ADIKKU INDIGO

ADIKKU INDIGO
Bab 2.


__ADS_3

Pagi harinya aku berangkat ke sekolah, mengumpul tugas yang aku kerjakan semalam dan mengobrol sama teman sekolah di waktu istirahat. Hari pun sudah menunjukkan pukul 1 waktu nya pulang sekolah. Seperti biasa aku pulang jalan kaki bersama teman-teman.


Sampai dirumah pun aku langsung makan dan istirahat, tidur siang bentar. Sore nya aku, adikku dan mamak duduk di teras rumah sambil mengobrol. "kamu gak ada tugas?" kata mamak ku bertanya. Adikku sedang memakan es krim tanpa perduli orang ngobrol apa.


"Enggak mak cuma semalam tapi tadi udah di kumpul, soalnya tadi latihan pelajaran matematika udah selesai jadi langsung di kumpul sama bu guru" jawabku.


"Bagus lah kalo begitu, tapi kalo gak ada tugas dirumah kamu gak belajar dong?" timpalnya.


"Belajar kok nanti malam, sambil ganti buku buat besok juga" jawabku.


"Iya, belajar yang rajin ya nak" kata mamak. Tak lama ada tetangga ku lewat depan kami, umurnya sekitar 50 tahun biasa di panggil pak de, nama aslinya Sutijan. Beliau setiap sore suka berjalan kaki ke arah jalan besar, karena rumah ku masuk gang. Tak lupa tangan beliau selalu di lipat ke belakang seperti sedang menggendong orang.


Dari beliau jalan di depan kami adikku melihat ke arah beliau, sampai beliau sudah jauh. "Mak, bapak itu gendong anak kecil mak" kata adikku.


"Kayak kamu?" tanya ku.


"Kecil lagi kak" jawabnya. "gedenya cuma segini" sambungnya, sambil menunjuk bahu.


"Adek salah liat kaya nya" kata mamak ku.


"Enggak mak, kepala nya botak telinganya panjang, dia berdua di gendong sama orang itu" jawabnya meyakinkan.


Hari mulai mendekati maghrib, "yuk masuk dulu" ajak mamak ku sambil memimpin adek masuk rumah. Aku pun mengikuti mamak sama adik masuk ke rumah. Aku langsung menuju kamar belajar sebentar, mengganti buku, menyiapkan baju buat besok sekolah dan tidur.



__ADS_1


Keesokan harinya mamak mau berkunjung kerumah abangnya, rumahnya lumayan jauh butuh waktu 1 jam buat kesana. Kami bertiga akhirnya menuju kesana menggunakan motor, ayah tidak ikut karena ayah masih kerja.



Karena jarak yang lumayan jauh tak jarang kami melewati hutan yang cukup rimbun, Tiba-tiba adikku ketakutan dan langsung memeluk mamak karena dia ditengah-tengah kami.



Sepanjang perjalanan berapa kali dia seperti merasa ketakutan, apalagi waktu melewati hutan, setibanya di rumah paman ku kami langsung menanyakan kenapa dia merasa takut di jalan tadi. "Adek liat orang besar, hitam matanya merah mak" jawabnya.



"Dia mau jahat gak sama adek?" tanya paman ku.




"Lain kali kalo lihat yang begitu adek coba ajakin dia ngobrol, bilang gini kamu jangan jahat sama aku ya, gitu ya sayang" kata mamak.



"Iya mak, adek mau main sama kakak dulu" katanya. Yang di maksud dia kakak adalah anak paman ku, sepupu dia karena umurnya masih diatas nya.



"Udah berapa kali dia lihat yang horor gitu?" tanya paman ku.

__ADS_1



"Dari dia ulang tahun kemarin, mang" kata ku, aku memanggil nya mamang. "Malam itu dia bilang ada yang manggil dia, sampai aku mimpi ada anak kecil kayak yang disebut dia kemarin mak waktu lihat pak Sutijan lewat. Kepalanya botak anak kecil" sambungku.



"Dia pernah lihat anak kecil botak?" tanya mamang.



"Dia sih bilang kayak gitu, tuyul bukan ya?" kata mamak.



Mamang pun bingung, "emang nya kamu pernah hilang duit dek?" tanya mamang sama mamak.



"Pernah, cuma hilangnya gak banyak cuma selembar, kadang uang 50ribu kadang 100ribu" jawab mamak.



"Bisa jadi aja itu tuyul mak" kataku. Mamang pun mengangguk mengiyakan, tapi mamak masih bingung memikirkan kejadian itu.



Hari sudah mulai sore kami berpamitan pulang sama mamang. Seperti di perjalanan pergi, perjalanan pulang pun sama, adek takut disaat lewat di hutan rimbun aku langsung memeluk nya. Memang suasananya agak berbeda sebab kami pulang pukul setengah 5 sore. Padahal banyak orang yang lewat mau pulang kerumah setelah seharian bekerja.

__ADS_1


__ADS_2