Waalaikumsalam calon imam

Waalaikumsalam calon imam
Pulang prt.2


__ADS_3

"Kamu tahu nggak Shuan?" Mas Daffa memberi jeda kepada ucapannya. Lalu dia menarik nafasnya, "Mas cemburu sama dia."


Mas Daffa cemburu sama Bang Chandra? Kok bisa?! Apakah karena aku memberikan makan ini untuk Bang Chandra? Atau karena ada hal lain?


Aku menunduk dalam diam, aku sedih mendengar ucapan Mas Daffa barusan. Mungkin perasaan Mas Daffa kurang lebih seperti perasaanku yang cemburu kepada Mbak Annisa.


Maafin Shuan Mas, ucapku di dalam hati.


Tangan Mas Daffa melingkari leherku. Dia mendekapku sambil meletakkan dagunya di pundakku, "Chandra selalu ada untuk kamu. Saat kamu kecalakaanpun dia seakan-akan berperan sebagai suami kamu."


Aku membeku di dalam dekapan Mas Daffa, "M-mas tahu? Mas tahu darimana Shuan kecelakaan?"


"Dari Bunda," ucap Mas Daffa sambil mengeratkan dekapannya.


"Mas, Bunda sudah cerita ap-"


"Bunda sudah menceritakan semuanya, sampai hal detail sekalipun. Saat kamu mencoba menyelamatkan Ranti, lalu kamu mengalami gagar otak ringan. Sampai Chandra yang selalu mencemaskan kamu, mengantarmu ke rumah sakit sampai menjadi suami pengganti untukmu-" Mas Daffa lebih dulu menjawab pertanyaan yang belum selesai aku tanyakan kepadanya.


"Mas! jangan bicara seperti itu! nggak ada suami pengganti, Mas Daffa satu-satunya suami Shuan."


"Aku satu-satunya suami kamu, tapi nggak pernah ada buat kamu, Shuan."


"Mas Daffa marah sama Shuan?" Tanyaku takut-takut.


"Nggak, Mas marahnya sama Ibu dokter," jawabnya.


"Loh kok marahnya sama Ibu dokter?"


"Soalnya dia salah sebut suami orang. Jelas-jelas kan suami kamu itu aku," ucap Mas Daffa dengan nada kesal.


"Ibu dokter hanya salah paham, Mas jangan marah sama Ibu dokter yah?"


"Sudah nggak marah kok. Tapi Shuan harus janji, kalau ada apa-apa harus bilang sama Mas. Mas nggak mau seperti kemarin, Mas nggak ada buat kamu. Mas sedih," ucapan Mas Daffa tulus. Dia merasa sedih karena merasa gagal menjagaku. "Mas marahnya bukan sama kamu, mas marah sama diri Mas sendiri. Mas merasa bersalah sama kamu, Shuan."


"Shuan udah maafin Mas kok, jangan merasa bersalah ya. Mas Daffa kenapa nggak jemput Shuan lebih awal? Mas kan sudah tahu semuanya?" Tanyaku.


Mas Daffa melepaskan dekapannya. Dengan perlahan dia memutar tubuhku agar aku berhadapan dengannya. Kedua tangannya yang besar dan hangat menangkup pipi tembamku, "Nggak berani. Soalnya kamu kayaknya lagi marah sama, Mas."


"M-marah? Siapa yang marah?" Aku melirik ke sana kemari karena gugup.


"Coba bilang seperti itu lagi sambil lihat Mas," Mas Daffa mendekatkan wajahnya kepada wajahku yang sudah memerah.


"A-anu-"


"Tuh kan? Kamu nggak bisa," ucapnya sambil melepaskan tangannya dari pipiku. Dia memelukku erat, "kamu marah sama Mas kan?" Tanya Mas Daffa sekali lagi.


Aku membalas pelukan Mas Daffa. Perasaan nyaman ini membuatku menenggelamkan wajahku di dadanya, "iya," balasku singkat.


"Kenapa marah sama Mas hm?" Aku merasakan belaian lembut di atas hijabku.


"Mas nggak ada waktu buat Shuan. Shuan cuma kesepian aja kok." Mataku terasa perih. Ingin rasanya menangis, namun aku menahannya.


"Mas memang bukan suami yang baik, tapi Mas berusaha adil. Sekarang ini Annisa lebih butuh banyak perhatian."


Aku melepaskan pelukan yang sedari tadi membuatku nyaman, "tapi, Shuan juga butuh perhatian Mas Daffa."


Deg!


Aku malu mengakui keegoisanku. Tapi perasaan ini tidak bisa aku pendam selamanya. Mas Daffa mungkin akan kecewa kepadaku, tapi biarlah. Yang penting aku sudah mengatakannya.


"Coba sini mendekat," ucap Mas Daffa. Dia menarikku untuk lebih dekat dengannya.


Jarak kami sudah dekat, sampai-sampai kepalaku hampir menyentuh dadanya, "maaf kalau Shuan egois," ucapku.


Perlahan namun pasti, Mas Daffa melepas hijabku. Rambutku tergerai dan acak-acakan. Aku sengaja tidak mengikatnya karena aku baru saja selesai keramas.


"Lukanya di sini ya?" Mas Daffa menyentuh dahiku yang juga terdapat bekas luka di sana.


"Iya Mas, udah ngapapa kok."

__ADS_1


"Setelah melihat kamu terluka begini, aku yakin kalau memang ini semua salahku," ucapnya lirih.


Memang serba salah. Jika aku menjadi Mas Daffa, mungkin aku juga akan seperti dia. Membagi perhatian untuk dua orang memanglah sulit.


Sebenarnya aku juga salah. Mas Daffa berusaha ada untukku, tapi aku juga tidak ingin merepotkannya. Saat aku sudah bisa mengandalkan diriku sendiri, aku malah menuntut perhatiannya. Marah tanpa alasan dan juga ngambek pulang ke rumah Bunda. Bahkan aku juga tidak jujur kepada Mas Daffa.


Istri macam apa aku ini? Sungguh kekanak-kanakan.


"Shuan juga salah Mas, maafin Shuan," ucapku. Permintaan maafku ini tulus dari hatiku. Sungguh aku sangat menyesal telah bersikap kekanakan seperti ini. "Shuan menyesal," aku menggenggam tangan Mas Daffa dan mencium punggung tangannya.


"Shuan," panggilnya lirih. Punggung tangannya menempel di dahiku, aku masih saja menggenggam tangannya.


Aku masih belum melepaskannya, "Shuan janji nggak akan ngambek dan marah tidak jelas lagi. Shuan janji akan ijin sama Mas sebelum melakukan apapun, hiks!"


Runtuh sudah. Air mata yang sejak tadi aku bendung kini meluap. Sambil menangis aku meminta maaf kepada suamiku. Mudah-mudahan dia memaafkanku, jika tidak Allah pasti juga akan marah kepadaku.


"Mas juga salah," ucap Mas Daffa. Dia kembali memelukku. Namun pelukannya kini lebih terasa posesif. "Kejadian ini harusnya menjadi pelajaran yang berharga untuk kita. Agar bisa memperbaiki diri."


Kami berpelukan cukup lama, sampai akhirnya aku duluan yang melepaskan pelukan Mas Daffa. Lalu aku bertanya kepadanya, "Mas maafin Shuan kan? Dari tadi Mas belum jawab."


Mas Daffa tersenyum manis, "Masa dari tadi kamu nggak ngerti sih?" Lalu tanpa aku sangka Mas Daffa mencium pipiku dengan lembut, "mana mungkin Mas nggak maafin istri Mas yang cengeng ini hm? Sudah menangis seperti ini masa nggak dimaafin?"


"Dimaafin sih ya dimaafin. Tapi nggak usah ngeledekin Shuan cengeng dong." Aku merengut.


"Kan ngambek hm?"


"Shuan nggak ngambek! Cuma sebel aja. Nggak Bang Chandra, Nggak Bang Nabil dan Mas Daffa juga nih! Kalian suka banget ngeledekin Shuan."


"Kamu nggak boleh marah kalau Mas diledekin." Mas Daffa mencubit hidungku gemas, "soalnya kalau kamu kamu marah Mas akan kasih hukuman."


"Hukuman seperti ap-"


Belum selesai aku mengatakannya, Mas Daffa menarik pinggangku dan menempelkan bibirnya tepat di atas bibirku, "seperti ini hukumannya."


Jantungku rasanya ingin copot. Tubuhku mematung karena mendapatkan ciuman yang tiba-tiba dari Mas Daffa. Ingatkan aku bernafas saat ini, jika tidak mungkin aku akan pingsan.


"Sayang? Kok diam saja hm? Hukumannya kurang ya?" Mas Daffa kembali menarikku kedalam pelukannya, lalu bibir itu mengecup bibirku beberapa kali sehinggak pipiku rasanya terasa panas.


Aku tidak menyangka jika Mas Daffa akan seagresif ini. Apakah ini adalah sesuatu yang selama ini dia pendam? Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri.


"Sayang," panggilnya manja dengan nada berat, khas pria. "Mas punya permintaan," lanjutnya.


Mendengar suara Mas Daffa yang manja seperti itu membuatku merinding tujuh keliling, "A-apa Mas?" Aku menunduk karena malu.


Mas Daffa mendekat kepadaku lagi. Sudah susah payah aku memberi jarak agar bisa beenafas dengan tenang, Mas Daffa malah seenaknya menghapus jarak diantara kami. Mas Daffa hendak meraihku lagi, sebelum sebuah ketukan pintu datang mengganggu.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum! Shuan! Mana makanan yang kamu janjikan?! Aku sudah lapar sekali!" Bang Chandra teriak-teriak.


"Mas, Bang Chandra datang untuk-"


"Iya Mas tahu, kan sudah baca Wa kamu tadi. Biar aku saja yang memberikannya," ucap Mas Daffa sambil membawa rantang dan kerupuk.


Sebelum Mas Daffa benar-benar membuka pintu, dia membalikkan badannya kearahku. "Jangan ke luar, kamu masuk aja ke kamar. Tunggu Mas di sana," ucapan Mas Daffa lebih terdengar sebagai perintah.


Akhirnya akupun masuk ke dalam kamar. Aku memegang dadaku yang masih berdegup kencang karena perbuatan Mas Daffa tadi. Bibirku ini ku sentuh dengan perlahan, bayangan-bayangan kejadian di dapur pun terulang.


Blush!


Aku sendiri yang membayangkannya, tapi aku malah malu sendiri dibuatnya.


....


"Kapan Mas akan keluar dari kamar Shuan?" Tanyaku kepada Mas Daffa.


Sudah pukul sepuluh malam dan Mas Daffa masih dengan nyamananya rebahan di atas kasurku sambil memelukku. Bukannya apa-apa, aku hanya takut jika Kak Annisa bangun nanti tidak ada Mas Daffa di sampingnya.


"Setelah kamu tidur," jawabnya enteng. "Makanya kamu tidur. Atau kamu sengaja nggak tidur biar Mas temenin terus hm?" Godanya.

__ADS_1


Aku mencebik, tangan kokohnya yang sedang memeluk tubuhku ini aku cubit dengan sengaja, "aduh!" Mas Daffa meringis.


"Mas sih nggak serius, bagaimana kalau Kak Annisa bangun dan butuh sesuatu?"


Mas Daffa menghela nafas, "siapa tadi yang bilang juga butuh perhatian hm?" Mas Daffa menatapku sambil menyingkirkan anak rabut yang menutupi mataku.


"S-shuan," jawabku malu.


"Kamu memang punya kebiasaan suka mementingkan orang lain. Kemarin juga, kamu lebih mementingkan Ranti daripada diri kamu sendiri. Sampai-sampai kamu terluka," ucap Mas Daffa yang terdengar seperti Abi saat sedang memarahiku.


"Salah ya Mas?" Tanyaku.


"Enggak sepenuhnya salah kok, kamu memang terlalu baik dan juga ceroboh."


Aku mengakui kalau sifat cerobohku itu, "Shuan janji akan lebih hati-hati, Mas."


Sebuah ciuman dari Mas Daffa di keningku mendarat dengan sempurna. Aku menutup mataku sambil menghayati, betapa hangatnya ciuman Mas Daffa di keningku.


"Mas juga janji akan menjaga kamu dengan baik. Mungkin memang aku tidak peka, jadi jangan ragu menunjukkan perasaan kamu."


"Termasuk juga perasaan cemburu?"


"Iya. Mas aja dengan terang-terangan bilang kalau Mas cemburu sama Chandra." Mas Daffa lalu memcubit pipiku, "kamu fikir Mas bercanda? Mas beneran cemburu."


"Hehe, Shuan fikir Mas nggak serius. Lagipula Bang Chandra kan sahabat Mas sendiri."


"Walaupun sahabatku tetapi bukan mahramnya Shuan. Apalagi kalian dulu pernah akan men-"


Chup!


Aku mencium pipi Mas Daffa. Hampir saja Mas Daffa mengungkit Masa lalu, aku tidak suka Mas Daffa mengungkitnya lagi, "itu sudah menjadi masa lalu, Mas."


"Eh?" Wajah Mas Daffa terlihat terkejut, "lagi dong!" Aku fikir Mas Daffa akan marah karena aku tidak ingin membahas masa lalu, tapi dia malah memintaku untuk menciumnya lagi.


"N-ngak ah! Yang tadi itu nggak sengaja," elakku.


Mas Daffa menatapku dengan tatapan kecewanya, "Yaudah kalau nggak mau."


Kalau melihat wajah Mas Daffa yang murung begini aku jadi tidak tega. Aku memeluk pinggang Mas Daffa dan tersenyum kepadanya, "bacain surat Al-Mulk dulu ya. Nanti Shuan kasih cium sepuas Mas Daffa."


Surat Al-Mulk adalah surah yang mengingatkan kita kepada siksaan pedih di dalam neraka. Jikalah kita diperlihatkan dengan nyata siksaan-siksaan yang akan kita dapatkan di dalam neraka maka seharusnya kita berlomba-lomba memperbaiki diri, berbuat kebaikan. Jika kita masih saja tak sadar maka hati kita ini sudah dibutakan oleh dunia.


Aku suka mendengarkan ayat-ayat ini karena membuatku mengingat bahwa esok akan tiba saatnya hari pembalasan. Dimana dunia tidak lagi menjadi tempat kita bernaung.


Mas Daffa melantunkan Surah-Al Mulk dengan merdu. Tak ku sangka dia hafal ayat pertama sampai terakhir. Dipertengahan ayat aku menangis mengingat dosa-dosa yang dulu pernah aku buat.


Aku memeluk Mas Daffa menahan air mata yang telah terlanjur jatuh membasahi pipi. Mas Daffa membalas pelukanku. Sambil melanjutkan melantunkan surah Al-Mulk, dia mengelus kepalaku dengan perlahan.


"Terimakasih Mas," ucapku setelah Mas Daffa selesai melantunkan Surah Al-Mulk untukku.


"Sama-sama sayang," ucap Mas Daffa. Dia memelukku erat dan mengajakku untuk tidur.


"Sebentar, Shuan kan sudah janji mau kasih mas cium."


Mas Daffa tersenyum geli, "Nggak dikasih juga nggak apa-apa. Mas ikhlas. Mas seneng bisa bacain kamu Surah Al-Mulk." Mas Daffa memeluk pinggangku lebih erat lalu dia mendekatkan wajahnya, "Tapi kalau Shuan maksa ya Masa mas nolak rejeki sih? Iya nggak?"


Aku mecium lembut pipi kanan Mas Daffa, "Bilang aja mau. Mas Daffa berbelit-belit ih!"


Mas Daffa tertawa renyah, "haha kan Mas bilang Nggak nolak. Kalau nambah lebih nggak nolak lagi sih."


Aku butuh keberanian besar untuk melakukan ini. Ya, aku mengalungkan tanganku ke leher Mas Daffa. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, tapi aku ragu-ragu. Aku berniat menhapus jarak diantara kami, tapi aku mundur lagi. Menatap mata Mas Daffa secara dekat membuatku gemetaran. Matanya sungguh indah, membuatku hanyut kedalam pesonanya.


"Kalau mau cium ya cium aja hm?" Mas Daffa berbisik tepat di depan wajahku, "takut ya?" lanjutnya. Entah dia itu sedang meledekku atau menantangku.


Aku cemberut, "Takut? Siapa bilang?!" Aku mendekat lagi ke wajah Mas Daffa. Kali ini bibirku hampir menyentuh bibir Mas Daffa, tapi aku mundur lagi karena jantungku berdetak lebih cepat 3 kali lipat.


"Ya Allah, Shuan!" Mas Daffa gemas sendiri dibuatnya. Dengan gerakan cepat Mas Daffa menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku tepat di bibirku Saat itulah aku ingin lari saja, namun Mas Daffa memelukku erat. Sepertinya dia tidak akan membiarkanku mundur lagi.


....

__ADS_1


Kudus, 19/03/2020


__ADS_2