
Sore hari, kami duduk di teras seperti biasa tak lama ayah datang. Ayahpun langsung bergabung bersama kami, "Mak tadi ayah ke bengkel Aji, nah iparnya Aji itu bisa ngobatin orang. Jadi ayah minta nomor ponselnya, tadi juga di bilangin ke Aji kalo ada iparnya, Ayah suruh kerumah nanti malam. Nama iparnya katanya Nanang asal dari Bandung" ucap ayah sambil duduk di dekat ibu dan adek.
"Kita tunggu aja nanti malam Yah, mudah-mudahan nanti Nanang nya kesini. Yuk masuk udah mau maghrib" ucap Mamak sambil mengajak adek masuk, aku dan ayah pun mengikuti.
Tok tok tok....
"Assalamualaikum"
Aku langsung membuka pintu, "Waalaikum salam, siapa ya?" tanyaku
"Ini rumah pak Yanto kan?" tanya orang itu, dan aku mengangguk. "Saya Nanang, Ayah nya ada?"
"Masuk dulu om" ucap ku sambil membuka pintu "Aku panggil ayah dulu ya, tadi ayah lagi makan"
Akupun meninggalkan om Nanang di ruang tamu dan langsung ke dapur mencari ayah. "Yah itu ada om Nanang, nyari ayah"
"Iya ayah mau cuci tangan dulu". Sesudah ayah mencuci tangan ayah langsung menemui om Nanang, "Apa kabar?" tanya ayah memulai obrolan.
"Baik pak, tadi si Aji bilang saya disuruh kesini. Jadi susuai amanah saya langsung kesini"
__ADS_1
"Iya, awalnya mau nelepon tapi Aji bilang dia aja yang menyampaikan pesan sayaa ke kamu" Mamak dan adek menyusul ke ruang tamu. Mamak membawa kopi dan kue untuk dimakan sambil ngobrol. Om Nanang langsung melihat ke arah adek.
"Nah jadi, kita ini mau nanya Ifah" ucap ibu sambil menunjuk adek ku, adek hanya diam karena belum ngerti apa yang sedang terjadi. "Kalo dibawa pergi perjalanan jauh suka kaget terus malam atau besoknya pasti sakit. Apalagi sekarang kalo siang itu suka main sepeda sambil ketawa-ketawa padahal dia bermain sendiri" lalu mamak menceritakan soal kemarin waktu adek lagi makan.
"Anak ibu bisa melihat makhluk halus bu, pak. Biasa disebut indigo. Mata batin nya terbuka sendiri dari dia lahir" ucap om Nanang bergantian melihat ke arah mamak dan ayah.
Mamak dan ayah pun bingung, "kok bisa ya?" tanya ayah.
"Itulah titisan pak, karena dari dia lahir sudah bisa melihat hal-hal yang berbau gaib, bukan karena dia belajar dari ilmu" Mungkin yang di maksud om Nanang belajar ilmu hitam.
"Sepertinya tidak bisa bu karena itu tadi dia bukan belajar sendiri itu sudah titisan, biasanya kalau dia umur 10 tahun kita bisa melihat apakah mata batinnya tertutup atau tetap terbuka. Kalau mata batinnya tertutup berarti dia sudah tidak bisa melihat makhlus halus lagi, tapi kalau diumur 10 itu dia masih bisa melihat makhlus halus itu tidak akan tertutup sampai dia besar nanti" Begitu penjelasan om Nanang.
"Apakah ada untuk penangkal nya ya?" tanya ayah.
"Ibu sama bapak banyak-banyak berdoa saja ya, supaya dia terbiasa. Tapi kebanyakan anak-anak seperti dia umur 3 atau 4 tahun mentalnya udah kuat, walaupun kaget tapi sudah tidak sakit lagi. Adeknya juga sambil diajarin mengaji ya bu, pak"
__ADS_1
"Baik kalo gitu. Silahkan diminum dulu kopinya" kata ayah.
"Kue nya juga dimakan pak" kata mamak
"Sekarang si Ifah udah umur berapa?" tanya om Nanang.
"Dua tahun" kata mamak.
"Itu?" tanya om nanang sambil menunjuk ke arah ku. "Aku kelas satu SMP om, 12 tahun" jawabku.
"Saya minum ya kopinya" pamit om Nanang ke ayah.
"Iya silahkan, kue nya juga dimakan"
"Iya pak, terimakasih"
Setelah lama berbincang akhirnya om Nanang pamit pulang," kalo ada apa-apa kabarin aja saya pak. Saya mau pamit pulang dulu"
__ADS_1
"Kami yang terima kasih Nang. Hati-hati ya" ucap ayah. Om Nanang pun menaiki motornya dan langsung melaju pulang.