dan komen. Biar lebih akrab panggilnya jangan thor thor thor, panggil aja Mun atau Kak Mun atau dek Mun juga nggapapa hehe ðŸ¤
Jaga kesehatan ya💪
__ADS_1
Kudus, 23/03/2020