
"Nak,An ran dari sekolah langsung kemari?”
“Iya,Bu.”
“Apa nanti Ibu kamu nggak mencari?”
“Baizi akan kasih tau kalau An ran kemari,Oh ya,Bu. Hari ini Zeyu nggak masuk.”
“Iya."
“Kenapa emangnya,Bu?."
“Entahlah,dia hanya mengatakan malu karena hampir semua orang di sekolah memandangnya dengan penuh rasa curiga setelah kejadian kemarin, dimana dia dituduh sebagai pencuri dompet milik yuwei.”
“Dia emang keterlaluan,” dengus An ran.
“Maksud Nak An ran?"
“Si pembuat rekayasa, Bu?,"
“Kamu percaya kan kalau Zeyu tidak mengambilnya?."
“Lebih dari Seratus persen,Bu. Bahkan bila saya yang kehilangan, maka orang terakhir terkena tuduhan adalah Zeyu. Dengan kata lain, tidak ada sekuku hitam pun kecurigaan saya pada Zeyu, Bu."
“Syukurlah."
“Tidak,Bu. Zeyu tidak bersalah. Dia sengaja dijebak oleh seseorang. Bahkan bukan An ran saja yang tidak percaya kalo Zeyu yang melakukan itu. Para Dosen pun tidak percaya. Malah saya kemari juga karena disuruh oleh beberapa orang dosen untuk mencari tau kenapa Zeyu tidak masuk.Karena Zeyu tidak masuk, semua kena marah sama dosen,Bu. Habis tidak seorang pun yang bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan dosen, sih. Kalau ada Zeyu, dia yang akan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh dosen."
__ADS_1
“Apa An ran tau, siapa kira-kira yang menjebak Zeyu?."
"Iya,Bu. Itu sebabnya kemarin saya tantang, apakah persoalannya akan diteruskan atau tidak?
Kalau dia ingin meneruskan persoalan itu, maka saya akan membuatnya malu didepan semua orang termasuk para dosen.”
“Siapa dia?."
“Teman saya sejak SMP, Bu."
“Perempuan?."
“Ya. Dia sejak pertama kali Zeyu datang sudah memusuhi Zeyu."
“Kenapa?."
“Entahlah, Bu. Mungkin dia merasa putri orang kaya dan cantik."
“Ya, sifat seseorang kan beda, Bu. Semua tergantung dari didikan orang tua dan orang-orang disekelilingnya. Kalau dari kecil di didik baik, maka biar pun dia anak presdir perusahaan yang terkenal pun, dia akan menjadi anak yang baik.Sebaliknya kalau dari kecil dia didik kurang, maka walau dia anak orang kaya biasa pun, dia akan bersikap tidak baik. Bukan begitu,Bu?"
“Iya, apa yang kamu katakan emang benar.”
“Sebenarnya Zeyu Tidak perlu malu.Dia tidak bersalah, dan An ran pun sudah janji akan tetap membelanya. Walaupun An Ran harus mengorbankan persahabatan An ran denganmu,tetapi demi membela kebenaran An ran siap mengorbankan apa saja. Jangankan cuma persahabatan,Nyawa pun An ran pertaruhkan," Tutur An Ran dengan kesungguhan.
“Ya, ibu percaya. kamu emang baik. Ibu juga sudah berusaha membujuk Zeyu agar tetap sekolah. Namun dia tetap tidak mau. Tetapi mungkin kamu yang membujuknya, Zeyu akan mau.”
“Iya, Bu.itu sebabnya An ran kemari."
__ADS_1
“Sayangnya, Zeyu sudah pergi."
“Kemana dia, Bu?"
“Biasa, kerja di cafe."
“Pulangnya,Kapan Bu?"
“Biasanya sebelum magrib.”
“Wah,masih lama. Di cafe mana dia kerja, biar An ran susul.
“ Dia kerja, di cafe dekat tokoh kue."
”story kue depan itu,ya Bu?"
“Iya."
“An ran akan menyusulnya kesana,Bu. Siapa tau Zeyu sedang tidak sibuk disana."
“Kamu mau menyusulnya."
“Iya,Bu."
“Apa An ran tidak malu?"
“Malu kenapa,Bu?Apa yang Zeyu kerjakan baik dan halal?Kenapa An ran harus malu punya teman yang kerjanya dicafe? An Ran malu, kalau Zeyu mafia, Bu."
__ADS_1
Terharu Ibunya Zeyu mendengar jawaban tulus dari An Ran.
"Baiklah.Bu kalau begitu Saya pamit dulu," Ucap An ran seraya bangun, kemudian menyalami dan memeluk Ibunya Pandu. Dan diantar Ibunya Pandu sampai di depan rumahnya, An ran pun pergi.