Ada Cinta Di Balik Benci

Ada Cinta Di Balik Benci
Chapter 19


__ADS_3

“Kenapa mereka tega memperlakukanmu seperti itu, Zeyu? Kenapa...?" isak ibunya.


“Sudahlah,Bu. Mungkin semua ini emang cobaan dari Tuhan. Kita harus sabar."


“Ini sudah sangat keterlaluan, Anakku. Karena kamu anak orang miskin, lalu mereka seenaknya memperlakukan kamu? Semoga orang yang telah merekayasa semua itu, yang telah membuat harus menanggung malu, akan mendapat balasannya!"isap ibunya.


“Ibu...kenapa ibu berbicara begitu? itu nggak baik,Bu. Ibu sendiri ngajarin pada Zeyu, agar jangan punya sifat dendam. Kenapa ibu berdoa seperti itu? itu sama halnya ibu mendendam.."


“Karena orang yang telah merekayasa semuanya, sudah sangat keterlaluan tindakannya sama kamu. Karena dia, kamu jadi malu. Karena dia teman-teman sekolahmu memandang dengan pandang curiga dan semakin menghina kamu."


“Sudahlah,Bu. Ibu nggak perlu mendendam padanya. Biarkan Tuhan yang mengingatkannya."


“Apa kamu tau siapa orang yang merekayasa kejadian itu?"


“Nggak, Bu."


“Bagaimana sikap putri sama kamu?"


“Putri merupakan orang yang membela saya, Bu. Hanya dia yang tetap yakin,bahwa saya melakukan perbuatan itu. Bahkan karena dia sehingga para tuthor pun percaya kalo memang bukan saya yang melakukan nya."


“Dia memang anak baik. Kita banyak berutang budi dan jasa padanya, juga pada kedua orang tuanya, anakku."


“Ya, bu."


“Entah dengan apa kita akan membalas semua kebaikan yang telah dia dan kedua orang tuanya berikan pada kita."


“Sudahlah, Bu. Sebaiknya ibu tidak perlu terlalu memikirkannya. Zeyu mau pergi dulu,Bu."


“Kemana?"


“Biasa,Bu, ke cafe kerja. Bukankah itu emang tempat Zeyu kerja?"


“Zeyu, lebih baik kamu bantu ibu di tokoh kue kita. pinta ibunya Zeyu.


“Ya,Bu. setelah pulang dari kerja saya akan bantu ibu di tokoh."


“Bu, Zeyu pergi kerja dulu."


“Hati-Hati,Zeyu."


“Ya, Bu."


Zeyu pun meninggalkan rumahnya untuk berkerja di cafe.


**********


Sampai jam menuju angkah tujuh lewat lima belas menit dan bel tanda masuk hampir berbunyi, An ran tidak melihat Zeyu. Bahkan sampai pelajaran pertama dimulai dan dosen mulai mengabsen nama siswa, Zeyu tetap tidak datang.


“Ada yang tau kenapa Zeyu tidak masuk?"tanya pak zhang, dosen desain yang mengajar pada jam pelajaran pertama.


“Paling dia malu pak," Sahut Yuwei.


“Malu kenapa?"


“Ya, apa lagi kalau bukan karena kejadian kemarin? Saya rasa emang dialah pelakunya,pak."


“Hentikan omong kosongmu, yuwei!" dari samping kanan bangku yuwei, An ran mendengus.

__ADS_1


“Kenapa kau marah?"


“jelas saya marah karena kau tidak punya perasaan!" sahut An ran.


“Saya nggak punya perasaan kenapa? emang benar dia yang mengambil dompet saya, kok!"


“Tutup mulutmu, Yuwei! atau kau akan menyesal!" Ancam An ran.


“Sudah, sudah....kalian jangan ribut, Yuwei.."


“Ya, pak?"


“Kamu jangan sembarangan menuduh. Itu tidak baik..."


“Tapi, pak..."


“Sudah. Bapak tidak mau lagi dengar kalian bertengkar."


Yuwei terdiam.


“An ran.."


“Ya, pak?"


“Nanti sepulang sekolah tolong kamu temui Zeyu, dan tanyakan kenapa dia tidak masuk. Kalau emang sakit, ya nanti kita akan kesana bersama-sama."


“Baik,pak."


“Ya Sudah,sekarang kita mulai aja belajar."


******


Ketidak hadiran Zeyu, sangat terasa sekali.


Biasanya Zeyu yang menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru. Biasanya Zeyu yang akan mewakili teman-temannya menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru pada mereka. Kini, Zeyu tidak masuk, tidak seorang pun yang bisa menjawab soal-soal dari dosen. Bahkan pak Zhang, sampai marah-marah karena tidak ada seorang pun yang bisa menjawab soal yang diberikan.


“Masa soal begini aja kalian tidak yang bisa? dengus pak Zhang, Song Zeyu mana?


“Nggak masuk Pak, "jawab An ran.


“Kenapa, dia nggak masuk?"


“Nggak tau, Pak."


“Apa karena soal kemarin?" tanya Pak Zhang.


Tidak ada yang menjawab.


“Sayang, Zeyu nggak masuk. Padahal dia yang bisa menjawab soal-soal yang saya berikan.


Seharusnya kalian semua malu. kalian yang anak orang kaya, yang segalanya kecukupan, tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Sementara Zeyu, dia yang serba kekurangan, yang untuk sekolah aja hrus kerja di sebuah cafe, justru mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan, bisa mengerjakan soal yang seharusnya untuk mahasiswa semester delapan. Bapak senang dengan anak seperti Zeyu. Bahkan bukan hanya Bapak aja yang senang, tetapi semua dosen bahkan kepala sekolah pun suka padanya. Biar kalian semua tau, Zeyu merupakan kebanggan universitas Ini. Kalau sampai dia tidak mau lagi sekolah di sini karena ulah kalian, maka itu merupakan kekecewaan kita semua."


Yuwei makin bertambah bungkam. Hatinya jadi merasa menyesal karena selama ini dia telah bersikap tidak baik dan memusuhi Zeyu.


“Siapa diantara kalian yang tau rumahnya Zeyu?" tanya pak Zhang.


Ingin rasanya Yuwei menjawab kalau dirinya tau. Namun karena malu, Yuwei pun cuma diam aja.

__ADS_1


“Saya pak," jawab An ran.


“Kamu, An ran?"


“Ya, Pak."


“Ya, ya. bapak pun mendengar kalo hanya kamu yang akrab sama Zeyu. Tolong sepulang sekolah. Kamu ke rumah Zeyu dan cari tau kenapa dia tidak masuk," perintah Pak zhang.


“Baik, Pak."


“Katakan padanya, dia tidak perlu malu kembali kesekolah hanya karena persoalan kemarin yang belum tentu kebenarannya. Katakan padanya pula, semua guru tidak ada yang percaya kalo dia yang melakukan perbuatan itu,” tutur Pak Zhang.


“Baik, Pak."


“Ya sudah...untuk kali ini bapak mafaatkan ketidak bisaan kalian mengerjakan soal-soal ini. Tapi kalau sampai Zeyu tetap tidak masuk sampai besok maka kalian harus berusaha mengerjakan soal-soal yang akan saya berikan pada kalian, ngerti?!"


“Mengerti,pak..."


“Baiklah, kita teruskan aja pelajaran. Kita ulang kembali pelajaran minggu lalu agar kalian jelas..."


Para siswa pun menurut. Maka mereka pun kembali mengulang pelajaran minggu lalu yang telah diberikan dan dijelaskan oleh Pak Zhang.


*********


Siang harinya, sebagaimana yang diminta oleh Pak Zhang dan Pak eric. An ran pun datang ke rumah Zeyu.


“Tok....tok.."


“Siapa? tanya ibunya Zeyu sambil membukakan pintu. Eh, An ran."


“Iya, Bu." jawab An ran serambil tersenyum.


“Zeyunya ada, Bu."


“Pergi, Ayo silakan masuk."


“Makasih, Bu."


An ran pun menurut masuk.


“Duduk, An ran."


“Makasih, Bu."


An ran pun duduk.


“Sebentar ibu buatkan minuman."


“Tak usah repot, Bu! Biar An ran sendiri yang mengambilnya."


“Wah, An ran kan tamu. Masa ngambil sendiri?"


“Tak Apa, Bu."


“Ya sudah, terserah An ran saja."


An ran menuju ke dapur. Mengambil gelas kemudian menuangkan air putih yang sudah tersedia di ceret. Setelah itu membawanya ke ruang ramu dan kembali duduk.

__ADS_1


__ADS_2